فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Maka, ketika keduanya telah berserah diri, dan ia merebahkannya di atas pelipisnya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَلَمَّا أَسْلَمَاfa-lammaa aslamaamaka, ketika keduanya telah berserah diri
  2. وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِwa-tallahu li-l-jabiinidan ia merebahkannya di atas pelipisnya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  2. أَسْلَمَاaslamaakeduanya berserah diri
  3. وَتَلَّهُwa-tallahudan ia membaringkannya
  4. لِلْجَبِينِli-l-jabiinipada pelipis

Inti bacaan

Kata (وَتَلَّهُ, wa-tallahu) dan akarnya ت-ل-ل muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:103.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَلَمَّا, fa-lammaa) yang berarti "maka ketika". Di surah 37 kata itu hanya membuka dua ayat, yaitu 37:102 dan 37:103, dan tiap ayat memuat satu saat yang berbeda: saat anak itu mencapai usia sanggup berusaha bersamanya di 37:102, lalu saat keduanya berserah diri di 37:103. Kata kerja (أَسْلَمَا, aslamaa) yang berarti "keduanya berserah diri" berakar س-ل-م, dan akhiran -aa di ujungnya menandai dua pelaku.

Bentuk kata kerja lampau yang sama untuk satu pelaku muncul di lima ayat, yaitu 2:112, 3:83, 4:125, 6:14, dan 72:14. Di 2:112, (أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ, aslama wajhahu li-llaahi) yang berarti "menyerahkan wajahnya kepada Allah", kata kerja itu disusul benda yang diserahkan dan pihak yang menerimanya, dan 4:125 mengulang susunan itu. Di 6:14, (أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ, awwala man aslama) yang berarti "orang pertama yang berserah diri", dan di 72:14, (فَمَنْ أَسْلَمَ, fa-man aslama) yang berarti "maka siapa yang berserah diri", kata kerja itu berdiri tanpa benda dan tanpa penerima. Ayat 37:103 sejenis dengan dua ayat terakhir itu, sebab kata kerjanya tidak menyebut apa yang diserahkan dan kepada siapa. Karena itu terjemahan memakai "berserah diri" saja, tanpa tambahan "kepada Allah" yang tidak punya kata Arab di ayat ini.

Dua orang yang dimaksud tidak disebut namanya di ayat ini. Pelaku (وَتَلَّهُ, wa-tallahu) satu orang laki-laki, dan -hu menunjuk satu orang laki-laki lain. Pembagian itu terbaca dari 37:102: orang yang membuka percakapan dengan (أَنِّي أَذْبَحُكَ, annii adzbahuka) yang berarti "bahwa aku menyembelihmu" menjadi pelaku di sini, dan orang yang disapanya dengan (يَا بُنَيَّ, yaa bunayya) yang berarti "wahai anakku" menjadi yang ditunjuk -hu. Ayat 37:104 menguatkan pembacaan itu dengan memanggil (إِبْرَاهِيمُ, ibraahiimu), yaitu orang yang membuka percakapan di 37:102.

Kata (وَتَلَّهُ, wa-tallahu) yang berarti "dan ia merebahkannya" tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", kata kerja tall yang berarti "merebahkan", dan (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Akar ت-ل-ل muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:103, sehingga tidak ada ayat lain yang bisa dibandingkan. Arti "merebahkan" bersandar pada tujuan geraknya, yaitu sebuah bagian tubuh orang yang ditunjuk -hu, dan terjemahan tidak memakai kata yang menyebut alat atau cara, karena ayat ini tidak menyebut alat atau cara apa pun. Huruf li sebelum nama bagian tubuh sesudah kata kerja gerak ada juga pada (يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ, yakhirruuna li-l-adzqaani) di 17:107 dan 17:109, yaitu kata kerja jatuh tersungkur yang disusul dagu.

