قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ

Mereka berkata, “Buatlah untuknya suatu bangunan, lalu, lemparkanlah ia ke dalam neraka yang menyala-nyala.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًاqaaluu ibnuu lahu bunyaananmereka berkata, buatlah untuknya suatu bangunan
  2. فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِfa-alquuhu fii l-jahiimilalu, lemparkanlah ia ke dalam neraka yang menyala-nyala

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. ابْنُواibnuubangunlah kalian
  3. لَهُlahubaginya
  4. بُنْيَانًاbunyaananbangunan
  5. فَأَلْقُوهُfa-alquuhumaka lemparkanlah ia
  6. فِيfiidalam
  7. الْجَحِيمِl-jahiimineraka yang menyala-nyala

Inti bacaan

Perintah (ابْنُوا, ibnuu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 18:21 dan 37:97.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قَالُوا, qaaluu) yang berarti "mereka berkata". Kata ganti jamak itu tidak diberi nama. Ayat 37:85 menyebut kaum yang ditanya Ibrahim bersama bapaknya, dan 37:94, (فَأَقْبَلُوا إِلَيْهِ, fa-aqbaluu ilayhi) yang berarti "kemudian mereka datang kepadanya", menyebut sekelompok orang yang datang. Dari 37:85 sampai 37:96 setiap kutipan ucapan memakai kata kerja tunggal (قَالَ, qaala), yaitu di 37:85, 37:89, 37:91, dan 37:95. Bentuk jamak qaaluu baru muncul di 37:97, sehingga ayat ini memuat ucapan banyak orang yang pertama dalam rangkaian itu.

Kata kerja (ابْنُوا, ibnuu) yang berarti "buatlah" ditujukan kepada beberapa orang, dan ayat tidak menyebut siapa mereka. Akarnya ب-ن-ي, sama dengan (بُنْيَانًا, bunyaanan) yang berarti "suatu bangunan". Kata bunyaan di sini tanpa kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai "suatu bangunan" dan tidak menambahkan bahan, bentuk, atau kegunaannya, karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Kata bunyaan dengan semua akhirannya terdapat di enam ayat, yaitu 9:109, 9:110, 16:26, 18:21, 37:97, dan 61:4, dan bentuk bunyaanan hanya di 18:21 dan 37:97. Di 18:21, (ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا, bnuu 'alayhim bunyaanan) memuat kata 'alayhim yang berarti "di atas mereka", sedangkan perintah di 37:97 memuat (لَهُ, lahu) yang berarti "untuknya". Satu kata itu menciptakan kontras antara dua bangunan, sebab di 18:21 bangunan diletakkan pada pihak yang disebut, dan di 37:97 bangunan disiapkan bagi satu orang. Kata (تَعْمَلُونَ, ta'maluuna) di 37:96 diterjemahkan "kalian kerjakan" dan berakar lain, sehingga ta'maluuna dan ibnuu adalah dua kata Arab yang berbeda.

Perintah kedua, (فَأَلْقُوهُ, fa-alquuhu) yang berarti "lalu lemparkanlah ia", tersusun dari awalan fa yang berarti "lalu", kata kerja perintah untuk banyak orang, dan akhiran -hu yang berarti "-nya". Awalan fa menyambung dua perintah dalam satu urutan, bangunan lebih dulu dan lemparan sesudahnya. Bentuk fa-alquuhu ada dua kali, di 12:93 dan 37:97, dan bentuk alquuhu ada tiga kali di dua surah, yaitu 12:10, 12:93, dan 37:97. Pada ketiganya kata kerja itu disusul penunjuk tujuan. Di 12:10, (أَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ, alquuhu fii ghayaabati al-jubbi) berarti "masukkanlah dia ke dasar sumur", dan di 12:93, (فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي, fa-alquuhu 'alaa wajhi abii) berarti "lalu letakkanlah ia pada wajah ayahku". Arah geraknya terbaca dari tujuan itu, dan tujuan di 37:97 adalah neraka yang menyala-nyala, sehingga terjemahan memakai "lemparkanlah".

