وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْ مُنْذِرِينَ

dan sungguh, Kami telah mengutus para pemberi peringatan di kalangan mereka.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْwa-la-qad arsalnaa fiihimdan sungguh, Kami telah mengutus di kalangan mereka
  2. مُنْذِرِينَmundziriinapara pemberi peringatan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  3. فِيهِمْfiihimpada mereka
  4. مُنْذِرِينَmundziriinapara pemberi peringatan

Inti bacaan

Bentuk (مُنْذِرِينَ, mundziriina) muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:213, 4:165, 6:48, 18:56, 26:194, 27:92, 37:72, 44:3, dan 46:29.

Penjelasan pilihan kata

Pembuka (وَلَقَدْ, wa-la-qad) yang berarti "dan sungguh" sama dengan pembuka 37:71. Kata (أَرْسَلْنَا, arsalnaa) yang berarti "Kami telah mengutus" berakar ر-س-ل dan memakai akhiran -naa yang berarti "Kami", sehingga pelaku pengutusan tertulis pada kata kerja itu sendiri.

Kata (فِيهِمْ, fiihim) yang berarti "di kalangan mereka" tersusun dari fii yang berarti "di" dan akhiran -him yang berarti "mereka", dan kata per kata memakai "pada mereka". Setelah arsalnaa, kata fii dalam bentuk fii, fiikum, atau fiihim muncul lima kali, yaitu di 2:151, 7:94, 23:32, 34:34, dan 37:72, sedangkan kata (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "kepada" muncul empat kali, yaitu di 6:42, 16:63, 27:45, dan 73:15. Di 2:151 bunyinya (أَرْسَلْنَا فِيكُمْ, arsalnaa fiikum) yang berarti "Kami telah mengutus di antara kalian", dan di 7:94 (أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ, arsalnaa fii qaryatin) yang berarti "Kami mengutus di suatu negeri", jadi fii menyebut tempat pengutusan. Susunan (أَرْسَلْنَا فِيهِمْ, arsalnaa fiihim) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:32 dan 37:72. Di 23:32 sesudahnya ada (رَسُولًا مِنْهُمْ, rasuulan minhum) yang berarti "seorang rasul dari kalangan mereka", sedangkan di 37:72 tidak ada kata minhum. Karena itu "di kalangan mereka" di 37:72 menyatakan tempat para pemberi peringatan diutus, dan asal mereka tidak dinyatakan. Pola fii sesudah arsalnaa juga ada di 43:6, (فِي الْأَوَّلِينَ, fii l-awwaliina) yang berarti "di kalangan orang-orang terdahulu", dan di 15:10, (فِي شِيَعِ الْأَوَّلِينَ, fii syiya'i l-awwaliina) yang berarti "di kalangan golongan-golongan terdahulu". Di dua ayat itu orang-orang terdahulu menjadi tempat pengutusan, dan di 37:72 akhiran -him dapat dibaca menunjuk orang-orang terdahulu di 37:71.

Kata (مُنْذِرِينَ, mundziriina) yang berarti "para pemberi peringatan" berakar ن-ذ-ر dan berbentuk jamak untuk orang. Bentuk persis itu muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu di 2:213, 4:165, 6:48, 18:56, 26:194, 27:92, 37:72, 44:3, dan 46:29. Di 4:165 bunyinya (رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ, rusulan mubasysyiriina wa-mundziriina) yang berarti "rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan", dan di 37:72 kata itu berdiri sendiri tanpa pembawa kabar gembira. Terjemahan memakai "para pemberi peringatan" seperti di 26:208, (لَهَا مُنْذِرُونَ, lahaa mundziruuna) yang berarti "memiliki para pemberi peringatan", untuk jamak yang menyebut orang.

Ayat sesudahnya memakai (الْمُنْذَرِينَ, l-mundzariina) yang berarti "orang-orang yang telah diperingatkan", dari akar yang sama dengan huruf vokal berbeda: mundziriina menyebut yang memperingatkan dan l-mundzariina menyebut yang diperingatkan. Bentuk l-mundzariina muncul lima kali di empat surah, yaitu di 10:73, 26:173, 27:58, 37:73, dan 37:177. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 37 memuatnya dua kali.

Tafsiran

Ayat ini menaruh pengutusan di tempat yang sama dengan kesesatan di 37:71. Akhiran -him pada fiihim dapat dibaca menunjuk orang-orang terdahulu, seperti 43:6 dan 15:10 menaruh pengutusan di kalangan mereka. Kesesatan kebanyakan orang terdahulu dan pengutusan para pemberi peringatan dengan demikian terjadi dalam satu lingkungan, dan 37:72 tidak memuat alasan pengutusan itu.

Alasan pengutusan baru terbaca dari ayat lain. Di 4:165 pengutusan disertai kalimat tujuan, (لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ, li-allaa yakuuna li-n-naasi 'alaa llaahi hujjatun) yang berarti "agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah", dan kalimat itu tidak ada di 37:72. Hubungan antara pengutusan dan tertutupnya alasan di sini karena itu merupakan pembacaan dari 4:165, dan tidak ditulis oleh 37:72 sendiri.

