وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ

dan sesungguhnya kamilah yang bertasbih.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَwa-innaa la-nahnu l-musabbihuunadan sesungguhnya kamilah yang bertasbih

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
  2. لَنَحْنُla-nahnusungguh kamilah
  3. الْمُسَبِّحُونَl-musabbihuunayang bertasbih

Inti bacaan

Kata (الْمُسَبِّحُونَ, l-musabbihuuna) muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 37:166, dan (الْمُسَبِّحِينَ, l-musabbihiina) muncul sekali, di 37:143.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَإِنَّا لَنَحْنُ, wa-innaa la-nahnu) yang berarti "dan sesungguhnya kamilah", rangkaian yang sama dengan pembuka 37:165. Dua ayat berurutan memakainya di surah ini, sedangkan di tempat lain rangkaian itu hanya ada di 15:23. Huruf (لَ, la-) di depan (نَحْنُ, nahnu) yang berarti "kami" ditandai morfologi sebagai penegas, dan terjemahan menuliskannya sebagai akhiran -lah.

Kata (الْمُسَبِّحُونَ, l-musabbihuuna) yang berarti "yang bertasbih" berakar س-ب-ح dan berbentuk pelaku jamak. Bentuk dengan kata sandang ini muncul sekali, di 37:166, dan (الْمُسَبِّحِينَ, l-musabbihiina) muncul sekali, di 37:143: (فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ, fa-lawlaa annahu kaana mina l-musabbihiina) yang berarti "Maka, sekiranya ia bukan termasuk orang-orang yang bertasbih". Dua ayat itu ada dalam satu surah, dan terjemahan memakai "bertasbih" di keduanya. Di 37:143 bentuk itu menyebut kelompok tempat seseorang dihitung, sedangkan di 37:166 para penutur sendiri yang menyebut kelompok mereka dengan "kamilah".

Kata kerja dari akar yang sama, (يُسَبِّحُونَ, yusabbihuuna) yang berarti "mereka bertasbih", ada di enam ayat, yaitu 7:206, 21:20, 39:75, 40:7, 41:38, dan 42:5, dan di 7:206 kata kerja itu bersambung dengan -hu. Di 21:20, (يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ, yusabbihuuna l-layla wa-n-nahaara) berarti "mereka bertasbih malam dan siang", dan di 39:75, 40:7, serta 42:5 kata kerja itu disusul (بِحَمْدِ رَبِّهِمْ, bi-hamdi rabbihim) yang berarti "dengan memuji Tuhan mereka". Di 41:38, (يُسَبِّحُونَ لَهُ, yusabbihuuna lahu) menyebut penerima tasbih dengan (لَهُ, lahu) yang berarti "kepada-Nya". Di enam ayat itu tasbih datang bersama keterangan waktu, cara, atau penerima, sedangkan bentuk pelaku di 37:166 menyebut siapa pelakunya dan tidak memuat ketiganya.

Akar yang sama membentuk (سُبْحَانَ, subhaana) yang berarti "Mahasuci" di 37:159, (سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ, subhaana llaahi 'ammaa yashifuuna) yang berarti "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan", dan di 37:180, (سُبْحَانَ رَبِّكَ, subhaana rabbika) yang berarti "Mahasuci Tuhanmu". Di surah ini akar itu muncul empat kali, yaitu di 37:143, 37:159, 37:166, dan 37:180. Terjemahan memakai "Mahasuci" untuk (سُبْحَانَ, subhaana) dan "bertasbih" untuk bentuk pelaku dan kata kerja.

Dua akar yang dipakai di 37:165 dan 37:166 muncul bersama dalam satu ayat di 24:41, (يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ, yusabbihu lahu man fii s-samaawaati wa-l-ardhi wa-th-thayru shaaffaatin) yang berarti "kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan burung-burung yang merentangkan sayapnya". Di sana tasbih disebut bersama makhluk yang merentangkan sayap, dan penerima tasbih tertulis dengan (لَهُ, lahu). Di 37:166 pelaku tasbih disebut dengan "kamilah" dan penerimanya tidak tertulis.

Terjemahan berakhir dengan titik dan tanda kutip tutup karena ayat ini menutup ucapan yang dibuka di 37:164, dan 37:167 kembali memakai "mereka".

Tafsiran

Ayat ini menutup ucapan sekelompok penutur yang dibuka di 37:164, dan pernyataan ketiganya, tasbih, datang sesudah kedudukan dan barisan. Tanda kutip ditutup di sini, dan 37:167 langsung memakai "mereka" lagi, sehingga kutipan "kami" dan kutipan "mereka" bersambung tanpa kalimat penengah.

Tasbih di ayat ini muncul tujuh ayat sesudah 37:159, (سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ, subhaana llaahi 'ammaa yashifuuna), yang menyucikan Allah dari apa yang disifatkan "mereka" di 37:158. Dua ayat itu memakai akar yang sama. Yang pertama menyucikan dari sifat yang dilekatkan pihak lain, dan yang kedua menyebut sekelompok penutur sebagai yang bertasbih. Ayat tidak menyatakan bahwa tasbih di 37:166 menjawab sifat-sifat itu.

