سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Mahasuci Tuhanmu, Tuhan pemilik kedigdayaan, dari apa yang mereka sifatkan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. سُبْحَانَ رَبِّكَsubhaana rabbikaMahasuci Tuhanmu
  2. رَبِّ الْعِزَّةِrabbi l-'izzatiTuhan pemilik kedigdayaan
  3. عَمَّا يَصِفُونَ'ammaa yashifuunadari apa yang mereka sifatkan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
  2. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  3. رَبِّrabbiTuhan
  4. الْعِزَّةِl-'izzatikedigdayaan
  5. عَمَّا'ammaadari apa yang
  6. يَصِفُونَyashifuunamereka sifatkan

Inti bacaan

Susunan (رَبِّ الْعِزَّةِ, rabbi l-'izzati) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:180.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (سُبْحَانَ رَبِّكَ, subhaana rabbika) yang berarti "Mahasuci Tuhanmu". Kata (سُبْحَانَ, subhaana) berakar س-ب-ح dan diterjemahkan "Mahasuci", sama seperti (سُبْحَانَ اللَّهِ, subhaana llaahi) di 37:159 yang berarti "Mahasuci Allah". Kedua ayat itu berbeda pada kata sesudah subhaana. Di 37:159 subhaana disusul nama Allah, sedangkan di sini disusul (رَبِّكَ, rabbika), yaitu kata rabb dengan akhiran -ka yang berarti "-mu". Akhiran itu menunjuk satu orang laki-laki yang diajak bicara, dan terjemahan memakai "Tuhanmu". Susunan subhaana rabbika hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:180.

Sebutan kedua, (رَبِّ الْعِزَّةِ, rabbi l-'izzati) yang berarti "Tuhan pemilik kedigdayaan", memakai kata rabb yang disusul kata benda bertakrif. Terjemahan memakai "Tuhan pemilik" seperti di 21:22, (رَبِّ الْعَرْشِ, rabbi l-'arsyi) yang berarti "Tuhan pemilik Arasy". Kata (الْعِزَّةِ, l-'izzati) berakar ع-ز-ز dan diterjemahkan "kedigdayaan". Bentuk rabbi l-'izzati hanya muncul di 37:180. Kata 'izzah sendiri muncul sebelas kali di sembilan ayat dalam delapan surah, yaitu 2:206, 4:139 (dua kali), 10:65, 26:44, 35:10 (dua kali), 37:180, 38:2, 38:82, dan 63:8, dan terjemahan memakai "kedigdayaan" di semuanya.

Kata itu dipakai untuk dua jenis pemilik. Di 4:139, (فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا, fa-inna l-'izzata li-llaahi jamii'an) berarti "Sesungguhnya semua kedigdayaan itu milik Allah", dan ayat serupa ada di 10:65 serta 35:10. Di 26:44, (بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ, bi-'izzati fir'awna) berarti "demi kedigdayaan Firaun", sehingga kata yang sama menyebut sesuatu yang diklaim seorang manusia. Di 37:180 kata itu tidak disandarkan kepada manusia mana pun, tetapi menjadi keterangan bagi rabb.

Bagian terakhir, (عَمَّا يَصِفُونَ, 'ammaa yashifuuna), berarti "dari apa yang mereka sifatkan". Kata (عَمَّا, 'ammaa) tersusun dari 'an yang berarti "dari" dan maa yang berarti "apa". Kata (يَصِفُونَ, yashifuuna) berakar و-ص-ف dan berakhiran jamak orang ketiga. Frasa 'ammaa yashifuuna muncul enam kali di lima surah, yaitu 6:100, 21:22, 23:91, 37:159, 37:180, dan 43:82. Di lima di antaranya terjemahan memakai "sifatkan", yaitu 21:22, 23:91, 37:159, 37:180, dan 43:82.

Kata ganti "mereka" tidak diberi nama di ayat ini. Di 37:159 apa yang disifatkan didahului ucapan mereka di 37:152, (وَلَدَ اللَّهُ, walada llaahu) yang berarti "Allah beranak", dan didahului pernyataan di 37:158 bahwa mereka menjadikan nasab antara Dia dan jin. Di 37:180 tidak ada ucapan yang dikutip tepat sebelumnya, sehingga isi sifat itu tidak dirinci. Terjemahan di 37:159 berakhir dengan koma karena 37:160 menyambungnya dengan (إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ, illaa 'ibaada llaahi l-mukhlashiina) yang berarti "kecuali hamba-hamba Allah yang dimurnikan". Di 37:180 tidak ada sambungan serupa, dan terjemahan berakhir dengan titik.

Tafsiran

Ayat ini mengulang penyucian 37:159 dan memindahkannya dari tengah perdebatan ke penutup surah. Di 37:159 kalimat itu berdiri sesudah rentetan pertanyaan kepada mereka di 37:149 sampai 37:157, termasuk tuntutan agar mereka membawa kitabnya, dan sesudah pernyataan tentang nasab di 37:158. Di 37:180 tidak ada pertanyaan atau tuduhan yang dikutip di dekatnya. Surah ditutup dengan pernyataan tentang siapa Tuhan itu, dan pernyataan itu tidak membantah siapa pun.

Rangkaian sebutan sebelum penyucian ini memuat tiga bentuk. Di 21:22 sebutannya adalah Allah, lalu Tuhan pemilik Arasy. Di 43:82 sebutannya adalah Tuhan langit dan bumi, lalu Tuhan Arasy. Di 37:180 sebutannya adalah Tuhanmu, lalu Tuhan pemilik kedigdayaan. Dua ayat pertama menyebut benda yang dimiliki, yaitu Arasy serta langit dan bumi, sedangkan ayat ini menyebut sifat yang dimiliki, yaitu kedigdayaan.