Ayat berikutnya mengajak memperhatikan, (فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ, fa-nzhur kayfa kaana 'aaqibatu l-mundzariina) yang berarti "maka, perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang telah diperingatkan". Kalimat yang sama muncul di 10:73 sesudah penyelamatan orang-orang yang berada di dalam kapal, dan 37:75 sesudahnya menyebut Nuh yang menyeru Kami. Ayat 37:72 membuka tiga langkah yang berurutan: kesesatan di 37:71, pengutusan di 37:72, dan ajakan memperhatikan akibat di 37:73.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:71 menyebut kebanyakan orang terdahulu telah sesat, dan 37:72 menyebut para pemberi peringatan diutus di kalangan mereka. Dua ayat itu berdampingan, sehingga kesesatan dan peringatan terbaca berada di tempat yang sama pada waktu yang berdekatan. Pembaca yang membayangkan kesesatan sebagai sesuatu yang berlangsung di tempat yang kosong dari peringatan dapat memeriksa kembali bayangannya. Ayat ini tidak menyebut seberapa keras atau seberapa sering peringatan itu terdengar, dan hanya menyebut bahwa para pemberi peringatan itu diutus. Di sekitar pembaca, di mana peringatan sudah berada di tengah hal yang dijalani kebanyakan orang, dan siapa yang membawanya?
  • Ayat 4:165 menyebut rasul-rasul diutus agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Ayat 37:72 tidak memuat kalimat tujuan itu, sehingga 4:165 dipakai sebagai bahan baca dan tidak sebagai isi 37:72. Bila keduanya dibaca bersama, alasan semacam tidak ada yang memberi tahu menjadi sulit dipertahankan, sebab 4:165 menyatakan bahwa peringatan dikirim agar alasan itu tidak ada. Pembaca dapat mengingat saat-saat alasan itu dipakai sendiri atau didengar dari orang lain. Kapan terakhir pembaca berkata tidak ada yang memberi tahu, dan siapa yang sebenarnya pernah menyampaikannya?
  • Di 23:32 Kami mengutus seorang rasul dari kalangan mereka yang berkata, Mengabdilah kepada Allah; tidak ada tuhan bagi kalian selain Dia. Di 37:72 tidak ada kata yang menyatakan dari kalangan mana para pemberi peringatan itu berasal, dan ayat hanya menyebut tempat pengutusan. Pembaca dapat memeriksa apakah kabar dari orang yang dikenal diterima lebih cepat daripada kabar dari orang yang belum dikenal. Dua ayat itu menyebut pengutusan dengan keterangan yang berbeda, sehingga 23:32 tidak dipakai untuk mengisi apa yang tidak ditulis di 37:72. Seberapa besar bobot siapa yang berbicara dibanding apa yang dikatakan dalam penimbangan pembaca?
  • Ayat 37:72 memakai bentuk jamak, para pemberi peringatan, sedangkan 35:24 menyatakan bahwa tidak ada satu umat pun kecuali telah berlalu padanya seorang pemberi peringatan. Satu ayat menyebut banyak pembawa dan ayat lain menyebut seorang bagi tiap umat, sehingga dua ayat itu menghitung dengan cara yang berbeda dan tidak saling meniadakan. Pembaca dapat menghitung berapa suara yang pernah menyampaikan pesan yang sama kepadanya, dan apakah jumlah itu membuat hal tersebut lebih mudah diterima. Berapa kali suara yang berbeda menyampaikan pesan yang sama sebelum pembaca mulai mendengarnya?
  • Ayat 28:59 menyatakan bahwa Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibukotanya yang membacakan tanda-tanda Kami kepada mereka. Ayat 37:72 tidak menyebut pembinasaan, sehingga 28:59 tidak dipakai untuk menjelaskan akibat di 37:73. Di 28:59 urutan pengutusan lebih dulu dinyatakan sebagai ketentuan, dan di 37:72 pengutusan juga disebut lebih dulu daripada ajakan memperhatikan akibat. Pembaca dapat memperhatikan bahwa pemberitahuan datang mendahului akibat dalam kedua ayat. Pada hal apa saja pembaca sudah menerima pemberitahuan lebih dulu, dan apa yang dilakukannya terhadap pemberitahuan itu?
  • Ayat 37:73 mengajak memperhatikan akibat orang-orang yang telah diperingatkan, dan ajakan itu datang sesudah pengutusan di 37:72, sehingga urutannya peringatan lebih dulu, lalu akibat. Ajakan itu berbentuk perintah kepada satu orang yang diajak bicara, dan ayat tidak menyebut apakah akibat itu diperhatikan dari kejauhan atau dari dekat. Pembaca dapat mengamati bahwa akibat disodorkan sebagai bahan untuk diperiksa sesudah peringatan diberikan. Dalam urutan peringatan lalu akibat, di bagian mana pembaca biasanya berhenti, pada peringatan atau pada akibat?