وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ

Dan sungguh, Nuh telah menyeru Kami, maka, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌwa-la-qad naadaanaa nuuhundan sungguh, Nuh telah menyeru Kami
  2. فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَfa-la-ni'ma l-mujiibuunamaka, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. نَادَانَاnaadaanaamenyeru Kami
  3. نُوحٌnuuhunNuh
  4. فَلَنِعْمَfa-la-ni'mamaka sebaik-baik
  5. الْمُجِيبُونَl-mujiibuunayang memperkenankan

Inti bacaan

Susunan (فَلَنِعْمَ, fa-la-ni'ma) dengan huruf penegas muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:75.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ, wa-la-qad) yang berarti "dan sungguh", tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", huruf penegas la, dan (قَدْ, qad) yang menyatakan kepastian. Rangkaian ini membuka enam ayat di surah 37, yaitu 37:71, 37:72, 37:75, 37:114, 37:158, dan 37:171. Tiga di antaranya berurutan, yaitu 37:71, 37:72, dan 37:75, dan ketiganya menyebut kejadian yang sudah lewat: sebagian besar orang terdahulu telah sesat, Kami telah mengutus pemberi peringatan, dan Nuh telah menyeru Kami. Terjemahan memakai "dan sungguh" di ketiga tempat itu.

Kata kerja (نَادَانَا, naadaanaa) yang berarti "menyeru Kami" tersusun dari kata kerja naadaa yang berarti "menyeru" dan akhiran -naa yang berarti "Kami", dan berakar ن-د-ي. Bentuk naadaanaa muncul satu kali, yaitu di ayat ini. Nuh menjadi pelaku kata kerja berakar sama di dua tempat lain, yaitu 11:42 dan 11:45, dalam (وَنَادَىٰ نُوحٌ, wa-naadaa nuuhun). Seruan itu ditujukan kepada anaknya di 11:42, kepada Tuhannya di 11:45, dan kepada Kami di 37:75. Di 21:76 kata kerja itu muncul tanpa tujuan yang disebut, dalam (إِذْ نَادَىٰ, idz naadaa). Di surah yang sama arahnya terbalik di 37:104, dalam (وَنَادَيْنَاهُ, wa-naadaynaahu), sebab Kami yang menyeru dan Ibrahim yang diseru. Di surah 37 kata kerja berakar ن-د-ي muncul dua kali, yaitu 37:75 dan 37:104, dengan arah yang saling berlawanan.

Kata (فَلَنِعْمَ, fa-la-ni'ma) yang berarti "maka sebaik-baik" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "maka", huruf penegas la, dan ni'ma, kata pujian yang diikuti sebutan yang dipuji. Susunan fa-ni'ma tanpa penegas muncul lima kali di lima surah, yaitu 13:24, 22:78, 39:74, 51:48, dan 77:23, sedangkan susunan dengan penegas, fa-la-ni'ma, hanya muncul di ayat ini. Pada tiga ayat, yaitu 37:75, 51:48, dan 77:23, yang dipuji berupa kata jamak pelaku, yaitu (الْمُجِيبُونَ, l-mujiibuuna), (الْمَاهِدُونَ, l-maahiduuna), dan (الْقَادِرُونَ, l-qaadiruuna). Di 51:48 dan 77:23 kata jamak itu mengikuti kata kerja Kami dalam ayat yang sama, yaitu (فَرَشْنَاهَا, farasynaahaa) yang berarti "Kami hamparkan" dan (فَقَدَرْنَا, fa-qadarnaa) yang berarti "lalu Kami tentukan". Di 37:75 naadaanaa mendahuluinya, dan pihak yang dipuji menjawab seruan itu, sehingga kata jamak itu menyebut perbuatan yang tidak muncul sebagai kata kerja di ayat ini, yaitu menjawab. Terjemahan menaruh "Kamilah" di depan "sebaik-baik yang memperkenankan", seperti "Kami adalah" di 77:23, karena kata jamak itu menunjuk pihak yang menjawab, dan pihak yang diseru di ayat ini bernama Kami. Penegas la diterjemahkan dengan akhiran -lah.

Kata (الْمُجِيبُونَ, l-mujiibuuna) yang berarti "yang memperkenankan" berakar ج-و-ب. Bentuk jamak ini hanya ada di ayat ini, dan bentuk tunggalnya, (مُجِيبٌ, mujiibun), hanya ada di 11:61. Akar yang sama dipakai sebagai kata kerja dengan Kami sebagai pelaku di empat ayat, yaitu (فَاسْتَجَبْنَا, fa-stajabnaa) di 21:76, 21:84, 21:88, dan 21:90. Ayat 21:76 menuturkan seruan Nuh dan jawaban atasnya lewat kata kerja itu, sedangkan 37:75 menyebut penjawabnya lewat bentuk pelaku jamak. Terjemahan memakai "memperkenankan" di 37:75 seperti di 21:76, "Kami memperkenankan doanya". Tanda koma di antara "menyeru Kami" dan "Kamilah" memisahkan seruan dari pujian.

Tafsiran

Ayat ini memperkenalkan Nuh lewat satu perbuatan, yaitu menyeru, dan lewat satu pujian, yang ditujukan kepada pihak yang menjawab sebagai sebaik-baik yang memperkenankan. Isi seruan Nuh tidak ditulis, dan lamanya juga tidak. Ayat 37:74 menyebut golongan yang disisihkan tanpa nama, dan 37:75 menaruh nama pertama sesudahnya. Ayat 37:81 menyebut Nuh termasuk hamba-hamba Kami yang beriman, sehingga dapat dibaca bahwa kisah ini memperlihatkan salah satu dari hamba yang disisihkan, meskipun 37:81 memakai sebutan yang berbeda dari 37:74 dan ayat-ayat itu tidak menghubungkan keduanya secara eksplisit.

