إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِيinnaa ka-dzaalika najziisesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan
  2. الْمُحْسِنِينَl-muhsiniinakepada orang-orang yang berbuat kebaikan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  3. نَجْزِيnajziiKami membalas
  4. الْمُحْسِنِينَl-muhsiniinaorang-orang yang berbuat kebaikan

Inti bacaan

Kata benda (جَزَاءُ الْإِحْسَانِ, jazaa'u l-ihsaani) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 55:60, sedangkan (جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ, jazaa'u l-muhsiniina) muncul dua kali, yaitu di 5:85 dan 39:34.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا, innaa) yang berarti "sesungguhnya Kami", tersusun dari inna yang berarti "sesungguhnya" dan akhiran -naa yang berarti "Kami". Sesudahnya datang (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah", dari ka yang berarti "seperti" dan dzaalika yang berarti "itu". Kata ka-dzaalika menunjuk pada sesuatu yang baru dituturkan tanpa menyebut apa yang ditunjuk, sehingga terjemahan "demikianlah" mempertahankan sifat menunjuk itu dan tidak mengisinya dengan rincian. Susunan (إِنَّا كَذَٰلِكَ, innaa ka-dzaalika) muncul enam kali di dua surah, yaitu 37:34, 37:80, 37:105, 37:121, 37:131, dan 77:44.

Kata kerja (نَجْزِي, najzii) yang berarti "Kami memberi balasan" berakar ج-ز-ي. Awalan n- menandai pelaku Kami, dan bentuknya menandai perbuatan yang sedang berlangsung. Sesudah ka-dzaalika, kata kerja ini muncul 19 kali di 12 surah, yaitu 6:84, 7:40, 7:41, 7:152, 10:13, 12:22, 12:75, 20:127, 21:29, 28:14, 35:36, 37:80, 37:105, 37:110, 37:121, 37:131, 46:25, 54:35, dan 77:44. Sepuluh di antaranya menyebut yang dibalas sebagai orang yang berbuat kebaikan, yaitu 6:84, 12:22, 28:14, 37:80, 37:105, 37:110, 37:121, 37:131, dan 77:44, atau sebagai orang yang bersyukur, yaitu (مَنْ شَكَرَ, man syakara) yang berarti "siapa yang bersyukur" di 54:35. Sembilan lainnya menyebut orang yang dibalas dengan sebutan yang berlawanan, misalnya (الْمُجْرِمِينَ, l-mujrimiina) yang berarti "para pendosa" di 7:40, dan (الظَّالِمِينَ, zh-zhaalimiina) yang berarti "orang-orang zalim" di 7:41, ditambah 7:152, 10:13, 12:75, 20:127, 21:29, 35:36, dan 46:25. Kata kerja yang sama dipakai untuk kebaikan dan keburukan, sehingga terjemahan memakai "memberi balasan" dan tidak memakai "memberi pahala". Arah balasan ditentukan oleh kata sesudahnya, dan di 37:80 oleh (الْمُحْسِنِينَ, l-muhsiniina).

Kata (الْمُحْسِنِينَ, l-muhsiniina) yang berarti "orang-orang yang berbuat kebaikan" berakar ح-س-ن dan menunjuk pelaku yang melakukan kebaikan. Terjemahan memakai "kebaikan" seperti pada (الْإِحْسَانِ, l-ihsaani) di 55:60, tempat kata kebaikan itu seakar. Dua akar yang sama, ج-ز-ي dan ح-س-ن, tampil juga sebagai kata benda yang berdampingan: (جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ, jazaa'u l-muhsiniina) yang berarti "balasan orang-orang yang berbuat kebaikan" muncul dua kali, yaitu di 5:85 dan 39:34, dan (جَزَاءُ الْإِحْسَانِ, jazaa'u l-ihsaani) yang berarti "balasan kebaikan" muncul satu kali, yaitu di 55:60. Ayat 37:80 memakai bentuk kata kerjanya, najzii, sedangkan ketiga ayat itu memakai kata bendanya, jazaa'u.

