أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ
Ataukah kalian mempunyai kekuasaan yang jelas?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌam lakum sulthaanun mubiinunataukah kalian mempunyai kekuasaan yang jelas
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَمْamataukah
- لَكُمْlakumbagi kalian
- سُلْطَانٌsulthaanunkekuasaan
- مُبِينٌmubiinunyang nyata
Inti bacaan
Susunan (سُلْطَانٍ مُبِينٍ, sulthaanin mubiinin) muncul delapan kali di Al-Qur'an (11:96, 14:10, 23:45, 27:21, 40:23, 44:19, 51:38, 52:38) dalam lingkup kata depan bi-, sedangkan di 37:156 bentuk nominatifnya, (سُلْطَانٌ مُبِينٌ, sulthaanun mubiinun), dimiliki lewat lakum.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَمْ, am) yang berarti "ataukah". Kata am menyambung pertanyaan ini ke pertanyaan sebelumnya sebagai pilihan lain, dan terjemahan memakai "ataukah" di semua kemunculannya. Di surah ini kata itu juga membuka 37:150, (أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ, am khalaqnaa l-malaa'ikata) yang berarti "ataukah Kami menciptakan malaikat", sesudah 37:149 yang dibuka dengan huruf tanya. Pola yang sama berulang di sini, yaitu 37:155 dibuka dengan huruf tanya dan 37:156 dengan am.
Susunan (أَمْ لَكُمْ, am lakum) yang berarti "ataukah kalian mempunyai" muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, dalam tiga surah, yaitu 37:156, 54:43, 68:37, dan 68:39. Di keempatnya ditanyakan sesuatu yang dapat ditunjukkan kepada orang lain, yaitu (سُلْطَانٌ, sulthaanun) di sini, (بَرَاءَةٌ, baraa'atun) yang berarti "jaminan kebebasan" di 54:43, (كِتَابٌ, kitaabun) yang berarti "kitab" di 68:37, dan (أَيْمَانٌ, aymaanun) yang berarti "sumpah" di 68:39.
Kata sulthaanun berakar س-ل-ط dan tidak diterjemahkan dengan satu padanan. Bila yang dibicarakan daya atas pihak lain, terjemahannya "kekuasaan". Di surah ini, (وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana lanaa 'alaykum min sulthaanin) yang berarti "dan kami tidak mempunyai kekuasaan apa pun atas kalian" di 37:30 memakai kata ini untuk daya atas pihak lain, yang ditandai (عَلَيْكُمْ, 'alaykum) yang berarti "atas kalian". Di 28:35, (وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا, wa-naj'alu lakumaa sulthaanan) yang berarti "dan Kami akan berikan kepada kalian berdua kekuasaan", kata itu diberikan kepada seseorang dengan huruf (لَ, la) pada lakumaa, seperti lakum di ayat ini.
Susunan sulthaan diikuti mubiin yang berakhiran -in atau -un muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu 11:96, 14:10, 23:45, 27:21, 37:156, 40:23, 44:19, 51:38, dan 52:38. Di delapan ayat selain 37:156, bentuk (سُلْطَانٍ مُبِينٍ, sulthaanin mubiinin) berada dalam lingkup kata depan (بِ, bi-) yang berarti "dengan", baik langsung, seperti (بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ, bi-sulthaanin mubiinin) di 44:19, maupun lewat sambungan "dengan tanda-tanda Kami dan" di 11:96, 23:45, dan 40:23. Di 37:156 tidak ada kata depan itu dan tidak ada kata kerja yang membawa sesuatu, dan sulthaanun itu dimiliki, ditandai lakum. Itu sebabnya terjemahan memakai "kekuasaan" di sini.
Di 10:68 sulthaan berada dalam satu ayat dengan klaim tentang anak dan dikenai penyangkalan, (إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَٰذَا, in 'indakum min sulthaanin bi-haadzaa) yang berarti "kalian tidak mempunyai alasan kuat tentang ini". Di sana kata itu terbaca sebagai dasar bagi sebuah klaim. Dengan begitu ayat ini terbuka pada dua bacaan, yaitu wewenang untuk menetapkan, mengingat (تَحْكُمُونَ, tahkumuuna) di 37:154, dan dasar bagi klaim, mengingat 10:68 dan tuntutan kitab di 37:157. Ayat ini sendiri tidak memutuskan di antara keduanya.
Kata (مُبِينٌ, mubiinun) berakar ب-ي-ن dan menerangkan sulthaanun, dan keduanya tanpa kata sandang, sehingga yang ditanyakan kekuasaan apa saja yang jelas, tidak satu kekuasaan tertentu.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian pertanyaan sebelum tuntutan. Urutannya naik, yaitu 37:154 menanyakan keadaan dan cara menetapkan, 37:155 menanyakan kesediaan mengambil pelajaran, dan 37:156 menanyakan apakah ada kekuasaan yang jelas, lalu 37:157 menuntut kitab. Tiap langkah meminta sesuatu yang lebih konkret daripada langkah sebelumnya.