Kata (الْجَحِيمِ, l-jahiimi) yang berarti "neraka yang menyala-nyala" berakar ج-ح-م dan didahului (فِي, fii) yang berarti "ke dalam". Bentuk l-jahiimi muncul tujuh belas kali di sepuluh surah, yaitu 2:119, 5:10, 5:86, 9:113, 22:51, 37:23, 37:55, 37:64, 37:68, 37:97, 37:163, 40:7, 44:47, 44:56, 52:18, 57:19, dan 83:16, dan enam di antaranya ada di surah 37 sendiri. Lima kemunculan lainnya di surah ini menunjuk jalan yang dituju, yaitu (فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ, fa-hduuhum ilaa shiraathi l-jahiimi) di 37:23 yang berarti "lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka yang menyala-nyala", tempat seseorang terlihat di 37:55, dasar tempat sebuah pohon tumbuh di 37:64, tempat kembali di 37:68, dan tempat orang masuk di 37:163. Di 37:97 kata yang sama menjadi sasaran lemparan dalam ucapan manusia. Terjemahan memakai satu padanan, "neraka yang menyala-nyala", di keenam tempat itu karena kata Arabnya sama.

Kisah kaum Ibrahim di surah lain memakai kata api. Di 21:68, (حَرِّقُوهُ, harriquuhu) berarti "bakarlah dia", dan di 29:24, (فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ, fa-anjaahu llaahu mina n-naari) berarti "lalu, Allah menyelamatkannya dari api". Kedua ayat itu tidak memuat kata jahiim. Teks tidak menyatakan apakah ayat-ayat itu dan 37:97 menuturkan satu peristiwa, sehingga terjemahan 37:97 tidak mengganti "neraka yang menyala-nyala" dengan "api" atau "perapian".

Tafsiran

Ayat ini memuat ucapan banyak orang yang pertama dalam rangkaian 37:83 sampai 37:97, dan isinya dua perintah berurutan tanpa menyebut pelaksananya. Sebelum itu Ibrahim bertanya berkali-kali, antara lain tentang apa yang mereka sembah di 37:85, tentang anggapan mereka terhadap Tuhan seisi alam di 37:87, dan tentang pahatan tangan mereka sendiri di 37:95. Ucapan yang dikutip dari pihak mereka tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, karena 37:97 langsung berisi perintah tentang sebuah bangunan dan sebuah lemparan.

Suara dalam ayat-ayat di sekitarnya berganti tiga kali. Ayat 37:95 dan 37:96 berupa ucapan Ibrahim, 37:97 ucapan banyak orang, 37:98 suara penutur yang memakai kata Kami, dan 37:99 sampai 37:100 kembali ke ucapan satu orang. Ayat 37:98 menamai maksud mereka dengan (فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا, fa-araaduu bihi kaydan) yang berarti "maka mereka hendak melakukan siasat terhadapnya", sehingga dua perintah di 37:97 dapat dibaca sebagai isi siasat itu. Pembacaan ini bersandar pada urutan ayat, karena 37:98 tidak menyebut bangunan maupun lemparan.

Dua ayat lain tentang kaum Ibrahim juga memuat ucapan yang menyuruh. Ayat 21:68 menyuruh membakarnya sambil membantu tuhan-tuhan mereka, dan 29:24 menyuruh membunuh atau membakarnya. Keduanya memuat perintah yang langsung mengenai orangnya, sedangkan 37:97 mendahuluinya dengan perintah membangun. Perbedaan itu terbaca dari teksnya, tetapi ayat-ayat tersebut tidak menyatakan bahwa ketiganya mengutip ucapan yang sama. Karena itu bangunan di 37:97 tidak dapat disamakan dengan api di 21:68 atau 29:24 hanya dari kemiripan suasananya.

