قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

sungguh, engkau telah membenarkan mimpi.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاqad shaddaqta r-ru'yaasungguh, engkau telah membenarkan mimpi
  2. إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَinnaa ka-dzaalika najzii l-muhsiniinasesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. قَدْqadsungguh
  2. صَدَّقْتَshaddaqtaengkau membenarkan
  3. الرُّؤْيَاr-ru'yaamimpi
  4. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  5. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  6. نَجْزِيnajziiKami membalas
  7. الْمُحْسِنِينَl-muhsiniinaorang-orang yang berbuat kebaikan

Inti bacaan

Bentuk tanpa awalan dengan kata sandang (الرُّؤْيَا, r-ru'yaa) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:60, 37:105, dan 48:27.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قَدْ صَدَّقْتَ, qad shaddaqta) yang berarti "sungguh, engkau telah membenarkan". Huruf (قَدْ, qad) yang berarti "sungguh" terletak tepat sebelum kata kerja lampau, dan terjemahan memakai "sungguh" bersama "telah" untuk keduanya. Kata kerja (صَدَّقْتَ, shaddaqta) berakar ص-د-ق dan ditujukan kepada satu orang laki-laki yang diajak bicara. Kata kerja lampau (صَدَّقَ, shaddaqa) dengan huruf dal ganda muncul tujuh kali dengan pelaku yang berbeda-beda, yaitu di 34:20, 37:37, 37:105, 39:33, 66:12, 75:31, dan 92:6, dan terjemahan memakai "membenarkan" di semuanya. Di 37:37 dan 37:105 benda yang dibenarkan langsung mengikuti kata kerja, seperti (وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ, wa-shaddaqa l-mursaliina) yang berarti "dan membenarkan para rasul". Di 39:33, 66:12, dan 92:6 benda itu didahului huruf bi, seperti (وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ, wa-shaddaqa bi-l-husnaa) yang berarti "dan membenarkan yang terbaik". Susunan 37:105 sama dengan 37:37, sehingga terjemahan menulis "membenarkan mimpi" tanpa kata penghubung.

Kata (الرُّؤْيَا, r-ru'yaa) yang berarti "mimpi" berakar ر-أ-ي, akar yang sama dengan (أَرَىٰ, araa) yang berarti "aku melihat" di 37:102, tempat sang ayah berkata (إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ, innii araa fii l-manaami) yang berarti "sesungguhnya aku melihat dalam mimpi". Dengan begitu kata ini di 37:105 menunjuk apa yang disebut "aku melihat" di ayat itu, dan terjemahan memakai "mimpi" karena 37:102 menyebut tempat melihatnya, (الْمَنَامِ, l-manaami) yang berarti "mimpi". Bentuk tanpa awalan dengan kata sandang ini muncul tiga kali, yaitu di 17:60, 37:105, dan 48:27. Di 48:27, (لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ, la-qad shadaqa llaahu rasuulahu r-ru'yaa bi-l-haqqi) yang berarti "sungguh, Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenar-benarnya", akar ص-د-ق dan kata mimpi bertemu seperti di 37:105, tetapi kata kerjanya tanpa huruf dal ganda dan pelakunya Allah. Terjemahan memakai "membuktikan" di 48:27 karena Allah pelakunya dan ayat itu disusul keterangan tentang apa yang akan terjadi, dan memakai "membenarkan" di 37:105 karena pelakunya orang yang diajak bicara dan ayat itu disusul pernyataan lain.

Kalimat (إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ, innaa ka-dzaalika najzii l-muhsiniina) yang berarti "sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan" muncul lima kali, yaitu di 37:80, 37:105, 37:121, 37:131, dan 77:44. Tanpa innaa, (كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ, ka-dzaalika najzii l-muhsiniina) muncul sembilan kali, yaitu di 6:84, 12:22, 28:14, 37:80, 37:105, 37:110, 37:121, 37:131, dan 77:44. Kata kerja (نَجْزِي, najzii) yang berarti "Kami memberi balasan" dalam susunan kadzaalika najzii juga dipakai untuk keburukan, misalnya (وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ, wa-ka-dzaalika najzii zh-zhaalimiina) di 7:41 yang berarti "dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim", dan (كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ, ka-dzaalika najzii l-qawma l-mujrimiina) di 46:25. Kata balasan karena itu berlaku ke dua arah, dan kata sesudahnya yang menentukan arahnya. Di 37:105 kata itu (الْمُحْسِنِينَ, l-muhsiniina) yang berarti "orang-orang yang berbuat kebaikan".

