وَلَدَ اللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Allah beranak,” dan sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَدَ اللَّهُwalada llaahuAllah beranak
  2. وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَwa-innahum la-kaadzibuunadan sesungguhnya mereka benar-benar pendusta

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَلَدَwaladamelahirkan
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. وَإِنَّهُمْwa-innahumdan sesungguhnya mereka
  4. لَكَاذِبُونَla-kaadzibuunabenar-benar para pendusta

Inti bacaan

Susunan (وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ, wa-innahum la-kaadzibuuna) muncul tiga kali di Al-Qur'an (6:28, 23:90, 37:152), dan hanya di 37:152 penilaian itu menyusul sebuah ucapan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَدَ, walada) yang berarti "beranak", kata kerja lampau berakar و-ل-د, dan pelakunya (اللَّهُ, llaahu) yang berarti "Allah". Susunan (وَلَدَ اللَّهُ, walada llaahu) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Di 112:3 akar yang sama dipakai untuk Allah dalam bentuk yang dinafikan, (لَمْ يَلِدْ, lam yalid) yang berarti "Dia tidak beranak", dan terjemahan memakai "beranak" di kedua ayat itu. Bila pelakunya perempuan, akar ini diterjemahkan "melahirkan", seperti (أَأَلِدُ, a-alidu) di 11:72 yang berarti "apakah aku akan melahirkan" dan (وَلَدْنَهُمْ, waladnahum) di 58:2 yang berarti "melahirkan mereka". Terjemahan 37:152 tidak menambahkan kata "anak" sebagai pelengkap, sebab Arabnya memuat kata kerja saja.

Klaim yang sama dikutip dengan kata kerja lain di ayat-ayat lain. Di 2:116 tertulis (اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا, ttakhadza llaahu waladan) yang berarti "Allah mengambil anak", dan susunan itu muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 2:116, 10:68, dan 18:4. Dengan Ar-Rahman sebagai pelaku, (اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا, ttakhadza r-rahmaanu waladan) muncul dua kali di dua surah, yaitu 19:88 dan 21:26. Di kelima ayat itu kata kerjanya ittakhadza dan kata bendanya (وَلَدًا, waladan) ditulis tegas, sedangkan di 37:152 kata kerjanya walada dan kata benda itu tidak ada.

Kata (لَكَاذِبُونَ, la-kaadzibuuna) yang berarti "benar-benar pendusta" berakar ك-ذ-ب dan memakai huruf (لَ, la) yang menegaskan. Kata ini berasal dari bentuk dasar kata kerja yang berarti "berdusta", yaitu berkata tidak benar, sehingga pelakunya disebut "pendusta". Bentuk yang berarti "mendustakan", yaitu menolak kebenaran dari pihak lain, memakai huruf tengah yang digandakan dan tidak dipakai di ayat ini. Bentuk persis la-kaadzibuuna muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 6:28, 9:42, 9:107, 16:86, 23:90, 29:12, 37:152, 59:11, dan 63:1. Susunan (وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ, wa-innahum la-kaadzibuuna) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 6:28, 23:90, dan 37:152. Di tiga ayat itu penilaian "pendusta" datang sesudah kalimat tentang mereka, yaitu perbuatan yang akan diulangi andai mereka dikembalikan, (وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا, wa-law rudduu la-'aaduu) yang berarti "dan sekiranya mereka dikembalikan, tentu mereka mengulangi", di 6:28, kebenaran yang didatangkan kepada mereka, (أَتَيْنَاهُمْ بِالْحَقِّ, ataynaahum bi-l-haqqi) yang berarti "Kami telah mendatangkan kepada mereka kebenaran", di 23:90, dan ucapan mereka di 37:152.

Kata ganti -hum pada (وَإِنَّهُمْ, wa-innahum) menunjuk pengucap yang sama dengan -hum di 37:151. Kalimat itu dibaca sebagai penilaian atas pengucap. Kalimat itu dibuka dengan huruf (وَ, wa) yang berarti "dan" dan menyambungnya sebagai pernyataan baru, serta menyebut mereka dengan kata ganti ketiga, sehingga terjemahan menutup tanda kutip sesudah kata beranak. Di 63:1 kata la-kaadzibuuna dikenakan pada orang yang ucapannya sendiri disebut benar isinya. Mereka berkata bahwa engkau Rasul Allah, ayat itu menyatakan bahwa Allah mengetahui engkau benar-benar Rasul-Nya, lalu menyatakan bahwa Allah bersaksi bahwa mereka benar-benar pendusta. Dari 63:1 tampak bahwa kata ini dapat melekat pada pengucap, tidak hanya pada isi ucapan, dan konteks 63:1 berbeda dari konteks 37:152 sehingga keduanya tidak disamakan.

Tafsiran

Ayat ini mengutip sebuah klaim yang pendek lalu menutupnya dengan penilaian atas pengucapnya. Klaim itu tidak disertai alasan, dan ayat tidak menjawabnya dengan argumen. Jawabannya berupa satu penilaian, dan uraiannya ditunda ke ayat-ayat sesudahnya.

