فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Lalu, ia menyelinap ke tuhan-tuhan mereka, seraya berkata, “Mengapa kalian tidak makan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْfa-raagha ilaa aalihatihimlalu, ia menyelinap ke tuhan-tuhan mereka
  2. فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَfa-qaala a-laa ta'kuluunaseraya berkata, mengapa kalian tidak makan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَرَاغَfa-raaghalalu ia beranjak
  2. إِلَىٰilaake
  3. آلِهَتِهِمْaalihatihimtuhan-tuhan mereka
  4. فَقَالَfa-qaalaseraya berkata
  5. أَلَاa-laamengapa tidak
  6. تَأْكُلُونَta'kuluunakalian makan

Inti bacaan

Bentuk fa-raagha, (فَرَاغَ, fa-raagha), muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:91, 37:93, dan 51:26, dan hanya di 37:91 tujuannya berupa sesembahan milik orang lain.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَرَاغَ, fa-raagha) yang berarti "lalu menyelinap". Awalan (فَ, fa) di sini ditandai morfologi korpus sebagai awalan yang melanjutkan cerita, dan cerita yang dilanjutkannya ditutup 37:90 dengan kaum Ibrahim yang berpaling lalu pergi. Kata kerja raagha berakar ر-و-غ, dan bentuk (فَرَاغَ, fa-raagha) muncul tiga kali di dua surah, yaitu 37:91, 37:93, dan 51:26. Di 51:26 ayat sebelumnya memuat salam yang dibalas salam, sehingga terjemahannya "beranjak". Di 37:91 ayat sebelumnya memuat orang-orang yang pergi, dan keadaan itu membuat terjemahan memakai "menyelinap". Pilihan ini bertumpu pada urutan ayat dan tidak pada kata kerjanya, sebab di 37:93 dan 51:26 tidak ada keterangan yang menyiratkan bersembunyi. Di 21:57 Ibrahim mengucapkan (بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ, ba'da an tuwalluu mudbiriina) yang berarti "setelah kalian pergi berpaling" tentang saat Ibrahim akan bertindak terhadap berhala-berhala, sehingga gerak menuju tuhan-tuhan itu dapat dibaca terjadi sesudah orang-orang pergi. Ayat 37:91 sendiri tidak mencatat apakah ada yang melihat kepergiannya.

Kata (آلِهَتِهِمْ, aalihatihim) yang berarti "tuhan-tuhan mereka" adalah bentuk jamak dari kata yang berakar أ-ل-ه, ditambah akhiran (هِمْ, -him) yang berarti "mereka". Bentuk dengan akhiran ini hanya muncul di 37:91. Kata jamak yang sama dengan akhiran pemilik lain muncul pada (آلِهَتِنَا, aalihatinaa) yang berarti "tuhan-tuhan kami" di 11:53, 11:54, 21:59, 21:62, 25:42, 37:36, dan 46:22, pada (آلِهَتَكُمْ, aalihatakum) yang berarti "tuhan-tuhan kalian" di 21:36, 21:68, dan 71:23, dan pada (آلِهَتِي, aalihatii) yang berarti "tuhan-tuhanku" di 19:46 saja. Pada kesebelas ayat itu sebutan tersebut berada di dalam ucapan, diucapkan oleh pemiliknya atau kepada pemiliknya. Di 37:91 pemiliknya disebut "mereka", yaitu kaum yang di 37:90 berpaling. Terjemahan menulis "tuhan" dengan huruf kecil seperti di 37:36, karena kata itu menyebut sesembahan milik orang lain dan ayat sendiri memberinya akhiran pemilik.

Kata (فَقَالَ, fa-qaala) yang berarti "seraya berkata" berakar ق-و-ل. Awalan fa di sini ditandai korpus sebagai penghubung antara dua kata kerja dalam satu ayat, berbeda dari fa pembuka ayat tadi. Terjemahan memakai "seraya" supaya gerak menuju tuhan-tuhan itu dan ucapan sesudahnya terbaca sebagai satu rangkaian, dan ayat tidak menyisipkan penanda jarak waktu di antara keduanya.

