فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang santun.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبَشَّرْنَاهُfa-basysyarnaahumaka, Kami memberi kabar gembira kepadanya
  2. بِغُلَامٍ حَلِيمٍbi-ghulaamin haliimindengan seorang anak yang santun

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَبَشَّرْنَاهُfa-basysyarnaahumaka Kami memberinya kabar gembira
  2. بِغُلَامٍbi-ghulaamindengan seorang anak lelaki
  3. حَلِيمٍhaliiminyang penyantun

Inti bacaan

Kata kerja (فَبَشَّرْنَاهُ, fa-basysyarnaahu) muncul satu kali di Al-Qur'an, dan bentuk dengan awalan wa muncul satu kali di 37:112.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَبَشَّرْنَاهُ, fa-basysyarnaahu) yang berarti "maka Kami memberi kabar gembira kepadanya". Bentuk ini tersusun dari awalan fa yang berarti "maka", kata kerja basysyara yang berakar ب-ش-ر dan berarti "memberi kabar gembira", akhiran -naa yang berarti "Kami", dan -hu yang berarti "-nya". Akhiran -hu menunjuk pembicara di 37:99 sampai 37:100, yaitu orang yang paling dekat sebelumnya. Bentuk fa-basysyarnaahu hanya muncul di 37:101, dan bentuk (وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ, wa-basysyarnaahu bi-ishaaqa) yang berarti "dan Kami beri dia kabar gembira tentang Ishaq" muncul sekali di 37:112 dengan awalan wa yang berarti "dan".

Kata (بِغُلَامٍ, bi-ghulaamin) yang berarti "dengan seorang anak" tersusun dari huruf bi yang berarti "dengan" dan kata ghulaam yang berakar غ-ل-م, tanpa kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai "seorang anak" dan tidak memakai "anak itu". Kata ghulaam dengan semua akhirannya, tanpa bentuk jamak ghilmaan di 52:24, terdapat di dua belas ayat, yaitu 3:40, 12:19, 15:53, 18:74, 18:80, 18:82, 19:7, 19:8, 19:19, 19:20, 37:101, dan 51:28. Bentuk bi-ghulaamin muncul empat kali, yaitu 15:53, 19:7, 37:101, dan 51:28, dan di tiga ayat lain kata itu disusul sifat atau nama. Di 15:53 dan 51:28, (بِغُلَامٍ عَلِيمٍ, bi-ghulaamin 'aliimin) berarti "dengan seorang anak yang berilmu", dan di 19:7, (بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ, bi-ghulaamin ismuhu yahyaa) berarti "dengan seorang anak yang namanya Yahya". Ayat 15:53 dan 51:28 menyampaikan kabar kepada Ibrahim lewat para tamu, dan 37:101 tidak menyatakan apakah anak yang dikabarkan di sana sama dengan yang di ayat-ayat itu.

Kata (حَلِيمٍ, haliimin) yang berarti "yang santun" berakar ح-ل-م dan menyifati ghulaamin. Bentuk persis haliimin muncul satu kali, di 37:101. Kata haliim dengan semua akhirannya terdapat di lima belas ayat, yaitu 2:225, 2:235, 2:263, 3:155, 4:12, 5:101, 9:114, 11:75, 11:87, 17:44, 22:59, 33:51, 35:41, 37:101, dan 64:17. Sebelas di antaranya menyifati Allah. Empat sisanya menyifati manusia, yaitu Ibrahim di 9:114, yaitu (لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ, la-awwaahun haliimun), dan di 11:75, yaitu (لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ, la-haliimun awwaahun muniibun), Syuaib yang disapa kaumnya di 11:87, dan anak di 37:101. Terjemahan memakai "santun", yang seakar dengan "penyantun" di 3:155, 4:12, 5:101, 11:87, 33:51, dan 35:41, sedangkan ayat lain menerjemahkan kata yang sama dengan "penahan murka". Di 37:101 sifat itu disebut sebelum anaknya berbicara atau bertindak, sebagai bagian dari kabar gembira yang diberikan oleh Kami.

Ayat ini tidak menyebut nama anak itu, usianya, atau waktu kelahirannya. Terjemahan juga tidak menambahkan "kelahiran" atau "lelaki", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya selain bentuk ghulaam itu sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menjawab permohonan di 37:100 dengan kabar gembira, dan isinya satu kalimat pendek tentang seorang anak yang sifatnya disebut lebih dulu daripada namanya. Ayat ini terdiri dari tiga kata Arab, paling pendek di antara enam ayat berurutan dari 37:97 sampai 37:102, sedangkan ayat sesudahnya, 37:102, memuat dua puluh delapan kata dan merupakan yang terpanjang di antara keenamnya. Kabar yang singkat disusul percakapan yang panjang.

Suara berganti di sini. Ayat 37:99 dan 37:100 berupa ucapan satu orang, dan 37:101 berupa penutur yang memakai kata Kami, seperti 37:98. Bedanya, 37:98 memuat hasil terhadap kaum yang bersiasat, dan 37:101 memuat pemberian kepada orang yang tadi meminta. Kedua ayat menaruh pelaku pada Kami sesudah ucapan Ibrahim, dan di antara keduanya ada ucapan satu orang di 37:99 dan 37:100.

