مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ

Mengapa kalian tidak berbicara?”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَmaa lakum laa tanthiquunamengapa kalian tidak berbicara

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. مَاmaamengapa
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. لَاlaatidak
  4. تَنْطِقُونَtanthiquunakalian berbicara

Inti bacaan

Bentuk tanthiquuna, (تَنْطِقُونَ, tanthiquuna), muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:92 dan 51:23, dan hanya di 37:92 ia diajukan sebagai pertanyaan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مَا لَكُمْ, maa lakum) yang berarti "mengapa kalian". Bentuk ini tersusun dari (مَا, maa) yang berarti "apa" dan (لَكُمْ, lakum) yang berarti "bagi kalian", sehingga susunan harfiahnya "apa bagi kalian". Susunan (مَا لَكُمْ لَا, maa lakum laa) yang diikuti sebuah kata kerja muncul lima kali di empat surah, yaitu 4:75, 37:25, 37:92, 57:8, dan 71:13. Surah 37 memuatnya dua kali, sehingga lima ayat itu berada di empat surah. Di kelimanya terjemahan memakai "mengapa kalian tidak", misalnya di 37:25, (مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ, maa lakum laa tanaasharuuna) yang berarti "mengapa kalian tidak saling menolong". Di 37:154, (مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ, maa lakum kayfa tahkumuuna) yang berarti "apa yang terjadi pada kalian, bagaimana kalian menetapkan", maa lakum juga membuka pertanyaan, tetapi di sana kata sesudahnya adalah "bagaimana" dan bukan "tidak".

Kata (لَا تَنْطِقُونَ, laa tanthiquuna) yang berarti "kalian tidak berbicara" tersusun dari (لَا, laa) yang berarti "tidak" dan (تَنْطِقُونَ, tanthiquuna) yang berarti "kalian berbicara", yaitu bentuk kata kerja yang menandai perbuatan sedang berlangsung dan ditujukan kepada beberapa orang yang diajak bicara. Kata kerja itu berakar ن-ط-ق. Akar ini muncul di sebelas ayat pada sembilan surah, yaitu 21:63, 21:65, 23:62, 27:16, 27:85, 37:92, 41:21, 45:29, 51:23, 53:3, dan 77:35. Surah 41 memuat dua bentuknya dalam satu ayat, dan 27:16 memuat kata benda dari akar yang sama. Bentuk tanthiquuna persis seperti di ayat ini hanya muncul dua kali, yaitu di 37:92 dan 51:23. Di 51:23, (مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ, mitsla maa annakum tanthiquuna) yang berarti "seperti kalian berbicara", berbicara dipakai sebagai hal yang tidak diragukan pelakunya, sedangkan di 37:92 bicara ditanyakan kepada pihak yang tidak melakukannya.

Bentuk kata kerja untuk orang ketiga jamak, (لَا يَنْطِقُونَ, laa yanthiquuna) yang berarti "mereka tidak berbicara", muncul dua kali di dua surah, yaitu 27:85 dan 77:35, dan keduanya menyebut orang-orang pada hari ketika pembicaraan tidak terjadi. Di 21:63 dan 21:65 bentuk orang ketiga jamak dipakai untuk tuhan-tuhan kaum Ibrahim: (إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ, in kaanuu yanthiquuna) yang berarti "jika mereka berbicara", dan (مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ, maa haa'ulaa'i yanthiquuna) yang berarti "mereka ini tidak berbicara". Di 23:62 dan 45:29 yang berbicara adalah sebuah kitab, dan di 41:21 bentuk yang lain, (أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ, anthaqanaa llaahu lladzii anthaqa kulla syay'in) yang berarti "Allah yang menjadikan segala sesuatu berbicara telah menjadikan kami berbicara", memakai bentuk lain yang berarti "menjadikan berbicara", dan pelakunya Allah. Bentuk di 37:92 adalah bentuk dasar, bukan yang menyebabkan, sehingga terjemahan "berbicara" tidak ditambah "dapat" atau "diizinkan".

