إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
Sesungguhnya ini benar-benar cobaan yang nyata.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُinna haadzaa la-huwa l-balaa'u l-mubiinusesungguhnya ini benar-benar cobaan yang nyata
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- هَٰذَاhaadzaaini
- لَهُوَla-huwabenar-benar ini
- الْبَلَاءُl-balaa'ucobaan
- الْمُبِينُl-mubiinuyang jelas
Inti bacaan
Kata (الْبَلَاءُ, l-balaa'u) dengan kata sandang muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:106, sedangkan bentuk tanpa kata sandang muncul lima kali, yaitu di 2:49, 7:141, 8:17, 14:6, dan 44:33.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ هَٰذَا, inna haadzaa) yang berarti "sesungguhnya ini". Kata (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini" menunjuk sesuatu yang dekat, tetapi ayat ini tidak menyebut apa yang ditunjuk: bisa perintah dalam mimpi di 37:102, bisa seluruh peristiwa dari 37:102 sampai 37:105. Terjemahan mempertahankan "ini" dan tidak menggantinya dengan "peristiwa itu" atau "perintah itu", karena ayatnya sendiri tidak memilih.
Kata (لَهُوَ, la-huwa) tersusun dari (لَ, la) yang berarti "benar-benar" dan (هُوَ, huwa) yang berarti "dia" atau "itu". Susunan (إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ, inna haadzaa la-huwa) muncul lima kali, yaitu di 3:62, 27:16, 37:60, 37:106, dan 56:95. Di 37:60, (إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ, inna haadzaa la-huwa l-fawzu l-'azhiimu) berarti "sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang agung", dan di 27:16, (إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ, inna haadzaa la-huwa l-fadhlu l-mubiinu) berarti "sesungguhnya ini benar-benar karunia yang nyata". Kalimat 37:106 memakai rangka yang sama dengan 27:16 dan menukar satu kata benda: (الْبَلَاءُ, l-balaa'u) menggantikan (الْفَضْلُ, l-fadhlu). Di kelima ayat itu huwa tidak mendapat kata Indonesia sendiri, sehingga kalimatnya terbaca "ini benar-benar ...".
Kata (الْبَلَاءُ, l-balaa'u) berakar ب-ل-و, dan kata benda ini muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:49, 7:141, 8:17, 14:6, 37:106, dan 44:33. Bentuk dengan kata sandang hanya di 37:106. Lima lainnya tanpa kata sandang, yaitu (بَلَاءٌ, balaa'un) di 2:49, 7:141, 14:6, dan 44:33, serta (بَلَاءً, balaa'an) di 8:17. Terjemahan memakai "cobaan" di keenam ayat itu: "cobaan yang agung" di 2:49, 7:141, dan 14:6, "cobaan yang baik" di 8:17, dan "cobaan yang nyata" di 44:33 untuk (بَلَاءٌ مُبِينٌ, balaa'un mubiinun) dan di 37:106. Kata kerja seakar mendapat padanan sendiri, yaitu "menguji", misalnya (ابْتَلَىٰ, btalaa) yang berarti "diuji" di 2:124 dan (وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ, wa-la-nabluwannakum) yang berarti "dan sungguh Kami akan menguji kalian" di 2:155. Dengan begitu satu kata benda mendapat satu padanan di enam ayat.
Kata (الْمُبِينُ, l-mubiinu) yang berarti "yang nyata" berakar ب-ي-ن. Kata sifat yang sama melekat pada kata benda cobaan di 44:33, (بَلَاءٌ مُبِينٌ, balaa'un mubiinun), dan di surah 37 kata itu muncul empat kali, yaitu di 37:15, 37:106, 37:113, dan 37:156. Di 37:15 kata itu dipakai orang-orang yang menghina tanda-tanda untuk menyebut sihir, (سِحْرٌ مُبِينٌ, sihrun mubiinun) yang berarti "sihir yang nyata", dan di 37:113 untuk (ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ, zhaalimun li-nafsihi mubiinun) yang berarti "orang yang terang-terangan menzalimi dirinya sendiri".
Ayat ini tidak memuat kata yang menandai ucapan seseorang, seperti (قَالَ, qaala) yang berarti "berkata" di 37:102. Terjemahan karena itu tidak memberinya tanda kutip, dan kalimat ini terbaca sebagai penuturan.
Tafsiran
Ayat ini memberi nama pada apa yang baru terjadi di 37:102 sampai 37:105, dan nama itu tidak diucapkan oleh tokoh mana pun dalam rangkaian itu. Ayah menyebutnya mimpi di 37:102, anak menyebutnya apa yang diperintahkan, penutur menyebut sikap keduanya di 37:103, dan pemanggil menyebutnya mimpi yang dibenarkan di 37:105. Kata cobaan baru muncul di 37:106. Ayat ini tidak diberi tanda kutip dan tidak memakai kata engkau seperti 37:105, sehingga terbaca sebagai penilaian penutur yang tertuju kepada pembaca; Ibrahim tidak lagi disapa di sini.
Rangka kalimat 37:106 sama dengan 27:16, yang di sana diucapkan Sulaiman sesudah (وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ, wa-waritsa sulaymaanu daawuuda) yang berarti "dan Sulaiman mewarisi Dawud". Kalimat dengan rangka yang sama menyebut karunia di satu tempat dan cobaan di tempat lain, jadi rangka itu tidak menentukan apakah sebuah peristiwa pemberian atau ujian; kata bendanya yang menentukan. Di surah ini rangka itu juga dipakai di 37:60 untuk kemenangan yang agung.
