وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالْحَمْدُ لِلَّهِwa-l-hamdu li-llaahidan segala puji bagi Allah
  2. رَبِّ الْعَالَمِينَrabbi l-'aalamiinaTuhan seisi alam

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالْحَمْدُwa-l-hamdudan segala puji
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. رَبِّrabbiTuhan
  4. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

Susunan (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, wa-l-hamdu li-llaahi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:45 dan 37:182.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, wa-l-hamdu li-llaahi) yang berarti "dan segala puji bagi Allah". Bentuk ini tersusun dari wa yang berarti "dan", (الْحَمْدُ, l-hamdu) yang berakar ح-م-د dan diterjemahkan "segala puji", serta (لِلَّهِ, li-llaahi) yang berarti "bagi Allah". Frasa (الْحَمْدُ لِلَّهِ, l-hamdu li-llaahi) muncul dua puluh tiga kali di tujuh belas surah, yaitu 1:2, 6:1, 6:45, 7:43, 10:10, 14:39, 16:75, 17:111, 18:1, 23:28, 27:15, 27:59, 27:93, 29:63, 31:25, 34:1, 35:1, 35:34, 37:182, 39:29, 39:74, 39:75, dan 40:65. Terjemahan memakai "segala puji" di semuanya. Dengan huruf wa di depannya, bentuk wa-l-hamdu li-llaahi hanya muncul dua kali, yaitu di 6:45 dan 37:182.

Di 6:45, (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, wa-l-hamdu li-llaahi rabbi l-'aalamiina) menyusul kalimat tentang kaum yang zalim, dan wa menyambungkan pujian itu dengan kalimat sebelumnya. Di 37:182 wa menyambungkan pujian dengan ayat sebelumnya, yang dibuka oleh wa juga. Karena huruf wa adalah kata Arab yang ada di ayat ini, terjemahan memakai "dan" di kedua tempat itu, dan tidak melesapkannya.

Bagian kedua, (رَبِّ الْعَالَمِينَ, rabbi l-'aalamiina), berarti "Tuhan seisi alam". Kata (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina) berakar ع-ل-م dan berbentuk jamak dengan kata sandang al-. Frasa rabbi l-'aalamiina muncul tiga puluh tiga kali di enam belas surah, yaitu 1:2, 2:131, 6:45, 6:71, 6:162, 7:61, 7:67, 7:104, 7:121, 10:10, 10:37, 26:16, 26:47, 26:98, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, 26:192, 27:8, 27:44, 32:2, 37:87, 37:182, 39:75, 40:65, 40:66, 43:46, 45:36, 56:80, 69:43, dan 83:6. Terjemahan memakai "seisi alam" untuk al-'aalamiina, dan di surah ini kata itu ada di tiga ayat, yaitu 37:79 dengan (فِي الْعَالَمِينَ, fii l-'aalamiina) yang berarti "di seisi alam", 37:87, dan 37:182.

Akar ح-م-د juga hadir sebagai bagian dari kata kerja di 39:75, (يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ, yusabbihuuna bi-hamdi rabbihim) yang berarti "mereka bertasbih sambil memuji Tuhannya". Di ayat itu terjemahan memakai "memuji" untuk hamd yang didahului bi- dan menjadi cara sebuah perbuatan berlangsung, dan "segala puji" untuk al-hamdu yang berdiri sendiri sebagai pokok kalimat, sehingga kedua bentuk muncul dalam satu ayat, dan ayat itu berakhir dengan kalimat yang bunyinya sama dengan 37:182 tanpa wa.

Kalimat penuh (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, l-hamdu li-llaahi rabbi l-'aalamiina) muncul enam kali di enam surah, yaitu 1:2, 6:45, 10:10, 37:182, 39:75, dan 40:65. Bunyi 37:182 sama dengan 1:2 kecuali awalan wa. Ayat ini tidak memuat kata kerja apa pun, sehingga terjemahan tidak menambahkan "kami memuji" atau "hendaklah dipuji", dan tetap memakai kata benda "segala puji". Tanda titik di ujung terjemahan menutup surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup surah dengan kalimat pujian tanpa penyebut pengucapnya. Empat ayat penutup surah memuat frasa al-hamdu li-llaahi, yaitu 17:111, 27:93, 37:182, dan 39:75. Tiga di antaranya menyertakan pengucapnya: 17:111 dan 27:93 dibuka dengan (وَقُلِ, wa-quli) yang berarti "dan katakanlah", dan 39:75 memuat (وَقِيلَ, wa-qiila) yang berarti "dan dikatakan". Ayat 37:182 tidak memuat keduanya, sehingga tidak ada yang diperintah dan tidak ada yang disebut mengatakannya.

Di dua dari ayat penutup itu pujian disambung dengan keterangan tentang Allah. Di 17:111 pujiannya diteruskan dengan (الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا, alladzii lam yattakhidz waladan) yang berarti "yang tidak mengangkat seorang anak", dan di 27:93 dengan (سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ, sa-yuriikum aayaatihi) yang berarti "Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda-Nya". Di 37:182 pujian itu hanya disertai sebutan Tuhan seisi alam.

