سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. سُبْحَانَ اللَّهِsubhaana llaahiMahasuci Allah
  2. عَمَّا يَصِفُونَ'ammaa yashifuunadari apa yang mereka sifatkan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
  2. اللَّهِllaahiAllah
  3. عَمَّا'ammaadari apa yang
  4. يَصِفُونَyashifuunamereka sifatkan

Inti bacaan

Susunan (سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ, subhaana llaahi 'ammaa yashifuuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:91 dan 37:159.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (سُبْحَانَ, subhaana) yang berarti "Mahasuci", dari akar س-ب-ح, lalu (اللَّهِ, llaahi) yang berarti "Allah". Susunan (سُبْحَانَ اللَّهِ, subhaana llaahi) muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu 12:108, 21:22, 23:91, 27:8, 28:68, 30:17, 37:159, 52:43, dan 59:23. Dengan (عَمَّا, 'ammaa) sesudahnya, susunan itu muncul empat kali di empat surah, yaitu 23:91, 37:159, 52:43, dan 59:23, dan terjemahan memakai "Mahasuci" di keempatnya. Terjemahan itu sama dengan yang dipakai di 21:22, 37:180, dan 43:82 untuk bentuk yang berdekatan.

Bentuk (سُبْحَانَكَ, subhaanaka) yang berarti "Mahasuci Engkau" memperlihatkan perbedaan arah bicara. Di 25:18 dan 34:41 kata itu diucapkan kepada Allah oleh pihak yang ditanya-Nya, sebagai jawaban kepada-Nya. Di 37:159 Allah disebut dengan kata ganti ketiga, (اللَّهِ, llaahi), sehingga tidak ada pihak yang diajak bicara dalam ayat ini dan terjemahan memakai "Allah", tidak "Engkau".

Kata (عَمَّا, 'ammaa) yang berarti "dari apa yang" tersusun dari (عَنْ, 'an) yang berarti "dari" dan (مَا, maa) yang berarti "apa yang", yang menyatu menjadi satu kata. Kata (يَصِفُونَ, yashifuuna) yang berarti "mereka sifatkan" berakar و-ص-ف dan berbentuk kata kerja untuk banyak orang yang dibicarakan, tidak untuk yang diajak bicara. Bentuk (يَصِفُونَ, yashifuuna) muncul tujuh kali di lima surah, yaitu 6:100, 21:22, 23:91, 23:96, 37:159, 37:180, dan 43:82. Enam di antaranya berbunyi (عَمَّا يَصِفُونَ, 'ammaa yashifuuna) dan jatuh sesudah penyucian: 6:100, 21:22, 23:91, 37:159, 37:180, dan 43:82. Satu lainnya, 23:96, berbunyi (نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ, nahnu a'lamu bi-maa yashifuuna) yang berarti "Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan". Terjemahan memakai "sifatkan" di 21:22, 23:91, 23:96, 37:180, dan 43:82 juga.

Akar yang sama muncul sebagai kata benda di 6:139, (سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ, sa-yajziihim washfahum) yang berarti "Kelak Dia akan membalas mereka atas penyifatan mereka". Karena itu "sifatkan" di 37:159 sepadan dengan "penyifatan" di 6:139, dan keduanya menyebut perbuatan menyifati. Isi sifat yang dimaksud tidak disebut di ayat ini. Kata kerjanya hanya menyatakan bahwa ada yang disifatkan, dan penyucian jatuh pada jarak antara Allah dan sifat itu.

Pasangan (سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ, subhaanahu wa-ta'aalaa) muncul enam kali di enam surah, yaitu 6:100, 10:18, 16:1, 17:43, 30:40, dan 39:67. Di 6:100, (سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ, subhaanahu wa-ta'aalaa 'ammaa yashifuuna) yang berarti "Mahasuci Dia, dan Dia jauh lebih tinggi dari apa yang mereka gambarkan" menambahkan kata kerja kedua, (وَتَعَالَىٰ, wa-ta'aalaa) yang berarti "dan Dia jauh lebih tinggi". Di 37:159 penyucian berdiri sendiri tanpa kata kerja kedua itu, sehingga terjemahan hanya memuat "Mahasuci" dan tidak menambahkan "tinggi".

Tanda koma di ujung terjemahan menandai kalimat yang berlanjut ke 37:160, yang dibuka dengan (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali".

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian klaim tentang Allah dengan satu pernyataan yang tidak ditujukan kepada siapa pun. Dari 37:149 sampai 37:158 ayat-ayat memuat pertanyaan, kutipan, dan tantangan kepada pihak yang membuat klaim, lalu 37:159 beralih ke kalimat tentang Allah dalam kata ganti ketiga, tanpa menyapa mereka dan tanpa menjawab klaim satu per satu. Ayat 23:91 memakai susunan yang sama sesudah sebuah argumen: seandainya ada tuhan lain bersama-Nya, setiap tuhan akan membawa apa yang diciptakannya dan sebagian akan mengalahkan sebagian yang lain. Ayat 37:159 tidak memuat argumen semacam itu. Pendahulunya adalah tuduhan nasab dan pengetahuan jin, dan penyucian datang tanpa uraian alasan.

