بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ
Bahkan orang-orang yang kufur berada dalam kedigdayaan dan perselisihan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- بَلِ الَّذِينَ كَفَرُواbali lladziina kafaruubahkan orang-orang yang kufur
- فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍfii 'izzatin wa-syiqaaqinberada dalam kedigdayaan dan perselisihan
Terjemahan per kata (6 kata)
- بَلِbalibahkan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- فِيfiidalam
- عِزَّةٍ'izzatinkedigdayaan
- وَشِقَاقٍwa-syiqaaqindan perselisihan
Inti bacaan
Bentuk (فِي عِزَّةٍ, fii 'izzatin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:2.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (بَلِ, bali) yang berarti "bahkan". Rangkaian (بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا, bali lladziina kafaruu) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 38:2, 84:22, dan 85:19, dan terjemahan memakai "bahkan orang-orang yang kufur" di ketiganya. Kata bal yang sama membuka 50:2, (بَلْ عَجِبُوا, bal 'ajibuu), tepat sesudah sumpah demi Al-Qur'an di 50:1, dan terjemahannya juga "bahkan". Apa yang menyusul rangkaian itu berbeda di tiap ayat. Di 85:19 yang menyusul (فِي تَكْذِيبٍ, fii takdziibin) yang berarti "berada dalam pendustaan", di 84:22 (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuuna) yang berarti "mereka mendustakan", dan di ayat ini ada dua kata benda, kedigdayaan dan perselisihan, yang dibahas di bawah.
Kata (عِزَّةٍ, 'izzatin) berakar ع-ز-ز dan diterjemahkan "kedigdayaan". Akar yang sama membentuk nama (الْعَزِيزِ, al-'aziizi) yang diterjemahkan "Sang Digdaya" di 38:9. Kata benda 'izzah muncul sebelas kali di sembilan ayat dan delapan surah, yaitu 2:206, 4:139 (dua kali), 10:65, 26:44, 35:10 (dua kali), 37:180, 38:2, 38:82, dan 63:8, dan terjemahan memakai "kedigdayaan" di semuanya. Enam kemunculan menyebut kedigdayaan sebagai milik Allah, yaitu di 4:139, 10:65, 35:10, 37:180, 38:82, dan 63:8. Contohnya (إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا, inna l-'izzata li-llaahi jamii'an) di 10:65 yang berarti "sesungguhnya kedigdayaan itu seluruhnya milik Allah", dan (وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ, wa-li-llaahi l-'izzatu) di 63:8. Lima kemunculan lain menyebut kedigdayaan yang dimiliki atau dicari manusia. Di 2:206, (أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ, akhadzat-hu l-'izzatu bi-l-itsmi) berarti "kedigdayaannya membawanya kepada dosa". Di 4:139, (أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ, a-yabtaghuuna 'indahumu l-'izzata) bertanya apakah mereka mencari kedigdayaan di sisi pihak lain. Di 26:44, (بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ, bi-'izzati fir'awna) berarti "demi kedigdayaan Firaun". Dua kemunculan sisanya ada di 35:10 dan di ayat ini. Kedigdayaan di 38:2 berdiri tanpa kata sandang dan tanpa penyebutan pemiliknya, sedangkan sepuluh kemunculan lain memakai kata sandang atau menyebut pemiliknya. Karena itu ayat ini tidak menyatakan milik siapa kedigdayaan yang dirasakan orang-orang itu.
Kata (وَشِقَاقٍ, wa-syiqaaqin) tersusun dari wa yang berarti "dan" dan syiqaaq yang berakar ش-ق-ق. Kata benda ini muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 2:137, 2:176, 4:35, 11:89, 22:53, 38:2, dan 41:52. Terjemahan memakai "perselisihan" di 2:137, 2:176, 11:89, 22:53, 41:52, dan ayat ini, sedangkan 4:35 menerjemahkannya "persengketaan". Dua ayat memperlihatkan seberapa jauh arti kata ini. Di 11:89, (شِقَاقِي, syiqaaqii) menyebut perselisihan dengan seorang pembicara, "perselisihan denganku", dan di 4:35, (شِقَاقَ بَيْنِهِمَا, syiqaaqa baynihimaa) menyebut perselisihan di antara dua pihak, yaitu suami dan istri. Di dua tempat itu kata ini menyebut dua pihak yang berdiri berseberangan, dan tidak menyebut kebencian maupun kekerasan. Terjemahan memakai "permusuhan" untuk kata yang lain, yaitu (الْعَدَاوَةَ, l-'adaawata) di 5:91, sehingga "perselisihan" dipakai di sini.
