فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Maka, apa sangkaan kalian terhadap Tuhan seisi alam?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَمَا ظَنُّكُمْfa-maa zhannukummaka, apa sangkaan kalian
- بِرَبِّ الْعَالَمِينَbi-rabbi l-'aalamiinaterhadap Tuhan seisi alam
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَمَاfa-maamaka apa
- ظَنُّكُمْzhannukumsangkaan kalian
- بِرَبِّbi-rabbikepada Tuhan
- الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam
Inti bacaan
Susunan (فَمَا ظَنُّكُمْ, fa-maa zhannukum) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:87, dan kata itu dengan bunyi akhir sedikit berbeda, (ظَنُّكُمُ, zhannukumu), hanya ada di 41:23.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَمَا, fa-maa) yang berarti "maka apa", terdiri dari (فَ, fa) yang berarti "maka" dan (مَا, maa) yang berarti "apa". Kata tanya yang sama membuka pertanyaan tentang hal yang bukan benda, seperti (فَمَا خَطْبُكُمْ, fa-maa khathbukum) yang berarti "maka apa urusan kalian" di 15:57 dan 51:31. Terjemahan 37:87 memakai "apa" seperti di 15:57. Kata Arab untuk "bagaimana" adalah (كَيْفَ, kayfa), seperti di 88:17, dan 37:87 tidak memakainya.
Kata (ظَنُّكُمْ, zhannukum) yang berarti "sangkaan kalian" tersusun dari (ظَنُّ, zhannu) yang berarti "sangkaan" dari akar ظ-ن-ن dan akhiran (كُمْ, -kum) yang berarti "kalian". Kata ini muncul dua kali di dua surah, yaitu di 37:87 dan 41:23, tempat bunyi akhirnya sedikit berbeda, (ظَنُّكُمُ, zhannukumu). Di 41:23 bunyinya (وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ, wa-dzaalikum zhannukumu lladzii zhanantum bi-rabbikum) yang berarti "dan demikian itu sangkaan kalian yang kalian sangkakan terhadap Tuhan kalian". Terjemahan memakai "sangkaan" di kedua tempat, dan di kedua tempat sangkaan itu diarahkan kepada Tuhan.
Kata (بِرَبِّ, bi-rabbi) yang berarti "terhadap Tuhan" tersusun dari (بِ, bi) yang berarti "terhadap" dan (رَبِّ, rabbi) yang berarti "Tuhan" dari akar ر-ب-ب. Huruf bi sesudah akar ظ-ن-ن dengan Allah atau Tuhan sebagai sasaran ada di lima ayat, yaitu 3:154, 33:10, 37:87, 41:23, dan 48:6, misalnya (يَظُنُّونَ بِاللَّهِ, yazhunnuuna bi-llaahi) yang berarti "mereka menyangka terhadap Allah" di 3:154. Di empat ayat selain 37:87, sangkaan itu disertai keterangan dalam ayat yang sama. Di 3:154 sangkaan itu disebut (غَيْرَ الْحَقِّ, ghayra l-haqqi) yang berarti "selain yang benar", di 41:23 disebut penyebab kebinasaan, (أَرْدَاكُمْ, ardaakum) yang berarti "membinasakan kalian", dan di 48:6 diberi sifat buruk. Di 37:87 ayat memuat pertanyaan saja, tanpa keterangan tentang mutu sangkaan itu.
Kata (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina) yang berarti "seisi alam" mengikuti rabbi dalam sebutan (بِرَبِّ الْعَالَمِينَ, bi-rabbi l-'aalamiina), yang muncul empat kali di tiga surah, yaitu 7:121, 26:47, 26:98, dan 37:87, dengan surah 26 memuatnya dua kali. Kata kerja sebelum sebutan itu berbeda di tiap ayat: (آمَنَّا, aamannaa) yang berarti "kami beriman" di 7:121 dan 26:47, (نُسَوِّيكُمْ, nusawwiikum) yang berarti "kami mempersamakan kalian" di 26:98, dan sangkaan di 37:87. Terjemahan memakai "seisi alam" di keempat ayat itu, dan memakai "terhadap" di 37:87 dan 41:23 untuk huruf bi sesudah sangkaan, sedangkan di 7:121 dan 26:47 huruf yang sama berarti "kepada" karena kata kerjanya iman.
Tafsiran
Ayat ini menutup ucapan Ibrahim yang dibuka di 37:85, dan sasaran pertanyaan terakhirnya berbeda dari dua yang pertama. Di 37:85 yang ditanyakan ialah apa yang diabdi, di 37:86 apa yang dikehendaki, dan di 37:87 apa yang disangka tentang Tuhan seisi alam. Dua pertanyaan pertama menyentuh benda dan keinginan di tangan pendengar, sedangkan yang ketiga menyentuh gambaran pendengar tentang Tuhan.
Pertanyaan ini meminta sangkaan dan tidak menuntut keterangan. Di 18:15 permintaan keterangan ditulis dengan susunan lain, (لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ, lawlaa ya'tuuna 'alayhim bi-sulthaanin bayyinin) yang berarti "mengapa mereka tidak mendatangkan keterangan yang nyata atas mereka". Di 37:87 yang diminta hanya sangkaan, dan ayat ini tidak memuat tuntutan keterangan.
