وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
Dan Kami memanggilnya, “Wahai Ibrahim,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَنَادَيْنَاهُwa-naadaynaahudan Kami memanggilnya
- أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُan yaa ibraahiimuwahai Ibrahim
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَنَادَيْنَاهُwa-naadaynaahudan Kami menyerunya
- أَنْanyaitu
- يَاyaawahai
- إِبْرَاهِيمُibraahiimuIbrahim
Inti bacaan
Kata (وَنَادَيْنَاهُ, wa-naadaynaahu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 19:52 dan 37:104.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَنَادَيْنَاهُ, wa-naadaynaahu) yang berarti "dan Kami memanggilnya". Bentuk ini tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", kata kerja (نَادَيْنَا, naadaynaa) yang berarti "Kami memanggil", dan (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Akar kata kerjanya ن-د-و. Bentuk persis (وَنَادَيْنَاهُ, wa-naadaynaahu) muncul dua kali, yaitu di 19:52 dan 37:104, dan kata kerja (نَادَيْنَا, naadaynaa) dengan atau tanpa akhiran -hu muncul tiga kali, yaitu di 19:52, 28:46, dan 37:104. Di 19:52 sambungannya (مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ, min jaanibi th-thuuri l-aymani) yang berarti "dari sisi kanan gunung Tur" menyebut tempat panggilan, dan -hu menunjuk orang yang disebut di ayat sebelumnya. Di 37:104 sambungannya langsung isi panggilan, tanpa tempat, dan -hu menunjuk orang yang namanya baru tertulis di ujung ayat yang sama.
Akar yang sama dipakai di surah yang sama pada 37:75, (نَادَانَا نُوحٌ, naadaanaa nuuhun) yang berarti "Nuh menyeru Kami", dengan arah sebaliknya: manusia yang menyeru dan "Kami" yang menjawab. Di 37:104 "Kami" yang memanggil dan manusia yang dipanggil. Akar ن-د-و muncul di surah 37 hanya pada dua ayat itu, yaitu 37:75 dan 37:104.
Kata (أَنْ, an) sesudahnya tidak mendapat kata Indonesia sendiri dalam terjemahan utuh. Sesudah kata kerja memanggil atau menyeru, kata itu mengantar isi seruan, antara lain di 7:44, 7:50, 26:10, dan 27:8, dan di keempat ayat itu terjemahan membuka kutipan langsung sesudah koma tanpa kata untuk an. Terjemahan 37:104 mengikuti cara yang sama: "Dan Kami memanggilnya, "Wahai Ibrahim,". Tanda kutip belum ditutup karena isi panggilan berlanjut ke 37:105.
Seruan (يَا إِبْرَاهِيمُ, yaa ibraahiimu) yang berarti "wahai Ibrahim" memakai nama orang, tidak memakai sebutan umum. Susunan ini muncul empat kali di empat surah, yaitu di 11:76, 19:46, 21:62, dan 37:104. Di surah 37 seruan dengan kata (يَا, yaa) muncul empat kali, yaitu di 37:20, dua kali di 37:102, dan di 37:104. Di 37:20 kata sesudahnya (وَيْلَنَا, waylanaa) yang berarti "celakalah kami", di 37:102 sebutan hubungan, (بُنَيَّ, bunayya) yang berarti "anakku" dan (أَبَتِ, abati) yang berarti "ayahku", dan hanya di 37:104 kata sesudahnya nama seseorang.
Ayat ini tidak memuat kata perintah atau larangan. Isi panggilan di 37:105 memuat kata kerja lampau (صَدَّقْتَ, shaddaqta) yang berarti "engkau telah membenarkan", sehingga terjemahan tidak menambahkan "hentikanlah" atau "jangan", yang tidak punya kata Arab di 37:104 maupun di 37:105. Awalan (وَ, wa) menyambung ayat ini ke 37:103, sehingga dua ayat itu terbaca sebagai satu kalimat panjang yang diberi koma di ujung masing-masing.
