وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang agung.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَفَدَيْنَاهُwa-fadaynaahudan Kami menebusnya
- بِذِبْحٍ عَظِيمٍbi-dzibhin 'azhiimindengan sembelihan yang agung
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَفَدَيْنَاهُwa-fadaynaahudan Kami menebusnya
- بِذِبْحٍbi-dzibhindengan sembelihan
- عَظِيمٍ'azhiiminyang besar
Inti bacaan
Kata (ذِبْحٍ, dzibhin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:107, sedangkan akar ذ-ب-ح muncul di sembilan ayat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَفَدَيْنَاهُ, wa-fadaynaahu) yang berarti "dan Kami menebusnya". Bentuk ini tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", kata kerja (فَدَيْنَا, fadaynaa) yang berarti "Kami menebus", dan (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Akar ف-د-ي muncul di tiga belas ayat, yaitu 2:85, 2:184, 2:196, 2:229, 3:91, 5:36, 10:54, 13:18, 37:107, 39:47, 47:4, 57:15, dan 70:11. Kata kerja dari akar ini muncul di sembilan ayat, yaitu 2:85, 2:229, 3:91, 5:36, 10:54, 13:18, 37:107, 39:47, dan 70:11, dan di delapan ayat selain 37:107 pelakunya manusia. Di 2:85, (تُفَادُوهُمْ, tufaaduuhum) yang berarti "kalian menebus mereka" menyebut tawanan yang ditebus oleh orang-orang yang diajak bicara. Di 3:91, (وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ, wa-lawi ftadaa bihi) yang berarti "sekalipun ia menebus diri dengannya", dan di 13:18 serta 39:47, (لَافْتَدَوْا بِهِ, la-ftadaw bihi) yang berarti "tentu mereka menebus diri dengannya", pelakunya menebus dirinya dari azab dengan miliknya sendiri dalam pengandaian. Di 37:107 pelakunya "Kami", dan yang ditebus tidak membayar apa pun yang tertulis.
Kata (بِذِبْحٍ, bi-dzibhin) yang berarti "dengan sembelihan" tersusun dari (بِ, bi) yang berarti "dengan" dan (ذِبْحٍ, dzibhin) yang berarti "sembelihan". Huruf bi ini juga memperkenalkan benda yang ditawarkan sebagai tebusan di 3:91, 13:18, dan 39:47, dalam (بِهِ, bihi), jadi 37:107 memakai huruf yang sama untuk benda tebusan. Kata benda (ذِبْحٍ, dzibhin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:107. Akarnya ذ-ب-ح muncul di sembilan ayat, yaitu 2:49, 2:67, 2:71, 5:3, 14:6, 27:21, 28:4, 37:102, dan 37:107. Di 37:102, (أَذْبَحُكَ, adzbahuka) yang berarti "aku menyembelihmu" berobjek anak itu, sedangkan di 37:107 kata benda dari akar yang sama menyebut sesuatu yang menggantikannya. Di 2:67, (تَذْبَحُوا بَقَرَةً, tadzbahuu baqaratan) yang berarti "kalian menyembelih seekor sapi" menyebut jenis hewannya. Ayat 37:107 tidak menyebut jenis apa pun, sehingga terjemahan memakai "sembelihan" dan tidak menambahkan nama hewan.
Kata (عَظِيمٍ, 'azhiimin) yang berarti "yang agung" berakar ع-ظ-م. Di surah 37 kata sifat ini muncul empat kali, yaitu di 37:60, 37:76, 37:107, dan 37:115. Di 37:60, (الْفَوْزُ الْعَظِيمُ, l-fawzu l-'azhiimu) berarti "kemenangan yang agung", dan di 37:76 dan 37:115, (الْكَرْبِ الْعَظِيمِ, l-karbi l-'azhiimi) berarti "bencana yang agung". Satu kata sifat dalam satu surah melekat pada kemenangan, bencana, dan sembelihan, sehingga kata itu menyatakan ukuran dan tidak menyatakan baik atau buruknya. Terjemahan memakai "agung" di keempat tempat itu.
Kata ganti (هُ, -hu) pada (فَدَيْنَاهُ, fadaynaahu) menunjuk satu laki-laki. Di 37:104, -hu pada kata kerja memanggil menunjuk Ibrahim, sedangkan di 37:107 ayatnya tidak menyebut siapa yang ditebus. Pembacaan yang paling dekat dengan 37:102 membaca -hu sebagai anak itu, karena di sana kata kerja menyembelih berobjek dia. Ayat 37:107 sendiri memakai -hu tanpa nama dan tanpa sebutan hubungan, dan terjemahan menulis "-nya" tanpa nama. Terjemahan juga menulis "Dan Kami menebusnya", karena (وَ, wa) di awal ayat menyambung 37:107 ke 37:106.
Tafsiran
Ayat ini menjawab rangkaian 37:102 sampai 37:106 dengan satu kata kerja, dan pelakunya berganti lagi. Di rangkaian itu pelaku kata kerja berpindah dari ayat ke ayat: sang ayah di 37:102 dengan (أَذْبَحُكَ, adzbahuka), kedua orang itu di 37:103 dengan (أَسْلَمَا, aslamaa), "Kami" di 37:104 dengan (نَادَيْنَا, naadaynaa), dan orang yang dipanggil di 37:105 dengan (صَدَّقْتَ, shaddaqta). Ayat 37:107 mengembalikan pelaku kepada "Kami", sama seperti 37:104, sehingga panggilan di 37:104 dan penebusan di 37:107 menjadi dua kata kerja "Kami" yang mengapit pembenaran Ibrahim dan penamaan cobaan.
