فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

lalu, mereka beriman; maka, Kami beri mereka kenikmatan hidup sampai waktu tertentu.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَآمَنُواfa-aamanuulalu, mereka beriman
  2. فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍfa-matta'naahum ilaa hiininmaka, Kami beri mereka kenikmatan hidup sampai waktu tertentu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَآمَنُواfa-aamanuumaka mereka beriman
  2. فَمَتَّعْنَاهُمْfa-matta'naahummaka Kami memberi mereka kesenangan
  3. إِلَىٰilaasampai
  4. حِينٍhiininwaktu tertentu

Inti bacaan

Susunan (مَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ, matta'naahum ilaa hiinin) muncul dua kali di Al-Qur'an (10:98, 37:148).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَآمَنُوا, fa-aamanuu) yang berarti "lalu mereka beriman". Kata kerjanya berakar أ-م-ن dan ditulis dalam bentuk lampau dengan pelaku jamak "mereka". Bentuk persis (فَآمَنُوا, fa-aamanuu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:148. Huruf fa menyambungnya langsung ke 37:147, tanpa kata yang menyatakan lamanya atau caranya. Di 10:98, (لَمَّا آمَنُوا, lammaa aamanuu) yang berarti "ketika mereka beriman" menyebut kaum Yunus dengan nama dan menuliskan penghilangan azab sesudah iman itu. Di 10:98 maupun di 37:148 kata kerja beriman tidak diikuti sasaran, sehingga kedua ayat tidak menyebut kepada apa mereka beriman. Terjemahan 37:148 tidak menambahkan "kepada Allah" atau "kepada rasul itu", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Kata kerja kedua, (فَمَتَّعْنَاهُمْ, fa-matta'naahum) yang berarti "maka Kami beri mereka kenikmatan", berakar م-ت-ع dan ditulis dalam bentuk lampau dengan pelaku "Kami" dan penerima -hum, "mereka". Bentuk persis (مَتَّعْنَاهُمْ, matta'naahum) muncul tiga kali, yaitu di 10:98, 26:205, dan 37:148. Di 26:205, (إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ, in matta'naahum siniina) yang berarti "jika Kami beri mereka kenikmatan bertahun-tahun" disusul 26:207, (مَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يُمَتَّعُونَ, maa aghnaa 'anhum maa kaanuu yumatta'uuna) yang berarti "niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak mencukupkan apa pun bagi mereka". Kata kerja yang sama dengan demikian dipakai pada dua keadaan yang berbeda: di 26:205 kenikmatan itu datang sebelum apa yang diancamkan tiba, dan di 10:98 serta 37:148 kenikmatan itu datang sesudah iman. Kata "hidup" dalam terjemahan tidak berasal dari kata Arab tersendiri, dan pemakaiannya seragam dengan 36:44, (وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ, wa-mataa'an ilaa hiinin) yang berarti "dan sebagai kesenangan hidup sampai waktu tertentu".

Batas kenikmatan itu disebut (إِلَىٰ حِينٍ, ilaa hiinin) yang berarti "sampai waktu tertentu". Kata (حِينٍ, hiinin) tidak memakai kata sandang al- dan berbentuk tak tentu, sehingga ukuran waktunya tidak tertulis. Bentuk persis (إِلَىٰ حِينٍ, ilaa hiinin) muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu di 2:36, 7:24, 10:98, 16:80, 21:111, 36:44, dan 37:148. Susunan (مَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ, matta'naahum ilaa hiinin) hanya ada di dua ayat, yaitu 10:98 dan 37:148, dan 10:98 menyebut penerimanya dengan nama, (قَوْمَ يُونُسَ, qawma yuunusa) yang berarti "kaum Yunus". Di lima ayat lain, yaitu 2:36, 7:24, 16:80, 21:111, dan 36:44, frasa itu mengikuti kata benda kesenangan, tanpa kata kerja dengan pelaku "Kami". Di Surah 37 kata (حِينٍ, hiinin) muncul tiga kali, yaitu di 37:148, 37:174, dan 37:178, dan dua yang terakhir didahului (حَتَّىٰ, hattaa) yang berarti "sampai". Terjemahan "waktu tertentu" di 37:148 mengikuti 2:36 dan 36:44, dan maknanya sebuah waktu yang ukurannya tidak dituliskan. Apa yang terjadi pada akhir waktu itu tidak disebut.

Tafsiran

Ayat ini menutup cerita Yunus dengan dua tindakan yang berganti pelaku. Tindakan pertama milik para penerima pengutusan menurut urutan ayat, yaitu mereka beriman, dan tindakan kedua milik Kami, yaitu memberi kenikmatan. Di 37:145 sampai 37:147 semua tindakan dikerjakan Kami, sehingga 37:148 mengubah arah cerita dari apa yang dikerjakan atas satu orang ke apa yang dikerjakan sejumlah besar orang.

