إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِidz abaqa ilaa l-fulki l-masyhuuniketika ia lari ke kapal yang penuh muatan
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِذْidzketika
- أَبَقَabaqamelarikan diri
- إِلَىilaakepada
- الْفُلْكِl-fulkikapal
- الْمَشْحُونِl-masyhuuniyang penuh muatan
Inti bacaan
Frasa al-fulki l-masyhuuni muncul tiga kali di Al-Qur'an (26:119, 36:41, 37:140), dan hanya 37:140 yang mendahuluinya dengan ilaa, "ke".
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِذْ, idz) yang berarti "ketika". Kata itu menyambung ayat ini ke 37:139, sehingga terjemahan mempertahankan koma di ujung dan huruf kecil di awal. Padanan "ketika" sama dengan padanan (إِذْ, idz) di awal 37:124 dan 37:134.
Kata (أَبَقَ, abaqa) yang berarti "lari" berakar أ-ب-ق. Bentuk dan akarnya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:140, sehingga tidak ada ayat lain dengan akar yang sama untuk membandingkan artinya. Pilihan "lari" bersandar pada kata sesudahnya, (إِلَى الْفُلْكِ, ilaa l-fulki) yang berarti "ke kapal" dan menyebut arah gerak, serta pada 37:142 yang menyebut keadaan sesudahnya dengan (مُلِيمٌ, muliimun) yang berarti "tercela". Dua ayat pembanding memakai akar ف-ر-ر untuk lari, yaitu (يَفِرُّ, yafirru) di 80:34 dan (تَفِرُّونَ مِنْهُ, tafirruuna minhu) di 62:8 yang berarti "kalian lari darinya". Di 80:34 kata itu disusul (مِنْ أَخِيهِ, min akhiihi) yang berarti "dari saudaranya", dan di 62:8 disusul minhu, sehingga pada keduanya apa yang ditinggalkan ikut tertulis. Ayat 37:140 menuliskan tujuan dengan ilaa, dan apa yang ditinggalkan Yunus tidak disebut. Terjemahan memakai "lari" untuk kedua akar, dan pembeda keduanya ada pada kata sesudahnya. Terjemahan juga tidak menambahkan "dari tugasnya" atau "dari kaumnya", karena tak satu pun kata Arab di ayat ini melahirkannya.
Kata (الْفُلْكِ, l-fulki) berakar ف-ل-ك, dan terjemahan memakai "kapal" seperti pada ayat lain yang berakar sama. Susunan ilaa l-fulki muncul satu kali, di 37:140. Frasa kapal yang penuh muatan muncul tiga kali, yaitu (فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ, fii l-fulki l-masyhuuni) di 26:119, bentuk yang sama di 36:41, dan (إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ, ilaa l-fulki l-masyhuuni) di 37:140. Di 26:119 dan 36:41 kata sebelumnya adalah fii yang berarti "di dalam", sedangkan 37:140 memakai ilaa yang berarti "ke". Terjemahan 37:140 karena itu memakai "ke kapal" dan tidak "ke dalam kapal", sebab ayat ini menuturkan gerak menuju kapal. Terjemahan 26:119 dan 36:41 tidak memakai "itu" sesudah "kapal", dan 37:140 mengikuti pola yang sama.
Kata (الْمَشْحُونِ, l-masyhuuni) yang berarti "yang penuh muatan" berakar ش-ح-ن. Akar itu muncul tiga kali, semuanya sebagai sifat kapal, yaitu di 26:119, 36:41, dan 37:140. Arabnya tidak merinci muatan itu. Di 26:119 yang diselamatkan di dalam kapal disebut (وَمَنْ مَعَهُ, wa-man ma'ahu) yang berarti "dan orang-orang yang bersamanya", dan di 36:41 yang diangkut adalah (ذُرِّيَّتَهُمْ, dzurriyyatahum) yang berarti "keturunan mereka". Di 37:140 isi kapal tidak dirinci, sehingga terjemahan tidak menambahkan "penumpang" atau "barang".
Tafsiran
Ayat ini mengikat kalimat kedudukan di 37:139 pada satu saat, satu gerak, dan satu tujuan. Saatnya ditandai idz, geraknya ditandai kata kerja lari, dan tujuannya ditandai kapal. Alasan, ucapan, dan pihak lain tidak disebut, sehingga ayat ini memuat apa yang terlihat dari luar.
Ketiadaan itu terasa karena pembuka kisah Ilyas memuat ucapan. Di 37:124 sampai 37:126 Ilyas bertanya kepada kaumnya, "Tidakkah kalian bertakwa?", lalu menyebut "Allah, Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu". Ayat 37:140 tidak memuat ucapan Yunus, dan 37:141 sampai 37:144 pun tidak. Apa yang mendahului pelarian itu tidak tertulis.
