فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

Maka, Kami lemparkan ia ke daratan yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِfa-nabadznaahu bi-l-araa'imaka, Kami lemparkan ia ke daratan yang tandus
  2. وَهُوَ سَقِيمٌwa-huwa saqiimunsedang ia dalam keadaan sakit

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَنَبَذْنَاهُfa-nabadznaahumaka Kami melemparkannya
  2. بِالْعَرَاءِbi-l-araa'idi tanah tandus
  3. وَهُوَwa-huwasedang ia
  4. سَقِيمٌsaqiimunsakit

Inti bacaan

Bentuk (بِالْعَرَاءِ, bi-l-araa'i) muncul dua kali di Al-Qur'an (37:145, 68:49), dan keduanya memakai kata kerja berakar ن-ب-ذ untuk gerak menuju tempat itu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَنَبَذْنَاهُ, fa-nabadznaahu) yang berarti "maka Kami lemparkan dia". Kata kerjanya berakar ن-ب-ذ, dan akar itu terdapat di dua belas ayat, yaitu 2:100, 2:101, 3:187, 8:58, 19:16, 19:22, 20:96, 28:40, 37:145, 51:40, 68:49, dan 104:4. Bentuk lampau dengan pelaku "Kami" hanya ada di tiga ayat, yaitu 28:40, 37:145, dan 51:40. Di 28:40 dan 51:40, (فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ, fa-nabadznaahum fii l-yammi) yang berarti "lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut" menyebut Firaun dan bala tentaranya sebagai sasaran lemparan. Di 20:96, (فَنَبَذْتُهَا, fa-nabadztuhaa) yang berarti "lalu aku lemparkan itu" menyebut segenggam yang diambil dari jejak sang rasul sebagai sasarannya. Dari dua pemakaian itu terlihat bahwa kata kerja ini sendiri berarti melempar atau mencampakkan sesuatu, dan akibat lemparannya ditentukan oleh sasaran dan tempat yang disebut sesudahnya. Terjemahan 37:145 karena itu memakai "lemparkan", dan tidak menambahkan "keluarkan" atau "dari mulut ikan", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Tempat jatuhnya disebut (بِالْعَرَاءِ, bi-l-araa'i) yang berarti "di daratan yang tandus". Bentuk persis ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:145 dan 68:49. Di 68:49, (لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ, la-nubidza bi-l-araa'i) yang berarti "niscaya dia dicampakkan ke tanah tandus" memakai akar kata kerja yang sama dengan 37:145, tetapi pelakunya tidak disebut dan kalimatnya berbentuk pengandaian, yaitu sekiranya nikmat dari Tuhannya tidak menjangkaunya. Ayat 68:49 berbicara tentang lemparan yang tidak terjadi, sedangkan 37:145 melaporkan lemparan yang terjadi, sehingga kedua ayat tidak saling menggantikan. Korpus mengelompokkan kata al-araa' ke akar ع-ر-ي. Selain di dua ayat tadi, akar itu hanya ada di 20:118, (وَلَا تَعْرَىٰ, wa-laa ta'raa) yang berarti "dan tidak akan telanjang". Dari ketiga ayat itu terlacak arti "tanpa penutup", dan arti "tidak subur" tidak tertulis di salah satunya. Terjemahan memakai "tandus" agar seragam dengan 68:49, sedangkan kesuburan tanahnya tidak dibicarakan.

Keadaannya disebut (وَهُوَ سَقِيمٌ, wa-huwa saqiimun) yang berarti "sedang ia dalam keadaan sakit". Huruf wa di depan huwa menyatakan keadaan pada saat lemparan itu, sehingga terjemahannya "sedang ia". Kata (سَقِيمٌ, saqiimun) berakar س-ق-م dan terdapat di dua ayat, keduanya di Surah 37, yaitu 37:89 dan 37:145. Di 37:89, (إِنِّي سَقِيمٌ, innii saqiimun) yang berarti "sesungguhnya aku sakit" merupakan ucapan Ibrahim sendiri, sedangkan di 37:145 kata itu menggambarkan Yunus dalam penuturan ayat. Kedua ayat tidak menyebut jenis sakitnya, dan terjemahan memakai "sakit" di keduanya.

