وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Kami berkahi ia dan Ishaq; dan dari keturunan keduanya ada yang berbuat baik, dan ada yang terang-terangan menzalimi dirinya sendiri.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَwa-baaraknaa 'alayhi wa-'alaa ishaaqadan Kami berkahi ia dan Ishaq
  2. وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌwa-min dzurriyyatihimaa muhsinun wa-zhaalimun li-nafsihi mubiinundan dari keturunan keduanya ada yang berbuat baik, dan ada yang terang-terangan menzalimi dirinya sendiri

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَبَارَكْنَاwa-baaraknaadan Kami memberkahi
  2. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  3. وَعَلَىٰwa-'alaadan atas
  4. إِسْحَاقَishaaqaIshaq
  5. وَمِنْwa-mindan dari
  6. ذُرِّيَّتِهِمَاdzurriyyatihimaaketurunan keduanya
  7. مُحْسِنٌmuhsinunyang berbuat baik
  8. وَظَالِمٌwa-zhaalimundan yang zalim
  9. لِنَفْسِهِli-nafsihiuntuk dirinya
  10. مُبِينٌmubiinunyang nyata

Inti bacaan

Bentuk (ذُرِّيَّتِهِمَا, dzurriyyatihimaa) muncul dua kali di Al-Qur'an (37:113, 57:26), dan dalam keduanya keturunan itu terbagi menjadi dua macam.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَبَارَكْنَا, wa-baaraknaa) yang berarti "dan Kami berkahi". Kata ini tersusun dari wa- yang berarti "dan", kata kerja baaraknaa yang berarti "Kami berkahi", dan akhiran -naa yang berarti "Kami". Kata kerjanya berakar ب-ر-ك. Bentuk baaraknaa muncul enam kali di lima surah, yaitu 7:137, 17:1, 21:71, 21:81, 34:18, dan 37:113. Di lima ayat yang lain objeknya adalah tempat: (الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا, llatii baaraknaa fiihaa) yang berarti "yang telah Kami berkahi" ada di 7:137, 21:71, 21:81, dan 34:18, sedangkan di 17:1 bunyinya (الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ, alladzii baaraknaa hawlahu) yang berarti "yang telah Kami berkahi sekelilingnya". Di 37:113 objeknya adalah orang, yaitu Ibrahim dan Ishaq.

Bagian (عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ, 'alayhi wa-'alaa ishaaqa) mengulang kata 'alaa yang berarti "atas" di depan tiap penerima, dan terjemahan memakai kata kerja "berkahi" yang langsung memuat objeknya, sehingga 'alaa tidak muncul sebagai kata tersendiri. Rangkaian ini hanya ada di 37:113. Berkah dengan 'alaa disebut juga di 11:48, (وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ, wa-barakaatin 'alayka) yang berarti "dan keberkahan atasmu" untuk Nuh, dan di 11:73, (رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ, rahmatu llaahi wa-barakaatuhu 'alaykum) yang berarti "rahmat Allah dan berkah-Nya atas kalian". Di dua ayat itu 'alaa menyertai kata benda barakaat, dan di 37:113 menyertai kata kerja baaraknaa.

Bagian (وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا, wa-min dzurriyyatihimaa) yang berarti "dan dari keturunan keduanya" tersusun dari wa-, min yang berarti "dari", dzurriyyah yang berarti "keturunan" dan berakar ذ-ر-ر, dan akhiran -himaa yang berarti "keduanya", yaitu Ibrahim dan Ishaq. Bentuk dzurriyyatihimaa muncul dua kali, di 37:113 dan 57:26. Di 57:26 bunyinya (وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ, wa-ja'alnaa fii dzurriyyatihimaa n-nubuwwata wa-l-kitaaba) yang berarti "dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan Kitab", lalu disusul (فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ, fa-minhum muhtadin) yang berarti "maka di antara mereka ada yang mendapat petunjuk". Dua ayat itu menyebut pasangan yang berbeda: Ibrahim dan Ishaq di 37:113, Nuh dan Ibrahim di 57:26. Frasa (وَمِنْ ذُرِّيَّتِي, wa-min dzurriyyatii) yang berarti "dan dari keturunanku" muncul dua kali, di 2:124 dan 14:40, dan keduanya diucapkan Ibrahim.

