اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

Allah, Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu?”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. اللَّهَ رَبَّكُمْallaaha rabbakumAllah, Tuhan kalian
  2. وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَwa-rabba aabaa'ikumu l-awwaliinadan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. اللَّهَallaahaAllah
  2. رَبَّكُمْrabbakumTuhan kalian
  3. وَرَبَّwa-rabbadan Tuhan
  4. آبَائِكُمُaabaa'ikumubapak-bapak kalian
  5. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Rangkaian (آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ, aabaa'ikumu l-awwaliina) muncul tiga kali di Al-Qur'an (26:26, 37:126, 44:8).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (اللَّهَ رَبَّكُمْ, allaaha rabbakum) yang berarti "Allah, Tuhan kalian". Kata (اللَّهَ, allaaha) bertanda nama diri di morfologi korpus, dan kata (رَبَّكُمْ, rabbakum) tersusun dari rabb yang berarti "Tuhan", berakar ر-ب-ب, serta akhiran -kum yang berarti "kalian". Rangkaian allaaha rabbakum muncul dua kali di dua surah, yaitu 37:126 dan 65:1. Di 65:1 bunyinya (وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ, wa-ttaquu llaaha rabbakum) yang berarti "dan bertakwalah kepada Allah, Tuhan kalian", dan kata kerja bertakwa di sana berakar و-ق-ي, akar yang sama dengan tattaquuna di 37:124. Di 65:1 kata takwa dan nama itu berdampingan dalam satu kalimat, sedangkan di rangkaian ini keduanya dipisahkan 37:125.

Bagian (وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ, wa-rabba aabaa'ikumu l-awwaliina) yang berarti "dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu" mengulang kata rabb untuk pihak yang lain. Kata (آبَائِكُمُ, aabaa'ikumu) berakar ا-ب-و dan tersusun dari jamak "bapak" serta akhiran -kum, dan terjemahan memakai "nenek moyang kalian" seperti di 7:71, 12:40, dan 53:23. Rangkaian (آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ, aabaa'ikumu l-awwaliina) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 26:26, 37:126, dan 44:8, dan di ketiganya kata Tuhan mendahuluinya. Di 26:26 bunyinya (رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ, rabbukum wa-rabbu aabaa'ikumu l-awwaliina) dan di 44:8 bunyinya sama, dengan bunyi akhir -u pada rabb, sedangkan di 37:126 bunyi akhirnya -a. Di 44:8 rangkaian itu didahului (يُحْيِي وَيُمِيتُ, yuhyii wa-yumiitu) yang berarti "Dia menghidupkan dan mematikan".

Kata (الْأَوَّلِينَ, l-awwaliina) yang berarti "yang terdahulu" berakar ا-و-ل. Bentuk ini muncul 32 kali di 19 surah, yaitu 6:25, 8:31, 8:38, 15:10, 15:13, 16:24, 18:55, 23:24, 23:68, 23:83, 25:5, 26:26, 26:137, 26:184, 26:196, 27:68, 28:36, 35:43, 37:71, 37:126, 37:168, 43:6, 43:8, 44:8, 46:17, 56:13, 56:39, 56:49, 68:15, 77:16, 77:38, dan 83:13. Di surah 37 bentuk ini ada tiga kali, yaitu 37:71, 37:126, dan 37:168, dan ketiganya memakainya dengan arah yang berbeda. Di 37:71, (أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ, aktsaru l-awwaliina) yang berarti "sebagian besar orang-orang yang dahulu", mereka disebut telah sesat. Di 37:168, (ذِكْرًا مِنَ الْأَوَّلِينَ, dzikran mina l-awwaliina) yang berarti "peringatan dari orang-orang terdahulu", mereka disebut sebagai sumber peringatan yang diandaikan. Di 37:126 mereka disebut sebagai pihak yang Tuhannya Allah.

Frasa yang hampir sama dipakai dalam ucapan orang yang menolak. Di 23:24 dan 28:36, (فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ, fii aabaa'inaa l-awwaliina) yang berarti "pada nenek moyang kami yang terdahulu" muncul dalam kalimat bahwa mereka tidak pernah mendengar hal itu dari nenek moyang mereka. Kata ganti di sana "kami", sedangkan di 37:126 "kalian", dan pembicaranya orang yang diutus, bukan orang yang menolak.

Tafsiran

Ayat ini dapat dibaca memberi nama bagi sebaik-baik pencipta di 37:125, dan dengan itu ucapan Ilyas yang dibuka di 37:124 selesai. Tiga ayat itu bergerak dari sikap ke perbuatan lalu ke nama: tidakkah kalian bertakwa, apakah kalian menyeru Ba'l dan meninggalkan sebaik-baik pencipta, dan Allah, Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu. Pembacaan bahwa 37:126 menamai sebaik-baik pencipta tidak dinyatakan ayat, tetapi 23:14 memakai sebutan yang sama untuk Allah, dan morfologi korpus memberi tanda akhir kata yang sama pada ahsana di 37:125 serta allaaha dan rabba di 37:126.

Ayat ini menambah pihak yang tidak ada di dua ayat sebelumnya, yaitu nenek moyang kaum itu. Pertanyaan yang tadinya tertuju kepada kaum yang sedang hidup meluas ke generasi sebelumnya. Nenek moyang sudah disebut di surah ini dalam dua suasana. Di 37:17 orang yang menolak bertanya apakah nenek moyang mereka yang terdahulu ikut dibangkitkan, dan di 37:69 sampai 37:70 orang-orang lain mendapati nenek moyang mereka sesat lalu bergegas mengikuti jejak mereka. Di 37:126 nenek moyang tidak dijadikan alasan dan tidak pula dicela, hanya ditaruh di bawah Tuhan yang disebut bersama kaum yang ditanya.

