وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Dan mereka menjadikan nasab antara Dia dan jin. Sungguh, jin sungguh telah mengetahui bahwa mereka pasti akan dihadirkan,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًاwa-ja'aluu baynahu wa-bayna l-jinnati nasabandan mereka menjadikan nasab antara Dia dan jin
- وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَwa-la-qad 'alimati l-jinnatu innahum la-muhdharuunadan sungguh, jin sungguh telah mengetahui bahwa mereka pasti akan dihadirkan
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَجَعَلُواwa-ja'aluudan mereka menjadikan
- بَيْنَهُbaynahuantaranya
- وَبَيْنَwa-baynadan antara
- الْجِنَّةِl-jinnatijin
- نَسَبًاnasabannasab
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- عَلِمَتِ'alimatimengetahui
- الْجِنَّةُl-jinnatugila
- إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
- لَمُحْضَرُونَla-muhdharuunabenar-benar orang-orang yang dihadirkan
Inti bacaan
Bentuk (نَسَبًا, nasaban) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 25:54 dan 37:158.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَجَعَلُوا, wa-ja'aluu) yang berarti "dan mereka menjadikan". Huruf (وَ, wa-) berarti "dan", dan kata kerja (جَعَلُوا, ja'aluu) berakar ج-ع-ل dengan pelaku jamak yang tidak disebut namanya. Susunan (وَجَعَلُوا, wa-ja'aluu) muncul delapan kali di enam surah, yaitu 6:100, 6:136, 13:33, 14:30, 27:34, 37:158, 43:15, dan 43:19. Terjemahan memakai "menjadikan" di 6:100, 13:33, 43:15, 43:19, dan 37:158, lima ayat yang menuturkan sesuatu yang mereka lekatkan pada Allah atau pada hamba-hamba-Nya: jin sebagai sekutu di 6:100, sekutu-sekutu di 13:33, sebagian hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya di 43:15, malaikat sebagai perempuan di 43:19, dan di ayat ini nasab.
Kata (بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ, baynahu wa-bayna l-jinnati) yang berarti "antara Dia dan jin" mengulang (بَيْنَ, bayna) dua kali, satu untuk tiap pihak. Akhiran (هُ, -hu) yang berarti "Dia" merujuk pada Allah yang disebut di 37:152, (وَلَدَ اللَّهُ, walada llaahu) yang berarti "Allah beranak". Kata (الْجِنَّةِ, l-jinnati) berakar ج-ن-ن. Dengan kata sandang al-, bentuk (الْجِنَّةِ, l-jinnati) muncul empat kali di empat surah, yaitu 11:119, 32:13, 37:158, dan 114:6, dan di 114:6 kata itu berpasangan dengan manusia dalam (مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ, mina l-jinnati wa-n-naasi) yang berarti "dari jin dan manusia". Tanpa kata sandang, lema yang sama berarti kegilaan, seperti (جِنَّةٌ, jinnatun) di 23:25 dan 34:8. Karena itu terjemahan 37:158 memakai "jin" di kedua tempat dalam ayat ini, dan bentuk (الْجِنَّةُ, l-jinnatu) yang kedua hanya muncul di ayat ini.
Kata (نَسَبًا, nasaban) yang berarti "nasab" berakar ن-س-ب. KBBI mencatat "nasab" yang berarti keturunan, terutama dari pihak bapak, dan juga pertalian keluarga. Bentuk (نَسَبًا, nasaban) muncul dua kali di dua surah, yaitu 25:54 dan 37:158. Di 25:54, (فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا, fa-ja'alahu nasaban wa-shihran) yang berarti "lalu Dia menjadikannya memiliki keturunan dan kekerabatan pernikahan", pelakunya adalah Dia yang menciptakan manusia dari air. Di 37:158 kata kerja yang sama dipakai dengan pelaku dan tempat yang berbeda: mereka yang menjadikan nasab, dan letaknya antara Dia dan jin. Bentuk jamaknya, (أَنْسَابَ, ansaaba), muncul sekali di 23:101, (فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ, fa-laa ansaaba baynahum) yang berarti "tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka". Terjemahan 37:158 mempertahankan "nasab" tanpa tambahan "hubungan", karena kata itu sudah memuat keturunan dan pertalian keluarga, dan ayat ini tidak memilih salah satunya. Ayat ini juga tidak memakai (وَلَدَ, walada) seperti 37:152, sehingga siapa yang menjadi anak siapa tidak dinyatakan.
