وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Dan ia berkata, “Sesungguhnya aku pergi kepada Tuhanku; Dia akan menunjukiku.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّيwa-qaala innii dzaahibun ilaa rabbiidan ia berkata, sesungguhnya aku pergi kepada Tuhanku
  2. سَيَهْدِينِsa-yahdiiniDia akan menunjukiku

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَقَالَwa-qaaladan berkata
  2. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  3. ذَاهِبٌdzaahibunyang pergi
  4. إِلَىٰilaakepada
  5. رَبِّيrabbiiTuhanku
  6. سَيَهْدِينِsa-yahdiiniDia akan memberiku petunjuk

Inti bacaan

Frasa (سَيَهْدِينِ, sa-yahdiini) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:62, 37:99, dan 43:27.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَقَالَ, wa-qaala) yang berarti "dan ia berkata". Kata kerja qaala berbentuk tunggal untuk satu laki-laki, dan namanya tidak tertulis di sini. Dalam rangkaian 37:83 sampai 37:102 nama Ibrahim hanya tertulis di 37:83, dan bentuk tunggal qaala dipakai di 37:85, 37:89, 37:91, 37:95, 37:99, dan 37:102. Kutipan yang dibuka di sini berlanjut ke 37:100 tanpa kata kerja berkata yang baru, sehingga terjemahan 37:99 tidak menutup tanda kutipnya dan penutupnya baru ada di akhir 37:100.

Kata (ذَاهِبٌ, dzaahibun) yang berarti "pergi" berakar ذ-ه-ب dan berbentuk kata benda pelaku menurut korpus morfologi, dan tidak berbentuk kata kerja. Bentuk dzaahibun muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:99. Kata itu tidak membawa penanda masa depan, sehingga terjemahan memakai "aku pergi", tanpa "aku akan pergi". Kalimat kedua di ayat yang sama memuat penanda itu pada (سَيَهْدِينِ, sa-yahdiini), karena awalan sa- berarti "akan". Kontras itu dapat dibaca sebagai kepergian yang digambarkan sedang berjalan dan petunjuk yang digambarkan akan datang.

Tujuan kepergian itu ditulis dengan (إِلَىٰ رَبِّي, ilaa rabbii) yang berarti "kepada Tuhanku". Susunan ilaa rabbii muncul empat kali, yaitu di 18:36, 29:26, 37:99, dan 41:50. Di 18:36, (رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي, rudidtu ilaa rabbii) berarti "aku dikembalikan kepada Tuhanku", dan di 41:50, (رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي, ruji'tu ilaa rabbii) berarti "aku dikembalikan kepada Tuhanku". Dua ayat itu memuat pembicara yang membayangkan dirinya dikembalikan, dengan kata kerja yang menjadikannya penerima gerak. Di 29:26 dan 37:99 pembicara menyebut dirinya sendiri sebagai pelaku gerak, dengan kata benda pelaku yang mengawali tujuan itu. Di 29:26 kata itu (مُهَاجِرٌ, muhaajirun) yang berarti "berhijrah", dan di 37:99 (ذَاهِبٌ, dzaahibun) yang berarti "pergi". Bentuk muhaajirun hanya ada di 29:26.

Kata (سَيَهْدِينِ, sa-yahdiini) yang berarti "Dia akan menunjukiku" tersusun dari awalan sa- yang berarti "akan", kata kerja yahdii yang berakar ه-د-ي, dan akhiran -nii yang berarti "ku" sebagai penerima. Bentuk sa-yahdiini muncul tiga kali, yaitu 26:62, 37:99, dan 43:27. Di ketiganya kata itu didahului pernyataan tentang hubungan pembicara dengan Tuhannya, yaitu (إِنَّ مَعِيَ رَبِّي, inna ma'iya rabbii) yang berarti "sesungguhnya Tuhanku bersamaku" di 26:62, (الَّذِي فَطَرَنِي, lladzii fatharanii) yang berarti "yang menciptakanku" di 43:27, dan ilaa rabbii di 37:99. Bentuk tanpa awalan sa-, (فَهُوَ يَهْدِينِ, fa-huwa yahdiini) yang berarti "maka Dialah yang memberiku petunjuk", hanya ada di 26:78, sehingga bentuk yahdiini seluruhnya ada di empat ayat. Kata kerja yahdii di 37:99 tidak disusul tujuan, dan terjemahan tidak menambahkan "jalan" atau "tempat" karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Pelaku kata kerja itu, "Dia", menunjuk kata rabbii yang paling dekat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini memuat bagian pertama dari satu ucapan yang selesai di 37:100, dan isinya dua pernyataan pendek tentang diri pembicara, yaitu kepergiannya dan petunjuk yang diharapkannya. Ucapan ini datang sesudah 37:98 mengakhiri cerita tentang kaum itu, dan tidak mengulang apa pun tentang mereka. Tempat tujuan, orang yang ditinggalkan, dan sebab kepergian pembicara tidak dinyatakan di dalamnya.

Kalimat yang kerangkanya sama memuat kelanjutan yang berbeda di 29:26. Di sana (إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي, innii muhaajirun ilaa rabbii) disusul (إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, innahu huwa l-'aziizu l-hakiimu) yang berarti "sesungguhnya Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah", sedangkan di 37:99 pernyataan yang kerangkanya sama disusul harapan bahwa Dia akan menunjukinya. Ayat 29:26 menutup dengan dua sifat Tuhan, dan 37:99 menutup dengan satu harapan pembicara tentang masa depannya sendiri.

