وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ

dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon labu.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِwa-anbatnaa 'alayhidan Kami tumbuhkan untuknya
  2. شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍsyajaratan min yaqthiininsebatang pohon labu

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَأَنْبَتْنَاwa-anbatnaadan Kami menumbuhkan
  2. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  3. شَجَرَةًsyajaratanpohon
  4. مِنْmindari
  5. يَقْطِينٍyaqthiininpohon labu

Inti bacaan

Kata (يَقْطِينٍ, yaqthiinin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:146, dan korpus tidak memberinya akar.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنْبَتْنَا, wa-anbatnaa) yang berarti "dan Kami tumbuhkan". Kata kerjanya berakar ن-ب-ت dan ditulis dalam bentuk lampau dengan pelaku "Kami". Bentuk (أَنْبَتْنَا, anbatnaa) muncul delapan kali di tujuh surah, yaitu di 15:19, 26:7, 27:60, 31:10, 37:146, 50:7, 50:9, dan 80:27, dengan Surah 50 memuatnya dua kali. Dengan huruf wa di depannya, bentuk (وَأَنْبَتْنَا, wa-anbatnaa) muncul tiga kali, yaitu di 15:19, 37:146, dan 50:7. Di tujuh ayat selain 37:146, yang ditumbuhkan berjumlah banyak: segala sesuatu menurut ukuran di 15:19, segala jenis pasangan di 26:7, 31:10, dan 50:7, kebun-kebun di 27:60 dan 50:9, serta biji-bijian di 50:9 dan 80:27. Di 37:146 yang ditumbuhkan satu pohon, dan penerimanya satu orang.

Tempat tumbuhnya di tujuh ayat itu ditunjuk dengan (فِيهَا, fiihaa) yang berarti "padanya" di 15:19, 26:7, 31:10, 50:7, dan 80:27, atau dengan (بِهِ, bihi) yang berarti "dengannya" di 27:60 dan 50:9. Di 37:146 penunjuknya (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berarti "atasnya", tersusun dari 'alaa "atas" dan -hi "dia". Terjemahan memakai "untuknya" karena kata 'alaa yang diikuti kata ganti orang dipakai untuk penerima sesuatu yang diberikan, seperti di 20:39, (وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً, wa-alqaytu 'alayka mahabbatan) yang berarti "dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta". Susunan persis (وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ, wa-anbatnaa 'alayhi) hanya ada di 37:146. Tinggi pohon dan jaraknya dari tubuh orang itu tidak ditulis.

Benda yang ditumbuhkan disebut (شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ, syajaratan min yaqthiinin) yang berarti "sebatang pohon labu". Kata (شَجَرَةً, syajaratan) berbentuk tunggal tak tentu, sehingga terjemahan memakai "sebatang". Akar ش-ج-ر terdapat di dua puluh enam ayat, dan di Surah 37 ada tiga, yaitu 37:62, 37:64, dan 37:146. Dua yang pertama menyebut pohon lain, (شَجَرَةُ الزَّقُّومِ, syajaratu z-zaqquumi) yang berarti "pohon zaqqum", yang menurut 37:64 tumbuh di dasar neraka. Pohon di 37:146 memakai kata yang sama akarnya, dengan tempat dan nama jenis yang berbeda.

Kata (مِنْ, min) di depan nama jenis dipakai di ayat lain untuk menyatakan jenis yang ditumbuhkan: (مِنْ كُلِّ زَوْجٍ, min kulli zawjin) yang berarti "dari segala jenis pasangan" di 26:7, 31:10, dan 50:7, serta (مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ, min kulli syay'in mawzuunin) yang berarti "dari segala sesuatu menurut ukuran" di 15:19. Menurut pola itu, (مِنْ يَقْطِينٍ, min yaqthiinin) terbaca "dari jenis yaqthiin", dan "pohon labu" menamai jenis pohonnya. Kata (يَقْطِينٍ, yaqthiinin) muncul satu kali, di 37:146, dan korpus tidak memberinya akar. Daun, buah, dan rasanya tidak diterangkan oleh ayat lain, sehingga pilihan "labu" tidak dapat diuji lewat Al-Qur'an dan bergantung pada nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia untuk kata ini. Naungan, buah, dan makanan tidak tertulis di ayat ini, jadi terjemahan tidak menambahkannya.

Tafsiran

Ayat ini menyambung ayat sebelumnya dengan huruf wa. Di 37:145 penghubungnya fa, yang menyambung lemparan ke pengandaian di 37:143 sampai 37:144. Di 37:146 dan 37:147 penghubungnya wa, yang menambahkan butir demi butir pada daftar yang sama, lalu 37:148 kembali memakai fa dua kali. Dari tiga ayat itu tersusun tiga tindakan Kami berurutan, yaitu menumbuhkan pohon, mengutus, dan memberi kenikmatan hidup.

Pohon ini ditumbuhkan bagi orang yang baru dilempar ke daratan terbuka di 37:145, dan penunjuk (عَلَيْهِ, 'alayhi) menaruhnya pada orang itu. Dapat dibaca bahwa pohon itu menjawab keadaan tanpa penutup di ayat sebelumnya. Gunanya sendiri tidak dituliskan, sehingga pembacaan itu bertumpu pada urutan dua ayat dan tidak pada sebuah kata di 37:146.