Kalimat kedua dibuka dengan (وَلَقَدْ عَلِمَتِ, wa-la-qad 'alimati) yang berarti "dan sungguh telah mengetahui". Kata kerja (عَلِمَتِ, 'alimati) berakar ع-ل-م dan berbentuk perempuan tunggal, sesuai dengan (الْجِنَّةُ, l-jinnatu) sebagai pelakunya. Bentuk persis 'alimati hanya muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Isi pengetahuan itu ditunjuk oleh (إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ, innahum la-muhdharuuna) yang berarti "bahwa mereka pasti akan dihadirkan", dengan (لَ, la-) yang berarti "pasti". Akhiran (هُمْ, -hum) berbentuk jamak laki-laki, sedangkan l-jinnatu dan 'alimati berbentuk perempuan tunggal. Perbedaan bentuk itu terlihat di teks, tetapi ayat tidak menyatakan siapa yang dimaksud -hum, jin atau pihak yang menjadikan nasab itu, sehingga terjemahan memakai "mereka" tanpa penjelasan tambahan.
Kata (مُحْضَرُونَ, muhdharuuna) yang berarti "yang dihadirkan" berakar ح-ض-ر. Bentuk itu muncul tujuh kali di empat surah, yaitu 30:16, 34:38, 36:32, 36:53, 36:75, 37:127, dan 37:158. Dengan (لَ, la-) di depannya, (لَمُحْضَرُونَ, la-muhdharuuna) muncul dua kali, yaitu di 37:127 dan 37:158. Terjemahan memakai "dihadirkan" di ketujuh ayat itu. Di 36:53, (جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ, jamii'un ladaynaa muhdharuuna) yang berarti "semuanya dihadirkan kepada Kami", tujuan penghadiran disebut, sedangkan di 37:158 tujuan itu tidak disebut.
Tafsiran
Ayat ini memasangkan satu tuduhan tentang perbuatan dengan satu pernyataan tentang pengetahuan. Bagian pertama menuturkan apa yang mereka lakukan, yaitu menjadikan nasab antara Dia dan jin, dan bagian kedua menyebut apa yang diketahui jin. Bagian pertama berbentuk tuturan pengisah tanpa kata kerja ucapan, berbeda dari 37:152 yang mengutip ucapan mereka dengan (وَلَدَ اللَّهُ, walada llaahu). Di sini perbuatan menjadikan disebut, dan ucapannya tidak dikutip.
Jin muncul di Al-Qur'an dalam beberapa kedudukan. Di 6:100 mereka dijadikan sekutu bagi Allah, di 34:41 malaikat berkata bahwa mereka dahulu menyembah jin, dan di 114:6 jin disebut berdampingan dengan manusia. Ayat 37:158 menaruh jin pada kedudukan lain, yaitu sebagai pihak yang mengetahui. Dari mana pengetahuan itu berasal dan apa yang jin lakukan dengannya tidak disebut. Pernyataannya sendiri tegas, karena dibuka dengan (وَلَقَدْ, wa-la-qad) yang berarti "dan sungguh".
Ayat 37:127 memuat (فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ, fa-innahum la-muhdharuuna) yang berbunyi sama pada bagian akhirnya, dan di sana 37:128 langsung memuat pengecualian. Di 37:158 pengecualian itu datang dua ayat sesudahnya, di 37:160, dengan 37:159 di tengah sebagai pernyataan tentang Allah. Susunan ayat-ayat ini mengisi jarak antara tuduhan dan pengecualian dengan penyucian.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 37:158 menyebut jin sebagai pihak yang mengetahui sesuatu tentang tuduhan yang dikenakan kepadanya, yaitu bahwa mereka pasti akan dihadirkan. Jin tidak dikatakan membantah nasab itu dan tidak dikatakan membenarkannya. Ayat hanya mencatat bahwa jin mengetahui, sedangkan pihak yang menjadikan nasab antara Dia dan jin berbicara tanpa mengutip pengetahuan itu. Orang yang namanya, kedudukannya, atau ceritanya dipakai pihak lain untuk membangun klaim dapat bertanya apakah ada hal yang ia ketahui dan menggoyahkan klaim itu, dan apakah pernah ada yang meminta keterangannya sebelum klaim itu dipasang atas namanya?
