وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

dan Kami bimbing keduanya ke jalan yang lurus.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَwa-hadaynaahumaa sh-shiraatha l-mustaqiimadan Kami bimbing keduanya ke jalan yang lurus

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَهَدَيْنَاهُمَاwa-hadaynaahumaadan Kami bimbing keduanya
  2. الصِّرَاطَsh-shiraathajalan itu
  3. الْمُسْتَقِيمَl-mustaqiimayang lurus

Inti bacaan

Susunan (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, sh-shiraatha l-mustaqiima) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 1:6 dan 37:118.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَهَدَيْنَاهُمَا, wa-hadaynaahumaa) yang berarti "dan Kami bimbing keduanya". Kata ini tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", kata kerja (هَدَيْنَا, hadaynaa) yang berarti "Kami membimbing" dengan akar ه-د-ي, dan akhiran (هُمَا, -humaa) yang berarti "keduanya". Bentuk (هَدَيْنَا, hadaynaa) muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:68, 6:84, 6:87, 14:21, 19:58, 37:118, 41:17, 76:3, dan 90:10, dan bentuk lengkap (وَهَدَيْنَاهُمَا, wa-hadaynaahumaa) hanya ada di 37:118. Akar ه-د-ي muncul di surah ini pada tiga ayat saja, yaitu 37:23, 37:99, dan 37:118. Di 37:99, (إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ, innii dzaahibun ilaa rabbii sa-yahdiini) yang berarti "sesungguhnya aku pergi kepada Tuhanku, Dia akan menunjukiku", kata kerja itu keluar dari mulut Ibrahim sebagai harapan, sedangkan di 37:118 kata kerja itu dituturkan oleh Kami sebagai kenyataan.

Kata (الصِّرَاطَ, sh-shiraatha) yang berarti "jalan" berakar ص-ر-ط dan memakai kata sandang al-. Kata ini menjadi sasaran langsung dari kata kerja membimbing, tanpa kata ilaa yang berarti "kepada" di depannya. Di 4:68, (وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا, wa-la-hadaynaahum shiraathan mustaqiiman) yang berarti "dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus", jalan juga menjadi sasaran langsung, dan di 76:3, (هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ, hadaynaahu s-sabiila) yang berarti "Kami menunjukkan kepadanya jalan", susunannya serupa. Di 6:87, (وَهَدَيْنَاهُمْ, wa-hadaynaahum) yang berarti "dan Kami memberi mereka petunjuk" disusul (إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, ilaa shiraathin mustaqiimin) yang berarti "menuju jalan yang lurus", dan di sana kata ilaa ada. Terjemahan 37:118 memakai "ke jalan yang lurus" karena "membimbing" dalam bahasa Indonesia meminta tujuan, dan kata "ke" itu milik terjemahan, sebab Arabnya tidak memuatnya.

Kata (الْمُسْتَقِيمَ, l-mustaqiima) yang berarti "yang lurus" berakar ق-و-م, akar yang sama dengan (وَقَوْمَهُمَا, wa-qawmahumaa) di 37:115. Bentuk (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, sh-shiraatha l-mustaqiima) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 1:6 dan 37:118. Di 1:6, (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, ihdinaa sh-shiraatha l-mustaqiima) yang berarti "tunjukilah kami jalan yang lurus", kata kerja dari akar yang sama dan sasaran yang sama diucapkan sebagai permintaan, sedangkan di 37:118 keduanya dituturkan sebagai pemberian.

Akar ص-ر-ط muncul di surah ini pada dua ayat, yaitu 37:23 dan 37:118. Di 37:23, (فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ, fa-hduuhum ilaa shiraathi l-jahiimi) yang berarti "lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka yang menyala-nyala", kata kerja dari akar ه-د-ي dipakai untuk jalan yang berlawanan, dan ayatnya menyebut orang-orang yang menyembah sesuatu selain Allah. Ayat 37:118 tidak memerinci apa isi jalan yang lurus itu, tidak menyebut tandanya, dan tidak menyebut tempat tujuannya, sehingga terjemahan tidak menambahkan keterangan apa pun.

Tafsiran

Ayat ini menyusul Kitab di 37:117 dengan bimbingan, dan keduanya diberikan kepada orang yang sama. Ayat 37:117 diakhiri dengan kata sifat musta- untuk Kitab, dan 37:118 diakhiri dengan kata sifat musta- untuk jalan, sehingga dua ayat itu terdengar sebagai pasangan: Kitab yang jelas, lalu jalan yang lurus. Ayat 37:118 tidak mengatakan bahwa Kitab itu menunjukkan jalan itu, dan hubungan keduanya terbaca dari urutannya.

Ayat ini juga menaruh bimbingan sebagai tindakan Kami atas Musa dan Harun. Pelakunya di kata kerja adalah Kami, dan keduanya adalah sasaran. Di surah yang sama, Ibrahim di 37:99 menyatakan pengharapannya dengan sa-yahdiini, jadi bimbingan di sana datang sebagai sesuatu yang ditunggu, sedangkan di 37:118 bimbingan itu sudah dituturkan sebagai kenyataan bagi dua orang. Di 1:6 jalan yang sama diminta oleh pembaca atau pengucapnya, dan di 37:118 jalan itu dilaporkan sebagai sesuatu yang telah diberikan. Dua ayat itu berada di surah yang berbeda dan tidak saling menyebut, tetapi bentuk kata kerja dan sasarannya sama.