Di 41:23 sangkaan yang diarahkan kepada Tuhan dinilai membinasakan, sedangkan 37:87 membiarkan penilaian itu tidak dituliskan dan menyerahkannya kepada pendengar. Ucapan ditutup tanpa jawaban, dan 37:88 langsung beralih ke gerak Ibrahim.
Di surah 26 Ibrahim menyebut Tuhan seisi alam dengan sebutan yang sama, (إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ, illaa rabba l-'aalamiina) yang berarti "kecuali Tuhan seisi alam" di 26:77, sesudah pertanyaan yang sejajar dengan 37:85 di 26:70. Di surah itu sebutan tersebut disusul uraian tentang siapa Dia di 26:78 sampai 26:82, sedangkan di 37:87 uraian itu tidak dituliskan.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan di ayat ini meminta sangkaan pendengar tentang Tuhan seisi alam, dan tidak meminta dalil untuk apa pun. Di 41:23 sangkaan terhadap Tuhan disebut telah membinasakan orang yang menyimpannya, sedangkan di 37:87 ayat berhenti pada pertanyaan dan akibatnya tidak ditulis. Gambaran apa tentang Tuhan yang dipegang tanpa pernah diucapkan, dan dari mana gambaran itu datang? Sudahkah gambaran itu dibandingkan dengan apa yang tertulis tentang Dia di Al-Qur'an?
- Di 3:154 sangkaan terhadap Allah disebut pada segolongan orang yang dicemaskan oleh diri mereka sendiri sesudah kesedihan, dan di 33:10 pada saat penglihatan menyimpang dan hati sampai ke kerongkongan. Dua ayat itu menempatkan sangkaan terhadap Allah di tengah keadaan yang menekan. Ayat 37:87 tidak menyebut keadaan pendengarnya, tetapi pertanyaannya dapat dibaca bersama dua ayat itu, karena sangkaan terhadap Tuhan tampak jelas ketika sesuatu menekan. Sangkaan apa yang pertama muncul di dalam diri pembaca yang terdesak, dan apakah sama dengan yang diucapkannya ketika semuanya tenang?
- Di 7:121 dan 26:47 orang-orang yang berbicara kepada Tuhan seisi alam memakai (آمَنَّا, aamannaa) yang berarti "kami beriman", sedangkan di 37:87 sasaran yang sama menerima sangkaan kalian. Satu Tuhan dapat dihadapi dengan dua hubungan yang berbeda, yang pertama diucapkan sebagai pengakuan dan yang kedua ditanyakan sebagai keadaan batin. Pada hari-hari biasa, di sisi mana pembaca berdiri di antara dua hubungan itu? Adakah selisih antara apa yang diucapkannya tentang Tuhan dan apa yang disangkanya ketika memutuskan sesuatu yang tidak dilihat siapa pun?
- Di 26:92 sampai 26:93 orang-orang yang tergelincir ditanya tentang keberadaan apa yang mereka abdi selain Allah dan apakah itu dapat menolong mereka, lalu di 26:98 mereka berkata, (إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ, idz nusawwiikum bi-rabbi l-'aalamiina) yang berarti "ketika kami mempersamakan kalian dengan Tuhan seisi alam". Pengakuan itu memakai sebutan yang sama dengan 37:87, dan diucapkan sesudah mereka dijungkirbalikkan ke dalam Jahim di 26:94. Ayat 37:87 menanyakan sangkaan pada saat penyebutannya masih berupa pertanyaan. Apa yang kini dipersamakan dengan Tuhan seisi alam dalam hidup pembaca tanpa pernah disebut dengan nama itu?
- Di 26:78 sampai 26:82 Ibrahim sendiri menyebut siapa Tuhan seisi alam baginya, yaitu Dia yang menciptakannya, memberinya petunjuk, memberinya makan dan minum, menyembuhkannya, mematikan lalu menghidupkannya, dan yang diharapkannya mengampuni kesalahannya. Seluruhnya kata kerja yang menyentuh hidup sehari-hari, yaitu makan, minum, sakit, dan mati. Uraian yang sejajar dengan pertanyaan di 37:87 tertulis di surah lain sebagai daftar perbuatan Dia atas diri Ibrahim. Daftar sejenis dapat ditulis dari hidup sendiri. Apa saja isinya, dan butir mana yang paling dulu terlintas?
- Pertanyaan di 37:87 menyebut Tuhan bagi seisi alam, tidak menyebut Tuhan bagi sebuah kaum atau sebuah kota. Sangkaan tentang Dia dapat diukur dengan sebutan itu, apakah seluas apa yang disebut atau menyusut menjadi sesuatu yang pas dengan ukuran satu keluarga dan satu kota. Ayat ini tidak menjawab, dan sangkaan pembaca sendiri dapat diletakkan di samping sebutan tersebut. Seberapa besar sangkaan itu bila diukur dengan sebutan seisi alam?