- Di 25:54 Dia yang menciptakan manusia dari air menjadikan manusia memiliki nasab dan kekerabatan pernikahan, dan di 23:101 nasab itu tidak ada lagi di antara mereka pada hari sangkakala ditiup. Ikatan keluarga dengan demikian disebut sebagai sesuatu yang Dia jadikan bagi manusia, dan sebagai sesuatu yang tidak ada lagi pada hari itu. Di 37:158 nasab dipasang antara Dia dan jin oleh pihak lain, di luar apa yang disebut 25:54. Ikatan apa yang paling diandalkan pembaca, entah garis keluarga, kelompok, atau nama, dan apakah ikatan itu masih tersisa pada hari yang disebut 23:101?
- Kata dihadirkan di 37:158 sama dengan yang dipakai di 36:53, tempat semuanya dihadirkan kepada Kami, dan di 30:16 serta 34:38, tempat orang-orang yang kufur atau yang berusaha melemahkan tanda-tanda Kami dihadirkan dalam azab. Tujuan penghadiran di 37:158 tidak disebut, sedangkan ayat-ayat lain menyebut dua tempat, yaitu kepada Kami dan ke dalam azab. Pembaca yang membayangkan dirinya dihadirkan tanpa diberi tahu lebih dulu apa yang menunggu dapat bertanya, apakah pikirannya akan lebih banyak tertuju kepada Dia yang menghadirkan atau kepada apa yang akan ditanyakan kepadanya?
- Dalam rangkaian ini 37:149 dan 37:153 membicarakan anak-anak perempuan, 37:152 mengutip bahwa Allah beranak, dan 37:158 menyebut nasab dengan jin. Benda yang dilekatkan pada Allah berganti dari ayat ke ayat, sedangkan bentuknya tetap: sesuatu dipasang pada Allah, lalu ayat berikutnya menanyakan atau membantahnya. Pembaca dapat bertanya apakah membantah satu klaim sudah menyelesaikan persoalannya, bila klaim berikutnya memakai bentuk yang sama dan hanya mengganti isinya, dan apakah bentuk itu sendiri perlu ditinjau sebelum isinya satu per satu?
- Sesudah pengetahuan jin di 37:158, ayat berikutnya tidak menyusun argumen balasan. Ayat itu menyatakan Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan, dan pernyataan itu menempati tempat yang di ayat-ayat sebelumnya diisi pertanyaan dan tantangan. Urutan ini memperlihatkan satu cara menanggapi klaim tentang Allah dalam teks: pernyataan tentang siapa Dia berdiri tanpa perdebatan atas isi klaim dalam ayat itu. Pembaca yang sedang menghadapi kalimat keliru tentang Allah dapat bertanya, apakah langkah pertamanya biasanya membantah isi kalimat itu, atau menyatakan siapa Dia menurut ayat-ayat yang dikenalnya?
- Pelaku di 37:158 hanya disebut mereka, dan akhiran -hum pada bagian kedua tidak menyebut siapa yang dihadirkan. Dua kekaburan itu membuat pembaca membaca ayat tanpa dapat menunjuk satu orang atau satu golongan. Ayat 6:100 dan 43:15 memakai kata kerja yang sama dan juga tidak menamai pelakunya, sehingga rumus ini terbaca sebagai pola yang dikenali dari bentuknya, yaitu sesuatu diletakkan di sisi Allah oleh pihak yang tidak bernama. Pembaca dapat bertanya apakah di antara hal yang dipegangnya ada yang berbentuk sama, yaitu menempatkan seseorang atau sesuatu di sisi Allah tanpa pernah menyebutnya demikian, dan bagaimana ia dapat memastikannya?