فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Maka, mereka mendustakannya; sesungguhnya mereka pasti akan dihadirkan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَذَّبُوهُfa-kadzdzabuuhumaka, mereka mendustakannya
- فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَfa-innahum la-muhdharuunasesungguhnya mereka pasti akan dihadirkan
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَكَذَّبُوهُfa-kadzdzabuuhulalu mereka mendustakannya
- فَإِنَّهُمْfa-innahummaka sesungguhnya mereka
- لَمُحْضَرُونَla-muhdharuunabenar-benar orang-orang yang dihadirkan
Inti bacaan
Bentuk (فَكَذَّبُوهُ, fa-kadzdzabuuhu) muncul delapan kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:64, 10:73, 16:113, 26:139, 26:189, 29:37, 37:127, dan 91:14.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَكَذَّبُوهُ, fa-kadzdzabuuhu) yang berarti "maka mereka mendustakannya". Awalan (فَ, fa) yang berarti "maka" menyambungnya dengan pertanyaan Ilyas di 37:124 sampai 37:126, dan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-nya" menunjuk pembicara pertanyaan itu, yaitu Ilyas yang namanya disebut di 37:123. Objek yang ditolak di sini adalah seorang pribadi lewat akhiran -hu, sedangkan di 7:64 dua objek berdampingan: (فَكَذَّبُوهُ, fa-kadzdzabuuhu) untuk pribadi itu, lalu (الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا, lladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa) yang berarti "orang-orang yang mendustakan tanda-tanda Kami" untuk tanda-tanda. Kata kerjanya memakai dz yang digandakan, kadzdzaba, dan terjemahan memakai "mendustakan" untuk bentuk ini serta "berdusta" untuk bentuk dasarnya, kadzaba. Dua bentuk itu berdampingan di 39:32, (كَذَبَ عَلَى اللَّهِ, kadzaba 'alaa llaahi) yang berarti "berdusta terhadap Allah" dan (وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ, wa-kadzdzaba bi-sh-shidqi) yang berarti "dan mendustakan kebenaran". Orang yang berdusta mengucapkan sesuatu yang tidak benar, sedangkan orang yang mendustakan menolak sesuatu yang datang kepadanya. Dalam akar ك-ذ-ب, bentuk dasar muncul di sebelas ayat dan bentuk dengan dz digandakan di 163 ayat.
Bentuk persis (فَكَذَّبُوهُ, fa-kadzdzabuuhu) muncul delapan kali di tujuh surah, yaitu 7:64, 10:73, 16:113, 26:139, 26:189, 29:37, 37:127, dan 91:14. Dua ayat lain memuat bentuk untuk dua orang, (فَكَذَّبُوهُمَا, fa-kadzdzabuuhumaa) yang berarti "maka mereka mendustakan keduanya", yaitu 23:48 dan 36:14. Di tujuh ayat selain 37:127 kata ini langsung disusul kata kerja yang menyebut akibatnya: (فَأَنْجَيْنَاهُ, fa-anjaynaahu) yang berarti "lalu Kami selamatkan dia" di 7:64, (فَنَجَّيْنَاهُ, fa-najjaynaahu) dengan arti yang sama di 10:73, (فَأَخَذَهُمُ, fa-akhadzahumu) yang berarti "maka menimpa mereka" di 16:113, (فَأَهْلَكْنَاهُمْ, fa-ahlaknaahum) yang berarti "lalu Kami membinasakan mereka" di 26:139, (فَأَخَذَهُمْ, fa-akhadzahum) di 26:189, (فَأَخَذَتْهُمُ, fa-akhadzat-humu) di 29:37, dan (فَعَقَرُوهَا, fa-'aqaruuhaa) yang berarti "lalu mereka menyembelihnya" di 91:14. Di 37:127 susulannya berupa (فَإِنَّهُمْ, fa-innahum) yang berarti "sesungguhnya mereka", yaitu pernyataan tentang keadaan mereka tanpa kata kerja yang pelakunya disebut. Terjemahan karena itu tidak menambahkan "Kami membinasakan" atau "azab menimpa" yang tidak punya kata Arab di ayat ini.
Kata (لَمُحْضَرُونَ, la-muhdharuuna) yang berarti "dihadirkan" berakar ح-ض-ر. Awalan (لَ, la) yang berarti "sungguh" menegaskan pernyataan itu, dan terjemahan menuliskannya "pasti" seperti di 37:158, yang memuat kata persis sama dan memakai "pasti akan dihadirkan". Bentuk (مُحْضَرُونَ, muhdharuuna) menyatakan orang yang dikenai perbuatan menghadirkan, sehingga pihak yang menghadirkan tidak disebut. Kata ini, dengan akar yang sama, muncul sepuluh kali di enam surah, yaitu 3:30, 28:61, 30:16, 34:38, 36:32, 36:53, 36:75, 37:57, 37:127, dan 37:158. Terjemahan memakai "dihadirkan" pada kesepuluhnya. Di 3:30 perbuatan ikut dihadirkan, yaitu (مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا, maa 'amilat min khayrin muhdharan) yang berarti "apa yang telah dikerjakan berupa kebaikan dihadirkan", dan perbuatan tidak bisa diseret, sehingga makna "diseret" tidak berasal dari akar ini.