Susunan yang berakhir dengan keadaan seperti ini ada pula di ayat-ayat dekatnya. Di 37:142, (وَهُوَ مُلِيمٌ, wa-huwa muliimun) yang berarti "sedang ia dalam keadaan tercela" menutup ayat tentang ikan besar yang menelan Yunus. Bentuk persis itu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:142 dan 51:40, dan 51:40 adalah salah satu ayat yang memuat lemparan ke laut tadi. Di 68:49 keadaan itu ditulis (وَهُوَ مَذْمُومٌ, wa-huwa madzmuumun) yang berarti "dalam keadaan tercela". Kata penutup 37:145 berbeda dari ketiganya, dan bentuk persis (وَهُوَ سَقِيمٌ, wa-huwa saqiimun) hanya ada di ayat ini. Terjemahan memakai "ia" sebab yang tertulis di ayat ini hanya -hu dan huwa, sedangkan nama Yunus tertulis di 37:139.

Tafsiran

Ayat ini berpasangan dengan 37:142. Keduanya dibuka dengan huruf fa dan ditutup dengan (وَهُوَ, wa-huwa) yang diikuti keadaan: di 37:142 ikan besar menelannya dan dia tercela, di 37:145 Kami melemparkannya dan dia sakit. Di antara keduanya, 37:143 sampai 37:144 menyusun sebuah pengandaian, yaitu seandainya dia tidak termasuk orang yang bertasbih, dia akan tinggal di dalam perut ikan sampai hari mereka dibangkitkan. Dapat dibaca bahwa 37:145 melaporkan apa yang terjadi sebagai ganti pengandaian itu, sebab batas "sampai hari dibangkitkan" tidak tercapai dan yang tertulis adalah lemparan. Pembacaan ini bertumpu pada urutan ayat, dan 37:145 tidak mengulang kata tasbih.

Ayat 68:48 sampai 68:50 menyebut seorang yang bersama ikan, tanpa nama, dan 68:49 memuat pengandaian lain: sekiranya nikmat dari Tuhannya tidak menjangkaunya, dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Kata ikan di 68:48 menyambungkannya dengan 37:142 dalam pembacaan ini, dan 68:48 sendiri tidak menyebut nama Yunus. Di 37:145 tempat itu tercapai, dan keadaan yang tertulis adalah sakit. Kedua ayat menyebut tempat yang sama dengan keadaan yang berbeda, satu untuk peristiwa yang tidak terjadi dan satu untuk peristiwa yang terjadi. Hubungan keduanya tidak dinyatakan, sehingga ayat yang satu tidak dipakai untuk menafsirkan yang lain.