Bingkai ayat ini punya pasangan dengan kata kerja lain. Di 37:34, (إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ, innaa ka-dzaalika naf'alu bi-l-mujrimiina) yang berarti "sesungguhnya demikianlah Kami perlakukan para pendosa", dan di 77:18, (كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ, ka-dzaalika naf'alu bi-l-mujrimiina), kata kerjanya (نَفْعَلُ, naf'alu) yang berarti "Kami perlakukan". Surah 37 dan surah 77 masing-masing memuat sepasang kalimat berbingkai sama: naf'alu untuk para pendosa di 37:34 dan 77:18, dan najzii untuk orang yang berbuat kebaikan di 37:80 dan 77:44. Terjemahan membedakan keduanya, "memperlakukan" untuk naf'alu dan "memberi balasan" untuk najzii, karena dua kata kerja itu tidak bertukar tempat di keempat ayat tersebut.

Tafsiran

Ayat ini mengubah kisah satu orang menjadi pernyataan yang berlaku bagi satu golongan. Ayat 37:79 menyebut Nuh dengan namanya, sedangkan 37:80 tidak menyebut nama siapa pun, sehingga apa yang tertulis di sini berlaku sama bagi siapa saja yang termasuk golongan yang disebut. Kata demikianlah di sini dipakai untuk menunjuk ke belakang, ke 37:76 sampai 37:79. Ayat tidak memilih bagian mana yang dimaksud, apakah penyelamatan, keturunan, peninggalan, atau kesejahteraan, dan keempatnya dapat dibaca sebagai balasan. Ayat ini juga tidak menyebut Nuh sebagai orang yang berbuat kebaikan. Hubungan itu terbentuk dari urutan kalimat, karena nama Nuh ada di ayat sebelumnya dan sebutan golongan ada di sini.

Kalimat berbingkai sama muncul di bagian kisah tokoh lain di surah ini. Untuk Ibrahim kalimat itu hadir dua kali, di 37:105 sesudah (قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا, qad shaddaqta r-ru'yaa) yang berarti "sungguh, engkau telah membenarkan mimpi", yaitu di tengah kisahnya, dan di 37:110 sesudah kesejahteraan atas Ibrahim. Untuk Musa dan Harun kalimat itu ada di 37:121, dan untuk Ilyasin di 37:131. Kisah Lut di 37:133 sampai 37:138 dan kisah Yunus di 37:139 sampai 37:148 tidak memuatnya. Jumlahnya dalam surah ini lima untuk orang yang berbuat kebaikan, yaitu 37:80, 37:105, 37:110, 37:121, dan 37:131, dan satu untuk para pendosa, yaitu 37:34. Pembinasaan pihak lain di 37:82 terletak sesudah kalimat ini, sehingga bagian Nuh memuat kaidah kebaikan di tengah dan pembinasaan di ujung.