Ayat 37:99 bersambung dengan 37:100, tempat pembicara beralih dari pernyataan ke permohonan. Dua pernyataan di 37:99 disebut lebih dulu, dan permohonan di 37:100 menyusul dalam ucapan yang sama. Dengan susunan itu, kepergian dan petunjuk tidak berdiri sendiri, karena keduanya langsung berlanjut ke sesuatu yang diminta.

Ayat 37:84 menyebut Ibrahim datang kepada Tuhannya dengan hati yang selamat, dan 37:99 menyebut pembicara pergi kepada Tuhannya. Kata kerja di 37:84 berupa (جَاءَ, jaa'a) yang berarti "datang", dan di 37:99 berupa bentuk pelaku dzaahibun. Kedua ayat menyebut Tuhan sebagai pihak yang dituju, dan perbedaan kata kerjanya memberi dua gambar, yaitu kedatangan yang sudah terjadi di 37:84 dan kepergian yang digambarkan sedang berjalan di 37:99.

Renungan dan Hikmah

  • Di 37:99 tujuan kepergian disebut dengan Tuhanku, dan tidak dengan nama kota, arah mata angin, atau tempat tinggal. Ayat itu tidak memuat kata benda tempat. Pembaca yang menyusun rencana hidupnya, misalnya pindah kerja atau pindah kota, dapat memeriksa kolom tujuan yang ditulisnya sendiri, apakah berisi alamat atau berisi nama yang dipegangnya. Perjalanan yang tujuannya hanya boleh ditulis dengan satu kata akan terbaca berbeda dari perjalanan yang tujuannya sebuah alamat lengkap. Apa yang tertulis di kolom itu bila yang boleh diisi hanya satu kata?
  • Kalimat pertama di 37:99 menaruh kepergian pada masa kini dan kalimat kedua menaruh petunjuk pada masa depan, yaitu Dia akan menunjukiku. Pembicara berangkat lebih dulu, dan petunjuk dijanjikan kemudian. Pembaca yang menunggu seluruh jalan terlihat jelas sebelum melangkah dapat membandingkan urutannya sendiri dengan urutan di ayat ini, lalu menghitung berapa langkah yang sudah ia tunda karena petunjuk belum lengkap. Ayat ini tidak memuat peta. Berapa banyak langkah pembaca yang masih menunggu petunjuk yang belum datang?
  • Di 18:36 dan 41:50 pembicara membayangkan dirinya dikembalikan kepada Tuhannya, dan kata kerjanya menjadikan dirinya penerima gerak. Di 37:99 pembicara menyebut dirinya sendiri sebagai yang pergi kepada Tuhannya. Ketiga ayat berbeda konteks, dan 18:36 serta 41:50 diucapkan orang yang tidak mengira Saat itu akan datang. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana kalimatnya memosisikan dirinya ketika menyebut Tuhan, sebagai yang dibawa atau sebagai yang berjalan. Pada kalimat mana pembaca lebih sering menyebut dirinya sebagai pelaku, dan pada kalimat mana sebagai penerima?
  • Ayat 37:99 memuat arah dan tidak memuat penjelasan kepada siapa pun tentang alasan pergi, padahal 37:98 baru saja menutup cerita tentang orang-orang yang mengancam pembicara. Pembicara tidak membela diri dan tidak mengajukan perhitungan atas apa yang terjadi. Pembaca yang pernah meninggalkan sebuah pekerjaan, rumah, atau pergaulan dapat bertanya berapa panjang penjelasan yang disediakannya bagi orang yang ditinggalkan, dan apakah penjelasan itu menjernihkan arah kepergiannya. Apakah kepergian yang disertai banyak penjelasan masih terbaca sebagai kepergian kepada Tuhan?
  • Di 26:78 kata yang seakar muncul dalam bentuk masa kini, maka Dialah yang memberiku petunjuk, dan di 37:99 dalam bentuk masa depan, Dia akan menunjukiku. Kedua ayat berasal dari surah yang berbeda dan dari bagian cerita yang berbeda. Pembaca dapat melihat bahwa kepercayaan yang sama dituliskan dengan dua waktu, untuk yang sedang terjadi dan untuk yang belum terjadi. Orang yang yakin pada petunjuk yang sudah diterimanya belum tentu sama yakinnya pada petunjuk yang belum tiba. Apakah kalimat tentang masa depan lebih sulit diucapkan daripada kalimat tentang masa kini?
  • Sebutan Tuhanku tidak tertulis dari 37:88 sampai 37:98, sebelas ayat tentang bintang, berhala, pertanyaan, dan ancaman, dan sebutan itu baru tertulis di 37:99 dalam ucapan Ibrahim sendiri. Pembaca yang melewati hari-hari penuh urusan dengan orang lain dapat memeriksa di titik mana sebutan Tuhanku pertama kali masuk ke dalam ucapannya. Sebelas ayat tanpa sebutan itu tidak menyatakan bahwa Ibrahim melupakan Tuhannya, karena ayat-ayat itu memuat tindakan dan ucapan tentang hal lain. Di titik mana dalam sehari sebutan itu kembali ke dalam ucapan pembaca?