Terjemahan memakai "berbicara" dan tidak "menjawab", karena kata Arab untuk menyahut sebuah seruan tidak dipakai di sini. Kata itu muncul, misalnya, di 46:5, (مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ, man laa yastajiibu lahu) yang berarti "yang tidak menyahutnya". Ayat 37:92 menanyakan bicara, dan tidak menanyakan sahutan atas sesuatu yang diucapkan lebih dulu.

Ayat ini tidak menyebut kepada siapa pertanyaan ditujukan. Penerimanya dikenali dari 37:91, yang menyebut (آلِهَتِهِمْ, aalihatihim) yang berarti "tuhan-tuhan mereka", dan dari bentuk kata kerja yang sama dengan ta'kuluuna di 37:91, yaitu bentuk untuk beberapa orang yang diajak bicara. Karena ayat ini melanjutkan ucapan yang dibuka di ayat sebelumnya, terjemahan menutup tanda kutip di ujungnya, dan terjemahan tidak menambahkan "pun" atau "lagi", sebab tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan pertanyaan kedua pada pertanyaan Ibrahim di 37:91. Pertanyaan pertama menanyakan makan, tindakan yang dapat dilihat, dan pertanyaan kedua menanyakan bicara, tindakan yang dapat didengar. Keduanya diajukan kepada tuhan-tuhan kaumnya, tidak ada yang dijawab, dan ayat tidak mencatat jeda di antaranya. Dengan 37:92 ucapan Ibrahim itu ditutup, dan 37:93 langsung memuat gerak berikutnya tanpa lebih dulu mencatat tanggapan.

Ayat ini tidak memuat hinaan, ancaman, atau penjelasan. Isinya satu pertanyaan tentang sesuatu yang bisa diperiksa siapa pun, yaitu apakah pihak yang ditanya berbicara. Di 21:67 Ibrahim memakai kata yang lebih keras, (أُفٍّ لَكُمْ, uffin lakum) yang berarti "celakalah kalian", dan kata itu mencakup kaumnya sekaligus apa yang mereka sembah. Di 37:92 tidak ada kata semacam itu, dan seluruh isinya berupa pertanyaan.

Dua penuturan tentang Ibrahim dan tuhan-tuhan kaumnya memuat bagian yang berhubungan dengan bicara. Di 21:63 Ibrahim menyuruh kaumnya bertanya kepada tuhan-tuhan itu jika mereka berbicara, dan di 21:65 kaumnya sendiri yang menyatakan bahwa mereka tidak berbicara. Di 37:92 pertanyaannya diajukan langsung kepada tuhan-tuhan itu, dan pengakuan dari kaumnya tidak tercatat, karena kaum itu sudah pergi di 37:90. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa keduanya menceritakan kejadian yang sama, sehingga perbedaan ini hanya dicatat.