Seruan Nuh dan jawabannya dituturkan juga di 21:76 dengan urutan yang sama dengan 37:75 dan 37:76, yaitu seruan, jawaban, lalu penyelamatan dari bencana yang agung. Di 21:76 jawaban disebut lewat kata kerja, dan di 37:75 lewat pujian bagi pihak yang menjawab. Rincian yang ada di satu surah tidak selalu ada di surah lain: 21:76 menyebut waktu seruan itu dengan (مِنْ قَبْلُ, min qablu) yang berarti "sebelum itu", sedangkan 37:75 tidak menyebut waktu. Ayat 11:45 menuturkan seruan Nuh yang berbeda, yaitu kepada Tuhannya tentang anaknya, dan 37:75 tidak menunjuk seruan yang mana pun, sehingga ketiga ayat itu tidak dipadukan menjadi satu peristiwa.

Dalam alur surah, 37:75 memberi nama pertama pada penuturan yang menyusul 37:74. Jawaban atas seruan itu belum tertulis di ayat ini dan baru terlihat di 37:76, yang dibuka dengan penyelamatan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:75 mencatat bahwa Nuh menyeru, dan tidak mencatat satu pun kata dari seruan itu. Yang tertulis adalah siapa yang diseru dan bagaimana pihak itu dinilai. Pihak yang diseru menyebut dirinya Kami. Surah ini menyebut hamba-hamba sebagai milik Allah di 37:74 dan sebagai milik Kami di 37:81, sehingga Kami dapat dibaca sebagai Allah, dan seruan Nuh sebagai seruan kepada Allah. Ayat memadai dengan menyebut penerima seruan tanpa menuliskan kata-katanya. Bagi pembaca yang pernah berdoa dengan kata-kata yang terasa tidak tersusun, ayat ini menaruh bobotnya pada penerima seruan. Seandainya doa pembaca ditulis dalam satu ayat, apakah isinya yang akan dicatat, atau kepada siapa doa itu ditujukan?
  • Nuh menjadi pelaku kata menyeru di tiga ayat dengan tiga sasaran: anaknya di 11:42, Tuhannya di 11:45, dan Kami di 37:75. Jawaban yang tercatat berbeda pula. Di 11:43 anak itu menjawab akan berlindung ke gunung, di 11:46 jawaban atas permintaan Nuh tentang anaknya berupa teguran, dan di 37:75 pihak yang menjawab disebut sebaik-baik yang memperkenankan. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa seruannya sama, jadi tidak ditarik satu garis di antaranya. Orang yang sedang terdesak biasanya menyeru ke satu arah lebih dulu. Kepada siapa seruannya paling sering dialamatkan, dan jenis jawaban apa yang sudah siap diterimanya dari masing-masing sasaran?
  • Surah ini memuat kata kerja menyeru dua kali, dan arahnya berlawanan. Di 37:75 Nuh menyeru Kami, dan di 37:104 Kami menyeru Ibrahim. Pada yang pertama manusia memulai dan Kami menjawab, pada yang kedua Kami memulai dan manusia dipanggil, dan Kami dalam surah ini dapat dibaca sebagai Allah. Keduanya ada dalam satu surah tanpa ayat yang mengatakan mana yang lebih utama. Dalam hidup pembaca, arah mana yang lebih sering terdengar, dirinya yang memanggil atau dirinya yang merasa dipanggil? Adakah panggilan yang selama ini dikiranya seruan dirinya, padahal dirinya sedang menjawab?
  • Pujian di ayat ini diucapkan oleh pihak yang menjawab untuk dirinya sendiri: Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan. Nuh tidak diberi tempat untuk menilai jawaban itu, dan ayat tidak mencatat tanggapannya. Pada ayat lain pujian serupa memakai kata jamak untuk perbuatan Kami, yaitu menghamparkan bumi di 51:48 dan menentukan di 77:23. Di 37:75 perbuatan yang dipuji adalah menjawab. Orang yang biasa menilai jawaban atas doanya dari kecocokannya dengan permintaan mendapati ayat ini menaruh penilaian itu di tangan penjawab. Apa yang tersisa dari penilaiannya sendiri bila ukuran mutu jawaban dipegang oleh yang menjawab?
  • Seruan Nuh dan pujian bagi penjawabnya selesai di 37:75, sedangkan wujud jawabannya baru terbaca di 37:76, yang dibuka dengan penyelamatan. Selama satu ayat pendengar memegang pujian lebih dulu, dan isi jawabannya menyusul. Bagi pembaca yang menanti bentuk jawaban atas permintaannya, ayat ini menaruh penghormatan kepada penjawab sebelum rinciannya, dan penundaan jawaban tidak tertulis, hanya urutan penuturannya yang bertahap. Bila pujian bagi penjawab sudah lebih dulu terucap sebelum jawaban terlihat, apa yang akan terasa berbeda pada masa menunggu?
  • Ayat 37:75 tidak menyebut berapa lama Nuh menyeru. Ayat 29:14 menyebut bahwa Nuh tinggal bersama kaumnya seribu tahun kurang lima puluh tahun, tetapi ayat itu tidak menghubungkan angka tersebut dengan seruan di 37:75, sehingga lamanya Nuh menunggu jawaban atas seruannya tidak dapat dihitung dari ayat mana pun yang dibaca di sini. Pembaca yang sedang menunggu hasil dari sebuah permintaan dapat memperhatikan bahwa ukuran waktu yang paling sering dipakainya tidak tertulis di ayat ini. Bila lama menunggu tidak pernah menjadi ukuran dalam teks, ukuran apa yang dipakai pembaca untuk menyimpulkan bahwa sebuah doa tidak dijawab oleh Allah?