Tiga ayat penutup surah ini, 37:180 sampai 37:182, mengikuti urutan yang juga tampak di 10:10: penyucian, lalu salam, lalu pujian. Di 10:10, (سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ, subhaanaka llaahumma) yang berarti "Mahasuci Engkau, ya Allah" disusul (تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ, tahiyyatuhum fiihaa salaamun) yang berarti "penghormatan mereka di dalamnya adalah salam", lalu pujian yang disebut doa penutup mereka. Di 10:10 ketiganya diucapkan orang-orang yang menempati taman yang disebut di 10:9, sedangkan di surah ini ketiganya tidak dikutip dari pengucap mana pun. Urutan itu tidak menyatakan bahwa 37:180 sampai 37:182 adalah ucapan penghuni taman.

Sebutan Tuhan seisi alam sudah muncul sekali di surah ini sebagai bahan pertanyaan. Di 37:87, (فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ, fa-maa zhannukum bi-rabbi l-'aalamiina) yang berarti "Maka, apa sangkaan kalian terhadap Tuhan seisi alam?", sebutan itu menjadi sasaran sangkaan orang-orang yang diajak bicara Ibrahim. Di 37:182 sebutan yang sama menjadi pihak yang dipuji. Ayat 37:182 tidak menjawab pertanyaan 37:87 secara langsung, tetapi sebutannya kembali di ujung surah, dan pembaca menemukan kedua tempat itu memakai kata yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Tempat pengucap pujian di ayat ini terbuka, dan pembaca yang sampai di ujung surah berada tepat di depannya. Pujian yang tidak diperintahkan dan tidak diwakilkan terucap bila ada orang yang memilih mengucapkannya. Pembaca dapat memperhatikan ucapan syukurnya sendiri, apakah menunggu diminta atau diwakilkan oleh orang lain. Siapa yang mengucapkan puji bagi Allah di ayat ini, dan apakah pembaca bersedia berada di tempat pengucap itu?
  • Sebelum ayat terakhir, surah ini memuat pertanyaan tentang azab di 37:176, gambaran azab yang turun di 37:177, dan perintah berpaling serta melihat di 37:178 dan 37:179. Ayat terakhirnya memuat puji bagi Allah. Pembaca yang menyelesaikan surah ini mengakhiri bacaannya pada kalimat pujian, dan tidak pada ringkasan atau kesimpulan. Bila pembaca menutup bacaan yang berat, kalimat apa yang menjadi penutupnya?
  • Di 37:87 Ibrahim bertanya kepada orang-orang di hadapannya apa sangkaan mereka terhadap Tuhan seisi alam. Pertanyaan itu meminta penilaian pendengarnya tentang Tuhan seisi alam. Di 37:182 sebutan yang sama muncul sebagai pihak yang dipuji, dan sangkaan tidak lagi ditanyakan. Pembaca dapat membandingkan sangkaannya sendiri sebelum membaca surah ini dengan sangkaannya sesudah membaca kisah para rasul, ancaman, dan penyucian. Ayat 37:182 tidak menyatakan jawaban atas 37:87, dan keduanya hanya dihubungkan oleh sebutan yang sama. Apa sangkaan pembaca terhadap Tuhan seisi alam pada saat ini, dan dari mana sangkaan itu berasal?
  • Dalam tiga ayat penutup, sebutan untuk Tuhan melebar dari Tuhanmu di 37:180, yang diucapkan kepada satu orang, menjadi Tuhan seisi alam di 37:182. Pembaca dapat memperhatikan lingkup yang dipakainya ketika menyebut Tuhan dalam syukurnya, apakah lingkup dirinya, keluarganya, golongannya, atau seluruh yang ada. Ayat ini tidak menambahkan pengecualian pada lingkup itu. Dalam lingkup yang mana pembaca menempatkan Tuhan ketika ia bersyukur?
  • Di 6:45 pujian ini menyusul pemusnahan kaum yang zalim, dan di 37:182 pujian yang sama menyusul kesejahteraan atas para rasul. Dua tempat itu menaruh pujian sesudah dua hal yang berlainan, yaitu hilangnya pihak lain dan kebaikan pihak lain, dan kedua ayat itu tidak saling menafsirkan. Pembaca dapat memeriksa kapan puji bagi Allah terucap dalam hidupnya sendiri, sesudah luput dari sesuatu yang menimpa orang lain atau sesudah menyaksikan kebaikan orang lain. Kata apa yang pertama terucap dari pembaca ketika sebuah berita besar tentang orang lain tiba, dan kepada siapa kata itu ditujukan?
  • Di 17:111 pujian diteruskan dengan keterangan bahwa Allah tidak mengangkat seorang anak, dan di 27:93 dengan keterangan bahwa Dia akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya. Di 37:182 pujian itu hanya disertai sebutan Tuhan seisi alam, tanpa alasan tambahan di dalam ayat yang sama. Pembaca yang pernah menunda syukur sampai alasannya jelas dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh pujian terlebih dulu dan tidak mengulang alasan apa pun. Bila tidak ada satu pun alasan yang harus disebutkan, apa yang tersisa dalam syukur pembaca?