Kata (مُحْسِنٌ, muhsinun) yang berarti "yang berbuat baik" adalah bentuk pelaku tunggal dan tak tentu dari akar ح-س-ن. Bentuk muhsinun muncul empat kali, yaitu 2:112, 4:125, 31:22, dan 37:113. Tiga yang pertama berada dalam kalimat tentang orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedangkan di 37:113 muhsinun menjadi salah satu dari dua macam keturunan.

Bagian (وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ, wa-zhaalimun li-nafsihi mubiinun) yang berarti "dan ada yang terang-terangan menzalimi dirinya sendiri" memuat zhaalimun, bentuk pelaku dari akar ظ-ل-م, dan li-nafsihi yang berarti "terhadap dirinya", dari nafs yang berakar ن-ف-س. Rangkaian zhaalimun li-nafsihi muncul tiga kali, yaitu 18:35, 35:32, dan 37:113. Di 18:35 bunyinya (وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ, wa-huwa zhaalimun li-nafsihi) yang berarti "sedangkan ia menzalimi dirinya sendiri", dan itu dituturkan tentang pemilik kebun. Di 35:32 bunyinya (فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ, fa-minhum zhaalimun li-nafsihi) yang berarti "di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri", dan itu salah satu dari tiga macam orang. Kata (مُبِينٌ, mubiinun) berakar ب-ي-ن dan menerangkan pelaku yang menzalimi itu, jadi terjemahan memakai "terang-terangan" untuk sifat perbuatannya. Akar yang sama ada di 37:106 dalam (الْبَلَاءُ الْمُبِينُ, l-balaa'u l-mubiinu) yang berarti "ujian yang nyata", di kisah yang sama.

Tafsiran

Ayat ini terbagi dua oleh tanda henti di tengahnya. Bagian pertama berisi tindakan Kami, yaitu berkah atas Ibrahim dan Ishaq. Bagian kedua menyatakan keadaan keturunan, tanpa kata kerja Kami: ada yang berbuat baik dan ada yang menzalimi dirinya sendiri secara terang-terangan.

Dua bagian itu disambung dengan wa- yang berarti "dan", tanpa kata sebab seperti "karena" atau "sehingga". Akibatnya berkah di bagian pertama tidak dinyatakan sebagai sebab atau jaminan bagi keadaan di bagian kedua. Ayat menaruh berkah yang diberikan dan keturunan yang terbelah berdampingan, dan pembaca tidak diberi kalimat yang menghubungkannya.

Ayat lain memberi bentuk yang sebanding. Di 57:26 kenabian dan Kitab dijadikan pada keturunan Nuh dan Ibrahim, lalu sebagian mendapat petunjuk dan banyak yang fasik. Di 35:32 Kitab diwariskan kepada hamba-hamba yang dipilih, dan di antara mereka ada tiga macam orang. Pada kisah Nuh di surah ini, 37:77 berbunyi (وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ, wa-ja'alnaa dzurriyyatahu humu l-baaqiina) yang berarti "dan Kami jadikan keturunannya orang-orang yang bertahan", yaitu keturunan yang disebut tanpa pembagian. Konteks tiga ayat itu berbeda satu sama lain dan berbeda dari 37:113.

Ayat 37:113 tidak menyebut cabang keturunan mana yang berbuat baik dan mana yang menzalimi diri, dan tidak menyebut perbandingan jumlahnya. Berbeda dari 57:26 yang memakai kata "banyak" untuk yang fasik, 37:113 memakai satu kata untuk tiap pihak dan membiarkan ukurannya terbuka.

Letak ayat ini penting bagi akhir kisah. Tiga kalimat di 37:109 sampai 37:111 menyebut Ibrahim dan golongan yang diberi balasan, lalu 37:112 membawa kabar gembira, dan 37:113 menutup dengan satu keadaan yang tidak seluruhnya menggembirakan. Akar ح-س-ن di sini mengulang akar yang dipakai untuk golongan di 37:110, tetapi dalam bentuk tunggal untuk satu pihak keturunan. Sesudah ayat ini surah beralih ke Musa dan Harun di 37:114.