Rangkaian (فِي شِقَاقٍ, fii syiqaaqin) muncul empat kali di tiga surah, yaitu 2:137, 2:176, 22:53, dan 41:52, dan di tiga ayat terakhir kata (بَعِيدٍ, ba'iidin) yang berarti "jauh" menyusul. Di 2:176, (لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ, la-fii syiqaaqin ba'iidin) menyebut orang-orang yang berselisih tentang Kitab, dan di 41:52 perselisihan itu menyangkut orang yang kufur terhadap sesuatu yang mungkin datang dari sisi Allah. Di 38:2 tidak ada kata "jauh" dan ayat ini tidak menyebut dengan siapa atau tentang apa mereka berselisih. Satu kata (فِي, fii), "dalam", berlaku bagi kedua kata benda sekaligus, dan terjemahan "berada dalam kedigdayaan dan perselisihan" menjaga satu kata "dalam" itu.
Tafsiran
Ayat ini menyambung sumpah di 38:1 dengan satu keterangan tentang orang-orang yang kufur, dan keterangan itu ditulis tanpa kata kerja dan tanpa sebab. Urutan sesudahnya jelas: 38:3 menyebut generasi yang dibinasakan sebelum mereka, dan 38:4 sampai 38:7 memuat ucapan mereka, sehingga keadaan disebut lebih dulu dan ucapan menyusul. Di 38:8 bentuk yang sama kembali dengan isi yang menyangkut peringatan, yaitu (بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِي, bal hum fii syakkin min dzikrii) yang berarti "bahkan mereka dalam keraguan tentang peringatan-Ku". Ayat 38:2 menyebut dua keadaan tanpa menyebut sasarannya, sedangkan 38:8 menyebut satu keadaan yang sasarannya jelas, yaitu peringatan.
Akar kata kedigdayaan di ayat ini muncul lima kali dalam surah 38, yaitu di 38:2, 38:9, 38:23, 38:66, dan 38:82. Di 38:9, (رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ, rahmati rabbika l-'aziizi l-wahhaabi) berarti "rahmat Tuhanmu, Sang Digdaya, Sang Pemberi", dan pertanyaan di ayat itu ditujukan kepada orang-orang yang sama dengan 38:8, apakah perbendaharaan rahmat itu ada di sisi mereka. Di 38:66 akar itu muncul lagi sebagai sebutan bagi Tuhan langit dan bumi, dan di 38:82 sebagai sumpah (فَبِعِزَّتِكَ, fa-bi-'izzatika) yang berarti "maka demi kedigdayaan-Mu". Dengan demikian kedigdayaan yang dirasakan orang-orang itu di 38:2 diletakkan tujuh ayat sebelum kedigdayaan yang disebut milik Tuhan di 38:9. Dapat dibaca bahwa surah ini menghadapkan dua pemilik kedigdayaan, tetapi tidak ada ayat yang menyatakan perbandingan itu.
Ayat 38:2 juga memperlihatkan sebuah pola pembuka. Di 50:1 sampai 50:2 sumpah demi Al-Qur'an disusul bal dan orang-orang yang heran, dan di 38:1 sampai 38:2 sumpah yang sama disusul bal dan orang-orang yang kufur. Di dua surah itu kitab disebut lebih dulu, kemudian pihak yang menanggapi kitab itu. Selisih antara keduanya ada pada apa yang dikatakan tentang pihak itu. Di 50:2 mereka digambarkan lewat perasaan mereka, yaitu heran, sedangkan di 38:2 lewat tempat mereka berada, yaitu kedigdayaan dan perselisihan. Ayat 38:4 kemudian memuat keheranan yang sama dengan 50:2, sehingga surah 38 menyebut kedua gambaran itu, tempat dan perasaan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 38:2 memakai satu kata dalam untuk dua keadaan, sehingga kedigdayaan dan perselisihan terbaca sebagai ruangan tempat orang-orang itu berada. Sebuah ruangan dapat ditinggali lama tanpa pernah ditunjuk sebagai ruangan, dan penghuninya mengira udara di dalamnya adalah udara di mana-mana. Pembaca dapat menimbang keadaan apa yang sedang ditempatinya sendiri sehingga pertanyaan tentang keadaan itu tidak pernah muncul. Dari dalam kedigdayaan atau perselisihan, apa yang tampak sebagai cara berpikir yang biasa?