Ayat 37:95 sampai 37:96 memuat pertanyaan Ibrahim kepada kaumnya sendiri, setelah mereka datang di 37:94. Di sana asal tuhan-tuhan itu disebut, yaitu apa yang dipahat kaumnya sendiri. Dapat dibaca bahwa tidak berbicaranya tuhan-tuhan di 37:92 berdampingan dengan asal itu, tetapi ayat-ayat ini tidak menyatakan hubungan sebab di antara keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Di 41:21 kulit mereka menjawab bahwa Allah yang menjadikan segala sesuatu berbicara telah menjadikan mereka berbicara. Ayat itu menaruh bicara sebagai sesuatu yang diberikan kepada pihak yang berbicara. Ayat 37:92 menanyakan mengapa tuhan-tuhan itu tidak berbicara, dan tidak mengatakan apa pun tentang siapa yang memberi bicara kepada siapa. Dua ayat itu berlainan konteks, sebab 41:21 menuturkan peristiwa di hari ketika kulit bersaksi dan 37:92 menuturkan pertanyaan Ibrahim, tetapi bila dibaca berdampingan, bicara dapat dibaca sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya milik sendiri sejak awal. Pembaca dapat mengingat kali terakhir berbicara di depan orang banyak, lalu bertanya dari mana kemampuan itu datang, dan untuk apa kemampuan itu dipakai hari ini.
  • Ayat 37:91 menanyakan makan dan 37:92 menanyakan bicara, dua kemampuan yang paling sederhana dari sebuah pihak yang disapa. Di 7:195 ayat bertanya kepada orang yang menyeru selain Allah, apakah yang mereka seru memiliki kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar. Ayat itu memuat daftar kemampuan yang lebih panjang dan 37:92 hanya satu, tetapi sama-sama memakai pertanyaan sederhana untuk memeriksa pihak yang dipercayai. Pembaca dapat menyusun daftar pertanyaan semacam itu untuk sesuatu yang diandalkan, lalu melihat bagian mana dari daftar itu yang selama ini tidak pernah ditanyakan. Kemampuan mana yang dianggap ada begitu saja, padahal belum pernah diperiksa?
  • Di 37:92 pertanyaan tentang bicara tidak disusul jawaban dari pihak yang ditanya, dan ayat sesudahnya langsung memuat tindakan. Di 21:65 kaum Ibrahim sendiri yang menyatakan bahwa tuhan-tuhan itu tidak berbicara, sedangkan di 37:92 kaum itu sudah pergi, sehingga tidak ada pengakuan yang tercatat. Dua penuturan itu tidak disamakan. Dapat dibaca bahwa sebuah kebenaran yang bisa diperiksa tidak selalu memerlukan orang yang mau mengakuinya. Pembaca dapat bertanya, dalam hal apa keyakinannya menunggu pengakuan dari orang lain sebelum berani dianggap jelas, padahal keadaan sebenarnya bisa diperiksa langsung?
  • Di 77:35 ayat menyebut pada hari itu mereka tidak berbicara, dan di 27:85 perkataan telah berlaku atas mereka karena kezaliman mereka, sehingga mereka tidak berbicara. Dua ayat itu memakai kata kerja yang sama dengan 37:92, tetapi pelakunya manusia pada hari tertentu, dan tidak tuhan-tuhan kaum Ibrahim. Ayat 37:92 menanyakan bicara kepada pihak yang tidak berbicara sama sekali, sedangkan 77:35 dan 27:85 menyebut manusia yang tidak berbicara pada hari tertentu. Pembaca dapat menimbang bahwa bicara adalah sesuatu yang bisa tersedia pada satu hari dan tidak tersedia pada hari lain. Apa yang hari ini diucapkan dengan mudah, dan apakah masih sempat diucapkan pada hari yang tidak memberi kesempatan itu?
  • Ayat 37:92 tidak memuat kata yang merendahkan siapa pun, dan hanya menanyakan mengapa tidak berbicara. Di 21:67 Ibrahim berkata kepada kaumnya, celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, dan di ayat itu ada kata yang keras. Dua ayat itu menunjukkan bahwa Ibrahim memakai kata yang keras dan pertanyaan polos di tempat yang berbeda, dan keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat memperhatikan kapan memilih bertanya apa adanya dan kapan memakai kata yang mencela, serta apa yang berbeda pada pendengar dalam dua keadaan itu. Pertanyaan yang tidak memuat celaan sama sekali, seperti yang diajukan Ibrahim di sini, apakah lebih sulit diabaikan?
  • Di 37:92 pertanyaan berhenti tanpa jawaban, dan 37:93 langsung memuat tindakan Ibrahim. Ayat tidak mencatat jeda menunggu di antara keduanya, dan tidak menyebut apa yang dipikirkan Ibrahim. Dapat dibaca bahwa pertanyaan itu berfungsi menunjukkan keadaan yang sudah terlihat, tanpa menunggu jawaban. Pembaca dapat mengingat pertanyaan yang pernah diajukan sambil sudah mengetahui jawabannya, dan memeriksa apakah sesudah itu ada tindakan yang menyusul atau pertanyaan itu berhenti sebagai ucapan saja. Bila yang menyusul hanya pertanyaan berikutnya, apa yang sebenarnya dicari dari pertanyaan-pertanyaan itu?