Keterangan yang menyertai kata itu berbeda-beda. Di 30:16 dan 34:38 kata itu disusul (فِي الْعَذَابِ, fii l-'adzaabi) yang berarti "dalam azab", dan di 36:32 serta 36:53 disusul (لَدَيْنَا, ladaynaa) yang berarti "kepada Kami". Di 37:127 dan 37:158 tidak ada keterangan semacam itu, sehingga kedua ayat ini tidak menyatakan ke mana atau kepada siapa mereka dihadirkan. Azab di 30:16 dan 34:38 berasal dari kata keterangannya, dan terjemahan 37:127 karena itu tidak memakai "dalam azab" atau "dihukum". Kata itu sendiri tidak memuat penanda waktu. Di 36:53 waktunya datang dari (فَإِذَا هُمْ, fa-idzaa hum) yang berarti "maka seketika mereka", sedangkan di 37:127 dan 37:158 terjemahan memakai "akan" tanpa kata Arab yang melahirkannya, dan kedua ayat tidak menyebutkan kapan penghadiran itu terjadi.
Susunan (فَإِنَّهُمْ, fa-innahum) muncul sepuluh kali di delapan surah, dan tiga di antaranya ada di surah ini, yaitu 37:33, 37:66, dan 37:127. Ketiganya menyatakan keadaan mereka dengan kata benda: (مُشْتَرِكُونَ, musytarikuuna) yang berarti "bersama-sama" di 37:33, (لَآكِلُونَ, la-aakiluuna) yang berarti "benar-benar memakan" di 37:66, dan (لَمُحْضَرُونَ, la-muhdharuuna) di 37:127. Dua yang terakhir memakai awalan la-, dan terjemahan menuliskannya "benar-benar" di 37:66 serta "pasti" di 37:127.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan Ilyas di 37:124 sampai 37:126 dengan satu kata kerja, tanpa mengutip ucapan kaumnya. Di bagian lain surah ini jawaban semacam itu dicatat. Di 37:35 sampai 37:36 sekelompok orang yang diberi tahu bahwa tidak ada tuhan selain Allah menyombongkan diri, lalu berkata (أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا, a-innaa la-taarikuu aalihatinaa) yang berarti "apakah kami benar-benar akan meninggalkan tuhan-tuhan kami". Kaum Ilyas tidak diberi kalimat seperti itu, dan penolakan mereka dicatat sebagai perbuatan yang sudah selesai.
Akibat yang disebut sesudahnya berbentuk keadaan mereka sendiri. Di 37:82 akibat bagi pihak lain dicatat sebagai perbuatan Kami, (ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ, tsumma aghraqnaa l-aakhariina) yang berarti "kemudian Kami tenggelamkan yang lain", dan di 37:136 sebagai (ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ, tsumma dammarnaa l-aakhariina) yang berarti "kemudian Kami binasakan yang lain". Di 37:127 tidak ada kata kerja dengan Kami sebagai pelaku, sehingga mereka beralih dari pelaku penolakan menjadi pihak yang dihadirkan oleh pihak yang tidak disebut. Kedua ayat pembanding itu berbicara tentang kaum yang lain.
Terjemahan ayat ini berakhir dengan koma karena 37:128 melanjutkan kalimatnya dengan pengecualian, yaitu "kecuali hamba-hamba Allah yang dimurnikan". Susunan yang sama ada di 37:158 sampai 37:160: pernyataan tentang pihak yang dihadirkan di 37:158, kalimat tentang Allah di 37:159, lalu pengecualian di 37:160. Dua kali di surah ini, pernyataan tentang pihak yang dihadirkan disusul pengecualian yang kata-katanya sama persis. Kemunculan ketiga di surah ini, yaitu 37:57, memakai kata itu dengan arah lain: pembicara di sana menyebut keadaan yang akan menimpanya seandainya nikmat Tuhannya tidak ada, sehingga kata dihadirkan di surah ini menandai kaum yang menolak dan juga keadaan yang disebut pembicara tentang dirinya sendiri.
Ayat ini tidak menyebut berapa orang dari kaum itu yang mendustakan dan tidak menyebut apa yang terjadi sesudah mereka dihadirkan. Ayat 37:128 memuat pengecualian, dan 37:129 sampai 37:132 berpindah ke apa yang ditinggalkan bagi Ilyas.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan Ilyas di 37:124 sampai 37:126 panjang dan berakhir dengan nama Allah, Tuhan kaumnya dan Tuhan nenek moyang mereka. Jawaban kaumnya di 37:127 hanya satu kata kerja, tanpa kalimat pembelaan dan tanpa nama yang disebut kembali. Di 37:36 sekelompok orang lain diberi kalimat untuk membela tuhan-tuhan mereka dan kalimat itu tercatat, sehingga ketiadaan kalimat di 37:127 terbaca sebagai pilihan teks. Pembaca yang mencari alasan penolakan kaum Ilyas tidak menemukannya, dan tinggal tindakan menolak itu sendiri. Pembaca dapat bertanya kepada diri sendiri, bila jawabannya atas sebuah peringatan dicatat hanya dalam satu kata kerja, kata kerja apakah yang akan tertulis?