Karena dibuka dengan "ataukah", ayat ini menjadi pilihan lain dari 37:155, yaitu mengambil pelajaran atau menunjukkan kekuasaan yang jelas. Jawabannya tidak dicatat, dan 37:157 meneruskan dengan meminta kekuasaan itu dalam bentuk sesuatu yang dapat dibawa, yaitu kitab.
Di 10:68 klaim yang serupa dengan 37:152 diikuti pernyataan bahwa pada mereka tidak ada dasar. Di 37:156 hal itu ditanyakan. Kedua ayat berbeda bentuk, pernyataan di sana dan pertanyaan di sini, sehingga tidak disamakan, tetapi keduanya menaruh dasar klaim sebagai pokok persoalan.
Susunan yang sama dengan 54:43, 68:37, dan 68:39 menanyakan jaminan, kitab, dan sumpah. Di 37:156 benda yang ditanyakan paling longgar karena sulthaan tidak menyebut jenisnya, dan ayat sesudahnya menuntut kitab.
Empat ayat berturut-turut, 37:154 sampai 37:157, memakai sapaan "kalian", lalu 37:158 kembali ke "mereka" dengan kata kerja yang menjadikan nasab antara Dia dan jin. Ayat ini terletak di tengah bagian sapaan itu, sesudah pertanyaan tentang cara dan kesediaan, dan sebelum tuntutan yang ditujukan langsung kepada yang disapa.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menanyakan kekuasaan yang jelas atas apa yang dikatakan tentang Allah. Sebuah pendapat tentang Allah dapat dimiliki tanpa wewenang apa pun untuk menetapkannya, dan ayat ini menaruh kedua hal itu berjauhan. Pembaca dapat memisahkan dalam dirinya apa yang dipegang sebagai pendapat dan apa yang dipegang sebagai pengetahuan yang punya dasar. Untuk keyakinan tentang Tuhan yang paling sering diucapkannya, dasar apa yang bisa ditunjukkan pembaca kepada orang lain?
- Kata kekuasaan di ayat ini dapat dibaca sebagai wewenang untuk menetapkan, mengingat 37:154, atau sebagai dasar bagi klaim, mengingat 10:68 dan 37:157. Ayat tidak memutuskan di antara keduanya. Pembaca yang menahan kedua bacaan itu sekaligus menemukan bahwa keduanya menuju tempat yang sama, yaitu hak untuk berbicara tentang Dia. Dari mana hak itu datang bagi pembaca, dari kuasa untuk menetapkan, dari dasar yang dapat ditunjukkan, atau dari keduanya?
- Di 10:68, sesudah klaim tentang anak, ayat itu menyebut Dia berkecukupan dan memiliki apa yang di langit dan di bumi, lalu menyatakan kepada pendengar bahwa dasar itu tidak ada pada mereka. Di 37:156 tidak ada pernyataan semacam itu, pendengar hanya ditanya. Dasar yang sama dipersoalkan sebagai kabar di satu tempat dan sebagai pertanyaan di tempat lain. Pembaca yang diberi tahu bahwa dasarnya tidak ada dapat membantah, sedangkan pembaca yang ditanya apakah dasarnya ada harus memeriksa dirinya sendiri. Mana yang lebih sering menahan pembaca di tempatnya, diberi tahu atau ditanya?
- Empat pertanyaan berturut-turut naik dari keadaan, yaitu apa yang terjadi pada kalian, ke cara, yaitu bagaimana kalian menetapkan, ke kesediaan, yaitu tidakkah kalian mengambil pelajaran, sampai ke kekuasaan yang jelas. Sesudahnya 37:157 menuntut kitab. Pembaca yang membacanya berurutan dapat memperhatikan bahwa ruang untuk menjawab dengan kata-kata umum menyempit pada tiap langkah. Pada langkah mana pembaca biasanya berhenti menjawab ketika ditanya tentang keyakinannya sendiri?
- Di empat ayat "ataukah kalian mempunyai" diikuti jaminan, kitab, sumpah, dan kekuasaan yang jelas, semuanya sesuatu yang dapat diperlihatkan kepada pihak ketiga. Dari keyakinan tentang Tuhan yang dipegang pembaca, mana yang dapat diperlihatkan kepada pihak ketiga tanpa meminta orang itu percaya lebih dulu? Pertanyaan ini mengubah keyakinan dari sesuatu yang dirasakan menjadi sesuatu yang bisa diletakkan di atas meja.
- Bila kekuasaan itu dibaca sebagai dasar bagi klaim, pertanyaan ini meminta dasar itu dari pihak yang berkata "Allah beranak". Pembaca yang menanggapi sebuah klaim dapat memperhatikan bahwa ayat ini, sesudah menilai klaim itu di 37:151 dan 37:152, menanyakan dasarnya. Pada bacaan itu penanggap tidak perlu lebih dulu membuktikan klaim itu salah. Dalam perbincangan tentang Allah yang pernah dialami pembaca, siapa yang lebih dulu diminta menunjukkan dasarnya, pengklaim atau penanggap?