Kata (مُحْسِنٌ, muhsinun) bertemu kata kerja berserah diri di tiga ayat, yaitu 2:112, 4:125, dan 31:22. Di 2:112 dan 4:125 bunyinya (أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ, aslama wajhahu li-llaahi wa-huwa muhsinun) yang berarti "menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebaikan", dan di 31:22 bunyinya (يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ, yuslim wajhahu ila llaahi wa-huwa muhsinun). Di surah 37 kata kerja berserah diri ada di 37:103 dan kata (الْمُحْسِنِينَ, l-muhsiniina) di 37:105, terpisah oleh satu ayat.

Tanda kutip penutup diletakkan sesudah "mimpi" karena kalimat berikutnya memakai "Kami" dan berdiri seperti penutup di 37:80, 37:121, dan 37:131, yang tidak berada di dalam ucapan siapa pun. Teks Arab tidak memuat kata yang menandai akhir ucapan, sehingga letak tanda kutip itu adalah pilihan terjemahan.

Tafsiran

Ayat ini memuat isi panggilan di 37:104 dan mengubah cara cerita ini menyebut peristiwanya: pihak yang memanggil menamai tindakan Ibrahim secara langsung. Di 37:102 ayah dan anak saling berbicara, di 37:103 penutur menyebut sikap keduanya, dan di 37:105 pihak yang memanggil berkata (صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا, shaddaqta r-ru'yaa) yang berarti "engkau membenarkan mimpi". Penilaian itu ditujukan kepada satu orang dengan kata engkau, dan tidak kepada anak itu. Ayat ini tidak mengatakan apa pun tentang penilaian atas anak, dan apa yang terjadi padanya baru disebut di 37:107 dengan kata kerja menebus.

Kata yang dipilih untuk menyebut apa yang dibenarkan layak diperhatikan. Di 37:102 anak itu menjawab (افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ, if'al maa tu'maru) yang berarti "lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu", sehingga yang dibicarakan disebutnya sebagai sesuatu yang diperintahkan. Di 37:105 pemanggil memakai (الرُّؤْيَا, r-ru'yaa), kata dari akar yang sama dengan "aku melihat" di 37:102, yaitu sesuatu yang dilihat. Ayat 37:105 tidak memakai kata perintah, dan tidak mengatakan bahwa apa yang dilihat itu sebuah perintah.

Pada separuh kedua ayat, pembicaraan beralih dari "engkau" ke satu golongan, (الْمُحْسِنِينَ, l-muhsiniina). Peristiwa seorang di satu tempat dijadikan keterangan yang berlaku bagi golongan itu, dan kalimat yang sama tanpa kata innaa diulang untuk Ibrahim di 37:110. Di surah yang sama kalimat itu dipakai sekali untuk Nuh di 37:80, sekali untuk Musa dan Harun di 37:121, dan sekali untuk Ilyas di 37:131, sehingga cerita Ibrahim memakainya dua kali, di 37:105 dan 37:110.