Renungan dan Hikmah

  • Di 35:32 Kitab diwariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, dan di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Di 37:113 berkah atas Ibrahim dan Ishaq berdampingan dengan keturunan yang terbelah dua. Pihak yang dibicarakan 35:32 berbeda dari 37:113, dan pembagiannya tidak disamakan. Keduanya memperlihatkan bahwa pemberian yang besar tidak membuat semua penerima turunannya menjadi sama. Orang yang mewarisi nama baik bisa bertanya, bagian mana dari warisan itu yang sampai kepadanya begitu saja, dan bagian mana yang masih harus dijawabnya sendiri?
  • Kata keturunan keduanya mengikat dua pihak pada satu asal, sementara ayat menyebut hasil yang berbeda. Ayat tidak menyebut jumlah, nama, atau jarak generasi antara asal itu dan masing-masing pihak. Pembaca yang mengenal dua orang dari satu keluarga yang berjalan ke arah berbeda mendapati bahwa ayat ini tidak menyediakan penjelasan tentang sebabnya. Ayat hanya menyatakan bahwa keduanya ada. Apa yang sebenarnya diwariskan kepada keduanya, dan apa yang memang tidak bisa diwariskan, bagi orang yang mencari satu penyebab atas perbedaan dua jalan hidup?
  • Di 18:35 orang yang menzalimi dirinya sendiri memasuki kebunnya sambil berkata bahwa kebun itu tidak akan binasa, dan di 18:36 ia berkata bahwa seandainya dikembalikan kepada Tuhanku, tempat kembalinya akan lebih baik. Rangkaian zhaalimun li-nafsihi di 37:113 menyebut diri pelaku sebagai pihak yang dirugikan. Konteks 18:35 berbeda dari 37:113, dan pemilik kebun itu tidak disebut sebagai bagian dari keturunan Ibrahim. Kerugian apa dalam hidup pembaca yang jatuh pada dirinya sendiri tanpa terasa, dan siapa yang selama ini dianggap menanggungnya?
  • Akar ب-ي-ن dipakai untuk ujian yang nyata di 37:106 dan untuk penzalim yang terang-terangan di 37:113, dalam satu kisah. Ayat tidak menghubungkan keduanya, dan keduanya menunjuk hal yang berlainan: yang pertama sesuatu yang menimpa Ibrahim, yang kedua pilihan sebagian keturunannya. Pembaca bisa mengamati bahwa kisah ini menaruh kata yang sama pada sesuatu yang dialami dan pada sesuatu yang dipilih. Dari hidup sendiri, apa yang paling jelas terlihat oleh orang lain, ujian yang dilewati atau pilihan yang diambil, dan mana yang lebih sering dijadikan bahan pembicaraan?
  • Di 2:124 Ibrahim bertanya kepada Tuhannya, dan dari keturunanku, lalu Dia berfirman bahwa janji-Nya tidak sampai kepada orang-orang yang zalim. Di 14:40 Ibrahim memohon, Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan salat dan sebagian keturunanku, dengan kata min yang membatasi pada sebagian. Dua ayat itu dan 37:113 sama-sama memakai kata keturunan untuk sebagian, tetapi 37:113 tidak menyatakan dirinya sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Apa arti kata sebagian dalam permohonan itu bagi pembaca yang berharap anak cucunya semua terjaga, dan sudah sampai di mana permohonannya sendiri?
  • Ayat ini tidak menyebut berapa banyak yang berbuat baik dan berapa banyak yang menzalimi diri sendiri, berbeda dari 57:26 yang menyebut banyak di antara mereka fasik. Satu kata dipakai untuk tiap pihak, sehingga pembaca tidak diberi angka untuk dirangkum menjadi kesimpulan tentang sebuah garis keturunan. Dengan susunan seperti ini, satu garis keturunan tidak dapat dinilai dengan satu kalimat berdasarkan ayat ini. Apa dasar ukuran bagi orang yang biasa menilai satu keluarga atau satu bangsa dengan satu kata, dan sudahkah pernah dihitung?