Tafsiran
Ayat ini membalik arah panggilan dalam cerita ini. Di 37:99 dan 37:100 Ibrahim yang memanggil, (رَبِّ, rabbi) yang berarti "Tuhanku", dan meminta sesuatu. Di 37:101 "Kami" memberi kabar gembira dengan kata kerja yang berakhiran sama dengan (وَنَادَيْنَاهُ, wa-naadaynaahu), sehingga "Kami" di sana terbaca sebagai pihak yang diminta di 37:100. Di 37:104 pihak itu yang memanggil, dan Ibrahim yang dipanggil. Di antara dua panggilan itu terjadi tiga hal: kabar gembira, percakapan ayah dan anak, dan sikap berserah diri keduanya.
Letak panggilan ini sejalan dengan beberapa ayat lain. Di 20:11 dan 28:30, (فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ, fa-lammaa ataahaa nuudiya) yang berarti "maka ketika ia mendatanginya, ia dipanggil", dan di 27:8, (فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ, fa-lammaa jaa'ahaa nuudiya) yang berarti "maka ketika ia tiba di sana, ia dipanggil", panggilan datang sesudah seseorang tiba di suatu tempat. Di 7:22, (وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا, wa-naadaahumaa rabbuhumaa) yang berarti "dan Tuhan mereka berdua memanggil mereka berdua", panggilan datang sesudah dua orang yang (فَلَمَّا ذَاقَا, fa-lammaa dzaaqaa) yang berarti "maka ketika keduanya mencicipi". Susunan 37:103 sampai 37:104 serupa dengan ayat-ayat itu: sesuatu dilakukan manusia lebih dulu, lalu panggilan datang. Bedanya, di 20:11, 27:8, dan 28:30 manusia sampai di tempat panggilan, di 7:22 panggilan berupa pertanyaan, dan di 37:104 panggilan memuat nama saja pada ayatnya sendiri, sedangkan isinya datang di ayat berikut.
Empat penutur seruan "wahai Ibrahim" memperlihatkan bahwa nama yang sama bisa terdengar berbeda menurut mulut yang mengucapkannya. Di 19:46 ayahnya memanggil sambil mengancam akan merajam, di 21:62 kaumnya memanggil sambil bertanya siapa yang berbuat sesuatu terhadap tuhan-tuhan mereka, dan di 11:76 ayatnya tidak menyebut penuturnya. Di 37:104 penuturnya "Kami", dan kalimat sesudahnya, di 37:105, berisi pernyataan tentang apa yang telah dilakukan Ibrahim. Nama yang sama membuka ancaman di satu tempat, tuduhan di tempat lain, dan pernyataan tentang tindakannya di sini.
Ayat ini sendiri berhenti pada nama. Tidak ada isi, tidak ada perintah, dan tidak ada keterangan tentang apa yang terjadi pada orang yang direbahkan di 37:103. Ayat ini tidak menyebut apa yang sedang dikerjakan pada saat panggilan itu terdengar.
Renungan dan Hikmah
- Di 37:100 Ibrahim memanggil Tuhannya dengan sebutan "Tuhanku", tanpa nama, dan di 37:104 Ibrahim dipanggil dengan namanya. Di 37:111 Ibrahim disebut termasuk hamba-hamba Kami yang beriman, sebutan yang berbeda dari seruan di 37:104. Satu orang yang sama menerima nama dan sebutan peran dalam rangkaian ayat yang pendek. Pembaca dapat memperhatikan saat-saat dirinya dipanggil dengan namanya dan saat dipanggil dengan perannya, dan apa yang berubah dalam dirinya ketika hanya namanya yang disebut. Siapa yang terakhir kali memanggil pembaca dengan nama saja, tanpa gelar dan tanpa permintaan?
