كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَka-dzaalika najzii l-muhsiniinademikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  2. نَجْزِيnajziiKami membalas
  3. الْمُحْسِنِينَl-muhsiniinaorang-orang yang berbuat kebaikan

Inti bacaan

Kalimat (كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ, ka-dzaalika najzii l-muhsiniina) muncul sembilan kali di Al-Qur'an (6:84, 12:22, 28:14, 37:80, 37:105, 37:110, 37:121, 37:131, 77:44), dan di 37:110 tidak ada kata di depannya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah". Kata ini tersusun dari ka yang berarti "seperti" dan dzaalika yang berarti "itu", yaitu kata penunjuk. Terjemahan memakai "demikianlah" tanpa "sesungguhnya" dan tanpa "dan", sebab ayat ini tidak dibuka dengan (إِنَّا, innaa) maupun (وَ, wa).

Kalimat (كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ, ka-dzaalika najzii l-muhsiniina) ada sembilan kali di lima surah, yaitu 6:84, 12:22, 28:14, 37:80, 37:105, 37:110, 37:121, 37:131, dan 77:44. Lima di antaranya didahului innaa yang berarti "sesungguhnya Kami", yaitu 37:80, 37:105, 37:121, 37:131, dan 77:44, seperti dalam (إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي, innaa ka-dzaalika najzii). Tiga didahului wa-, yaitu 6:84, 12:22, dan 28:14, seperti dalam (وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ, wa-ka-dzaalika najzii l-muhsiniina). Ayat 37:110 tidak memakai keduanya, dan di antara kesembilan bentuk itu ayat ini tidak punya kata apa pun di depan ka-dzaalika.

Kata (نَجْزِي, najzii) yang berarti "Kami memberi balasan" berakar ج-ز-ي. Di morfologi korpus kata ini bertanda bentuk belum selesai untuk orang pertama jamak. Kata kerja yang sama dipakai untuk pihak yang berlawanan, sehingga objeknya yang menentukan apakah balasan itu baik atau buruk. Objeknya orang-orang yang berbuat dosa di 7:40, orang-orang yang zalim di 7:41, dan orang-orang yang mengada-adakan di 7:152. Di 10:13 dan 46:25 bunyinya (كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ, ka-dzaalika najzii l-qawma l-mujrimiina) yang berarti "demikianlah Kami membalas kaum yang berbuat dosa". Di 20:127 bunyinya (وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ, wa-ka-dzaalika najzii man asrafa) yang berarti "demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas", dan di 35:36 (كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ, ka-dzaalika najzii kulla kafuurin) yang berarti "demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kufur". Karena kata kerja ini dipakai pada tujuh ayat itu untuk pihak yang dihukum, terjemahan memakai "balasan", yang netral, dan tidak memakai "pahala", yang condong kepada kebaikan.

Kata (الْمُحْسِنِينَ, l-muhsiniina) yang berarti "orang-orang yang berbuat kebaikan" berbentuk pelaku jamak dari akar ح-س-ن dan memakai kata sandang al-, sehingga menunjuk satu golongan tanpa menyebut nama siapa pun. Di surah 37 kata ini ada lima kali, yaitu 37:80, 37:105, 37:110, 37:121, dan 37:131, semuanya dalam kalimat najzii ini. Golongan itu tidak terikat pada satu tokoh: 6:84 memakainya sesudah daftar nama keturunan, 12:22 dan 28:14 sesudah kisah Yusuf dan Musa, dan 77:44 sesudah penghuni naungan yang di 77:41 disebut (إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ وَعُيُونٍ, inna l-muttaqiina fii zhilaalin wa-'uyuunin) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan dan mata air".

Bentuk tunggal (مُحْسِنٌ, muhsinun) muncul empat kali, yaitu 2:112, 4:125, 31:22, dan 37:113. Di tiga yang pertama bentuk ini mendampingi penyerahan wajah kepada Allah: (أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ, aslama wajhahu li-llaahi wa-huwa muhsinun) di 2:112 dan 4:125 berarti "menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebaikan", dan 31:22 memakai (وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ, wa-man yuslim wajhahu ila llaahi wa-huwa muhsinun) yang berarti "dan siapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebaikan". Kata kerja berserah diri dari akar yang sama dipakai dalam kisah ini di 37:103. Ayat 37:110 sendiri tidak menghubungkan keduanya, dan kedekatan itu hanya kemungkinan bacaan yang bertumpu pada pemakaian kata di ayat-ayat lain.

Di 37:105 ka-dzaalika punya sesuatu yang jelas di depannya dalam ayat yang sama, yaitu (قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا, qad shaddaqta r-ru'yaa) yang berarti "sungguh, engkau telah membenarkan mimpi". Di 37:110 tidak ada perbuatan apa pun yang disebut, jadi yang ditunjuk ka-dzaalika harus dicari di ayat-ayat sebelumnya dan ayat ini tidak menyebutnya.

Tafsiran

Ayat ini mengalihkan pokok kalimat dari seorang tokoh kepada satu golongan. Ayat 37:104 sampai 37:109 membicarakan Ibrahim: Ibrahim dipanggil, dinyatakan telah membenarkan mimpi, ditebus, ditinggali sesuatu, dan diberi kesejahteraan. Ayat 37:110 tidak memuat nama Ibrahim dan berbicara tentang orang-orang yang berbuat kebaikan secara umum. Bentuk kata kerjanya pun berganti: taraknaa di 37:108 bertanda selesai di morfologi korpus, sedangkan najzii bertanda belum selesai.

