فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ
Lalu, ia memandang sekali ke arah bintang-bintang,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَنَظَرَ نَظْرَةًfa-nazhara nazhratanlalu, ia memandang sekali
- فِي النُّجُومِfii n-nujuumike arah bintang-bintang
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَنَظَرَfa-nazharamaka ia memandang
- نَظْرَةًnazhratansatu pandangan
- فِيfiidi
- النُّجُومِn-nujuumibintang-bintang
Inti bacaan
Bentuk (النُّجُومِ, n-nujuumi) hanya muncul tiga kali di Al-Qur'an (37:88, 52:49, 56:75), dan di antaranya hanya 37:88 yang berisi penglihatan manusia terhadapnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَنَظَرَ, fa-nazhara) yang berarti "lalu ia memandang", terdiri dari (فَ, fa) yang berarti "lalu" dan (نَظَرَ, nazhara) yang berarti "ia memandang" dari akar ن-ظ-ر. Tiga ayat sesudahnya juga dibuka dengan fa dan kata kerja lampau, yaitu (فَقَالَ, fa-qaala) di 37:89, (فَتَوَلَّوْا, fa-tawallaw) di 37:90, dan (فَرَاغَ, fa-raagha) di 37:91, sehingga empat ayat berturut-turut menyusun gerak dengan kata sambung yang sama. Bentuk persis fa-nazhara hanya muncul di 37:88.
Kata kerja nazhara dipakai di 9:127, (نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ, nazhara ba'dhuhum ilaa ba'dhin) yang berarti "sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain", dan di 74:21, (ثُمَّ نَظَرَ, tsumma nazhara) yang berarti "kemudian ia memikirkan". Terjemahan 37:88 memakai "memandang" seperti di 9:127. Ayat 74:21 memakai "memikirkan" sejalan dengan 74:18 yang memuat (فَكَّرَ, fakkara) yang berarti "ia memikirkan", sedangkan 37:88 tidak memuat kata kerja berpikir mana pun.
Kata (نَظْرَةً, nazhratan) yang berarti "satu pandangan" berakar sama dengan kata kerja di depannya, dan bentuk persis ini hanya muncul di 37:88. Pola kata kerja yang disusul kata benda satu kali dari akar yang sama ada juga di 37:10, (خَطِفَ الْخَطْفَةَ, khathifa l-khathfata) yang berarti "menyambar sekali sambar", dan di 69:13, (نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ, nufikha fii sh-shuuri nafkhatun waahidatun) yang berarti "ditiup pada sangkakala dengan sekali tiupan". Terjemahan di kedua ayat itu memakai "sekali", dan 37:88 diterjemahkan "memandang sekali" mengikuti pola itu. Kata "sekilas" tidak dipakai karena menyatakan lamanya sebentar, sedangkan 37:88 tidak memuat kata yang menyatakan lama.
Kata (فِي, fii) yang berarti "di" atau "pada" mendahului (النُّجُومِ, n-nujuumi) yang berarti "bintang-bintang", jamak dari akar ن-ج-م yang bersandang al-. Bentuk persis ini muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 37:88, 52:49, dan 56:75. Jamak dari akar yang sama dengan bunyi akhir lain muncul di 6:97, 7:54, 16:12, 22:18, 77:8, dan 81:2, sehingga seluruh jamak itu berjumlah sembilan kali di sembilan surah. Kata kerja berakar ن-ظ-ر dan jamak bintang-bintang itu bertemu di satu ayat saja, yaitu 37:88.
Karena fii berarti "di" atau "pada", terjemahan "ke arah" dipilih supaya "memandang" terbaca wajar dalam bahasa Indonesia. Kata kerja yang sama bertemu fii di 7:185, (أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, a-wa-lam yanzhuruu fii malakuuti s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi", dan bertemu (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "kepada" di 88:17, (يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ, yanzhuruuna ilaa l-ibili) yang berarti "mereka memandang kepada unta". Ayat 37:88 memakai fii seperti 7:185. Teks tidak menyatakan apakah pandangan itu menatap bintang sebagai benda atau memperhatikan sesuatu pada bintang-bintang, dan terjemahan "ke arah" tidak memutuskan keduanya.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pandangan dari para pendengar ke langit. Tiga ayat sebelumnya menyebut pendengar dengan "kalian", dan 37:88 menyebut bintang-bintang sebagai sasaran pandangan Ibrahim. Kutipan ditutup di 37:87, jadi 37:88 kembali ke suara penutur dan menuturkan gerak, tidak ucapan. Ayat 37:89 menyusul dengan fa yang berarti "lalu", kata yang menyatakan urutan dan tidak menyatakan sebab, sehingga teks tidak menghubungkan pandangan di sini dengan ucapan di sana.