Kata (لِلْجَبِينِ, li-l-jabiini) yang berarti "pada pelipis" tersusun dari (لِ, li) yang berarti "pada", kata sandang al-, dan jabiin. Akar ج-ب-ن muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:103. Al-Qur'an memakai kata lain untuk dahi, yaitu (جِبَاهُهُمْ, jibaahuhum) yang berarti "dahi mereka" di 9:35, dari akar ج-ب-ه yang berbeda. Karena itu terjemahan memakai "dahi" di 9:35 dan "pelipis" di 37:103, supaya dua kata Arab itu tidak tertukar. Ayat ini memakai kata sandang tanpa kata ganti milik, dan terjemahan menulis "pelipisnya" karena orang yang ditunjuk -hu adalah pihak yang direbahkan di ayat ini. Ayat ini juga tidak menyebut tanah atau tempat lain, sehingga terjemahan menulis "di atas pelipisnya" dan tidak menambahkan "ke tanah".

Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat belum selesai. Ayat ini memuat dua kata kerja yang disambung (وَ, wa), sedangkan peristiwa berikutnya ada di 37:104, dalam (وَنَادَيْنَاهُ, wa-naadaynaahu) yang berarti "dan Kami memanggilnya".

Tafsiran

Ayat ini memindahkan cerita dari percakapan ke tindakan, dan kata yang dipakainya untuk menamai sikap kedua orang itu berbeda dari kata yang diucapkan salah satu dari mereka tentang dirinya. Di 37:102 anak itu menyebut dirinya (مِنَ الصَّابِرِينَ, mina sh-shaabiriina) yang berarti "termasuk orang-orang yang sabar", dan 37:101 menyebutnya (حَلِيمٍ, haliimin) yang berarti "santun". Di 37:103 kedua sebutan itu tidak muncul lagi. Ayat ini memakai (أَسْلَمَا, aslamaa) sebagai gantinya, dan kata itu berlaku bagi dua orang sekaligus.

Ayat ini tidak memuat ucapan, tangisan, atau penolakan dari siapa pun. Percakapan di 37:102 berakhir dengan jawaban anak itu yang menyebut nama Allah, lalu 37:103 menceritakan sikap keduanya dan satu gerakan, dan berhenti. Sikap yang dicatat milik dua orang, sedangkan gerakan yang dicatat dilakukan satu orang kepada yang lain, sehingga ayat ini menaruh sikap bersama lebih dulu dan gerakan sesudahnya.

Kalimat yang dibuka (فَلَمَّا, fa-lammaa) di ayat ini berhenti sebelum selesai. Kelanjutannya datang di 37:104, jadi pembaca yang berhenti di ujung 37:103 tinggal dengan gambaran yang belum selesai: seseorang yang direbahkan, belum seseorang yang disembelih. Kata kerja menyembelih sudah dipakai di 37:102, (أَذْبَحُكَ, adzbahuka), dan tidak diulang di 37:103. Akar yang sama baru kembali di 37:107 sebagai kata benda, (ذِبْحٍ, dzibhin), untuk sesuatu yang menggantikan.