Klaim ini tidak menyebut anak perempuan atau malaikat, sehingga hubungannya dengan dua pertanyaan di 37:149 dan 37:150 tidak dinyatakan oleh ayat. Klaim di sini lebih luas, dan pertanyaan di 37:153 kembali ke pasangan anak perempuan dan anak lelaki yang sudah muncul di 37:149.

Di 2:116, 10:68, dan 21:26 kutipan serupa disusul seruan kesucian dalam ayat yang sama, yaitu "Mahasuci Dia". Di surah ini seruan kesucian baru tiba di 37:159, "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan". Di antara kutipan dan seruan itu ada enam ayat, yaitu pertanyaan di 37:153 sampai 37:156, tuntutan kitab di 37:157, dan penyebutan nasab antara Dia dan jin di 37:158. Dengan begitu klaim ini dibiarkan berdiri sendiri lebih lama daripada di tiga ayat lain, dan ruang di antaranya diisi oleh pertanyaan kepada pengucapnya.

Penyangkalan atas akar kata kerja yang sama datang dari suara ayat sendiri di 112:3, sedangkan di sini kata kerja itu berada di dalam tanda kutip, di mulut pengucapnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kutipan di ayat ini terdiri atas satu kalimat pendek yang memuat nama Allah sebagai pokok dan tidak memuat satu alasan pun. Kalimat sependek itu mudah diulang dan mudah diingat, sementara alasan di sampingnya memerlukan lebih banyak kata. Ayat ini menaruh kalimat itu di dalam tanda kutip tanpa menambahkan apa-apa, sehingga pembaca melihatnya dalam keadaan telanjang. Pembaca dapat memperhatikan berapa banyak keyakinannya tentang Allah yang bisa dikutip dalam beberapa kata saja, dan berapa banyak di antaranya yang diingatnya bersama alasannya?
  • Nama Allah ada di dalam kalimat ini, tetapi kalimat itu milik mereka, dan tanda kutip memisahkannya dari suara ayat. Dengan pemisahan itu pembaca dapat melihat di mana sebuah kalimat tentang Allah berasal dari pihak lain. Dalam percakapan sehari-hari batas semacam itu jarang tertulis, dan kalimat tentang Tuhan berpindah dari satu mulut ke mulut lain sambil kehilangan tanda kutipnya. Dari kalimat-kalimat tentang Allah yang pernah pembaca dengar, mana yang masih bisa ditunjukkan di dalam tanda kutip siapa?
  • Di tiga ayat lain kutipan serupa disusul seruan "Mahasuci Dia" dalam ayat yang sama, sedangkan di sini seruan "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan" baru tiba di 37:159. Selama ayat-ayat di antaranya, kalimat "Allah beranak" tetap menggantung di hadapan pembaca. Jeda itu memberi ruang bagi pembaca untuk menjawab lebih dulu dengan pikirannya sendiri. Apa yang dipikirkan pembaca selama pertanyaan demi pertanyaan itu berlalu, dan apakah seruan kesucian, ketika tiba, terasa seperti jawaban atas sesuatu yang sudah disusun pembaca sendiri?
  • Penilaian "pendusta" di ayat ini tidak disertai uraian alasan. Pertanyaan di 37:153 sampai 37:156 dan tuntutan kitab di 37:157 mengisi ruang sesudahnya. Pembaca yang menunggu pembuktian dari pihak yang menilai menemukan bahwa pembuktian itu diminta dari pihak yang dinilai, yaitu dengan kalimat "jika kalian orang-orang yang benar". Letak beban itu mengubah cara pembaca membaca penilaian tersebut, sebab penilaian datang lebih dulu dan tuntutan menyusul. Bagaimana rasanya ketika sebuah ucapan tentang Tuhan sudah dinilai, lalu pengucapnya diminta menunjukkan dasarnya?
  • Di 63:1 kata pendusta dikenakan pada orang yang ucapannya sendiri disebut benar isinya. Mereka berkata bahwa engkau Rasul Allah, ayat itu menyatakan bahwa Allah mengetahui engkau benar-benar Rasul-Nya, lalu menyatakan bahwa Allah bersaksi bahwa mereka benar-benar pendusta. Konteksnya berbeda dari 37:152, tempat ucapannya sendiri disebut kebohongan, sehingga keduanya tidak disamakan. Dari 63:1 pembaca melihat bahwa kata ini dapat menyangkut pengucap, tidak hanya isi ucapan. Pembaca yang menilai orang lain dari isi kalimatnya saja dapat bertanya, apakah penilaiannya sudah sampai kepada pengucapnya?
  • Klaim yang sama dituturkan dengan kata kerja beranak di sini dan dengan kata kerja ittakhadza di 2:116, 10:68, 18:4, 19:88, dan 21:26. Pokoknya sama, tetapi rumusannya berganti, dan jawaban dalam ayat-ayat itu ikut berganti. Di 112:3 jawabannya memakai akar kata kerja yang sama dengan kutipan ini, "Dia tidak beranak", sedangkan di 10:68 kalimat "Dia berkecukupan" menyusul rumusan "mengangkat anak". Pembaca yang menemui satu keyakinan dalam rumusan yang berbeda dapat bertanya, apakah jawaban yang dipegangnya untuk satu rumusan sudah diperiksanya untuk rumusan lainnya?