Kata (أَلَا, a-laa) yang berarti "mengapa tidak" tersusun dari huruf tanya (أَ, a) dan (لَا, laa) yang berarti "tidak". Susunan yang sama di depan kata kerja lain, (أَلَا تُقَاتِلُونَ, a-laa tuqaatiluuna) di 9:13, diterjemahkan "mengapa kalian tidak memerangi", yaitu pertanyaan yang menegur pihak yang belum bertindak. Kata kerja (تَأْكُلُونَ, ta'kuluuna) yang berarti "kalian makan" berakar أ-ك-ل dan ditujukan kepada beberapa orang yang diajak bicara. Bentuk ini muncul dua belas kali di sepuluh surah, yaitu 3:49, 12:47, 16:5, 23:19, 23:21, 23:33, 35:12, 37:91, 40:79, 43:73, 51:27, dan 89:19. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 23 memuatnya tiga kali. Dari dua belas itu, 37:91 dan 51:27 berupa pertanyaan, dan di sepuluh lainnya ada keterangan tentang benda yang dimakan, misalnya (وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ, wa-minhaa ta'kuluuna) yang berarti "dan sebagiannya kalian makan" di 16:5, dan (وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا, wa-min kullin ta'kuluuna lahman thariyyan) yang berarti "dan dari masing-masing kalian makan daging yang segar" di 35:12. Di 37:91 kata kerja itu berdiri tanpa keterangan benda, dan ayat-ayat sebelumnya tidak menyebut makanan, sehingga terjemahan tidak menambahkan "sajian" atau "hidangan". Susunan (أَلَا تَأْكُلُونَ, a-laa ta'kuluuna) hanya muncul di 37:91 dan 51:27.

Terjemahan memakai "mengapa" pada a-laa karena ayat sesudahnya memuat (مَا لَكُمْ, maa lakum) yang diterjemahkan "mengapa kalian", sehingga kedua pertanyaan terbaca berpasangan. Terjemahan juga tidak menambahkan "silakan", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Tanda kutip yang dibuka di ayat ini tidak ditutup di ujung terjemahan, karena ucapannya berlanjut ke 37:92.

Tafsiran

Ayat ini memuat dua tindakan Ibrahim, pergi kepada tuhan-tuhan kaumnya lalu bertanya kepada mereka, dan keduanya terjadi sesudah kaum itu meninggalkannya di 37:90. Ucapan Ibrahim yang dikutip dalam rangkaian ini hampir seluruhnya berbentuk pertanyaan: di 37:85 sampai 37:87 Ibrahim bertanya kepada bapak dan kaumnya tentang apa yang mereka sembah, di 37:89 Ibrahim berkata satu pernyataan tentang dirinya, dan di 37:91 serta 37:92 Ibrahim kembali bertanya, kini kepada tuhan-tuhan itu sendiri. Pernyataan baru muncul lagi di 37:99, ketika Ibrahim berkata akan pergi kepada Tuhannya.

Pertanyaan di ayat ini ditujukan kepada pihak yang tidak menjawab, dan ayat tidak mencatat gerak apa pun dari penerimanya. Bentuk pertanyaan yang sama, (أَلَا تَأْكُلُونَ, a-laa ta'kuluuna), diucapkan di 51:27 kepada para tamu, dan di sana ayat sesudahnya mencatat rasa takut yang menyusul di 51:28. Kata-katanya sama dan penerimanya berbeda, sehingga yang tercatat sesudahnya pun berbeda, dan di sini tidak ada tanggapan sama sekali. Ayat 37:93 langsung memuat gerak Ibrahim berikutnya tanpa lebih dulu memuat jawaban dari pihak mana pun.

Di 21:63 Ibrahim berkata kepada kaumnya (فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ, fa-s'aluuhum in kaanuu yanthiquuna) yang berarti "maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara", dan di 21:65 kaumnya sendiri yang menyebut bahwa tuhan-tuhan itu tidak berbicara. Dua penuturan itu memuat rincian yang berbeda, dan ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa keduanya menceritakan kejadian yang sama. Di 21 pertanyaan tentang bicara diserahkan kepada kaum, sedangkan di 37:91 Ibrahim menanyakan makan dan bicara langsung kepada tuhan-tuhan itu ketika kaumnya tidak ada.

