لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

niscaya kami menjadi hamba-hamba Allah yang dimurnikan.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَla-kunnaa 'ibaada llaahi l-mukhlashiinaniscaya kami menjadi hamba-hamba Allah yang dimurnikan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. لَكُنَّاla-kunnaaniscaya kami menjadi
  2. عِبَادَ'ibaadahamba-hamba
  3. اللَّهِllaahiAllah
  4. الْمُخْلَصِينَl-mukhlashiinayang dimurnikan

Inti bacaan

Sebutan (عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ, 'ibaada llaahi l-mukhlashiina) muncul lima kali di Al-Qur'an, semuanya di surah 37, yaitu di 37:40, 37:74, 37:128, 37:160, dan 37:169.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (لَكُنَّا, la-kunnaa) yang berarti "niscaya kami menjadi". Awalan (لَ, la) menandai jawaban atas pengandaian di 37:168, dan (كُنَّا, kunnaa) yang berarti "kami menjadi" memakai bentuk "kami" dari kata kerja kaana yang berakar ك-و-ن. Bentuk persis la-kunnaa muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 6:157, 34:31, dan 37:169, dan di ketiganya bentuk itu menjadi jawaban atas pengandaian yang diucapkan pembicara tentang dirinya. Di 6:157, (لَكُنَّا أَهْدَىٰ مِنْهُمْ, la-kunnaa ahdaa minhum) yang berarti "tentu kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka", pengandaiannya penurunan Kitab kepada pembicara. Di 34:31, (لَوْلَا أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ, lawlaa antum la-kunnaa mu'miniina) yang berarti "sekiranya tidak ada kalian, niscaya kami menjadi orang-orang mukmin", pembicaranya orang-orang yang dianggap lemah, dan pengandaiannya menyebut pihak lain sebagai penghalang. Di 37:169 jawabannya (لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ, la-kunnaa 'ibaada llaahi l-mukhlashiina), dan pengandaiannya di 37:168 menyebut ketiadaan sesuatu. Di tiga tempat itu jawabannya berupa keadaan yang disandang pembicara, yaitu lebih mendapat petunjuk, menjadi mukmin, dan menjadi hamba yang dimurnikan, dan tidak satu pun memuat perbuatan yang akan dilakukannya.

Susunan (عِبَادَ اللَّهِ, 'ibaada llaahi) yang berarti "hamba-hamba Allah" tersusun dari (عِبَادَ, 'ibaada) yang berarti "hamba-hamba", bentuk jamak dari akar ع-ب-د, dan (اللَّهِ, llaahi) yang berarti "Allah", sehingga hamba-hamba itu dinyatakan milik Allah. Susunan ini muncul enam kali di dua surah, yaitu 37:40, 37:74, 37:128, 37:160, 37:169, dan 44:18, dan di 44:18 susunan itu tidak diikuti sifat apa pun. Susunan lengkap dengan sifat (الْمُخْلَصِينَ, l-mukhlashiina) muncul lima kali di satu surah, yaitu 37:40, 37:74, 37:128, 37:160, dan 37:169. Di empat tempat pertama susunan itu mengikuti (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" dan berada dalam tuturan surah ini sendiri. Di 37:169 tidak ada illaa, dan susunan itu berada di dalam kutipan ucapan.

Sifat (الْمُخْلَصِينَ, l-mukhlashiina) yang berarti "yang dimurnikan" berakar خ-ل-ص. Bentuk ini muncul delapan kali di empat surah, yaitu 12:24, 15:40, 37:40, 37:74, 37:128, 37:160, 37:169, dan 38:83. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 37 memuatnya lima kali. Terjemahan memakai "dimurnikan" di 37:40, 37:74, 37:128, 37:160, 37:169, dan 38:83. Di tujuh kemunculan selain 37:169 sebutan itu menunjuk orang lain: tuturan surah 37 sendiri di 37:40, 37:74, 37:128, dan 37:160, tuturan surah 12 tentang Yusuf di 12:24, dan ucapan pembicara yang menyatakan akan menjerumuskan mereka semua di 15:39 dan 38:82. Ucapan itu berlanjut ke (إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ, illaa 'ibaadaka minhumu l-mukhlashiina) yang berarti "kecuali hamba-hamba-Mu yang dimurnikan di antara mereka" di 15:40 dan 38:83. Hanya di 37:169 pembicara memakai sebutan itu untuk dirinya sendiri.

