إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَاinnahumaa min 'ibaadinaasesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami
  2. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinayang beriman

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّهُمَاinnahumaasesungguhnya keduanya
  2. مِنْmindari
  3. عِبَادِنَا'ibaadinaahamba-hamba Kami
  4. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman

Inti bacaan

Rangkaian (مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ, min 'ibaadinaa l-mu'miniina) muncul empat kali di Al-Qur'an (37:81, 37:111, 37:122, 37:132), semuanya di satu surah.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّهُمَا, innahumaa) yang berarti "sesungguhnya keduanya". Kata ini tersusun dari inna yang berarti "sesungguhnya" dan akhiran -humaa yang berarti "keduanya", yaitu kata ganti untuk dua orang. Rangkaian (إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا, innahu min 'ibaadinaa) dengan -hu untuk satu orang muncul empat kali di dua surah, yaitu 12:24, 37:81, 37:111, dan 37:132. Bentuk innahumaa muncul dua kali di dua surah, yaitu 15:79 dan 37:122, dan di 15:79 bentuk itu tidak disertai min 'ibaadinaa. Di 15:79, (وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُبِينٍ, wa-innahumaa la-bi-imaamin mubiinin) yang berarti "dan sesungguhnya keduanya benar-benar terletak di jalan raya yang nyata", akhiran -humaa menunjuk dua hal yang terletak di jalan, dan ayat itu tidak membicarakan hamba. Karena itu terjemahan 37:122 memakai "keduanya" untuk dua orang yang disebut di 37:120, yaitu Musa dan Harun.

Bagian (مِنْ عِبَادِنَا, min 'ibaadinaa) yang berarti "termasuk hamba-hamba Kami" tersusun dari (مِنْ, min) yang berarti "dari" atau "termasuk" dan (عِبَادِنَا, 'ibaadinaa) yang berarti "hamba-hamba Kami". Kata 'ibaad berakar ع-ب-د dan merupakan jamak dari hamba, sedangkan akhiran -naa menandai pemiliknya, yaitu Kami. Rangkaian min 'ibaadinaa muncul sepuluh kali di tujuh surah, yaitu 12:24, 18:65, 19:63, 35:32, 37:81, 37:111, 37:122, 37:132, 42:52, dan 66:10. Bentuk untuk dua orang muncul di 66:10, (عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا, 'abdayni min 'ibaadinaa) yang berarti "dua orang hamba di antara hamba-hamba Kami", dan di sana dua hamba itu disebut saleh. Ayat 66:10 muncul dalam perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, sedangkan 37:122 menutup sebuah kisah.

Kata (الْمُؤْمِنِينَ, l-mu'miniina) yang berarti "yang beriman" berakar ا-م-ن dan di ayat ini menjadi sifat bagi hamba-hamba itu. Rangkaian (مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ, min 'ibaadinaa l-mu'miniina) muncul 4 kali dan semuanya di surah 37, yaitu 37:81, 37:111, 37:122, dan 37:132. Di ayat lain min 'ibaadinaa disusul sifat yang berbeda: (الْمُخْلَصِينَ, l-mukhlashiina) di 12:24, (صَالِحَيْنِ, shaalihayni) di 66:10, dan (مَنْ كَانَ تَقِيًّا, man kaana taqiyyan) di 19:63 yang berarti "yang selalu bertakwa". Terjemahan memakai "yang beriman" di keempat ayat surah 37 itu, sehingga sifat yang menempel pada hamba-hamba itu tetap sama dari kisah ke kisah.

Di 37:128, enam ayat sesudah ayat ini, kata yang sama bersambung ke nama Allah, (عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ, 'ibaada llaahi l-mukhlashiina) yang berarti "hamba-hamba Allah yang dimurnikan". Di surah yang sama kata hamba bersambung ke Kami di 37:122 dan ke nama Allah di 37:128, dan masing-masing diikuti sifat yang berlainan, yaitu beriman dan dimurnikan.

Tafsiran

Ayat ini menaruh Musa dan Harun di antara hamba-hamba Kami yang beriman, dan ayat 37:114 sampai 37:122 tidak memuat kata rasul maupun nabi untuk keduanya. Rangkaian itu menyebut nikmat di 37:114, Kitab di 37:117, jalan yang lurus di 37:118, dan di 37:122 keanggotaan dalam golongan hamba yang beriman. Ayat ini memakai bentuk untuk dua orang, sedangkan penutup di 37:81 dan 37:111 memakai bentuk untuk satu orang.

Enam kata kerja di 37:114 sampai 37:119 menempatkan Kami sebagai pelaku dan Musa serta Harun sebagai penerima. Pada 37:122 hubungan itu disebut dari sisi lain: Kami sebagai pemilik, dan keduanya sebagai hamba. Dapat dibaca bahwa 37:122 menyebut siapa penerima keenam perbuatan itu. Pembacaan ini tidak dinyatakan ayat, karena 37:122 tidak memakai kata yang menghubungkannya dengan ayat-ayat sebelumnya.