Ayat 37:91 dan 37:92 bersama-sama membentuk satu ucapan dengan dua pertanyaan, dan ucapan itu disusul tindakan di 37:93. Urutan di 37:89 sampai 37:93 memperlihatkan Ibrahim bergerak dari sebuah pernyataan, ke kepergian kaumnya, ke dua pertanyaan, lalu ke tindakan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:91 memuat pertanyaan yang ditujukan kepada tuhan-tuhan, tidak mencatat jawaban apa pun, dan 37:92 menyusulkan pertanyaan kedua yang juga tidak dijawab. Di 46:5 ayat bertanya siapa yang lebih sesat daripada orang yang menyeru siapa pun selain Allah yang tidak menyahutnya sampai hari kiamat. Dua ayat itu berlainan konteks, sebab 46:5 berbicara tentang seruan dan 37:91 tentang tawaran makan, tetapi keduanya menaruh pihak yang diajak bicara dalam keadaan tidak menjawab. Pembaca dapat memeriksa kepada pihak mana pembaca paling sering mengarahkan permintaan atau keluhan, dan apakah dari sana pernah tercatat satu jawaban pun. Apa yang masih dipertahankan pembaca bila jawaban itu tidak kunjung datang?
  • Di 37:87 Ibrahim bertanya kepada kaumnya bagaimana anggapan mereka terhadap Tuhan seisi alam, dan pertanyaan itu diucapkan ketika mereka masih ada. Di 37:91 dan 37:92 pertanyaannya jatuh sesudah 37:90, ketika mereka sudah berpaling dan pergi, sehingga ayat tidak menyebut seorang pendengar manusia. Ayat tidak mencatat apa yang diharapkan Ibrahim dari pertanyaan itu. Pembaca dapat membandingkan pertanyaan yang diajukan di hadapan orang lain dengan pertanyaan yang diajukan ketika sendirian, entah kepada diri sendiri atau kepada sesuatu yang selama ini dipercayai. Kalau tidak ada yang menilai, pertanyaan mana yang berani diucapkan?
  • Ayat 37:91 menanyakan makan kepada tuhan-tuhan, dan tidak ada keterangan tentang makanan yang disediakan. Di 6:14 pembicaranya menyebut Allah memberi makan dan tidak diberi makan. Dua ayat itu tidak saling menafsirkan, sebab 6:14 berbicara tentang siapa yang memberi rezeki dan 37:91 tentang pertanyaan kepada tuhan-tuhan kaum itu. Dibaca berdampingan, keduanya menjadikan makan sebagai ukuran yang sederhana, yaitu siapa yang bisa makan dan siapa yang bergantung pada makanan. Pembaca dapat bertanya kepada dirinya, dari pihak mana pembaca merasa mendapat makan, dan pihak mana yang harus diberi makan oleh pembaca sendiri agar tetap dipercayai?
  • Pertanyaan di 37:91 memakai bentuk kata kerja untuk beberapa orang yang diajak bicara, yaitu ta'kuluuna, dan 37:92 memakai lakum dan tanthiquuna dengan bentuk yang sama, sehingga tuhan-tuhan itu disapa seperti orang. Di 7:194 ayat menyebut yang diseru selain Allah sebagai hamba-hamba seperti kalian. Dua ayat itu berlainan susunan, sebab 7:194 menyebut keadaan mereka dan 37:91 menyapa mereka, tetapi sama-sama menaruh pihak yang diseru sejajar dengan penyerunya. Pembaca dapat memperhatikan benda, jabatan, atau kebiasaan yang selama ini diperlakukan seperti pihak yang bisa menjawab. Kapan terakhir pembaca menunggu balasan dari sesuatu yang memang tidak mengatakan apa-apa?
  • Pertanyaan yang berbunyi sama muncul di 37:91 dan 51:27, dan keduanya diucapkan Ibrahim. Di 51:27 penerimanya para tamu, dan ayat sesudahnya mencatat rasa takut yang menyusul. Di 37:91 penerimanya tuhan-tuhan kaumnya, dan ayat sesudahnya mencatat pertanyaan lain, lalu tindakan. Ayat-ayat itu tidak menyamakan dua peristiwa. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sebuah pertanyaan tawaran dapat lahir dari kehangatan di satu tempat dan dari sikap menguji di tempat lain, dengan kata-kata yang sama. Pertanyaan mana yang pernah pembaca ucapkan dengan niat berbeda, padahal lawan bicaranya mendengar kata yang sama?
  • Ayat 37:90 menutup dengan kaum Ibrahim yang berpaling dan meninggalkannya, dan 37:91 mencatat bahwa tujuan langkahnya berikutnya adalah tuhan-tuhan mereka, bukan kaumnya. Di 7:197 ayat menyebut bahwa yang diseru selain Dia tidak mampu menolong kalian, dan tidak pula menolong diri mereka sendiri. Ayat 37:91 tidak membicarakan pertolongan, dan 7:197 tidak membicarakan Ibrahim, sehingga keduanya dibaca berdampingan saja. Pembaca dapat bertanya, ketika orang-orang yang diikuti pembaca pergi, apa yang tersisa di tempat mereka berdiri, dan siapa di antara yang tersisa yang masih menjawab bila ditanya?