Ayat ini terdiri atas dua bagian pendek. Bagian pertama mencatat tindakan Kami dan tempatnya, dan bagian kedua mencatat keadaan orang yang dilempar. Cara dia keluar dari perut ikan, lamanya ia berada di tempat itu, dan siapa yang melihatnya tidak ditulis. Ayat berikutnya, 37:146, menyambung dengan huruf wa dan menyebut sesuatu yang Kami tumbuhkan. Karena itu 37:145 berhenti pada keadaan sakit tanpa kata pemulihan, dan pemulihan disusun oleh ayat-ayat sesudahnya satu per satu: tumbuhan di 37:146, pengutusan di 37:147, serta keimanan dan kenikmatan di 37:148.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:145 memuat lemparan dan keadaan sakit, sedangkan gerak pemulihan baru tertulis di 37:146 sampai 37:148. Dalam satu ayat ini orang yang diselamatkan sudah berada di luar perut ikan, tetapi tubuhnya sakit dan tempatnya terbuka, dan ayat itu tidak memakai kata lega atau kata sembuh. Pembaca yang pernah keluar dari masa sulit dapat mengingat adanya jeda antara keluar dan pulih, dan jeda itu ternyata ikut tertulis sebagai bagian dari cerita yang sama. Pelaku lemparan di ayat ini adalah Kami, yaitu Allah yang berbicara. Pada bagian mana dari perjalanannya pembaca pernah menganggap pertolongan belum terjadi, padahal pembaca sedang berada di jeda ini?
  • Di 37:145 pelaku lemparan adalah Kami, dan di 68:50, sesudah 68:49 yang menyebut tempat yang sama, kata kerjanya berganti menjadi memilih dengan pelaku Tuhannya: "Maka Tuhannya memilihnya, lalu menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh." Dua ayat itu dapat dibaca berbicara tentang orang yang sama, karena keduanya menyebut ikan, sedangkan 68:48 tidak menyebut nama. Dalam pembacaan itu keduanya menaruh melempar dan memilih di tangan Allah. Pembaca yang pernah merasa dicampakkan oleh keadaan dapat menimbang apakah rasa dicampakkan itu selalu berarti ditinggalkan. Bagaimana pembaca membaca pengalamannya sendiri bila ada ayat yang menaruh lemparan dan pilihan pada pelaku yang sama?
  • Kata untuk tempat itu berasal dari akar yang di 20:118 menyebut keadaan tanpa pakaian, sehingga daratan yang dimaksud dapat dibaca sebagai tempat yang terbuka tanpa penutup. Ayat 37:145 tidak menyebut seorang pun di dekat orang yang sakit itu. Pelaku lemparan menyebut tempat dan keadaannya sendiri, sehingga tempat terbuka itu tertulis sebagai sesuatu yang diketahui oleh Allah yang berbicara. Pembaca yang pernah sakit tanpa saksi dapat menimbang bahwa keadaan tanpa saksi tidak sama dengan keadaan tanpa pengetahuan. Siapa yang menurut pembaca mengetahui keadaannya pada masa-masa paling sepi, dan apakah ayat ini mengubah jawabannya?
  • Di 37:142 keadaan orang itu disebut tercela, dan di 37:145 disebut sakit, padahal orangnya sama dan kerangka kalimatnya sama. Kata pertama mengandung penilaian atas perbuatan, dan kata kedua menyebut keadaan tubuh. Ayat 37:145 tidak mengulang kata tercela, dan Allah yang berbicara memakai kata lain untuk saat yang berbeda. Pembaca yang pernah menamai dirinya sendiri dengan kata penilaian yang berat dapat memperhatikan bahwa kata itu tidak ikut terbawa ke ayat ini. Kata apa yang sekarang dipakai pembaca untuk keadaannya, dan apakah kata itu masih milik masa yang sudah lewat?
  • Ayat 37:144 menyebut batas yang panjang, yaitu tinggal di perut ikan sampai hari mereka dibangkitkan, untuk keadaan yang tidak terjadi. Ayat 37:145 melaporkan keadaan yang terjadi, dan kata kerjanya dikerjakan oleh Kami. Batas yang tampak tanpa ujung itu terpotong oleh sebuah lemparan, dan waktu datangnya lemparan itu tidak ditulis. Pembaca yang sedang menjalani sesuatu yang terasa tidak punya ujung dapat memperhatikan siapa yang menurut ayat ini berhak memutus batas itu. Apa dalam hidup pembaca yang terasa akan berlangsung sampai akhir, padahal pemutusnya mungkin Allah dan tidak dirinya sendiri?
  • Ayat ini mencatat dua hal, yaitu tempat dan keadaan, dan tidak mencatat cara dia keluar dari perut ikan. Orang yang pernah diselamatkan dapat saja hanya menyebut di mana dia berada dan bagaimana keadaannya sesudahnya, sedangkan jalan yang menuntunnya ke sana tetap tidak terlihat olehnya. Ayat 37:145 memberi contoh kesaksian yang bentuknya begitu: Kami lemparkan, di daratan terbuka, dalam keadaan sakit. Bagaimana pembaca menceritakan pertolongan yang pernah diterimanya bila yang diingatnya hanya tempat dan keadaannya, dan apakah kesaksian sependek itu cukup untuk menyebut siapa yang menolongnya?