Satu bunyi vokal membedakan pelaku dari yang dikenai. Bentuk (مُخْلِصِينَ, mukhlishiina) dengan vokal i berarti "yang memurnikan" dan muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5. Di ketujuhnya bentuk itu diikuti (لَهُ الدِّينَ, lahu d-diina) yang berarti "pertanggungjawaban kepada-Nya", misalnya (مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, mukhlishiina lahu d-diina) di 98:5. Bentuk dengan vokal a tidak diikuti keterangan semacam itu di kedelapan kemunculannya. Kata kerja yang berarti "memurnikan" muncul di 4:146 dan 38:46. Di 4:146, (وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ, wa-akhlashuu diinahum li-llaahi) yang berarti "dan memurnikan pertanggungjawaban mereka karena Allah", pelakunya orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri, dan pertanggungjawaban yang dimurnikan itu milik mereka sendiri. Di 38:46, (إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ, innaa akhlashnaahum) yang berarti "sesungguhnya Kami memurnikan mereka", pelakunya Kami dan yang dimurnikan ialah mereka sendiri. Di 37:169 bentuk "yang dimurnikan" tidak menyebut pelakunya, dan terjemahan "dimurnikan" membiarkannya terbuka seperti Arabnya.

Tafsiran

Ayat 37:169 menutup kutipan yang dibuka 37:168, dan pengandaian yang terbelah dua ayat itu berakhir pada sebutan hamba-hamba Allah yang dimurnikan. Sebutan yang sama sudah datang empat kali di surah ini, yaitu di 37:40, 37:74, 37:128, dan 37:160, dan tiap kali mengikuti (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" sesudah gambaran orang-orang lain. Gambaran itu adalah azab yang pedih dan balasan sesuai perbuatan di 37:38 sampai 37:39, akibat orang-orang yang telah diperingatkan di 37:73, orang-orang yang mendustakan dan pasti akan dihadirkan di 37:127, serta apa yang mereka sifatkan di 37:159. Dengan itu pembicara di 37:169 menyebut kelompok yang menurut tuturan surah ini dikecualikan dari keadaan orang-orang lain, dan menyebutnya sebagai sesuatu yang akan disandangnya bila syarat terpenuhi. Ayat ini tidak menyatakan bahwa syarat itu akan memasukkan mereka ke dalam pengecualian.

Akar ذ-ك-ر pada (ذِكْرًا, dzikran) di 37:168 berdekatan dengan pemurnian di 38:46, (إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ, innaa akhlashnaahum bi-khaalishatin dzikraa d-daari) yang berarti "sesungguhnya Kami memurnikan mereka dengan suatu kemurnian: mengingat negeri akhirat". Di sana pemurnian diberi isi, yaitu mengingat negeri akhirat, dan (ذِكْرَى, dzikraa) yang berarti "mengingat" seakar dengan peringatan di 37:168. Kedua tempat berbeda: 38:46 menyebut pelaku dan isi pemurnian, sedangkan 37:168 sampai 37:169 mengutip pengandaian yang tidak menyebut keduanya. Teks 37:169 tidak menyatakan bahwa peringatan akan membuat mereka dimurnikan. Bacaan itu dapat ditarik dari susunan syarat dan jawabannya, tetapi ayat tidak mengucapkannya.

Empat tuturan tentang tokoh di surah ini ditutup dengan (مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ, min 'ibaadinaa l-mu'miniina) yang berarti "termasuk hamba-hamba Kami yang beriman", yaitu di 37:81, 37:111, 37:122, dan 37:132. Ayat 37:169 memakai sebutan hamba di dalam kutipan, tidak di penutup tuturan tentang seorang tokoh. Ayat 37:170 menyebut apa yang kemudian mereka lakukan.

