ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ
Kemudian, Kami tenggelamkan yang lain.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَtsumma aghraqnaa l-aakhariinakemudian, Kami tenggelamkan yang lain
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- أَغْرَقْنَاaghraqnaaKami tenggelamkan
- الْآخَرِينَl-aakhariinayang lain
Inti bacaan
Kata (الْآخَرِينَ, l-aakhariina) muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:64, 26:66, 26:172, 37:82, dan 37:136.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian", kata penyambung yang menyatakan urutan. Susunan (ثُمَّ أَغْرَقْنَا, tsumma aghraqnaa) yang berarti "kemudian Kami tenggelamkan" muncul tiga kali di dua surah, yaitu di 26:66, 26:120, dan 37:82, dan di ketiganya kalimat itu menyusul kalimat penyelamatan: 26:65, 26:119, dan di 37:82 penyelamatan Nuh yang disebut di 37:76. Dua ayat lain memakai tsumma dengan kata kerja pembinasaan yang berbeda, (ثُمَّ دَمَّرْنَا, tsumma dammarnaa) yang berarti "kemudian Kami binasakan", yaitu di 26:172 dan 37:136, dan keduanya juga datang sesudah penyelamatan, yaitu 26:170 dan 37:134.
Kata kerja (أَغْرَقْنَا, aghraqnaa) yang berarti "Kami tenggelamkan" berakar غ-ر-ق dan memakai bentuk yang membuat sesuatu tenggelam, dengan akhiran -naa untuk pelaku Kami. Bentuk ini muncul 13 kali di 11 surah, yaitu di 2:50, 7:64, 7:136, 8:54, 10:73, 17:103, 21:77, 25:37, 26:66, 26:120, 29:40, 37:82, dan 43:55. Enam menyangkut kaum Nuh, yaitu 7:64, 10:73, 21:77, 25:37, 26:120, dan 37:82. Enam menyangkut Firaun dan pengikutnya, yaitu 2:50, 7:136, 8:54, 17:103, 26:66, dan 43:55. Satu, yaitu 29:40, menyebut beberapa golongan yang dihukum dengan cara berbeda-beda. Di 25:37, (أَغْرَقْنَاهُمْ, aghraqnaahum) yang berarti "Kami tenggelamkan mereka" disertai alasan, yaitu kaum Nuh mendustakan para rasul. Ayat 37:82 tidak memuat alasan itu, sehingga terjemahan tidak menambahkan "kaum yang mendustakan".
Kata (الْآخَرِينَ, l-aakhariina) yang berarti "yang lain" berakar أ-خ-ر dan muncul lima kali di dua surah, yaitu di 26:64, 26:66, 26:172, 37:82, dan 37:136. Di kelimanya kata ini menyebut kelompok di luar kelompok yang baru disebut, tanpa nama. Pembaca mengenali kelompok itu dari kalimat sebelumnya, dan di 37:82 pembandingnya adalah Nuh dan keluarganya di 37:76, karena Nuh dan keluarganya adalah pihak yang disebut diselamatkan dalam kisah ini. Ayat tidak menyebut yang lain itu dengan nama, sebutan kaum, ataupun perbuatannya.
Huruf kata ini sama dengan (الْآخِرِينَ, l-aakhiriina) yang berarti "orang-orang yang datang kemudian" di 37:78, bedanya terletak pada harakat, dan morfologi korpus mencatat dua lema yang berlainan. Kata l-aakhiriina muncul sembilan kali di empat surah, yaitu di 26:84, 37:78, 37:108, 37:119, 37:129, 56:14, 56:40, 56:49, dan 77:17. Terjemahan memberi padanan berbeda untuk keduanya, "yang datang kemudian" untuk l-aakhiriina dan "yang lain" untuk l-aakhariina, sehingga dua ayat yang berjarak empat ayat, 37:78 dan 37:82, tidak terbaca memakai kata yang sama.
Surah ini memakai kata lain untuk pihak yang bertahan. Di 37:77, (هُمُ الْبَاقِينَ, humu l-baaqiina) menyebut keturunan Nuh sebagai orang-orang yang bertahan. Kata l-baaqiina muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:77 dan di 26:120, (ثُمَّ أَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِينَ, tsumma aghraqnaa ba'du l-baaqiina) yang berarti "kemudian Kami tenggelamkan sesudahnya orang-orang yang tersisa", tempat kata itu menyebut pihak yang ditenggelamkan. Di surah 37 kata l-baaqiina sudah dipakai untuk keturunan Nuh, dan pihak yang ditenggelamkan di 37:82 dinamai dengan kata lain.
Tafsiran
Ayat ini menuturkan nasib pihak lain dengan kalimat yang sangat pendek dan tanpa alasan, sesudah lima ayat, 37:77 sampai 37:81, yang semuanya berkaitan dengan Nuh. Penyelamatan disebut di 37:76 dan pembinasaan di 37:82, sehingga bagian Nuh berakhir pada pembinasaan dan tidak pada pujian. Di 26:119 sampai 26:120 kedua sisi itu berurutan langsung, sedangkan di surah 37 kalimat tentang kesejahteraan, balasan, dan kedudukan Nuh menyelip di antara keduanya.