Dalam rangkaian ini ayat 37:118 menutup bagian pemberian. Ayat 37:115 dan 37:116 menuturkan hal yang terjadi pada keadaan, ayat 37:117 dan 37:118 menuturkan hal yang diberikan kepada dua orang, lalu 37:119 beralih kepada apa yang tertinggal bagi orang yang datang kemudian. Peralihan itu memindahkan sorotan dari Musa dan Harun ke orang-orang yang tidak hadir pada kejadiannya. Jalan yang lurus di ayat ini dapat dibaca sebagai jalan yang dilalui kedua orang itu, tetapi ayat ini sendiri tidak memuat tempat tujuannya, sehingga pembacaan itu bersifat kemungkinan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja dan sasaran di 37:118 sama dengan permintaan di 1:6, tetapi di sana kalimatnya diucapkan oleh manusia kepada Tuhan, dan di sini kalimatnya dituturkan oleh Kami tentang dua orang. Ayat 1:6 meminta, dan 37:118 melaporkan, sehingga pembaca bertemu isi yang sama dalam dua bentuk kalimat. Ayat 37:118 tidak menyebut apakah Musa dan Harun pernah meminta jalan itu, dan 1:6 tidak menyebut siapa yang telah menerimanya. Pembaca yang pernah mengucapkan permintaan itu dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh jalan yang lurus sebagai sesuatu yang dapat diberikan, di samping sesuatu yang diharapkan. Bila permintaan itu dijawab dengan cara yang tidak dikenalinya, bagaimana pembaca akan mengetahuinya?
  • Di 37:99 Ibrahim berkata bahwa dirinya pergi kepada Tuhannya dan Dia akan menunjukinya, dan di 37:118 bimbingan itu dituturkan sebagai hal yang telah terjadi pada Musa dan Harun. Ayat 37:99 mengucapkan harapan sebelum kejadian, sedangkan 37:118 mengucapkan laporan sesudahnya, dan keduanya tidak saling menyebut. Pembaca dapat memperhatikan apa yang dikatakannya ketika berangkat menuju sesuatu yang belum diketahuinya. Apakah pembaca mengucapkan harapan yang mirip dengan kalimat Ibrahim itu, dan kepada siapa harapan itu ditujukan?
  • Di 37:23 kata kerja dari akar yang sama dipakai untuk jalan ke neraka yang menyala-nyala, dalam ayat yang menyebut orang-orang yang menyembah sesuatu selain Allah. Di 37:118 kata kerja itu dipakai untuk jalan yang lurus. Ayat 37:23 memuat perintah kepada pihak yang tidak disebut namanya, sedangkan 37:118 memuat tindakan Kami. Kata kerjanya tidak menentukan ke mana jalan itu menuju, dan tujuan keduanya berbeda. Pembaca yang pernah mengikuti seseorang di sebuah jalan dapat memperhatikan bahwa ikut berjalan belum menjawab ke mana jalan itu berujung. Siapa yang selama ini menunjukkan jalan kepada pembaca, dan ke mana ujung jalan itu sebenarnya?
  • Di 2:213 disebut bahwa Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus, setelah ayat itu menyebut orang-orang yang berselisih sesudah bukti-bukti datang. Ayat 2:213 berbicara tentang manusia pada umumnya, dan 37:118 tentang dua orang, sehingga keduanya tidak disamakan. Dua ayat itu sama-sama menaruh pemberi petunjuk di luar penerimanya. Pembaca yang merasa telah menemukan arah hidupnya dengan usahanya sendiri dapat memperhatikan bahwa kecerdasan atau ketekunan tidak muncul sebagai sebab di kedua ayat ini. Apa yang membuat pembaca merasa jalannya ditemukan sendiri, dan siapa yang telah menaruh tanda di sepanjang jalan itu?
  • Ayat 37:118 menyebut jalan yang lurus tanpa menyebut tanda, tikungan, atau tujuannya. Pembaca yang membaca ayat ini mendapat sebuah nama untuk jalan itu, dan tidak mendapat peta. Orang yang pernah diberi arah tanpa diberi rincian, misalnya sebuah nasihat singkat dari orang yang lebih tua, dapat mengenali keadaan itu: arahnya jelas, langkahnya harus dicari. Apakah bimbingan itu datang sekaligus atau bertahap tidak dituturkan. Bila jalan itu hanya punya nama dan tidak punya peta, bagian apa yang pembaca isi dengan pengalamannya sendiri?
  • Bimbingan di 37:118 ditulis untuk dua orang dengan satu kata kerja dan satu sasaran, yaitu satu jalan. Apakah dua orang itu berjalan berdampingan atau bergantian, dan apakah langkah keduanya sama, tidak dituturkan. Pembaca yang pernah berjalan bersama orang lain menuju satu tujuan, misalnya sepasang saudara, rekan sepekerjaan, atau pasangan, dapat memperhatikan bahwa satu jalan tidak meniadakan perbedaan langkah. Ketika dua orang dibimbing ke jalan yang sama, apa yang tetap milik masing-masing, dan apa yang berubah menjadi milik berdua?