Ayat 6:100 memuat dua unsur yang sama dengan rangkaian ini, yaitu jin dan penutup (عَمَّا يَصِفُونَ, 'ammaa yashifuuna). Di sana penutup datang dalam ayat yang sama dengan pernyataan bahwa mereka mengada-adakan anak laki-laki dan anak perempuan bagi-Nya tanpa pengetahuan. Dua tempat itu sama-sama menaruh penyucian segera sesudah klaim yang menyangkut jin dan keturunan. Frasa yang sama muncul lagi di 37:180, dua puluh satu ayat sesudah 37:159, dan mendahului salam kepada para rasul dan pujian di 37:181 dan 37:182.

Ayat ini berhenti dengan koma dalam terjemahan, sebab kalimatnya berlanjut ke 37:160. Kata kecuali di sana dapat dihubungkan ke apa yang mereka sifatkan di ayat ini atau ke penghadiran di 37:158, dan pembahasannya ada di ayat itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 37:159 menyebut Allah dengan kata ganti ketiga dan tidak menyapa siapa pun, sedangkan di 25:18 dan 34:41 penyucian diucapkan kepada Allah oleh pihak yang ditanya-Nya. Pembaca ayat ini berada pada posisi pendengar kalimat yang tidak ditujukan kepadanya dan tidak ditujukan kepada lawan bicara mana pun. Posisi itu memberi ruang untuk menyimak tanpa merasa sedang dituduh, karena tidak ada yang disapa dalam kalimat itu. Pembaca dapat bertanya bagaimana biasanya kalimat tentang Allah yang tidak ditujukan kepadanya diterima, dengan keinginan segera menanggapi atau dengan menyimak sampai selesai?
  • Di 6:139 Dia akan membalas mereka atas penyifatan mereka tentang apa yang ada di perut hewan ternak, sehingga cara orang menyifati sesuatu disebut sebagai perbuatan yang punya akibat. Ayat 37:159 memakai akar yang sama untuk Allah. Dua ayat itu berbeda pokoknya, yang satu tentang hewan ternak dan yang lain tentang Allah, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi akar yang sama dipakai di keduanya. Pembaca dapat bertanya apakah Allah pernah disifatinya dengan ukuran yang dipakai untuk manusia, dan apa yang tersisa dari sifat itu bila diukur dengan 37:159?
  • Di 23:96 perintah menolak keburukan dengan yang lebih baik disusul pernyataan bahwa Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Ayat itu tidak menyuruh membantah sifat satu per satu, dan 37:159 pun menutup rangkaian klaim tanpa menjawab klaim demi klaim. Pada dua ayat itu penyifatan disusul penyucian di 37:159 dan pernyataan bahwa Kami lebih mengetahui di 23:96, dan kefasihan membantah tidak disebut. Pembaca yang sering merasa wajib meluruskan setiap kalimat keliru tentang Allah dapat bertanya, kewajiban itu berasal dari ayat atau dari rasa tidak nyaman sendiri, dan apa yang tersisa bila 37:159 dinyatakan lebih dulu?
  • Kalimat tentang apa yang mereka sifatkan muncul dua kali dalam surah ini. Di 37:159 yang disucikan disebut dengan nama, Allah, dan di 37:180 dengan hubungan, Tuhanmu, Tuhan pemilik kedigdayaan. Jarak keduanya dua puluh satu ayat, dan di antaranya 37:171 sampai 37:173 menyebut perkataan Kami bagi hamba-hamba Kami para rasul dan pertolongan bagi mereka. Pembaca yang menyimak surah ini dari awal sampai akhir mendengar kalimat itu dua kali dengan sebutan yang berbeda. Apakah sebutan Tuhanmu di 37:180 terasa lebih dekat daripada Allah di 37:159, dan apa yang berubah dalam cara pembaca mendengar kalimat yang sama bila diucapkan sesudah kisah para rasul?
  • Terjemahan 37:159 berakhir dengan koma karena kalimatnya belum selesai, dan 37:160 membuka pengecualian. Penyucian di sini karena itu menjadi jeda sebelum ayat berikutnya menyebut siapa yang dikecualikan, dan belum menutup pembicaraan. Pembaca yang berhenti membaca di 37:159 membawa pulang pernyataan tentang jarak antara Allah dan sifat yang disematkan kepada-Nya, tetapi belum mengetahui apa yang menyusul. Bila sebuah pernyataan tentang Allah terhenti di tengah kalimat, apa yang biasanya diisikan pembaca sendiri ke bagian yang hilang, dan apakah isian itu akan sama dengan yang ditulis ayat berikutnya?
  • Akar yang sama dipakai kepada orang yang diajak bicara di 12:18 dan 21:112, dan keduanya menyebut Tuhan sebagai yang dimohonkan pertolongan atas apa yang disampaikan lawan bicara, yaitu Allah di 12:18 dan Ar-Rahman di 21:112. Di 37:159 pihak yang menyifati dibicarakan dari luar dan Allah disucikan, sedangkan di dua ayat itu pihak yang menyifati dihadapi langsung dan Tuhan dimintai pertolongan. Pembaca yang digambarkan keliru oleh orang di depannya dan pembaca yang menemukan gambaran keliru tentang Allah berada pada dua posisi yang berbeda. Pada posisi mana pembaca lebih sering berada, dan ke arah mana dirinya menoleh ketika gambaran itu sampai kepadanya?