وَنَصَرْنَاهُمْ فَكَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ

Dan Kami menolong mereka, sehingga merekalah orang-orang yang menang.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَنَصَرْنَاهُمْwa-nasharnaahumdan Kami menolong mereka
  2. فَكَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَfa-kaanuu humu l-ghaalibiinasehingga merekalah orang-orang yang menang

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَنَصَرْنَاهُمْwa-nasharnaahumdan Kami menolong mereka
  2. فَكَانُواfa-kaanuumaka mereka menjadi
  3. هُمُhumumerekalah
  4. الْغَالِبِينَl-ghaalibiinaorang-orang yang menang

Inti bacaan

Bentuk (كَانُوا هُمُ, kaanuu humu) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:92, 26:40, 37:116, dan 43:76.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَنَصَرْنَاهُمْ, wa-nasharnaahum) yang berarti "dan Kami menolong mereka". Kata ini tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", kata kerja (نَصَرْنَا, nasharnaa) yang berarti "Kami menolong" dengan akar ن-ص-ر, dan akhiran (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka". Akhiran ini untuk banyak orang, berbeda dari akhiran untuk dua orang di 37:115, sehingga pertolongan di sini menjangkau kelompok yang lebih luas daripada Musa dan Harun. Kata kerja (نَصَرْنَا, nasharnaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 21:77 dan 37:116. Di 21:77, (وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ, wa-nasharnaahu mina l-qawmi) yang berarti "dan Kami menolongnya dari kaum", pertolongan itu diberi lawan yang disebut dengan kata mina, sedangkan di 37:116 tidak ada kata untuk lawan. Terjemahan karena itu memakai "menolong mereka" dan tidak menambahkan "melawan musuh".

Kata (فَكَانُوا, fa-kaanuu) yang berarti "maka mereka menjadi" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "maka" dan kata kerja (كَانُوا, kaanuu) yang berarti "mereka menjadi", dengan akar ك-و-ن. Kata fa menaruh keadaan menang sesudah pertolongan, dan terjemahan memakai "sehingga" supaya urutan itu terbaca sebagai akibat. Arabnya tidak memuat kata lain untuk sebab, jadi hubungan itu bersandar pada fa dan urutan kalimat.

Kata (هُمُ, humu) yang berarti "mereka" berdiri sendiri sesudah kata kerja yang sudah memuat pelakunya, karena akhiran -uu pada kaanuu sendiri menunjuk "mereka". Bentuk (كَانُوا هُمُ, kaanuu humu) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:92, 26:40, 37:116, dan 43:76. Terjemahan memakai "merekalah" di keempatnya, misalnya di 43:76, (كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ, kaanuu humu zh-zhaalimiina) yang berarti "merekalah orang-orang yang zalim", dan terjemahan 37:116 mengikuti pola yang sama. Kata ganti yang berdiri sendiri itu menegaskan pelakunya dan tidak menambah pelaku baru.

Kata (الْغَالِبِينَ, l-ghaalibiina) yang berarti "orang-orang yang menang" berakar غ-ل-ب dan memakai kata sandang al-. Kata pelaku dari akar ini, misalnya (غَالِبُونَ, ghaalibuuna) di 5:23, muncul di tiga belas ayat, yaitu 3:160, 5:23, 5:56, 7:113, 8:48, 12:21, 21:44, 26:40, 26:41, 26:44, 28:35, 37:116, dan 37:173. Bentuk (الْغَالِبِينَ, l-ghaalibiina) muncul empat kali, yaitu di 7:113, 26:40, 26:41, dan 37:116. Di 7:113 dan 26:41 bunyinya (إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ, in kunnaa nahnu l-ghaalibiina) yang berarti "jika kamilah para pemenang", ucapan para penyihir yang mengandaikan kemenangan mereka sendiri sebagai syarat sebuah imbalan. Di 26:40, (إِنْ كَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ, in kaanuu humu l-ghaalibiina) yang berarti "jika merekalah para pemenang", kemenangan itu pun diandaikan dengan kata in. Di 37:116 kemenangan itu dinyatakan sebagai kenyataan, tanpa kata in. Kata menang di sini juga tidak memiliki objek, sehingga ayat ini tidak menyebut atas siapa mereka menang, dan terjemahan tidak menambahkannya.

Tafsiran

Ayat ini membawa ucapan dari penyelamatan ke kemenangan. Ayat 37:115 menyebut bencana yang dilalui, lalu 37:116 menyebut dua hal berurutan, pertolongan dan keadaan menang. Ayat ini tidak menggambarkan pertempuran, lawan, atau cara kemenangan itu datang. Pada 37:116 pembaca hanya diberi hasilnya.

Kata ganti di ayat ini adalah "mereka", bukan akhiran untuk dua orang seperti di 37:115, 37:117, 37:118, dan 37:119. Karena itu kemenangan yang disebut di sini dapat dibaca milik kelompok yang lebih luas, yaitu keduanya bersama kaum keduanya. Di 28:35 pembicaranya memakai kata Kami dan menyebut (أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ, antumaa wa-mani ttaba'akumaa l-ghaalibuuna) yang berarti "kalian berdua dan orang yang mengikuti kalian berdua adalah orang-orang yang menang". Ayat itu memuat janji dalam percakapan, sedangkan 37:116 menuturkan hasil. Keduanya berada di surah yang berbeda dan tidak saling menyebut, sehingga hubungannya hanya dapat dibaca sebagai kemungkinan.

