وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ
Dan Kami jadikan keturunannya, merekalah orang-orang yang tersisa,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُwa-ja'alnaa dzurriyyatahudan Kami jadikan keturunannya
- هُمُ الْبَاقِينَhumu l-baaqiinamerekalah orang-orang yang tersisa
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَجَعَلْنَاwa-ja'alnaadan Kami menjadikan
- ذُرِّيَّتَهُdzurriyyatahuketurunannya
- هُمُhumumerekalah
- الْبَاقِينَl-baaqiinaorang-orang yang tersisa
Inti bacaan
Susunan (هُمُ الْبَاقِينَ, humu l-baaqiina) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:77.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَجَعَلْنَا, wa-ja'alnaa) yang berarti "dan Kami jadikan", dari kata kerja berakar ج-ع-ل. Di belakangnya ada dua sebutan yang menjadi satu rangkaian: (ذُرِّيَّتَهُ, dzurriyyatahu) yang berarti "keturunannya", lalu orang-orang yang tersisa. Susunan yang memakai kata kerja ini untuk orang-orang yang diselamatkan ada juga di 10:73, dalam (وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ, wa-ja'alnaahum khalaa'ifa) yang berarti "serta Kami jadikan mereka sebagai generasi penerus". Di 29:27 dan 57:26 kata kerja yang sama dipakai dengan arah yang lain, dalam (وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ, wa-ja'alnaa fii dzurriyyatihi) yang berarti "dan Kami jadikan pada keturunannya" dan (فِي ذُرِّيَّتِهِمَا, fii dzurriyyatihimaa) yang berarti "pada keturunan keduanya", yaitu kenabian dan Kitab ditaruh pada keturunan. Di 37:77 keturunan itu sendiri yang dijadikan sesuatu, dan tidak ada benda yang ditaruh pada mereka.
Kata dzurriyyatahu berakar ذ-ر-ر dan bentuk persisnya muncul dua kali, yaitu 17:62 dan 37:77. Di 17:62 Iblis menyatakan akan menguasai keturunan orang yang dimuliakan atasnya, kecuali sebagian kecil, dan di 37:77 keturunan Nuh dijadikan orang-orang yang tersisa. Terjemahan memakai "keturunan" untuk akar ini di 17:3, 17:62, 29:27, 37:113, dan 57:26. Ayat sebelumnya, 37:76, memakai kata lain, yaitu (أَهْلَهُ, ahlahu) yang berarti "keluarganya", sehingga dua lingkaran terbaca berbeda. Nuh dan keluarganya diselamatkan, dan keturunannya dijadikan tersisa.
Kata (هُمُ, humu) yang berarti "merekalah" berupa kata ganti mereka yang berdiri di antara dua sebutan dan menegaskan yang kedua. Kata ganti ini bertemu kata jamak pelaku dalam empat ayat di surah 37, yaitu 37:77, 37:116, 37:172, dan 37:173, dan di dua yang terakhir kata ganti itu didahului huruf penegas la. Terjemahan memakai "merekalah" di 37:172, dalam (لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ, lahumu l-manshuuruuna) yang berarti "merekalah yang pasti akan ditolong", dan di 37:173, dalam (لَهُمُ الْغَالِبُونَ, lahumu l-ghaalibuuna) yang berarti "merekalah yang menang", dan 37:77 mengikuti terjemahan itu. Koma sesudah "keturunannya" memisahkan sebutan pertama dari kata ganti yang menegaskan sebutan kedua.
Kata (الْبَاقِينَ, l-baaqiina) yang berarti "orang-orang yang tersisa" berakar ب-ق-ي. Bentuk persis ini muncul dua kali, yaitu 26:120 dan 37:77. Di 26:120, dalam (ثُمَّ أَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِينَ, tsumma aghraqnaa ba'du l-baaqiina) yang berarti "kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa setelah itu", orang-orang yang tersisa itu ditenggelamkan, sedangkan di 37:77 keturunan Nuh dijadikan tersisa. Kata yang sama karena itu menyebut dua nasib yang berlawanan, dan nasibnya ditentukan oleh kata kerja di sekitarnya, tidak oleh kata ini. Bentuk lain dari akar yang sama, (بَاقِيَةٍ, baaqiyatin) yang berarti "yang tersisa" di 69:8, diterjemahkan dengan padanan yang sama. Di 16:96, dalam (وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ, wa-maa 'inda llaahi baaqin) yang berarti "dan apa yang di sisi Allah kekal", kata dari akar ini berhadapan dengan sesuatu yang akan lenyap dan diterjemahkan "kekal". Di 37:77 tidak ada hal yang lenyap di dalam ayat itu sendiri, jadi terjemahan memakai "tersisa", yang menyebut apa yang masih ada sesudah sebagian lainnya tiada. Terjemahan tidak memakai "bertahan" karena ayat ini tidak menyebut sesuatu yang dilawan.
Tafsiran
Ayat ini menyebut apa yang terjadi pada garis Nuh sesudah penyelamatannya: keturunannya dijadikan orang-orang yang tersisa. Di 37:76 Nuh dan keluarganya diselamatkan, dan di 37:77 keturunannya dijadikan tersisa, sehingga dua ayat berurutan menyebut dua lingkaran. Ayat 37:82 menyebut penenggelaman yang lain, sehingga kata tersisa di 37:77 dapat dibaca berhadapan dengan golongan yang ditenggelamkan. Dalam 26:120 kata yang sama dipakai untuk golongan yang ditenggelamkan, sehingga kata itu sendiri tidak menyatakan baik atau buruk.