Renungan dan Hikmah

  • Sebutan hamba-hamba Allah yang dimurnikan datang empat kali sebelum 37:169 dalam tuturan surah tentang orang lain, dan di 37:169 pembicara memakainya untuk dirinya sendiri dalam kalimat pengandaian. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa sebutan tersebut dapat diklaim oleh yang bersangkutan, dan 37:169 hanya mencatat ucapan itu. Pembaca dapat memperhatikan sebutan yang dipakainya untuk diri sendiri, apakah sebutan itu diberikan orang lain setelah melihat jalan hidupnya atau ditulis sendiri sebelum jalan itu ditempuh. Siapa dalam hidupnya yang pernah memanggilnya dengan kata-kata seperti itu, dan sesudah melihat apa?
  • Bentuk "yang dimurnikan" di 37:169 tidak menyebut siapa yang memurnikan. Di 4:146 orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri memurnikan pertanggungjawaban mereka karena Allah, sedangkan di 38:46 pelakunya Kami dan yang dimurnikan adalah mereka. Pembicara di 37:169 membayangkan menjadi dimurnikan sebagai hasil memperoleh peringatan, tanpa menyebut siapa yang bekerja. Dalam kalimat "andai ada yang memberi peringatan, aku akan murni", siapa yang diandaikan melakukan pemurnian itu, pembaca sendiri atau Allah? Pembaca dapat bertanya bagian mana dalam dirinya yang masih menunggu dikerjakan pihak lain.
  • Di tiga tempat yang memuat la-kunnaa pembicara menyebut sesuatu di luar dirinya sebagai alasan belum menjadi seperti yang dibayangkannya: Kitab yang belum diturunkan di 6:157, pihak lain yang menghalangi di 34:31, dan peringatan yang belum ada di 37:168 sampai 37:169. Di 34:31 pembicaranya berdiri di hadapan Tuhan mereka, dan alasan yang disebut ada pada orang lain. Tiga ayat itu berbeda pembicara dan keadaannya, tetapi arah alasannya sama, yaitu keluar dari diri pembicara. Pembaca dapat menelusuri alasan yang pernah disebutnya ketika menjelaskan mengapa belum menjadi seperti yang dikatakannya. Berapa dari alasan itu yang letaknya di luar dirinya?
  • Di surah 37 sebutan "hamba-hamba Kami yang beriman" datang di akhir tuturan tentang Nuh, Ibrahim, Musa dan Harun, dan Ilyas, yaitu 37:81, 37:111, 37:122, dan 37:132, sehingga sebutan itu menyusul kisah masing-masing tokoh. Di 37:169 sebutan yang berdekatan, kali ini hamba-hamba Allah yang dimurnikan, dikutip sebelum ada kisah apa pun yang dilalui pembicaranya, dan pembicara menyandangnya hanya dalam pengandaian. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa sebutan semacam itu hanya diberikan sesudah kisah, sehingga urutan ini adalah pembacaan atas susunan surah dan bukan aturan. Sebutan apa yang pantas dipakai orang untuk dirinya sebelum satu ujian pun dilaluinya?
  • Tiga jawaban la-kunnaa berisi keadaan yang disandang, yaitu lebih mendapat petunjuk di 6:157, menjadi mukmin di 34:31, dan menjadi hamba yang dimurnikan di 37:169, dan tidak satu pun menyebut perbuatan yang akan dilakukan pembicara. Pengandaian yang berhenti pada sebutan keadaan tidak menunjukkan jalan menuju keadaan itu. Pembaca yang pernah berjanji akan menjadi orang baik dapat memeriksa apakah janjinya memuat satu perbuatan yang bisa diperiksa orang lain, atau hanya memuat sebutan. Perbuatan apa yang akan tampak bila janji itu ditepati?
  • Di 38:46 pemurnian atas Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub disebut berisi mengingat negeri akhirat, dengan akar yang sama dengan peringatan di 37:168. Di 37:169 pembicara mengandaikan menerima peringatan lalu menjadi dimurnikan, tanpa menyebut apa isi pemurnian itu. Dua ayat itu berbeda surah dan konteks, dan 37:169 tidak mengatakan bahwa isi pemurnian di sana sama dengan di 38:46. Kata "murni" yang diucapkan tanpa isi mudah disetujui banyak orang karena tiap orang dapat mengisinya sendiri. Pembaca dapat bertanya apa isi kata itu bila harus ia tulis rinci untuk dirinya, dan seberapa banyak isi itu sudah tampak dalam hari-harinya.