Rumus yang sama dipakai di surah lain dengan fungsi berbeda. Di 26:26 rumus itu menjadi jawaban, di 44:8 menjadi pernyataan sesudah ayat tentang Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan di 37:126 menjadi bagian dari pertanyaan. Karena akhir kalimatnya bertanda tanya, terjemahan menutup tanda kutip yang dibuka di 37:124 di sini.

Sesudah ayat ini ucapan Ilyas tidak dilanjutkan. Ayat 37:127 mencatat bahwa mereka mendustakannya tanpa kutipan jawaban, dan 37:128 mengecualikan hamba-hamba Allah yang dimurnikan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 37:69 sampai 37:70 orang-orang yang dituju mendapati nenek moyang mereka sesat lalu bergegas mengikuti jejak mereka, dan di 37:126 nenek moyang disebut bersama kalian di bawah Tuhan yang sama. Kelompok yang dituju di kedua bagian itu berbeda. Nenek moyang muncul di keduanya, yang pertama sebagai jejak yang diikuti dan yang kedua sebagai pihak yang juga punya Tuhan. Pembaca yang menerima warisan dari generasi sebelumnya dapat bertanya, bila nenek moyang dilihat sebagai sesama makhluk di bawah Tuhan yang sama dan bukan sebagai tolok ukur, apa yang berubah dalam cara pembaca menimbang warisan itu?
  • Di 23:24 dan 28:36 orang-orang yang menolak berkata bahwa mereka tidak pernah mendengar hal itu pada nenek moyang mereka yang terdahulu, dan di 23:24 mereka menambahkan bahwa sekiranya Allah berkehendak, tentu Dia menurunkan malaikat. Di 37:126 kata yang hampir sama muncul dalam ucapan orang yang diutus, tanpa kalimat penolakan. Konteks 23:24 dan 28:36 adalah pesan yang baru didengar, sedangkan 37:126 muncul di tengah seruan yang sedang berjalan. Pembaca yang pernah memakai kata orang tua dulu sebagai alasan untuk tidak mendengar dapat bertanya, apakah orang tua dulu itu sendiri pernah ditanya siapa Tuhan mereka?
  • Di 44:8 rumusan yang sama didahului pernyataan bahwa Dia menghidupkan dan mematikan, lalu menyebut Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu. Dapat dibaca bahwa nenek moyang yang terdahulu termasuk mereka yang telah dimatikan, dan bahwa orang yang hidup dan orang yang sudah wafat disebut berada di bawah Tuhan yang sama. Ayat 44:8 tidak menyebut Ilyas dan tidak membahas kaumnya, jadi pembacaan ini bergantung pada kalimatnya sendiri. Pembaca dapat bertanya, bila yang hidup dan yang sudah wafat berada di bawah Tuhan yang sama, apa yang membuatnya memperlakukan keduanya dengan ukuran yang berbeda?
  • Di 65:1 perintah bertakwa langsung disambung nama Allah dan sebutan Tuhan kalian, sedangkan di 37:124 sampai 37:126 kata takwa dan nama itu dipisahkan satu ayat yang berisi pertanyaan tentang menyeru dan meninggalkan. Konteks 65:1 adalah perceraian. Di satu tempat jaraknya nol, di tempat lain ada satu ayat berisi pilihan. Pembaca dapat membayangkan jarak itu dalam hidupnya sendiri antara niat bertakwa dan menyebut kepada siapa takwa itu ditujukan, dan bertanya, apa yang mengisi jarak itu di antara keduanya, dan siapa yang membiarkannya terisi?
  • Kata terdahulu muncul tiga kali di surah 37 dengan tiga peran: sebagian besar orang yang dahulu telah sesat di 37:71, sumber peringatan yang diandaikan di 37:168, dan pihak yang Tuhannya Allah di 37:126. Di 37:168 sampai 37:169 orang-orang berkata bahwa seandainya ada peringatan dari orang-orang terdahulu, niscaya mereka menjadi hamba-hamba Allah yang dimurnikan. Tiga ayat itu berbicara dalam tiga suasana, dan tidak ada yang menyatakan bahwa peran-peran itu saling meniadakan. Pembaca dapat bertanya, dari tiga peran itu mana yang paling sering dipakainya ketika menyebut orang-orang terdahulu dalam keluarganya sendiri, dan peran mana yang jarang disebut?
  • Di 3:51, 19:36, dan 43:64 pembicara menyebut Allah sebagai Tuhanku dan Tuhan kalian, dan di 5:72 dan 5:117 bentuk yang sama muncul dalam kalimat tentang mengabdi kepada Allah. Di 37:124 sampai 37:126 Ilyas menyebut Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian, dan kata Tuhanku tidak ada. Kelima ayat tadi berasal dari konteks lain, sehingga ketiadaan kata itu di sini tidak ditafsirkan sebagai sikap pembicara. Dua bentuk itu tersedia dalam Al-Qur'an, yang pertama menyertakan diri pembicara dan yang kedua hanya menyebut pendengar. Bila pembaca menyebut Tuhan di depan orang lain, siapa saja yang disertakannya dalam sebutan itu, dan apakah dirinya sendiri termasuk di dalamnya?