Bila para penutur dibaca sebagai malaikat, seperti yang dibicarakan di 37:164, tasbih mereka punya padanan di 39:75 dan 42:5. Di 39:75, (وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ, wa-taraa l-malaa'ikata haaffiina min hawli l-'arsyi yusabbihuuna) berarti "dan engkau akan melihat malaikat melingkar di sekeliling Arasy, mereka bertasbih", dan di 42:5, (وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ, wa-l-malaa'ikatu yusabbihuuna bi-hamdi rabbihim) berarti "dan malaikat-malaikat bertasbih dengan memuji Tuhan mereka". Dua ayat itu menyebut malaikat dengan kata kerja bertasbih, sedangkan 37:166 memakai bentuk pelaku dan tidak memuat kata malaikat.

Penerima tasbih di ayat ini tidak tertulis. Dapat dibaca bahwa tasbih itu tertuju kepada Allah seperti di 37:159, tetapi pembacaan itu bersandar pada kedekatan ayat dan tidak pada kata yang tertulis di 37:166.

Renungan dan Hikmah

  • Di 21:19 sampai 21:20 mereka yang di sisi-Nya tidak menyombongkan diri untuk menyembah-Nya dan tidak merasa letih, serta bertasbih malam dan siang tidak henti-hentinya, dan di 41:38 mereka yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya pada malam dan siang hari serta tidak pernah jemu. Dua tempat itu menyertakan keterangan tentang letih atau jemu, sedangkan 37:166 menyebut tasbih tanpa keterangan itu. Pembaca yang mengulang sesuatu setiap hari dapat memeriksa bagian mana dari ulangannya yang sudah terasa jemu. Apakah saat jemu itu pernah dicatat, dan apa yang dilakukan pada ulangan sesudahnya?
  • Di 37:139 sampai 37:144 kisah Yunus sampai pada pengandaian, "sekiranya ia bukan termasuk orang-orang yang bertasbih, niscaya ia tinggal di perutnya sampai hari mereka dibangkitkan." Kata bertasbih di sana menyebut kelompok tempat seseorang dihitung, dan apa yang diucapkannya tidak dicatat. Di 37:166 sekelompok penutur menyebut diri mereka sebagai yang bertasbih. Peristiwa di 37:143 dan di 37:166 tidak sama, sehingga kedua ayat tidak dipakai untuk saling menjelaskan. Pembaca yang pernah berada dalam keadaan sempit dapat bertanya apa yang sudah ada dalam kebiasaannya sebelum keadaan itu datang, dan apakah ada kebiasaan yang membuatnya dihitung termasuk sebuah kelompok?
  • Ayat 37:159 menyucikan Allah dari apa yang disifatkan oleh mereka, dan 37:166 memuat kelompok yang menyebut dirinya bertasbih, dengan akar kata yang sama. Dalam rentang tujuh ayat itu ada dua cara berbicara tentang Allah, yaitu menyifati-Nya dan menyucikan-Nya. Pembaca yang sedang berbicara tentang Tuhan dapat menimbang kalimatnya sendiri sebagai salah satu dari dua cara itu. Mana yang lebih sering dilakukannya, dan bagaimana diketahui bahwa sifat yang dilekatkan tidak melampaui apa yang tertulis dalam ayat-ayat?
  • Di 39:75, 40:7, dan 42:5 tasbih disusul pujian, bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan di 40:7 keduanya disusul keimanan serta permohonan ampunan bagi orang-orang yang beriman. Ayat 37:166 menyebut tasbih saja. Pembaca yang biasa mengucapkan syukur atau pujian dapat melihat bahwa ayat-ayat itu menyambung dua hal, menyucikan dan memuji, sedangkan di 37:166 baru satu yang tertulis. Bila harus memilih satu dari keduanya untuk diucapkan hari ini, mana yang dipilih, dan apa yang terasa kurang dari yang lain?
  • Di 7:206 mereka yang ada di sisi Tuhanmu tidak menyombongkan diri dari ibadah kepada-Nya dan menyucikan-Nya, dan penutur di 37:166 menyebut dirinya sebagai yang bertasbih. Ayat 7:206 menggambarkan pihak itu dari luar, sedangkan 37:166 mengutip ucapan penutur sendiri, sehingga ada dua sudut pandang, melihat dari luar dan menyebut dari dalam. Dua ayat itu tidak dinyatakan menunjuk pihak yang sama. Pembaca dapat bertanya kisah siapa yang ia pegang tentang dirinya, penilaiannya sendiri atau cara orang lain menggambarkannya, dan apakah kedua kisah itu bertemu?
  • Ucapan yang dibuka dengan kedudukan di 37:164 ditutup dengan tasbih di 37:166, dan sesudahnya 37:167 beralih ke ucapan pihak lain. Pernyataan tentang diri yang dimulai dari apa yang dimiliki berakhir pada kata untuk menyucikan. Pembaca dapat bertanya dengan kata apa pembicaraan tentang dirinya sendiri biasa diakhiri, dan apakah penutup itu menunjuk kepada dirinya atau keluar dari dirinya? Bila pembicaraan tentang dirinya selalu berakhir pada hal yang dimilikinya, apa yang akan berubah ketika kalimat terakhirnya diganti dengan kata yang menyucikan?