Frasa kapal yang penuh muatan berfungsi di 26:119 sebagai tempat orang diselamatkan, di 36:41 sebagai tanda, dan di 37:140 sebagai tujuan seseorang yang lari. Di 26:119 ayatnya berbunyi "Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan", dan di 36:41 "Suatu tanda bagi mereka adalah bahwa Kami mengangkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan". Karena ketiganya menuturkan peristiwa yang berbeda, tidak ada ayat yang dipakai untuk menafsirkan yang lain, dan kesamaan yang tertulis ada pada frasa kapalnya.
Ayat 37:141 membuka dengan (فَسَاهَمَ, fa-saahama) tanpa menyebut tempat, sehingga pembaca membawa kapal dari 37:140 ke ayat berikutnya, sementara teks 37:141 sendiri tidak menyatakan di mana undian berlangsung.
Renungan dan Hikmah
- Di 80:34 kata lari disusul "dari saudaranya", dan di 62:8 disusul "kematian yang kalian lari darinya", sehingga apa yang ditinggalkan ikut tertulis. Ayat 37:140 menuliskan tujuannya saja, yaitu kapal yang penuh muatan. Ayat 62:8 menyebut pula bahwa orang-orang akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan bahwa Dia memberitakan apa yang mereka kerjakan. Dua ayat itu berbicara tentang lari dari kematian dan dari saudara, tidak tentang Yunus, sehingga tidak disamakan. Dapat dibaca bahwa sebuah pelarian bisa dituturkan lewat tujuannya saja. Ketika pembaca menceritakan pelariannya sendiri, mana yang lebih dulu disebut, apa yang ditinggalkan atau tempat yang dituju, dan siapa yang akhirnya mengetahui keduanya?
- Frasa kapal yang penuh muatan menjadi tempat orang diselamatkan di 26:119, tanda di 36:41, dan tujuan seseorang yang lari di 37:140. Di 31:31 kapal yang berlayar di laut disebut berlayar dengan nikmat Allah, "agar Dia memperlihatkan kepada kalian sebagian dari tanda-tanda-Nya". Ayat 31:31 membicarakan kapal secara umum dan tidak menyebut Yunus, sehingga keduanya tidak disamakan. Dapat dibaca bahwa benda yang sama bisa muncul sebagai tempat selamat, sebagai tanda, atau sebagai tempat lari, bergantung pada peristiwa yang dituturkan di sekitarnya. Benda apa di sekitar pembaca yang selama ini dipakai sebagai tempat lari, padahal di ayat lain benda semacam itu disebut tanda?
- Di 37:124 sampai 37:126 Ilyas berbicara kepada kaumnya, termasuk dengan menyebut "Allah, Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu". Di 37:140 sampai 37:144 ucapan Yunus tidak dimuat sama sekali. Kedua kisah berada di surah yang sama dan memakai kerangka pembuka yang sama, tetapi yang satu bersuara dan yang lain hanya bergerak. Teks tidak menyebut apakah Yunus berbicara sebelum lari. Bagian hidup mana yang akan tertinggal bila catatan orang lain tentang pembaca hanya memuat geraknya dan tidak memuat kalimat yang pernah diucapkan, dan siapa yang akan melengkapinya?
- Ayat 37:140 tidak menyebut kota, pelabuhan, atau daratan tujuan. Ayat itu menyebut sebuah benda yang menampung, yaitu kapal. Di 37:145 tempat berikutnya juga tanpa nama, yaitu tanah tandus yang di 68:49 disebut dengan kata yang sama, (بِالْعَرَاءِ, bi-l-araa'i). Dua tempat dalam episode ini diberi sifat, penuh muatan dan tandus, dan tidak diberi nama. Tempat mana dalam perjalanan hidup pembaca yang dikenal hanya lewat keadaannya dan tidak punya nama, dan adakah tempat itu memengaruhi lebih besar daripada kota yang namanya dihafal?
- Ayat 37:140 menuturkan pelarian tanpa kata sifat apa pun. Kata "tercela" baru muncul di 37:142, dua ayat sesudahnya, dan menyifati keadaan Yunus saat ditelan ikan. Ayat itu tidak menyatakan apa yang membuatnya tercela, dan 37:140 sampai 37:141 tidak memuat penilaian. Urutan ini menempatkan penilaian sesudah kejadian, tidak bersamaan dengannya. Penilaian mana yang akan ditarik kembali oleh pembaca yang menilai tindakan orang lain pada saat tindakan itu terjadi, bila menunggu dua ayat lagi, dan penilaian mana yang tetap dipegang?
- Akar lari di 37:140 tidak ada di ayat lain, sehingga pembaca tidak memiliki ayat kedua untuk memeriksa pilihan "lari". Arti itu bersandar pada kata sesudahnya dan pada keadaan yang disebut di 37:142. Terjemahan di sini sengaja berhenti pada kata yang ditopang teks itu, dan tidak menambahkan sebab atau tujuan lari. Pembaca terbiasa mencari pembanding untuk setiap kata yang penting. Untuk perkara apa dalam hidup pembaca sudah ditarik banyak kesimpulan dari satu kejadian tunggal yang tidak pernah punya pembanding, dan perlukah kesimpulan itu ditahan sampai pembandingnya muncul?