Kata kerja yang sama dengan (أَسْلَمَا, aslamaa) pernah diperintahkan kepada Ibrahim di 2:131, (إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ, idz qaala lahu rabbuhu aslim) yang berarti "ketika Tuhannya berfirman kepadanya, 'Berserahdirilah!'", dan dijawab (أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ, aslamtu li-rabbi l-'aalamiina) yang berarti "aku berserah diri kepada Tuhan seisi alam". Ayat 2:131 menyebut penerimanya, sedangkan 37:103 tidak, dan suasana keduanya berbeda: 2:131 memuat perintah dan jawaban dalam ucapan, 37:103 memuat sikap dan gerakan dalam penuturan. Tidak ada kata dalam kedua ayat itu yang menghubungkan keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Anak itu menamai dirinya sabar di 37:102, sedangkan penuturan sesudahnya memakai kata lain untuk keadaan dia bersama ayahnya, yaitu berserah diri. Satu kata diucapkan seseorang tentang dirinya, dan kata yang lain dipakai penutur tentang dua orang. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata yang dipakainya untuk menamai keadaannya sendiri belum tentu sama dengan kata yang dipakai orang lain untuk keadaan yang sama. Orang yang menyebut dirinya sabar bisa saja dilihat orang di sekitarnya sebagai orang yang sudah berserah, dan sebaliknya orang yang merasa berserah bisa terlihat sedang menahan diri. Kata apa yang akan dipilih orang terdekat untuk keadaan pembaca sekarang, dan sejauh mana kata itu berbeda dari kata yang dipakainya sendiri?
  • Kata kerja berserah diri di 37:103 menunjuk dua orang, padahal gerakan merebahkan dilakukan oleh satu orang kepada yang lain. Sebelum gerakan itu, 37:102 memuat ayah yang meminta anaknya memikirkan pendapatnya, dan anak yang menjawab dengan menyebut Allah. Ayat 37:103 mencatat bahwa keduanya sampai pada titik yang sama. Dalam keputusan yang akibatnya jatuh pada orang lain, pembaca dapat menimbang apakah dirinya pernah memastikan pihak lain sampai ke titik yang sama, atau menganggap persetujuan mereka sudah ikut dalam persetujuannya sendiri. Apakah ada percakapan seperti 37:102 sebelum keputusan terakhir dalam keluarganya atau pekerjaannya?
  • Ayat 37:103 tidak menyebut kepada siapa kedua orang itu berserah diri. Di 2:112 dan 4:125 penerimanya tertulis, yaitu Allah, dan 4:125 melanjutkan dengan menyebut bahwa Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya, tanpa menyatakan bahwa yang pertama menjadi sebab yang kedua. Di 37:102 anak itu sudah menyebut nama Allah dalam jawabannya, dan 37:103 tidak mengulang nama itu. Pembaca dapat memperhatikan bahwa hal yang paling berat dalam rangkaian ini diceritakan tanpa nama penerima di dalam kalimatnya sendiri; nama itu hanya ditemukan di ayat-ayat sekitarnya. Dalam hidup pembaca, kepada siapa pembaca menyerahkan hal terberatnya, dan pernahkah nama itu diucapkannya dengan jelas?
  • Ayat ini memuat dua kata kerja dan satu bagian tubuh. Tidak ada alat, tidak ada tempat, dan tidak ada kata tentang perasaan siapa pun. Peristiwa yang di 37:106 disebut cobaan yang nyata diceritakan dengan bahan sesedikit itu. Pembaca dapat menimbang cara menceritakan peristiwa terberat dalam hidupnya, apakah dengan banyak sifat dan sebab atau dengan sedikit kata kerja seperti ayat ini. Menambah sifat dapat membuat peristiwa terdengar lebih besar, dan menahannya dapat membuat pendengar mengisi sendiri bagian yang kosong. Bagian kosong mana dalam ceritanya yang paling sering diisi orang lain dengan dugaan mereka sendiri?
  • Kalimat di 37:103 berhenti pada pelipis, dan kelanjutannya datang dari pihak lain: 37:104 memuat panggilan dengan kata Kami, yaitu Allah. Dalam ayat ini kedua orang itu tidak mengucapkan apa pun, dan tidak ada kata yang menyebut mereka menunggu. Pembaca yang berhenti di ujung ayat tinggal dengan gambar yang belum selesai, seperti saat sebuah keputusan sudah diambil tetapi jawabannya belum datang. Bagian hidup mana yang sekarang berhenti di tengah, dan dari arah mana kelanjutannya diduga akan datang?
  • Dua ayat berturut-turut dibuka dengan "maka ketika": ketika anak itu mencapai usia sanggup berusaha bersamanya, lalu ketika keduanya berserah diri. Di antara dua saat itu ada percakapan yang memuat pertanyaan ayah dan jawaban anak, dan jawaban itu menyebut Allah. Penyerahan di 37:103 datang sesudah ada ruang untuk bertanya, dan tidak sebelumnya. Pembaca dapat menimbang apakah penyerahan yang dikenalnya, pada dirinya atau pada orang lain, lahir dari ruang seperti itu atau dari keadaan tanpa pilihan, dan bagaimana kedua jenis penyerahan itu terasa berbeda di dalam. Kapan terakhir kali pembaca memberi orang lain ruang untuk menjawab sebelum memintanya sampai ke titik tertentu?