Kalimat ini punya tempat yang tetap di surah 37. Kalimat balasan ini mengikuti kalimat kesejahteraan pada Nuh (37:79 lalu 37:80), pada Musa dan Harun (37:120 lalu 37:121), dan pada Ilyas (37:130 lalu 37:131). Di kisah Ibrahim kalimat balasan muncul dua kali, di 37:105 dan 37:110, dan dua tempat itu berbeda: yang pertama terikat pada pernyataan tentang mimpi yang dibenarkan, yang kedua mengikuti kalimat kesejahteraan.

Tiga ayat di surah lain memberi pembanding yang berguna. Di 6:84, 12:22, dan 28:14 kalimat yang sama datang sesudah uraian pemberian, yaitu Ishaq dan Ya'qub, kebijaksanaan dan ilmu, serta putusan dan pengetahuan. Ayat 37:110 mengikuti 37:108 dan 37:109, yang memuat "Kami tinggalkan untuknya" dan "kesejahteraan atas Ibrahim", jadi isi balasan tidak diperinci di sini. Konteks ketiga ayat itu berbeda dari 37:110, sehingga isi pemberian di sana tidak dapat dipindahkan ke sini.

Ke depan, akar ح-س-ن kembali di 37:113 dalam bentuk tunggal untuk satu pihak di antara keturunan Ibrahim dan Ishaq, berdampingan dengan pihak yang menzalimi dirinya sendiri. Dengan demikian golongan yang disebut di 37:110 tidak berhenti pada satu orang, dan kisah beralih dari tokoh ke keturunannya lewat kata yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini tidak memuat nama siapa pun, dan kalimat yang sama di 77:44 datang sesudah orang-orang bertakwa disebut berada dalam naungan dan mata air di 77:41. Dari dua tempat itu terlihat bahwa sebutan orang-orang yang berbuat kebaikan menampung lebih banyak orang daripada para tokoh kisah. Pembaca yang selama ini membaca kisah nabi sebagai cerita tentang orang lain mendapati bahwa pintu golongan ini ditulis tanpa daftar nama. Ukuran apa yang selama ini dipakai untuk memutuskan diri sudah masuk atau belum masuk golongan itu, dan dari mana ukuran tersebut berasal?
  • Di 2:112 orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah sambil berbuat kebaikan disebut menerima pahalanya di sisi Tuhannya, tanpa rasa takut atas mereka dan tanpa kesedihan. Ayat itu tidak menyebut Ibrahim, dan 37:110 tidak menyebut isi balasannya, sehingga keduanya tidak disatukan. Meski begitu, dua ayat itu memakai akar yang sama untuk pelakunya, dan di 2:112 tempat pahala itu ditulis dengan jelas, yaitu di sisi Tuhan. Orang yang terbiasa menunggu penilaian dari sekelilingnya bisa bertanya, di sisi siapa catatan kebaikannya sedang disimpan, dan siapa yang membacanya?
  • Di 6:84, 12:22, dan 28:14 kalimat yang sama datang sesudah uraian pemberian: Ishaq dan Ya'qub, kebijaksanaan dan ilmu, putusan dan pengetahuan. Di 37:110 yang mendahuluinya adalah sesuatu yang ditinggalkan dan kesejahteraan, jadi isi balasannya dibiarkan tanpa daftar. Di 6:83, tepat sebelum 6:84, Tuhanmu disebut penuh hikmah lagi berilmu. Pembaca yang ingin tahu apa yang akan diterima orang yang berbuat kebaikan tidak diberi rincian, tetapi diberi tahu siapa yang memberi balasan. Pikiran pembaca lebih sering menunggu daftar hadiah atau menanyakan kepada siapa kebaikan itu ditujukan?
  • Dalam kisah Ibrahim kalimat balasan muncul dua kali. Di 37:105 kalimat itu datang sesudah pernyataan bahwa Ibrahim telah membenarkan mimpi, jadi terikat pada satu perbuatan. Di 37:110 kalimat itu datang sesudah kalimat kesejahteraan, tanpa perbuatan yang disebut di ayat itu sendiri. Di 37:102 anak itu mengatakan bahwa ayahnya akan mendapatinya termasuk orang-orang yang sabar, jika Allah menghendaki, sehingga kisah ini memuat ucapan yang menyandarkan hasil pada kehendak Allah. Balasan mana dalam hidup pembaca yang terikat pada satu perbuatan yang bisa ditunjuk, dan balasan mana yang datang tanpa diketahui perbuatan yang mana?
  • Akar ح-س-ن kembali di 37:113 dalam bentuk tunggal, yaitu satu pihak di antara keturunan Ibrahim dan Ishaq yang berdampingan dengan pihak yang menzalimi dirinya sendiri. Dua ayat itu menaruh kata ini di dua tempat: sebagai golongan yang mendapat balasan di 37:110, dan sebagai salah satu cabang keturunan di 37:113. Ayat tidak menyebut cabang mana yang dimaksud dan tidak menyebut jumlahnya. Orang yang lahir dari keluarga yang dihormati bisa bertanya, apakah kehormatan keluarganya cukup untuk menjawab sebutan itu, atau sebutan itu tetap harus dijawab oleh perbuatannya sendiri?
  • Di 31:22 orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah sambil berbuat kebaikan disebut telah berpegang pada tali yang sangat kukuh, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa kepada Allah kesudahan segala urusan. Ayat 31:22 berbicara tentang siapa saja yang menyerahkan wajahnya dan tidak menyebut Ibrahim, sedangkan 37:110 tidak memuat penutup seperti itu. Bila dua ayat dibaca berdampingan, balasan yang dinyatakan Kami di 37:110 berada dalam ruang yang di 31:22 disebut kembali kepada Allah. Ke mana sebenarnya urusan yang sedang ditunggu hasilnya itu bermuara, dan sudahkah ujungnya diserahkan?