Susunan tiga ayat terakhir kisah ini sama dengan penutup kisah Nuh dan Ibrahim: kalimat kesejahteraan di 37:79, 37:109, dan 37:120, disusul kalimat balasan di 37:80, 37:110, dan 37:121, lalu kalimat hamba beriman di 37:81, 37:111, dan 37:122. Dengan urutan itu 37:122 dapat dibaca sebagai keterangan tentang siapa yang termasuk golongan di 37:121. Ayat itu sendiri tidak memakai kata sebab, sehingga hubungan itu tetap pembacaan.

Sesudah ayat ini kisah beralih ke Ilyas di 37:123. Kata hamba muncul lagi di 37:128 dalam kalimat pengecualian dari mereka yang mendustakan, sehingga penutup kisah Musa dan Harun dan pengecualian di kisah berikutnya sama-sama memakai kata hamba, dengan sambungan yang berbeda.

Renungan dan Hikmah

  • Di 66:10 Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur dengan dua perempuan yang berada di bawah dua hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat dan kedua hamba itu tidak dapat mencukupkan mereka sedikit pun dari Allah. Dua ayat itu menyebut dua hamba dengan sebutan bersama, dan 66:10 menunjukkan bahwa sebutan itu tidak ikut berpindah kepada dua perempuan yang berada di bawah mereka. Pembaca yang pernah berharap kedekatan dengan orang baik akan menaikkan kedudukannya dapat bertanya, kedudukan apa yang menurut 66:10 tidak dapat dipinjam dari orang yang dekat dengannya?
  • Di 37:122 kata hamba bersambung ke Kami, dan di 37:128 bersambung ke nama Allah, dengan sifat yang berlainan di belakangnya. Ayat 37:128 berbicara tentang pengecualian dari mereka yang dihadirkan di 37:127, sedangkan 37:122 menutup kisah Musa dan Harun, jadi konteksnya tidak sama dan kedua ayat tidak menjelaskan mengapa sambungannya berganti. Di kedua tempat sebutan hamba disertai pihak yang memilikinya lebih dulu, baru sifatnya. Orang yang jarang memikirkan milik siapa dirinya dapat memperhatikan urutan itu. Pembaca dapat bertanya, bila ditanya milik siapa dirinya, jawaban apa yang selama ini paling sering diberikan oleh perbuatannya sendiri?
  • Di 35:32 Kitab diwariskan kepada orang-orang yang dipilih di antara hamba-hamba Kami, dan di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Konteks 35:32 adalah pewaris Kitab, bukan Musa atau Harun. Ayat itu menunjukkan bahwa sebutan hamba-hamba Kami memuat orang dengan keadaan yang berbeda-beda, sedangkan 37:122 menambahkan sifat beriman tanpa merinci kelompok di dalamnya. Pembaca dapat bertanya, dari tiga kelompok itu mana yang akan ditunjuk untuk dirinya, dan dengan ukuran siapa penunjukan itu dibuat?
  • Sesudah min 'ibaadinaa, ayat lain menyebut sifat yang berlainan: saleh di 66:10 dan yang selalu bertakwa di 19:63, sedangkan 37:122 menyebut beriman. Di 19:63 sifat itu dikaitkan dengan taman yang akan diwariskan, dan ayat itu tidak menyebut Musa atau Harun. Tiga ayat itu memakai satu rangka kalimat dan mengganti sifatnya, sehingga sebutan hamba terbaca seperti wadah yang diisi sifat menurut kisahnya masing-masing. Pembaca yang sedang memilih sifat untuk dilekatkan pada dirinya dapat bertanya, bila kalimat itu ditulis tentang dirinya, sifat mana yang akan mengisi tempat kosong itu, dan sifat mana yang sebenarnya diisi oleh orang lain?
  • Di 18:65 seorang dari hamba-hamba Kami disebut telah diberi rahmat dari sisi Kami dan diajari ilmu dari sisi Kami. Di 18:65 pemberiannya rahmat dan ilmu, sedangkan 37:114 sampai 37:119 menyebut hal lain. Dua tempat itu menaruh kata hamba berdekatan dengan pemberian: di 18:65 sebelum pemberian disebut, di 37:122 sesudah enam pemberian disebut. Bila keenam perbuatan di 37:114 sampai 37:119 dibaca sebagai pemberian, orang yang menerimanya disebut hamba. Pembaca dapat bertanya, dari semua yang dipegangnya hari ini, mana yang tidak lebih dulu sampai kepadanya dari pihak lain?
  • Kisah Musa dan Harun berakhir pada sebuah sifat sesudah deretan peristiwa. Ayat 37:114 sampai 37:119 menghitung nikmat, penyelamatan, pertolongan, Kitab, bimbingan, dan sesuatu yang ditinggalkan, lalu 37:122 berhenti pada kata beriman. Pembaca yang mengikuti kisah ini dari awal mendapati bahwa daftar panjang tadi ditutup dengan satu kata yang dapat ditanyakan pembaca kepada dirinya sendiri. Bila hanya satu kata itu yang tersisa dari seluruh daftar, apa yang akan dihitung ulang pembaca dari hidupnya, dan di bagian hidup mana kata itu dapat ditemukan?