Surah ini sudah menyebut satu pohon sebelum ini, yaitu pohon zaqqum di 37:62 sampai 37:66, yang menurut 37:63 Kami jadikan cobaan bagi orang-orang yang zalim dan yang menurut 37:66 mereka makan sampai penuh perut. Kedua pohon berada dalam kerangka yang berbeda. Pohon zaqqum ditulis dengan kata kerja (جَعَلْنَاهَا, ja'alnaahaa) yang berarti "Kami menjadikannya", dan pohon di 37:146 ditulis dengan kata kerja menumbuhkan. Surah yang sama memuat satu pohon untuk orang-orang yang dihukum dan satu pohon untuk seorang rasul yang dilempar.

Ayat ini berhenti pada nama jenis pohon, tanpa kegunaan, buah, atau lamanya pohon itu ada. Ayat 37:147 langsung berpindah ke pengutusan, sehingga pohon itu tidak disebut lagi sesudah ayat ini.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja yang di 15:19 dan 50:7 dipakai untuk menumbuhkan segala sesuatu di bumi dipakai di 37:146 untuk satu pohon bagi satu orang. Kami, yaitu Allah yang berbicara, tertulis mengerjakan perbuatan yang sama pada dua skala yang jauh berbeda. Pembaca yang merasa urusannya terlalu kecil untuk diperhatikan dapat menimbang bahwa ayat ini menaruh satu pohon dan satu orang dalam kalimat yang sama dengan kata kerja yang dipakai untuk bumi. Urusan apa dalam hidup pembaca yang selama ini dianggapnya terlalu kecil untuk disebut di hadapan Tuhan?
  • Di 27:60 kata kerja menumbuhkan dipakai untuk kebun-kebun yang indah, lalu kalimatnya mengatakan bahwa manusia tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Di 37:146 pekerjaan itu dikerjakan Kami, bagi orang yang baru dilempar ke daratan terbuka. Dua ayat itu berbicara pada situasi yang berbeda, dan keduanya menaruh pekerjaan menumbuhkan pohon pada pihak yang sama, yaitu Allah. Pembaca dapat menimbang berapa banyak hal dalam hidupnya yang selama ini disangkanya ditumbuhkan oleh dirinya sendiri. Apa yang tumbuh di sekitar pembaca tanpa pernah ditanamnya, dan siapa yang disebutnya ketika mengingat hal itu?
  • Di 37:145 sampai 37:146 tidak ada satu pun ucapan orang yang dilempar itu, dan tidak ada permintaan yang tertulis sebelum pohon itu ditumbuhkan. Kalimatnya hanya memuat Kami, kata kerja menumbuhkan, dan penerimanya. Pembaca yang pernah menerima sesuatu yang tidak pernah dimintanya dapat mengingat bahwa pemberian semacam itu tercatat juga dalam cerita ini, dengan Allah sebagai pemberinya. Apa yang pernah diterima pembaca dari Tuhan tanpa sempat diminta, dan apakah pembaca mengingatnya sebagai pemberian atau sebagai kebetulan?
  • Daratan di 37:145 disebut terbuka tanpa penutup, dan di 37:146 daratan itu menerima sesuatu yang tumbuh. Kata kerjanya menumbuhkan, yaitu pekerjaan yang berlangsung sebagai proses, sedangkan lama prosesnya tidak ditulis. Orang yang sakit di tempat itu menunggu sesuatu yang tidak ditanamnya sendiri, dan lama penantiannya tidak ditulis. Pembaca yang sedang menunggu dapat menimbang bahwa tempat yang tampak kosong dalam satu ayat dapat menjadi tempat sebuah pohon dalam ayat berikutnya. Di tempat apa dalam hidup pembaca sesuatu mungkin sedang ditumbuhkan oleh Allah, padahal baru kekosongan yang terlihat olehnya?
  • Ayat ini menyebut jenis pohonnya dengan nama, yaitu yang berasal dari satu kata yang tidak muncul di ayat lain, dan tidak berhenti pada kata pohon. Ketelitian penyebutan itu tertulis untuk pemberian yang gunanya sendiri tidak dituliskan. Pembaca yang pernah menerima pertolongan dapat memperhatikan perincian yang menyertainya, misalnya waktu, tempat, atau orang yang kebetulan lewat, dan bertanya apakah perincian itu pernah dihitungnya sebagai bagian dari pertolongan. Perincian apa dari pertolongan yang pernah diterima pembaca yang pernah dianggapnya kebetulan, padahal Tuhan menyebut jenis pohon pun dalam sebuah ayat?
  • Surah ini memuat dua pohon yang Kami adakan. Pohon zaqqum di 37:62 sampai 37:66 Kami jadikan cobaan bagi orang-orang yang zalim, dan pohon di 37:146 Kami tumbuhkan bagi seorang yang dilempar. Konteks kedua pohon berlainan, sehingga keduanya tidak saling menafsirkan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa pohon sebagai benda dapat menempati dua kedudukan yang berlawanan di surah yang sama, bergantung pada kepada siapa Allah menaruhnya. Dari sekian benda yang ada di sekitar pembaca, mana yang dianggap pembaca sebagai cobaan dan mana yang dianggap pemberian, dan dari mana penilaian itu berasal?