Teks tidak menyebutkan apa yang dicari atau dilihat Ibrahim pada bintang-bintang. Al-Qur'an menyebut bintang di tempat lain dalam beberapa kedudukan. Di 6:97 bintang-bintang dijadikan bagi pendengarnya, (لِتَهْتَدُوا بِهَا, li-tahtaduu bihaa) yang berarti "agar kalian mendapat petunjuk dengannya". Di 16:12, (وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ, wa-n-nujuumu musakhkharaatun bi-amrihi) yang berarti "dan bintang-bintang ditundukkan dengan keputusan-Nya". Di 22:18, (وَالنُّجُومُ, wa-n-nujuumu) disebut bersama matahari, bulan, gunung, pohon, dan hewan melata sebagai yang tunduk kepada Allah. Ayat 37:88 tidak mengaitkan pandangan Ibrahim dengan salah satu dari ketiga kedudukan itu.
Penuturan lain tentang Ibrahim dan bintang ada di 6:76, (رَأَىٰ كَوْكَبًا, ra'aa kawkaban) yang berarti "ia melihat sebuah bintang", dan di sana Ibrahim berbicara tentang bintang itu. Kata kerja dan kata bendanya berbeda dari 37:88, yang memakai nazhara dan jamak bintang-bintang, dan 37:88 tidak memuat ucapan tentang bintang. Dua penuturan itu terpisah surah dan tidak perlu dilebur menjadi satu kisah.
Letak ayat ini di tengah rangkaian juga terlihat dari yang ada di kedua sisinya. Sebelum ayat ini ada tiga pertanyaan tanpa jawaban yang dikutip, dan sesudahnya ada kalimat tiga kata di 37:89. Ayat 37:88 sendiri tidak memuat satu pun ucapan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini mencatat satu pandangan ke bintang-bintang tanpa menyebut apa yang dicari. Pembaca terbiasa mengisi alasan di balik gerak orang lain, dan teks di sini membiarkan tempat alasan itu kosong. Berapa banyak penilaian tentang sesama berdiri di atas alasan yang diisi sendiri, padahal pelakunya tidak pernah menyebutkannya? Apakah alasan yang diisinya itu selalu cocok dengan yang dimaksud orang yang bergerak, dan dari mana kecocokan itu diketahui?
- Sesudah tiga pertanyaan tanpa jawaban yang dikutip, 37:88 tidak memuat debat lanjutan, hanya satu pandangan ke atas. Ucapan baru muncul di 37:89 dalam tiga kata. Dalam percakapan yang pertanyaannya tidak dijawab, ada saat ketika penanya berhenti berbicara, dan ayat ini mengisi saat itu dengan pandangan, tidak dengan desakan. Pada jeda semacam itu, apa yang dilakukan penanya yang pertanyaannya menggantung? Memaksa jawaban datang, atau memandang ke arah lain dan menunggu?
- Di 16:12 bintang-bintang disebut ditundukkan dengan keputusan Allah, dan di 22:18 disebut tunduk kepada-Nya bersama gunung, pohon, dan hewan melata. Dua ayat itu menaruh bintang-bintang di bawah Allah, yang satu lewat keputusan-Nya dan yang lain lewat ketundukan kepada-Nya. Teks 37:88 tidak menyebut pikiran Ibrahim, tetapi pembaca dapat bertanya apa yang dilihatnya sendiri ketika memandang langit malam. Benda yang jauh dan bisu, atau sesuatu yang tunduk kepada Dia, Tuhan yang disebut di 37:84 sebagai tujuan kedatangan Ibrahim?
- Di 6:97 Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagi pendengarnya agar mendapat petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Orang yang memandang bintang dalam keadaan gelap pada ayat itu sedang mencari arah, dan yang menjadikan penunjuk arahnya disebut dengan jelas. Ayat 37:88 tidak mengatakan Ibrahim mencari arah, tetapi pertanyaan itu dapat diajukan kepada pembaca. Ketika hidupnya gelap, ke mana matanya diarahkan untuk mencari penunjuk, dan menurut ayat itu siapa yang menjadikan penunjuk tersebut?
- Ayat ini mencatat satu pandangan, sedangkan di 7:185 kata kerja yang sama bertemu fii dalam pertanyaan apakah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi serta apa yang Allah ciptakan dari sesuatu. Dua pemakaian itu menaruh satu kata kerja pada dua takaran: yang pertama sekali memandang, yang kedua sebuah perhatian yang ditanyakan. Berapa kali dalam sehari mata hanya sekali melihat sesuatu, dan kapan terakhir kali sesuatu yang diciptakan Allah diperhatikan lebih lama dari itu?
- Di 6:76 Ibrahim melihat sebuah bintang dan berkata tentang bintang itu, "Ini Tuhanku", lalu ketika bintang itu terbenam Ibrahim berkata bahwa dirinya tidak suka kepada yang terbenam. Ayat 37:88 berbeda dalam kata kerja, kata benda, dan ucapan, sehingga dua ayat itu tidak ditumpuk. Namun keduanya menaruh bintang di hadapan Ibrahim, dan hanya satu yang mencatat ucapan tentang bintang itu. Pembaca dapat menimbang bahwa memandang sesuatu tidak sama dengan menjadikannya jawaban, dan 6:76 mencatat bahwa sesuatu yang pernah disebut Tuhan dapat dinyatakan tak disukai begitu sesuatu itu terbenam. Adakah sesuatu dalam hidup pembaca yang diperlakukan sebagai Tuhan tanpa pernah disebut dengan kata itu, dan apa yang terjadi bila sesuatu itu terbenam?