Penutup ini berbeda dari penutup dua cerita lain di surah ini yang berakhir pada orang-orang lain. Cerita Nuh berakhir dengan (ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ, tsumma aghraqnaa l-aakhariina) yang berarti "kemudian, Kami tenggelamkan yang lain" di 37:82, dan cerita Lut berakhir dengan (ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ, tsumma dammarnaa l-aakhariina) yang berarti "kemudian, Kami binasakan yang lain" di 37:136. Cerita Yunus berakhir dengan kenikmatan bagi orang-orang yang beriman. Cerita Nuh, Ibrahim, Musa dan Harun, serta Ilyas masing-masing memuat rumusan salam di 37:79, 37:109, 37:120, dan 37:130, sedangkan cerita Lut dan cerita Yunus tidak memuatnya.

Surah ini memakai kata waktu yang sama di dua tempat lain, yaitu 37:174 dan 37:178, dalam perintah berpaling dari orang-orang yang tadi disebut mengingkari di 37:170. Pemakaian itu berbeda konteks dengan 37:148, dan tidak satu pun dari ketiganya memberi ukuran waktu. Dalam urutan surah, 37:148 ditulis tepat sebelum 37:149 membuka pertanyaan kepada orang-orang yang menisbahkan anak kepada Tuhan, sehingga cerita para rasul di surah ini selesai pada sebuah penutup yang memuat iman dan kenikmatan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini mencatat iman orang-orang itu dengan satu kata kerja, tanpa menyebut kepada apa mereka beriman dan tanpa mengutip ucapan mereka. Di 10:98 kata kerja beriman untuk kaum Yunus juga tidak diikuti sasaran. Pembaca yang cepat menilai isi keyakinan orang lain dapat memperhatikan bahwa Allah mencatat peristiwa iman ini tanpa rumusan. Apakah pembaca bersedia menerima catatan sependek itu sebagai kabar tentang iman seseorang, atau masih menunggu rumusan yang bisa diperiksanya sendiri?
  • Ayat ini menyambung kata kerja beriman dengan kata kerja memberi kenikmatan lewat huruf fa, yang menandai urutan dan tidak memuat kata karena. Pelaku pemberiannya Kami, dan penerimanya orang-orang yang tadi beriman. Pembaca dapat membaca urutan itu sebagai kabar tentang apa yang menyusul sesudah iman, tanpa menjadikannya rumus yang berlaku untuk setiap keadaan. Bagaimana pembaca menimbang pemberian Allah dalam hidupnya bila ayat ini hanya menaruh pemberian itu sesudah iman dan tidak menyebut sebab lain yang harus dipenuhi lebih dulu?
  • Kenikmatan di ayat ini disebut berlangsung sampai satu waktu yang ukurannya tidak ditulis, dan apa yang terjadi pada akhir waktu itu tidak disebut. Pelaku pemberiannya Kami, yaitu Allah yang berbicara. Pembaca yang sedang menikmati sesuatu dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyebut batas dan tidak menyebut tanggal batas itu. Di 37:174 dan 37:178 kata waktu yang sama muncul dalam konteks lain, dan juga tanpa ukuran. Bagaimana pembaca menikmati sesuatu yang disebut berbatas oleh Tuhan, padahal tanggal batasnya tidak diberikan?
  • Kata kerja memberi kenikmatan dalam bentuk Kami dipakai di 26:205 untuk kenikmatan bertahun-tahun yang disusul 26:207 dengan kalimat bahwa kenikmatan itu tidak mencukupkan apa pun bagi mereka, dan dipakai di 37:148 untuk kenikmatan yang datang sesudah iman. Konteks kedua ayat berbeda, dan keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa pemberian yang tampak sama di mata penerimanya dapat berada dalam dua cerita yang berlainan. Pada pemberian apa dalam hidup pembaca masih menunggu ayat sesudahnya untuk mengetahui artinya, dan siapa yang menurut pembaca menyusun cerita pemberian itu, Allah atau pembaca sendiri?
  • Cerita Nuh di 37:82 dan cerita Lut di 37:136 ditutup dengan kata kerja Kami atas orang-orang lain, yaitu menenggelamkan dan membinasakan, sedangkan cerita Yunus di 37:148 ditutup dengan iman dan kenikmatan. Ketiga cerita itu berbeda keadaannya, dan masing-masing ditulis menurut isinya sendiri. Pembaca yang terbiasa mengira akhir sebuah cerita sudah bisa ditebak dari cerita sebelumnya dapat melihat bahwa Allah menutup tiga cerita dalam satu surah dengan tiga penutup yang berlainan. Penutup mana yang pembaca harapkan untuk ceritanya sendiri, dan apakah harapan itu muncul dari ayat atau dari kebiasaannya menebak?
  • Dalam rangkaian 37:145 sampai 37:148, kata kerja iman muncul satu kali, yaitu mereka beriman, dan kata kerja itu diapit oleh kata kerja Kami: mengutus di sebelumnya dan memberi kenikmatan di sesudahnya. Para penerima pengutusan itu menurut urutan ayat menjadi pelaku kata kerja tersebut. Pembaca dapat menimbang bagian mana dari ceritanya yang memang miliknya untuk dikerjakan, dan bagian mana yang dikerjakan Allah di sekelilingnya. Bila hidup pembaca ditulis sebagai ayat, kata kerja apa yang menjadi bagiannya, dan apakah kata kerja itu ditulis sebelum atau sesudah kata kerja Tuhan?