Lima ayat lain yang memuat kata benda cobaan menyebut asalnya. Di 2:49, 7:141, dan 14:6 tertulis (مِنْ رَبِّكُمْ, min rabbikum) yang berarti "dari Tuhan kalian", di 8:17 tertulis (مِنْهُ, minhu) yang berarti "dari-Nya" dan ayat itu berbicara tentang Allah, dan di 44:33 tertulis (وَآتَيْنَاهُمْ, wa-aataynaahum) yang berarti "dan Kami berikan kepada mereka". Ayat 37:106 tidak menyebut dari siapa cobaan itu, dan tidak memuat kata kerja menguji yang berpelaku. Pelakunya tertulis di 2:124, (ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ, btalaa ibraahiima rabbuhu) yang berarti "Tuhannya menguji Ibrahim", tetapi 2:124 memuat cobaan lain, dengan kalimat-kalimat, dan tidak ada kata dalam kedua ayat yang menghubungkannya dengan peristiwa di 37:102.
Ayat sesudahnya, 37:107, tidak menjelaskan cobaan itu dan langsung menyebut apa yang dilakukan sesudahnya, yaitu penebusan.
Renungan dan Hikmah
- Di dalam rangkaian 37:102 sampai 37:105 tidak ada tokoh yang menyebut apa yang sedang terjadi sebagai cobaan, dan kata itu baru muncul di 37:106 dari penutur. Allah memanggil di 37:104 dan menilai di 37:105 tanpa memakai kata itu, sedangkan orang-orang di dalam peristiwa memakai kata mereka sendiri: mimpi, perintah, berserah diri. Pembaca dapat memperhatikan bahwa dirinya mungkin sedang menjalani sesuatu yang namanya belum pernah didengarnya, dan baru akan terdengar sesudah semuanya lewat. Kata apa yang sekarang dipakai pembaca untuk keadaannya, dan siapa yang kelak akan memberinya nama lain?
- Kalimat dengan rangka yang sama menyebut karunia di 27:16 dan cobaan di 37:106. Dua peristiwa yang terasa sangat berbeda dibuka dengan kata yang sama, ini benar-benar, sehingga bunyi pembukanya tidak membocorkan isinya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sesuatu yang datang kepadanya, selama belum diberi nama, dapat menjadi karunia atau cobaan, dan bahwa nama itu baru ditentukan oleh kata bendanya di ujung kalimat. Apakah pembaca terburu-buru menamai yang datang kepadanya sebelum kata bendanya muncul?
- Di lima ayat lain cobaan disebut bersama asalnya: dari Tuhan kalian di tiga ayat, dari-Nya di satu ayat, dan dari Kami di satu ayat. Di 37:106 asal itu tidak tertulis, dan pelaku yang menguji tertulis di 2:124 yang menyebut Tuhannya menguji Ibrahim, dalam peristiwa lain. Pembaca yang sedang berada dalam cobaan dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak membantu dengan menyebut sebabnya; yang diberikan hanya namanya. Dalam keadaan berat yang sedang dijalaninya, bagian mana yang menurut pembaca harus diketahui asalnya lebih dulu sebelum pembaca mau menjalaninya, dan apakah syarat itu pernah terpenuhi?
- Kata ini di 37:106 tidak menunjuk sesuatu yang tertulis, sehingga pembaca ikut menentukan apa yang ditunjuk: perintah dalam mimpi, atau seluruh rangkaian sampai 37:105. Dua pembacaan itu memberi arti yang berbeda pada kata cobaan, dan ayat tidak memilih. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana kata ini dipakainya tentang masa terberatnya sendiri: ini cobaan, tetapi ini yang mana? Hanya perintahnya, atau juga saat menunggu, atau juga keputusan untuk menjawab? Apakah pembaca pernah mengurai satu kata ini menjadi bagian-bagiannya, dan bagian mana yang paling berat?
- Kata nyata dipakai di 37:15 oleh orang-orang yang menghina tanda-tanda untuk menyebut sihir yang nyata, dan di 37:106 oleh penutur untuk menyebut cobaan yang nyata. Keduanya tidak menunjuk hal yang sama dan tidak saling menjawab. Kata yang sama dipakai pihak yang berbeda untuk dua penilaian yang berbeda. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sesuatu tampak nyata baginya belum berarti penilaian yang ditempelkan padanya benar; yang menentukan adalah siapa yang menilai dan atas dasar apa. Apa yang pernah tampak sangat nyata bagi pembaca lalu ternyata dinamai lain oleh orang yang melihat lebih jauh?
- Ayat 37:106 menamai peristiwa itu cobaan, dan 37:107 langsung menyebut apa yang dilakukan Allah sesudahnya, dengan kata Kami menebusnya. Penamaan cobaan tidak disusul penjelasan sebab, tetapi disusul tindakan. Pembaca yang menunggu penjelasan atas masa beratnya dapat memperhatikan bahwa urutan dalam ayat-ayat ini memberi nama lebih dulu, lalu tindakan, dan tidak memberi alasan. Apakah pembaca bersedia menerima tindakan tanpa alasan yang dipahaminya, atau hanya menerima alasan yang bisa dipahaminya?