Surah yang sama memuat susunan yang sejajar untuk Nuh. Di 37:77 bunyinya (هُمُ الْبَاقِينَ, humu l-baaqiina) yang berarti "mereka orang-orang yang tersisa", dan di 37:116 bunyinya (هُمُ الْغَالِبِينَ, humu l-ghaalibiina). Keduanya memakai kata ganti lalu sifat bentuk banyak, tetapi hasilnya berbeda: Nuh disusul keturunan yang tersisa, Musa dan Harun disusul kelompok yang menang. Di akhir surah, 37:171 menyebut hamba-hamba Kami para rasul, 37:172 memuat (لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ, lahumu l-manshuuruuna) yang berarti "merekalah yang ditolong", dan 37:173 memuat (لَهُمُ الْغَالِبُونَ, lahumu l-ghaalibuuna) yang berarti "merekalah yang menang" untuk bala tentara Kami. Dua akar yang sama, ن-ص-ر dan غ-ل-ب, ada di 37:116 sebagai kejadian dan di ayat-ayat penutup sebagai pernyataan. Ayat 37:116 dapat ditaruh di samping pernyataan itu, tetapi ayat tersebut sendiri tidak menghubungkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:116 menyebut kemenangan tanpa menyebut siapa yang dikalahkan. Pembaca yang terbiasa menghitung kemenangan dari siapa yang tumbang di seberang dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyebut kemenangan sebagai sebuah keadaan, tanpa skor. Ketiadaan nama lawan tidak membuat kemenangan itu kurang nyata, dan juga tidak mengatakan bahwa lawannya tidak ada. Orang yang pernah merasa menang sambil tidak bisa menyebutkan siapa yang dikalahkannya, misalnya sesudah melewati penyakit atau masa sulit, mungkin mengenali keadaan itu. Kemenangan apa dalam hidup pembaca yang tidak punya lawan bernama, dan bagaimana pembaca mengenalinya?
  • Di ayat ini kemenangan disebut sesudah pertolongan, dan kata fa menaruh yang kedua sebagai akibat yang pertama. Di 3:160 Allah berfirman bahwa bila Dia menolong, tidak ada yang dapat mengalahkan, dan bila Dia membiarkan, tidak ada yang dapat menolong sesudahnya. Ayat 3:160 berbicara kepada orang-orang beriman di surah lain dan tidak menyebut Musa, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat memperhatikan urutan yang dipakai untuk menjelaskan kemenangannya sendiri: apakah ia menyebut kekuatannya dulu lalu pertolongan, atau pertolongan dulu lalu keadaannya? Kepada siapa terima kasih disampaikan lebih dulu ketika sebuah usaha berhasil?
  • Kata ganti di 37:116 untuk banyak orang, bukan untuk dua, sehingga kemenangan itu terbaca milik kelompok. Pembaca yang pernah memimpin atau ikut dalam sebuah pekerjaan bersama dapat memperhatikan siapa yang dihitung ketika hasilnya disebut. Di 28:35 janji menang disebut untuk dua orang dan orang yang mengikuti keduanya, jadi pengikut pun tertulis di dalamnya. Ayat 37:116 tidak merinci siapa saja di dalam kelompok itu atau peran masing-masing. Ketika keberhasilan sebuah kelompok diceritakan kembali, siapa saja yang akhirnya hanya tersimpan sebagai kata ganti dan tidak pernah disebut namanya?
  • Di 7:113 dan 26:41 para penyihir mengandaikan kemenangan mereka sendiri demi imbalan, dan di 26:44 mereka bersumpah demi kedigdayaan Firaun bahwa merekalah yang menang. Di 37:116 kata yang sama dipakai untuk pihak lain, dan tanpa sumpah. Di 58:21 Allah menetapkan bahwa Dia dan rasul-rasul-Nya pasti menang, sehingga ukuran menang di ayat itu ditaruh pada ketetapan Allah dan tidak pada sumpah manusia. Pembaca dapat memperhatikan apa yang disebutnya sebagai jaminan ketika berkata bahwa dirinya akan menang. Pada apa pembaca menaruh kemenangannya, dan seberapa kuat sandaran itu?
  • Ayat 37:116 tidak disusul perayaan atau rampasan. Ayat berikutnya, 37:117, menyebut pemberian Kitab. Urutan itu tidak menyatakan bahwa Kitab adalah hadiah kemenangan, sebab penghubungnya hanya wa dan ayat itu tidak menyebut sebab. Meskipun begitu, pembaca dapat memperhatikan apa yang menempati ruang sesudah sebuah keberhasilan dalam hidupnya sendiri. Sesudah ujian selesai, pekerjaan terbit, atau perkara lega, hal apa yang pertama diraihnya? Bila sesudah menang yang tertulis berikutnya adalah panduan, apa yang pertama kali dicarinya sesudah menang?
  • Ayat ini menaruh pertolongan dan kemenangan sebagai dua peristiwa, dan kata fa menaruh keduanya berurutan tanpa mengukur selang waktu di antaranya. Di 12:21 disebut bahwa Allah berkuasa penuh atas urusan-Nya, tetapi banyak manusia tidak mengetahui, dan ayat itu tidak menyebut berapa lama waktunya. Orang yang sedang berada di antara pertolongan dan hasil, misalnya sesudah mendapat bantuan tetapi belum melihat keadaan berubah, berada di bagian yang tidak diberi angka oleh 37:116. Apa yang dapat diperhatikan pembaca di jarak itu, dan bagaimana pembaca menyebutnya kepada diri sendiri?