Di 26:44 kata kedigdayaan dan (الْغَالِبُونَ, l-ghaalibuuna) yang berarti "yang menang" berdampingan dalam satu ucapan para penyihir. Di surah ini keduanya terpisah tujuh ayat. Kemenangan ada di 37:173, (وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ, wa-inna jundanaa lahumu l-ghaalibuuna) yang berarti "dan sesungguhnya bala tentara Kami, merekalah yang menang", dan kedigdayaan ada di 37:180, dan keduanya disandarkan kepada pihak Tuhan. Dapat dibaca bahwa penutup surah mengembalikan sumber kekuatan dari bala tentara kepada pemiliknya, tetapi ayat ini tidak menghubungkan dua kata itu secara langsung.

Akhiran -ka pada rabbika melanjutkan sasaran perintah di 37:178 dan 37:179 ke ayat ini, jadi pergantian dari perintah ke penyucian terjadi tanpa pergantian pihak yang diajak bicara. Hubungan antara perintah melihat dan penyucian itu tidak dinyatakan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut perbuatan menyifatkan sebagai sesuatu yang dari padanya Tuhan disucikan, dan isi gambaran yang dibawa orang tentang Dia tidak dirinci. Di 37:152 gambaran itu berbentuk kalimat tentang Allah, dan ayat yang sama menyebut orang yang mengucapkannya benar-benar pendusta. Pembaca dapat memeriksa gambaran tentang Tuhan yang sudah lama dipegangnya, dari mana kalimat-kalimat itu didapat, dan apakah pernah diperiksa terhadap bunyi ayat. Gambaran mana yang sudah sering diucapkannya tanpa pernah ditanyakan kepada teks?
  • Di 35:10 ayat berbunyi bahwa siapa yang menghendaki kedigdayaan, kedigdayaan itu semuanya milik Allah, dan ayat yang sama menyebut kepada siapa perkataan baik naik dan siapa yang mengangkat amal saleh. Di 4:139 pertanyaannya ialah apakah mereka mencari kedigdayaan di sisi orang-orang kafir. Ayat 37:180 menyebut Tuhan pemilik kedigdayaan, sehingga tiga ayat itu menunjuk satu arah untuk keinginan yang sama. Pembaca yang pernah mencari pengakuan, kedudukan, atau kekuatan dari pihak yang dianggapnya berpengaruh dapat menaruh keinginan itu di samping ayat-ayat ini. Kepada siapa pembaca mengetuk ketika ingin dihormati, dan apakah pintu itu pernah diperiksanya?
  • Kedigdayaan disebut juga dalam ayat yang tidak menjadikan Tuhan sebagai pemiliknya. Di 2:206 kedigdayaan membawa seseorang kepada dosa tepat ketika dikatakan kepadanya, bertakwalah kepada Allah. Di 38:2, dua ayat sesudah penutup surah ini, orang-orang yang kufur disebut berada dalam kedigdayaan dan perselisihan. Kedua ayat itu tidak saling menafsirkan, dan konteksnya berlainan. Pembaca dapat memeriksa kata apa yang dipakainya untuk mengangkat dirinya ketika berbicara, kekuatan atau kedudukan, dan siapa yang disebutnya sebagai pemilik kata itu. Apakah kata itu terdengar lebih dekat pada 2:206 ataukah pada 35:10?
  • Penyucian yang sama pernah diucapkan di tengah perdebatan, dan kini diucapkan sesudah rangkaian panjang kisah tanpa pertanyaan di dekatnya. Pembaca yang menyebut kebesaran Tuhan hanya ketika berdebat atau membela dapat membandingkan keadaan itu dengan keadaan ketika tidak ada yang bertanya dan tidak ada yang perlu dibantah. Ayat ini tidak mengutip lawan bicara, dan tidak menyebut siapa yang sedang ditanggapi. Ucapan yang sampai di ujung perjalanan tanpa lawan bicara lebih sulit disebut pembelaan. Kapan terakhir kali pembaca menyucikan Tuhan pada saat tidak ada yang membantahnya?
  • Ayat ini memakai Tuhanmu, dan tidak memakai Allah seperti di 37:159. Akhiran -mu menunjuk satu orang yang diajak bicara, jadi Tuhan disebut lewat hubungannya dengan orang yang disapa, dan pada saat yang sama disebut sebagai pemilik kedigdayaan. Pembaca yang menemukan sapaan kepada satu orang di dalam sebuah teks dapat memperhatikan apakah dirinya merasa ikut disapa atau menonton sapaan itu dari luar. Ketika membaca kata Tuhanmu, siapa yang pembaca bayangkan sebagai pemilik sebutan itu?
  • Di 17:93 kalimat Mahasuci Tuhanku diucapkan sesudah serangkaian tuntutan, di antaranya rumah dari emas, dan di 68:29 kalimat Mahasuci Tuhan kami diucapkan sesudah kebun yang ditimpa bencana, bersama pengakuan bahwa mereka zalim. Di 17:108 kalimat serupa diucapkan sesudah dibacakan kepada orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya. Di 37:180 penyucian itu berdiri sesudah kisah panjang tanpa satu peristiwa tunggal yang menyebabkannya. Pembaca dapat memperhatikan kapan kalimat itu terucap dalam hidupnya sendiri, sesudah kehilangan, sesudah ditantang, atau pada hari yang biasa. Apakah penyucian itu mendatangi pembaca hanya bersama peristiwa, atau juga ketika tidak terjadi apa-apa?