- Kata dihadirkan di 37:127 tidak menyebut siapa yang menghadirkan dan ke mana mereka dibawa. Di 36:32 dan 36:53 kata yang sama disusul tujuan, yaitu kepada Kami, dan di 30:16 serta 34:38 disusul keterangan tempat, yaitu dalam azab. Ayat ini memakai kata itu tanpa keduanya, sehingga pembaca yang mengisi kekosongan itu sedang menambahkan sesuatu yang tidak tertulis di sini. Isian dari ayat lain boleh dipertimbangkan, tetapi tidak ada tulisan di 37:127 yang menyatakan bahwa ayat ini mengikuti tujuan di 36:32 atau tempat di 30:16. Pembaca dapat bertanya, ketika membaca kata dihadirkan, isian apa yang pertama kali muncul di benaknya, dan dari ayat mana isian itu berasal?
- Di 3:30 perbuatan ikut dihadirkan: setiap jiwa mendapati apa yang telah dikerjakannya berupa kebaikan dihadirkan, dan jiwa itu berharap ada jarak yang jauh antara dirinya dan keburukan yang telah dikerjakannya. Ayat yang sama menyebut bahwa Allah memperingatkan kalian akan diri-Nya, lalu menyebut Allah penuh iba kepada hamba-hamba-Nya. Ayat 3:30 berbicara tentang hari ketika setiap jiwa mendapati perbuatannya dan 37:127 tentang kaum yang mendustakan seorang rasul, sehingga keduanya tidak disamakan. Kata yang sama dipakai di keduanya, dan di 3:30 kata itu menyatakan perbuatan sendiri hadir di depan pelakunya. Pembaca dapat menimbang bahwa hadir di hadapan sesuatu dapat berarti berhadapan dengan apa yang telah dikerjakannya sendiri.
- Di 37:57 pembicara berkata bahwa seandainya nikmat Tuhannya tidak ada, pembicara itu termasuk orang-orang yang dihadirkan. Kata yang di 37:127 dikenakan kepada kaum yang mendustakan Ilyas dipakai di sana untuk keadaan yang nyaris menimpa pembicara sendiri, dan pembicara menyebut Tuhannya sebagai sebab keadaan itu tidak menimpanya. Ayat 37:57 menyebut pembicara yang selamat dan 37:127 menyebut kaum yang menolak. Pembaca dapat melihat bahwa dalam satu surah kata yang sama menandai dua posisi, posisi kaum yang menolak dan posisi orang yang menyandarkan keselamatannya kepada Tuhan. Pembaca dapat bertanya, bila pembaca berkata bahwa dirinya tidak termasuk orang-orang yang dihadirkan, kepada siapa alasan itu disandarkan?
- Di 7:64 menolak seorang utusan dan menolak tanda-tanda Kami disebut berdampingan dalam satu ayat. Di 37:127 yang disebut hanya yang pertama, yaitu penolakan kepada orangnya. Ilyas dalam ayat ini hadir lewat satu akhiran saja, tanpa nama dan tanpa kutipan ucapannya. Pertanyaan Ilyas di 37:125 dan 37:126 memuat sebuah isi, yaitu soal siapa yang diseru dan siapa yang ditinggalkan, dan 37:127 tidak memuat penolakan terhadap isi itu. Pembaca dapat bertanya, ketika sebuah ajakan ditolak karena pembawanya tidak disukai, apakah isi ajakan itu sudah diperiksa?
- Dalam satu ayat kaum Ilyas berpindah kedudukan: pada kata pertama mereka menjadi pelaku yang menolak, pada kata terakhir mereka menjadi pihak yang dikenai perbuatan orang lain. Di 28:61 kata dihadirkan dipakai untuk orang yang diberi kesenangan hidup dunia, yang kemudian pada hari Kiamat termasuk orang-orang yang dihadirkan, dan ayat itu memakai kata Kami untuk pihak yang memberi kesenangan itu. Ayat 28:61 membandingkan dua orang, sedangkan 37:127 menyebut satu kaum, sehingga keduanya tidak setara. Perpindahan dari pelaku menjadi yang dikenai dalam satu kalimat dapat dilihat sebagai citra: keputusan yang diambil dengan aktif kadang dijawab dengan keadaan yang tidak bisa dipilih. Pembaca dapat bertanya, keputusan apa dalam hidupnya yang ia ambil dengan aktif tetapi akibatnya akan ia terima dalam keadaan pasif?