Surah 77 memakai kalimat yang sama di luar kisah tokoh. Di 77:44 kalimat itu menyusul gambaran orang-orang bertakwa di 77:41 sampai 77:43, yang berada di naungan dan di antara mata air, dengan buah-buahan yang mereka inginkan. Dengan begitu kalimat di 37:80 tidak terikat pada Nuh saja, dan dapat dibaca sebagai kalimat yang dipakai di surah 37 untuk tokoh dalam kisahnya dan di surah 77 untuk orang-orang bertakwa yang digambarkan berada di naungan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:80 tidak menyebut nama siapa pun, dan 77:44 memuat kalimat yang sama untuk orang-orang bertakwa yang namanya juga tidak disebut. Kalimat itu dipakai untuk tokoh dalam kisahnya dan untuk orang yang hanya digambarkan keadaannya, sehingga kalimat itu tidak melekat pada satu nama, dan keduanya membiarkan tempat nama itu kosong. Pembaca dapat membaca kalimat ini sambil bertanya apakah kalimat itu juga berbicara tentang dirinya, atau hanya tentang tokoh di ayat sebelumnya. Bila dirinya ditempatkan di luar kalimat itu, ukuran apa yang dipakai untuk menentukan batasnya?
  • Kata balasan di 7:41 dipakai untuk orang-orang zalim dan di 37:80 untuk orang yang berbuat kebaikan, dengan kata kerja yang sama. Kata balasan belum menyatakan baik atau buruknya, dan arahnya ditentukan oleh siapa yang disebut sesudahnya. Kesamaan kata kerja di dua ayat itu tidak berarti kesamaan isi. Pembaca dapat memperhatikan apa yang lebih dulu terbayang ketika mendengar kata balasan, hukuman atau kebaikan, dan dari mana kebiasaan itu berasal. Apakah kebiasaan itu terbentuk dari ayat, atau dari cerita yang didengar sebelum pernah membuka ayat?
  • Di 2:112 orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah sambil berbuat kebaikan disebut memiliki pahala di sisi Tuhannya, tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan. Ayat 37:80 tidak memerinci apa yang dikerjakan orang yang berbuat kebaikan, dan 2:112 memberi satu gambaran, yaitu kebaikan yang disertai penyerahan wajah kepada Allah. Dua ayat itu berbicara tentang hal yang berbeda, balasan Kami di satu ayat dan pahala di sisi Tuhan di ayat lain, sehingga 2:112 tidak dijadikan tafsir bagi 37:80. Pembaca dapat bertanya kepada siapa kebaikannya diarahkan: kepada Allah, kepada penonton, atau kepada gambaran tentang dirinya sendiri?
  • Di 9:121 infak yang kecil maupun yang besar, dan lembah yang dilintasi, dituliskan bagi mereka agar Allah membalas mereka dengan yang terbaik dari apa yang selama ini mereka kerjakan. Ayat 37:80 tidak mengukur besar kecilnya kebaikan, dan 9:121 menyebut keduanya dalam satu kalimat tanpa memeringkat. Pembaca dapat meninjau kebaikan kecil yang pernah ditunda karena menunggu kesempatan yang lebih besar. Berapa banyak dari yang ditunda itu akhirnya tidak pernah dikerjakan?
  • Di 39:34 apa yang dikehendaki orang-orang yang berbuat kebaikan berada di sisi Tuhan mereka, dan ayat itu menamainya balasan bagi mereka. Dengan memakai kata sisi, ayat itu menaruh balasan di tempat yang tidak dikuasai pembaca, sedangkan 37:80 menyebut Kami sebagai pelaku yang memberi balasan. Dua ayat itu memakai kata balasan dalam susunan berbeda, kata benda di 39:34 dan kata kerja di 37:80, tetapi sama-sama menempatkan penentuan balasan di luar tangan orang yang berbuat. Pembaca yang menghitung balasan kebaikannya dari tepuk tangan orang di sekitarnya dapat bertanya di sisi siapa perhitungan itu sebenarnya diletakkan. Seberapa sering perhitungan itu berpindah ke tempat yang salah tanpa disadari?
  • Surah ini menaruh dua kalimat berbingkai sama berjauhan, satu untuk para pendosa di 37:34 dan satu untuk orang yang berbuat kebaikan di 37:80, dengan kata kerja yang berbeda. Di antara keduanya ada empat puluh lima ayat, dan keduanya dibuka dengan kata yang sama, yaitu sesungguhnya demikianlah Kami. Pembaca yang membaca keduanya berurutan dapat memperhatikan kalimat mana yang terasa berbicara tentang orang lain, dan kalimat mana yang terasa berbicara tentang dirinya sendiri. Mengapa pembagian itu jatuh di tempat itu, dan siapa yang menentukan tempatnya?