Ayat ini juga berhadapan dengan ayat lain tentang siapa saja yang ikut diselamatkan. Ayat 10:73 menyebut penyelamatan Nuh dan orang-orang yang bersamanya di kapal, lalu menjadikan mereka generasi penerus. Ayat 17:3 memanggil (ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ, dzurriyyata man hamalnaa ma'a nuuhin) yang berarti "keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh", dan 19:58 menyebut orang yang dibawa bersama Nuh di antara mereka yang diberi nikmat oleh Allah. Kata ganti penegas di 37:77 dapat dibaca membatasi yang tersisa pada keturunan Nuh, dan pembacaan itu berhadapan dengan ayat-ayat tadi, yang menyebut juga orang-orang yang bersamanya. Ayat 37:77 sendiri tidak membahas hubungan antara keduanya.
Tentang isi keturunan itu, 37:113 dan 57:26 memuat keterangan dari sisi lain. Ayat 37:113 menyebut bahwa dari keturunan Ibrahim dan Ishaq ada yang berbuat baik dan ada yang terang-terangan menzalimi dirinya sendiri, dan 57:26 menyebut bahwa dari keturunan Nuh dan Ibrahim ada yang mendapat petunjuk dan banyak yang fasik. Ayat 37:77 tidak memuat penilaian semacam itu atas keturunan Nuh, dan hanya menyebut bahwa mereka dijadikan orang-orang yang tersisa.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 37:77 menyebut keturunan Nuh dijadikan orang-orang yang tersisa, dan tidak memberi mereka sifat baik atau buruk. Ayat 57:26 menyebut bahwa dari keturunan Nuh dan Ibrahim ada yang mendapat petunjuk dan banyak yang fasik, sedangkan 37:113 menyebut ada yang berbuat baik dan ada yang terang-terangan menzalimi dirinya. Pembaca yang menyebut dirinya penerus orang saleh dapat memperhatikan bahwa kata tersisa memang menyebut keberadaan, dan nilai keturunan disebut ayat lain secara bercampur. Di hadapan Allah, apakah nama baik leluhur menjadi penjamin bagi yang menyandangnya, atau hanya menjadi titik awal pemeriksaan?
- Kata orang-orang yang tersisa dipakai di 26:120 untuk golongan yang ditenggelamkan, dan di 37:77 untuk keturunan Nuh yang dijadikan tersisa. Kata itu tidak membawa nasib, dan nasibnya ditentukan oleh kata kerja di sekelilingnya, yaitu tenggelam di satu ayat dan dijadikan di ayat lain. Pembaca yang menyebut dirinya sisa dari sebuah keadaan sulit, misalnya sisa sebuah keluarga atau sisa sebuah generasi, dapat menimbang bahwa menjadi sisa belum menyebut ke mana arahnya. Siapa yang menjadikan seseorang sisa, dan dengan kata kerja apa Allah menyebut kelanjutannya?
- Garis keturunan Nuh disebut dalam ayat ini sebagai sesuatu yang dijadikan, dengan Kami sebagai pelaku kata kerja. Surah ini menyebut hamba-hamba sebagai milik Allah di 37:74 dan sebagai milik Kami di 37:81, sehingga Kami dapat dibaca sebagai Allah, dan keberlanjutan garis Nuh sebagai perbuatan Allah. Tidak ada usaha Nuh yang tertulis di ayat ini, dan tidak ada pula usaha keturunannya. Orang yang menganggap garis keluarganya sebagai hasil usaha leluhur akan mendapati kalimat ini berbicara lain. Seberapa banyak dari yang dikiranya miliknya sendiri sebenarnya adalah sisa dari sesuatu yang dijadikan Allah?
- Ayat 37:76 menyebut Nuh dan keluarganya diselamatkan, dan 37:77 menyebut keturunannya dijadikan tersisa. Dua kata yang berbeda dipakai berurutan, yaitu keluarga untuk yang hidup bersamanya dan keturunan untuk yang datang sesudahnya. Kedua ayat itu tidak memadukan keluarga dan keturunan menjadi satu lingkaran. Orang yang dekat dengannya sekarang dan orang yang akan datang dari dirinya disebut dengan kata yang berbeda, dalam dua ayat yang berurutan. Siapa yang selama ini dipikirkan pembaca ketika menimbang apa yang akan tersisa dari dirinya, keluarganya yang sekarang atau keturunannya yang kelak?
- Kata ganti merekalah di 37:77 berdiri di antara keturunan dan orang-orang yang tersisa, dan memusatkan pandangan pada keturunan itu. Pola yang sama muncul di 37:172 untuk mereka yang pasti ditolong dan di 37:173 untuk bala tentara Kami yang menang, dan di ketiganya pernyataannya menyangkut hasil akhir sebuah golongan di hadapan Allah. Dengan kata ganti itu ayat menyorot satu pihak dan membiarkan pihak lain berada di luar bingkai. Orang yang menyorot satu pihak dalam sebuah cerita juga membiarkan pihak lain di luar bingkai. Apakah pihak yang tidak tersorot itu ikut terhitung dalam ukuran yang dipegangnya?
- Ayat 37:77 menyebut keturunan Nuh sebagai yang tersisa, sedangkan 10:73 menyebut orang-orang yang bersamanya di kapal dan 17:3 menyebut keturunan orang yang dibawa bersamanya, dan 19:58 menyebut mereka di antara yang diberi nikmat oleh Allah. Satu kisah penyelamatan menyebut lingkaran yang berbeda di ayat yang berbeda. Orang yang mengutip satu ayat untuk menceritakan sebuah kisah memotong sebagian lingkaran dengan pilihannya. Dari ayat-ayat tentang satu orang yang sama, lingkaran siapa saja yang dihilangkannya ketika menceritakan ulang?