Tiga ayat lain memuat kabar gembira tentang seorang ghulaam, dan masing-masing memberi keterangan yang berbeda. Ayat 15:53 dan 51:28 menyebut sifat berilmu, dan 19:7 menyebut nama Yahya. Ayat 37:101 menyebut sifat santun. Keempat ayat itu berbeda konteks dan penerimanya, sehingga perbandingannya hanya menunjukkan bahwa kabar gembira tentang seorang anak dalam Al-Qur'an datang dengan keterangan yang berlainan.

Ayat 37:102 sesudahnya menampilkan anak itu berbicara dengan kata (الصَّابِرِينَ, sh-shaabiriina) yang berarti "orang-orang yang sabar". Kata santun di 37:101 dan kata sabar di 37:102 berasal dari dua akar yang berbeda, yaitu ح-ل-م dan ص-ب-ر, dan kedua ayat tidak menyatakan keduanya sama. Pembaca yang ingin mencari sifat santun itu pada ucapan anak di ayat berikutnya melakukan pembacaan sendiri, karena kedua ayat tidak menghubungkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Permohonan Ibrahim kepada Tuhannya di 37:100 dijawab dengan kabar yang menyebut sifat, yaitu santun, dan tidak menyebut nama, rupa, atau waktu. Pembaca yang membayangkan anaknya kelak, atau penerus yang diharapkannya, dapat memeriksa apa yang pertama kali terbayang, sifat atau pencapaian. Ayat ini memilih sifat sebagai isi kabarnya, dan tidak menyebut kepintaran, kekuatan, atau jabatan. Apa yang akan diletakkan pembaca di awal kalimat bila menyusun harapan tentang seseorang yang belum lahir?
  • Di 37:101 sifat anak itu disebut sebelum anak itu berbicara atau berbuat apa pun, dan ucapannya baru tercatat di 37:102. Ayat itu tidak menyatakan bahwa ucapan tersebut membuktikan sifat yang disebut lebih dulu, karena santun dan sabar adalah dua kata yang berbeda. Pembaca dapat menimbang bagaimana memberi sifat kepada orang yang baru dikenal, apakah sebelum atau sesudah melihat perbuatannya. Sifat apa yang pernah disematkan pembaca kepada seseorang sebelum orang itu berbuat apa pun?
  • Ayat 3:39 menyebut Allah sebagai pemberi kabar gembira tentang Yahya, 15:53 dan 51:28 menyebut sifat berilmu pada anak yang dikabarkan, dan 37:101 menyebut sifat santun. Empat ayat itu berbeda konteks, dan tidak ada yang menyatakan hubungan di antara anak-anak yang disebut. Pembaca yang pernah menerima kabar tentang seorang anak dapat mengingat keterangan mana yang didengar paling awal, nama, jenis kelamin, atau sifat. Dari ayat-ayat itu terlihat bahwa kabar yang sama bentuknya dapat membawa keterangan yang berbeda isinya. Keterangan apa yang paling ditunggu pembaca lebih dulu?
  • Dari lima belas ayat yang memuat kata santun dalam bentuk haliim, sebelas menyifati Allah, dan di 37:101 kata itu menyifati seorang anak. Ayat 9:114 dan 11:75 memakainya untuk Ibrahim, yang disapa namanya di 37:104 sesudah percakapan antara ayah dan anak di 37:102. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa sifat tersebut turun dari ayah ke anak. Pembaca yang melihat sifat orang tua pada anaknya, atau sebaliknya, dapat memperhatikan bahwa Al-Qur'an memakai kata yang sama untuk Allah, untuk seorang ayah, dan untuk seorang anak, tanpa menyatakan bahwa satu sifat menurun dari yang satu ke yang lain. Kata itu berarti apa bagi pembaca ketika dipakai untuk orang yang paling dekat dengannya?
  • Kabar di 37:101 hanya tiga kata Arab, dan percakapan sesudahnya di 37:102 dua puluh delapan kata. Ayat yang pendek itu menaruh sebuah pemberian, dan ayat yang panjang itu menaruh pembicaraan antara ayah dan anak, sehingga pemberian disampaikan dengan sedikit kata dan akibatnya dibicarakan dengan banyak kata. Pembaca yang pernah menerima kabar penting dengan kalimat singkat dapat memperhatikan berapa lama percakapan sesudahnya berlangsung, dan siapa yang paling banyak berbicara di dalamnya. Ayat 37:102 membagi kata-katanya kepada dua orang. Berapa banyak kata yang dibutuhkan pembaca untuk membicarakan hal yang diberitakan dalam tiga kata?
  • Ayat 37:101 tidak menyebut nama anak, usianya, atau waktu kelahirannya, padahal di 19:7 kabar serupa menyebut nama Yahya. Pembaca tidak diberi pegangan untuk mengenali anak itu selain satu sifat. Orang yang ingin mengenal seseorang lewat nama dan angka dapat mencatat bahwa ayat ini cukup dengan satu sifat yang dikabarkan oleh Kami. Pembaca dapat menanyai dirinya seberapa jauh dirinya mengenal seseorang hanya dari satu sifatnya, dan apakah satu sifat itu cukup untuk mulai mengenalnya. Berapa sifat yang sebenarnya dibutuhkan pembaca?