Dua kata sifat melekat pada dua benda di 37:106 dan 37:107: cobaan disebut (الْمُبِينُ, l-mubiinu) yang berarti "yang nyata", dan sembelihan disebut (عَظِيمٍ, 'azhiimin) yang berarti "yang agung". Di tiga ayat lain kata sifat agung melekat pada cobaan, yaitu 2:49, 7:141, dan 14:6, sedangkan di sini kata itu pindah ke pengganti. Ukuran besar tidak diberikan kepada cobaan dalam rangkaian ini, tetapi kepada apa yang diberikan sesudahnya.
Cara sembelihan itu tiba, siapa yang menyembelihnya, dan kata yang menyertai penebusan tidak tertulis. Isinya sebuah kata kerja dan sebuah benda, lalu 37:108 berpindah ke apa yang ditinggalkan di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Penebusan tidak diikuti penjelasan, dan cobaan yang dinamai di 37:106 tidak ditutup dengan kata selesai atau kalimat serupa. Urutan ayat-ayat ini adalah nama, tindakan, lalu sesuatu yang ditinggalkan.
Renungan dan Hikmah
- Dalam delapan ayat lain yang memuat kata kerja menebus, pelakunya manusia yang menawarkan miliknya untuk menebus dirinya sendiri atau tawanannya. Di 37:107 yang menebus adalah Allah, dengan kata Kami, dan benda tebusan disebut sesudah huruf yang sama yang di ayat lain dipakai untuk milik manusia. Pembaca dapat memperhatikan perbedaan antara tebusan yang dihitungnya sendiri dari miliknya dan tebusan yang datang dari pihak lain. Apa dalam hidup pembaca yang dikiranya harus ditebus dengan miliknya sendiri, padahal ayat ini memperlihatkan arah yang lain?
- Ayat ini menyebut penggantinya dengan dua kata dan tidak menyebut jenisnya, sedangkan yang digantikan sudah disebut jelas di 37:102. Pengganti itu disebut agung, tetapi ukuran itu tidak dijelaskan lewat bentuk, bobot, atau cara. Pembaca dapat memperhatikan bahwa hal terbesar dalam sebuah pergantian dapat terletak pada apa yang digantikan, tidak pada penggantinya. Apa yang diingat pembaca dari sebuah pertolongan yang pernah diterimanya: bentuk pertolongan itu, atau apa yang nyaris hilang tanpa pertolongan itu?
- Rangkaian ini memakai lima ayat untuk percakapan, sikap, panggilan, dan penamaan, sedangkan penebusan hanya tiga kata Arab dalam satu ayat. Penyelesaiannya jauh lebih pendek daripada persoalannya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa jalan keluar yang datang dari Allah tidak harus sepanjang kesulitannya. Kesulitan yang panjang dijalani pembaca mungkin tertutup oleh satu kalimat, dan pembaca mungkin bertanya apakah satu kalimat itu cukup untuk apa yang dirasakannya. Bagaimana pembaca menimbang jalan keluar yang terasa terlalu singkat untuk bebannya?
- Kata agung di tiga ayat lain melekat pada cobaan, dan di sini melekat pada pengganti. Pembaca yang menamai masa beratnya agung atau besar dapat melihat bahwa ayat ini memberikan kata itu kepada apa yang diberikan sesudahnya. Kalimat Kami menebusnya dengan sembelihan yang agung menaruh ukuran besar di sisi tebusan, pada pihak yang menebus, yaitu Allah, sedangkan cobaan di 37:106 disebut nyata. Dalam hidup pembaca, apa yang paling sering disebutnya besar, beban yang dipikulnya atau pertolongan yang datang sesudahnya, dan apakah pembaca pernah menukar dua kata itu?
- Ayat ini tidak menyebut siapa yang ditebus, dan pembaca menemukannya lewat 37:102. Kalimat penebusan itu menyebut pelakunya, yaitu Kami, yang berarti Allah, dan tebusannya. Pembaca yang pernah diselamatkan dari sesuatu dapat bertanya apakah dalam ingatannya dirinya lebih sering menyebut siapa yang menolong atau apa yang dikorbankan demi dirinya, dan di mana dirinya sendiri berada dalam cerita itu. Apakah pembaca pernah menjadi pihak yang ditebus dalam cerita orang lain tanpa namanya disebut, dan siapa yang menanggung bebannya tanpa pernah terlihat olehnya?
- Ayat ini dibuka dengan kata dan, yang menyambung cobaan yang baru dinamai dengan tindakan menebus. Tidak ada kata sebab seperti maka, karena, atau sehingga di depannya. Pembaca dapat memperhatikan bahwa penebusan di sini disambung dengan kata sambung paling datar, tanpa hubungan sebab yang tertulis dengan sikap berserah diri di 37:103. Pertolongan yang datang tanpa kata sebab di depannya dapat terasa seperti hadiah atau seperti balasan, dan perbedaan perasaan itu menentukan apakah pembaca merasa berutang. Apakah pembaca bisa menerima pertolongan yang tidak ditandai sebab, dan dari siapa pertolongan itu paling sulit diterima?