Ayat 37:98 tidak mencatat pelaksanaan kedua perintah. Cerita berpindah dari perintah ke maksud, lalu ke hasil, tanpa menyebut bangunan yang berdiri atau orang yang dilempar. Dengan demikian cara yang direncanakan hanya tertulis di 37:97 dalam surah ini, dan pelaksanaannya dibiarkan di luar teks.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah di 37:97 punya dua langkah, membuat bangunan lalu melempar, dan langkah pertama belum menyentuh siapa pun. Sebelum ada tangan yang melempar, ada tangan yang menyusun sesuatu, dan pekerjaan menyusun itu terdengar seperti kerja biasa. Orang yang pernah ikut menyiapkan rencana yang akhirnya dipakai untuk menyakiti orang lain dapat memeriksa pada langkah mana keterlibatannya dimulai. Apakah pada perintah pertama yang masih terdengar netral, atau pada perintah kedua yang membuat tujuannya terang?
  • Di 37:96 yang disebut sebagai ciptaan Allah adalah mereka dan apa yang mereka kerjakan. Ayat 37:96 tidak membicarakan bangunan, sehingga kaitannya dengan 37:97 hanya dapat dibaca sebagai dua ayat yang berdampingan. Pembaca yang menghasilkan sesuatu, misalnya aturan, gedung, atau rencana, dapat menimbang ke arah mana hasil itu dipakai, sebab menurut 37:96 pelakunya dan pekerjaannya sama-sama berada dalam ciptaan Allah. Untuk apa terakhir kali pembaca membuat sesuatu yang besar?
  • Dua kata kerja di 37:97 berbentuk perintah untuk banyak orang, dan pelaksananya tidak disebut. Ayat 37:98 pun berpindah ke maksud dan hasil tanpa menceritakan siapa yang membangun atau siapa yang melempar. Ruang kosong itu menyisakan pertanyaan bagi anggota sebuah kelompok yang mendengar perintah dari banyak mulut: tangan siapa yang akhirnya bergerak. Orang yang pernah berada di tengah keputusan bersama dapat memeriksa apakah perbuatan itu masih terasa punya pemilik, sebab di ayat ini tangan yang memegang bahan tidak punya nama.
  • Ibrahim bertanya dari 37:85 sampai 37:96, antara lain tentang anggapan mereka terhadap Tuhan seisi alam di 37:87, lalu kelompok itu menjawab dengan dua perintah tentang bangunan dan lemparan. Pertanyaan tentang Tuhan seisi alam dan jawaban tentang bangunan terdengar berasal dari dua pembicaraan yang tidak bertemu. Pembaca yang pernah mengajukan pertanyaan tentang hal yang paling dipegangnya, lalu menerima instruksi sebagai balasan, dapat mengenali pola itu. Apa yang ditunjukkan sebuah jawaban yang tidak menyentuh pertanyaannya?
  • Ayat 29:24 mencatat ucapan kaum Ibrahim yang menyuruh membunuh atau membakarnya, lalu menyebut bahwa Allah menyelamatkannya dari api. Ucapan itu berbeda dari 37:97, dan teks tidak menyatakan bahwa keduanya satu peristiwa, tetapi kedua ayat memperlihatkan perintah banyak orang yang tidak menjadi kata terakhir. Pembaca yang pernah menjadi sasaran keputusan sekelompok orang dapat menimbang bagaimana penilaiannya atas keputusan itu berubah bila ada pihak lain yang ikut menentukan akhirnya, seperti Allah di 29:24. Apakah perintah yang tegas sekalipun sudah menentukan hasilnya?
  • Surah ini menaruh hati Ibrahim yang selamat di hadapan Tuhannya di 37:84, tiga belas ayat sebelum perintah kaumnya di 37:97. Urutan itu menaruh keadaan batin Ibrahim lebih dulu daripada ucapan mereka. Pembaca yang menghadapi tekanan dari orang-orang di sekelilingnya dapat memeriksa mana yang terbentuk lebih dulu dalam dirinya, hubungan dengan Tuhannya atau reaksi terhadap suara orang banyak. Dapatkah hati yang selamat dibentuk sesudah perintah semacam itu datang?