- Orang yang menerima ancaman dari ayahnya di 19:46, tuduhan dari kaumnya di 21:62, dan panggilan dari Kami di 37:104, dipanggil dengan dua kata yang sama setiap kali: wahai Ibrahim. Isi sesudah nama menentukan apakah panggilan itu berupa ancaman, tuduhan, atau pernyataan tentang apa yang sudah dilakukannya. Di 37:104 pihak yang memanggil adalah Allah, dan isi pernyataannya baru terdengar di ayat berikutnya. Pembaca dapat mengingat panggilan atas namanya sendiri yang pernah membuat dadanya menciut dan yang pernah membuatnya lega, lalu memperhatikan bahwa bunyinya sama sedangkan isi sesudahnya berbeda. Apakah pembaca sempat menunggu isi sesudah nama, atau sudah bereaksi pada nama saja?
- Dalam rangkaian ini orang yang memanggil lebih dulu menjadi orang yang dipanggil. Di 37:100 Ibrahim meminta kepada Tuhannya, dan di 37:104 pihak yang diminta itu, dengan kata Kami, memanggil Ibrahim. Antara dua panggilan itu ada kabar gembira, percakapan dengan anaknya, dan sikap berserah diri. Pembaca yang pernah meminta sesuatu dapat menimbang bahwa arah pembicaraan tidak selalu tetap searah: yang meminta kelak bisa menjadi yang dipanggil, dan isi panggilan itu belum tentu sama dengan hal yang diminta. Apakah pembaca siap mendengar, bila suatu saat giliran bicara berpindah dari dirinya kepada pihak yang selama ini ia seru?
- Ayat 37:104 berhenti pada nama, dan isinya baru ada di ayat berikut. Pembaca atau pendengar yang berhenti di sana tinggal dalam jeda sepanjang batas ayat: tidak ada tuduhan, perintah, atau kabar sesudah nama, hanya nama itu. Dalam hidup pembaca, jeda sesudah namanya disebut dan sebelum isi pembicaraan datang adalah saat pembaca menebak sendiri kabar apa yang akan menyusul. Tebakan itu dapat dipengaruhi pengalamannya dengan pihak yang memanggil. Apa yang biasanya pembaca isikan ke dalam jeda semacam itu, dan dari pengalaman yang mana isian itu berasal?
- Ayat 37:103 ditutup dengan keduanya telah berserah diri, dan 37:104 dibuka dengan panggilan yang ditujukan kepada satu orang saja. Ayat tidak mengatakan bahwa panggilan itu terjadi karena sikap keduanya, dan tidak mengatakan bahwa panggilan itu terjadi pada saat gerakan hampir selesai; yang tertulis hanya urutannya. Allah memanggil satu nama, dan alasan panggilan itu tertuju pada satu orang tidak tertulis. Pembaca dapat memperhatikan keputusan bersama yang pernah dijalaninya: ketika akibatnya mulai terasa, perhatian sekitar dapat tertuju pada satu nama, sementara nama lain yang ikut menjalani tidak disebut. Siapa nama yang tidak disebut dalam keputusan yang pernah diikuti pembaca, dan siapa yang memperhatikannya?
- Di 37:104 nama berdiri sendiri sesudah kata wahai, tanpa gelar atau sifat, dan keterangan tentang pemanggil hanya kata Kami pada kata kerja. Seruan lain dalam cerita ini memakai sebutan hubungan: anak memanggil ayahnya dengan ayahku, dan ayah memanggil anaknya dengan anakku. Di 37:102 dua sebutan itu menyatakan hubungan kedua orang itu, dan di 37:104 hubungan itu tidak disebut. Pembaca dapat memperhatikan sebutan hubungan yang melekat pada dirinya sehari-hari, seperti anak, kakak, atau ayah, dan menimbang kapan nama saja yang dipakai orang untuk memanggilnya. Kapan nama itu terakhir terdengar, dan siapa yang mengucapkannya dengan nada yang masih diingat pembaca?