Di 48:27 Allah yang membuktikan sebuah mimpi dengan peristiwa yang disebut ayat itu sendiri, sedangkan di 37:105 yang disebut adalah pihak yang membenarkan mimpi, dan peristiwa yang dibicarakannya tidak ditulis selesai: 37:103 berhenti pada pelipis, dan 37:107 menyebut penebusan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di 37:105 berbentuk lampau, engkau telah membenarkan, padahal rangkaian ayat sampai di situ belum memperlihatkan hasil apa pun dari yang dibenarkan: 37:103 berhenti pada pelipis dan 37:107 baru menyebut penebusan. Sesuatu dibenarkan sebelum akibatnya terlihat. Pembaca dapat memperhatikan hal-hal yang dinyatakannya benar jauh sebelum hasilnya tampak, dan bagaimana rasanya ketika pernyataan itu sudah diucapkan sementara hasilnya belum ada. Apakah pembaca membenarkan sesuatu karena sudah melihat hasilnya, atau sebelum itu, dan adakah bedanya di dalam dirinya?
  • Penilaian di 37:105 ditujukan kepada satu orang dengan kata engkau, dan anak yang ikut berserah diri di 37:103 tidak disebut di ayat ini. Pihak yang berbicara, yaitu Kami, yang berarti Allah, menamai apa yang dilakukan satu orang, sedangkan orang kedua belum disebut sampai 37:107. Pembaca dapat memperhatikan bahwa dalam keputusan yang dijalani dua orang, penilaian yang datang kemudian bisa tertuju pada satu orang tanpa menyebut yang lain, dan ketiadaan sebutan itu belum menjadi keterangan tentang orang kedua. Apa yang diterima orang yang ikut menjalani hal yang sama, dan siapa yang akan menyebutnya?
  • Separuh pertama ayat ini berbicara kepada satu orang, dan separuh kedua tentang satu golongan. Allah memakai kejadian pada seorang untuk menyebut cara Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, dan golongan itu tidak dibatasi pada Ibrahim. Pembaca dapat memperhatikan bahwa peristiwa yang dikiranya milik orang lain, yang jauh dan berat, ditempatkan ayat ini sebagai contoh bagi golongan yang terbuka. Golongan itu disebut dengan satu kata, dan ayat-ayat lain menyebut sifat orang-orang di dalamnya. Apa yang membuat seseorang masuk ke golongan itu menurut ayat-ayat tersebut, dan sudahkah pembaca membukanya untuk menjawab pertanyaan itu?
  • Susunan kalimat yang dipakai di 37:105 dipakai juga untuk keburukan di ayat lain, sehingga kata balasan sendiri tidak menyebut baik atau buruk; golongan yang disebut sesudahnyalah yang menentukan. Pembaca yang pernah menunggu balasan atas sesuatu dapat memperhatikan bahwa kata itu menunggu keterangan golongan lebih dulu. Kami, yaitu Allah, memberi balasan dengan susunan yang sama kepada golongan yang berbeda, dan arahnya baru terbaca di ujung kalimat. Apakah pembaca menunggu balasan tanpa tahu golongan mana yang sedang dimasukinya, dan siapa yang bisa memberitahunya?
  • Kata berserah diri di 37:103 dan kata orang-orang yang berbuat kebaikan di 37:105 terpisah satu ayat, dan di tiga ayat lain kedua kata itu ditulis dalam satu kalimat, dengan kata sedangkan dia berbuat kebaikan sesudah penyerahan kepada Allah. Dalam diri pembaca, penyerahan dan perbuatan baik dapat berjalan bersama atau terpisah, dan kalimat-kalimat itu menaruh keduanya berdampingan. Apakah pembaca pernah menimbang mana dari keduanya yang lebih mudah baginya, dan mana yang lebih sering terlewat, penyerahannya atau perbuatan baiknya?
  • Anak itu menyebut apa yang dibicarakan ayahnya sebagai sesuatu yang diperintahkan, dan pemanggil di 37:105 menyebutnya mimpi. Dua kata untuk satu pengalaman itu memperlihatkan bahwa satu pengalaman dapat dinamai perintah oleh satu orang dan penglihatan oleh pihak lain. Pembaca yang pernah menangkap sesuatu dalam hening, lewat mimpi, firasat, atau suara hati, dapat memperhatikan kata apa yang dipakainya untuk menamainya. Apakah pembaca menyebutnya perintah sejak awal, atau penglihatan yang baru menjadi perintah sesudah ia memilih menjalaninya?