- Ayat 10:65 menyebut kedigdayaan seluruhnya milik Allah, dan 63:8 menyebutnya milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Di 38:2 kata yang sama dipakai untuk keadaan orang-orang yang kufur, tanpa penyebutan pemiliknya. Ayat 4:139 mempertemukan dua pemakaian itu dalam satu ayat: sebuah pertanyaan apakah mereka mencari kedigdayaan di sisi orang-orang kafir, disusul pernyataan bahwa semua kedigdayaan milik Allah. Pembaca dapat memeriksa kedigdayaan yang dirasakannya sebagai miliknya sendiri, entah jabatan, jaringan, atau kefasihan, lalu bertanya dari mana semua itu datang menurut 10:65. Bila pemilik seluruhnya adalah Allah, apa yang tersisa di tangan pembaca sebagai miliknya?
- Ayat 2:176 menyebut orang-orang yang berselisih tentang Kitab berada dalam perselisihan yang jauh, dan 41:52 menanyakan siapa yang lebih sesat daripada orang yang berada dalam perselisihan yang jauh, setelah mereka kufur terhadap sesuatu yang mungkin datang dari sisi Allah. Di 38:2 perselisihan itu muncul tepat sesudah sumpah demi Al-Qur'an. Pembaca dapat bertanya dengan siapa sebenarnya sebuah perselisihan tentang kitab terjadi: dengan sesama pembaca, dengan orang yang membawanya, atau dengan Dia yang menurunkannya. Perselisihan dengan lawan bicara yang bisa dikalahkan dalam debat terasa lain daripada perselisihan dengan pengirim sebuah pesan. Dengan siapa perselisihan yang dibawa pembaca sendiri sedang terjadi?
- Di 2:206 seseorang diminta bertakwa kepada Allah, lalu kedigdayaannya membawanya kepada dosa. Di 38:2 tidak ada teguran yang disebut, hanya keadaan orang-orang yang kufur. Ayat 2:206 membicarakan satu orang dan 38:2 membicarakan sekelompok orang, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi keduanya menaruh kedigdayaan di dekat sikap terhadap Allah. Pembaca dapat membayangkan saat sebuah teguran sampai kepadanya dan reaksi pertamanya adalah mempertahankan kedudukan. Yang dipertahankannya di saat itu apakah kebenaran sebuah pendirian atau tempat ia berdiri?
- Di 38:9 pertanyaan beralih dari keadaan orang-orang itu ke perbendaharaan rahmat Tuhanmu, Sang Digdaya, Sang Pemberi. Akar kata yang sama dengan kedigdayaan di 38:2 kini menjadi sebutan bagi Tuhan, dan pertanyaan 38:9 menanyakan apakah perbendaharaan itu ada di sisi mereka. Teks tidak menyatakan hubungan antara kedua pemakaian akar itu, tetapi urutannya mempertemukan kedigdayaan yang dirasakan sendiri dengan kedigdayaan yang disebut milik Tuhan, tujuh ayat kemudian. Seberapa jauh kedigdayaan yang dikira milik sendiri bertahan bila diletakkan di samping perbendaharaan yang disebut 38:9?
- Ayat 38:1 menaruh kitab dalam sumpah, dan 38:2 langsung beralih dengan bal kepada orang-orang yang kufur. Pembaca yang membaca sumpah itu sebagai pembelaan bagi kitab dapat mendapati dirinya tidak berada di sisi yang dikiranya ketika kalimat berikutnya menggambarkan sebuah sikap. Ayat 50:2 memakai peralihan yang sama sesudah sumpahnya, sehingga peralihan ini muncul di dua pembuka surah dan tidak menjadi kebetulan satu surah saja. Siapa yang dibayangkan pembaca sebagai orang-orang yang kufur ketika membaca ayat ini untuk pertama kali, dan apakah gambaran itu memuat dirinya?
- Sebelum 38:4 memuat satu kata pun dari ucapan orang-orang itu, 38:2 sudah menyebut keadaan yang berada di belakang ucapan tersebut. Urutan itu memberi pembaca cara membaca ucapan sesudahnya: sebagai sesuatu yang keluar dari sebuah tempat. Dua ayat yang sama-sama berbentuk keberatan, 38:4 dan 38:5, dapat dibaca dengan keadaan 38:2 di latar belakangnya. Ucapan apa yang pernah dilontarkan pembaca sendiri dengan keadaan di belakangnya yang belum pernah ia periksa?