Ayat 37:73 mengajak pembaca memperhatikan (فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ, fa-nzhur kayfa kaana 'aaqibatu l-mundzariina) yang berarti "maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang telah diperingatkan". Kalimat itu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:73 dan 37:73. Di 10:73 kalimat itu menutup kisah Nuh, sesudah Kami menenggelamkan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda Kami, sedangkan di 37:73 kalimat itu mendahului kisah Nuh, dan 37:72 sebelumnya menyebut bahwa pemberi peringatan telah diutus di kalangan mereka. Dengan susunan itu pembaca surah 37 lebih dulu diminta memperhatikan akibat, lalu 37:82 dapat dibaca sebagai salah satu akibat yang dimaksud, meskipun ayat ini sendiri tidak memuat kata peringatan.
Kisah Lut punya bentuk yang sama. Ayat 37:134 menyebut penyelamatan Lut dan keluarganya, 37:135 mengecualikan seorang perempuan tua yang termasuk golongan yang tertinggal, dan 37:136 menutup dengan (ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ, tsumma dammarnaa l-aakhariina) yang berarti "kemudian Kami binasakan yang lain". Bedanya, 37:137 sampai 37:138 sesudahnya langsung menyapa pembaca dengan kenyataan bahwa pembaca melintasi mereka pada waktu pagi dan malam, lalu bertanya apakah mereka tidak berakal. Ayat 37:82 tidak diikuti sapaan semacam itu, dan 37:83 membuka kisah Ibrahim.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 37:82 memuat pembinasaan dalam tiga kata Arab tanpa rincian penderitaan, sesudah lima ayat yang memuji dan menjelaskan kedudukan Nuh. Pembaca dapat memperhatikan di mana matanya berhenti lebih lama, pada kalimat yang memuji atau pada kalimat yang pendek ini, dan apa yang dikatakan kebiasaan itu tentang apa yang dicarinya ketika membaca. Seberapa sering kalimat pendek yang berat dilewati begitu saja karena kalimat di sebelahnya lebih enak dibaca?
- Ayat 37:82 menyebut pihak yang ditenggelamkan dengan kata yang lain, tanpa nama dan tanpa perbuatan, sedangkan 25:37 menyebut alasannya, yaitu kaum Nuh mendustakan para rasul. Dua ayat itu berbicara tentang peristiwa yang sama dari dua arah, dan 37:82 memilih tidak menyebut apa yang dikerjakan pihak itu. Dengan tidak adanya nama, pembaca tidak punya tempat untuk menunjuk orang lain. Dengan ukuran apa seseorang menempatkan dirinya di sisi yang selamat, dan siapa yang memberinya ukuran itu?
- Ayat 37:73 meminta pembaca memperhatikan akibat orang-orang yang telah diperingatkan, dan permintaan itu datang sebelum kisah Nuh dimulai. Ayat 37:82 dapat dibaca sebagai tempat akibat itu tertulis untuk satu pihak, dan ayat itu tidak memberi tafsir, hanya tiga kata. Ayat 37:73 tidak menyebut kesimpulan apa yang harus ditarik. Pembaca dapat bertanya apa yang sebenarnya dilakukan matanya ketika diminta memperhatikan akibat orang lain, apakah mencari pelajaran bagi dirinya atau mencari alasan bahwa dirinya tidak termasuk di dalamnya. Dari mana jawabannya diketahui?
- Di 29:40 ayat menyebut berbagai cara hukuman, termasuk menenggelamkan, lalu menyatakan bahwa Allah tidak menzalimi mereka dan bahwa merekalah yang menzalimi diri sendiri. Ayat 37:82 tidak memuat pernyataan itu, dan 29:40 berbicara tentang banyak golongan sekaligus, sehingga ayat itu tidak dipakai untuk menafsirkan siapa yang dimaksud di 37:82. Pernyataan di 29:40 memberi satu pegangan bagi pembaca yang bergumul dengan kalimat pendek di 37:82, yaitu bahwa Allah sendiri menyangkal bahwa kezaliman datang dari pihak-Nya. Apa yang berubah pada cara pembaca memikirkan kesulitan dalam hidupnya bila pertanyaan tentang siapa yang menzalimi siapa diletakkan pada ayat itu?
- Di 26:117 sampai 26:118 Nuh berkata, "Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku," lalu meminta keputusan antara dirinya dan mereka serta keselamatan bagi orang-orang beriman yang bersamanya. Ayat 26:119 dan 26:120 memuat dua sisi dari hal yang diminta, penyelamatan dan penenggelaman, dan 37:82 memuat sisi kedua. Pembaca dapat melihat bahwa permintaan yang berbunyi keputusan memuat dua sisi. Doa yang diucapkan seseorang tentang urusannya dengan orang lain juga mungkin memuat sisi yang tidak disebutkan. Sudahkah sisi itu dihitung ketika doa diucapkan?
- Pelaku penyelamatan di 37:76 dan pelaku penenggelaman di 37:82 disebut dengan kata yang sama, yaitu Kami, dan ayat tidak memisahkan siapa yang menyelamatkan dan siapa yang menenggelamkan. Dua ayat itu berjarak lima ayat yang memuat kesejahteraan, balasan, dan kedudukan Nuh, sehingga pembaca membaca kedua kabar itu dalam satu bagian. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana kedua kabar itu disimpan dalam gambarannya tentang Tuhan. Apakah salah satunya perlahan dipotong karena terasa lebih nyaman, dan apa yang tersisa dari gambaran itu setelah pemotongan?