وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
Dan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah penyihir yang banyak berdusta.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْwa-'ajibuu an jaa'ahum mundzirun minhumdan mereka heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka
- وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌwa-qaala l-kaafiruuna haadzaa saahirun kadzdzaabundan orang-orang kafir berkata, ini adalah penyihir yang banyak berdusta
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَعَجِبُواwa-'ajibuudan mereka heran
- أَنْankarena
- جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
- مُنْذِرٌmundzirunpemberi peringatan
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- الْكَافِرُونَl-kaafiruunaorang-orang kafir
- هَٰذَاhaadzaaini
- سَاحِرٌsaahirunpenyihir
- كَذَّابٌkadzdzaabunyang banyak berdusta
Inti bacaan
Rangkaian (سَاحِرٌ كَذَّابٌ, saahirun kadzdzaabun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:4 dan 40:24.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَعَجِبُوا, wa-'ajibuu) berakar ع-ج-ب dan diterjemahkan "dan mereka heran". Kata kerja ini disusul (أَنْ, an) dan sebuah kedatangan di empat ayat, yaitu 7:63, 7:69, 38:4, dan 50:2. Di 7:63 dan 7:69 bunyinya (أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ, a-wa-'ajibtum an jaa'akum) yang berarti "apakah kalian heran bahwa telah datang kepada kalian", sedangkan di 38:4 dan 50:2 bunyinya (أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ, an jaa'ahum mundzirun minhum), tertulis sama persis di kedua ayat itu. Terjemahan memakai "karena" untuk an di 38:4 dan 50:2 dan "bahwa" di 7:63 dan 7:69. Dua pilihan itu menjaga hubungan yang sama, yaitu keheranan yang dipicu oleh datangnya seorang pemberi peringatan. Keheranan jenis ini berbeda dari keheranan atas sebuah hal yang disebut dengan min, misalnya (أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ, a-ta'jabiina min amri llaahi) di 11:73 yang berarti "Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah?".
Kata (مُنْذِرٌ, mundzirun) berakar ن-ذ-ر dan diterjemahkan "pemberi peringatan". Bentuk ini muncul empat kali di tiga surah, yaitu 13:7, 38:4, 38:65, dan 50:2. Di 38:65, (إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ, innamaa anaa mundzirun) menjadi ucapan yang diperintahkan kepada pembicara, "aku seorang pemberi peringatan", dan di 13:7, (إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ, innamaa anta mundzirun), ucapan yang sama ditujukan kepada seorang "engkau". Di 38:4 sebutan itu muncul untuk pertama kali dalam surah ini, dan muncul sebagai kata tentang orang yang datang. Kata (مِنْهُمْ, minhum) berarti "dari kalangan mereka", dan terjemahan memakai kata yang sama di 50:2. Akar ن-ذ-ر berbeda dari akar ذ-ك-ر pada (الذِّكْرِ, dz-dzikri) di 38:1, padahal bahasa Indonesia memakai kata peringatan untuk keduanya. Terjemahan membedakan keduanya dengan bentuk Indonesia, yaitu "pemberi peringatan" untuk orang yang datang dan "peringatan" untuk dzikr.
Kata (الْكَافِرُونَ, l-kaafiruuna) berakar ك-ف-ر dan berbentuk kata benda pelaku, sehingga terjemahannya "orang-orang kafir", sedangkan (كَفَرُوا, kafaruu) di 38:2 berbentuk kata kerja dan terjemahannya "orang-orang yang kufur". Ucapan mereka dibuka (وَقَالَ الْكَافِرُونَ, wa-qaala l-kaafiruuna) yang berarti "dan orang-orang kafir berkata". Di 50:2 kalimat yang hampir sama memakai fa, (فَقَالَ الْكَافِرُونَ, fa-qaala l-kaafiruuna), yang diterjemahkan "lalu", sedangkan wa di 38:4 diterjemahkan "dan". Kata (هَٰذَا, haadzaa), "ini", menyebut pemberi peringatan yang baru saja disebut, dan ucapan itu tidak memakai nama untuknya.
Rangkaian (سَاحِرٌ كَذَّابٌ, saahirun kadzdzaabun) muncul dua kali, yaitu di 38:4 dan 40:24. Di 40:24 rangkaian itu diucapkan Firaun, Haman, dan Qarun, yaitu pihak yang menurut (وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا, wa-la-qad arsalnaa muusaa bi-aayaatinaa) di 40:23 didatangi Musa. Kata (سَاحِرٌ, saahirun) diterjemahkan "penyihir" dan muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 7:109, 10:2, 26:34, 38:4, 40:24, 51:39, dan 51:52. Di 51:39 dan 51:52 sebutan itu berpasangan, (سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ, saahirun aw majnuunun) yang berarti "penyihir atau orang gila", dan 51:52 menyatakan bahwa tidak datang seorang rasul pun kepada orang-orang sebelum mereka kecuali mereka berkata demikian.
Kata (كَذَّابٌ, kadzdzaabun) berakar ك-ذ-ب dan muncul empat kali di tiga surah, yaitu 38:4, 40:24, 40:28, dan 54:25. Ayat 40:28 memuat dua bentuk akar itu dalam satu ayat: (وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ, wa-in yaku kaadziban fa-'alayhi kadzibuhu) yang berarti "dan jika ia seorang pendusta, maka atasnyalah dustanya", dan (مُسْرِفٌ كَذَّابٌ, musrifun kadzdzaabun) yang berarti "yang melampaui batas lagi banyak berdusta". Karena dua bentuk itu berdampingan di satu ayat, terjemahan membedakan keduanya: kaadzib menjadi "pendusta" dan kadzdzaab menjadi "yang banyak berdusta". Ayat 38:4 dan 40:24 mengikuti padanan kedua. Ayat 38:4 tidak menyebut dusta tentang apa.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan dua tanggapan berurutan terhadap datangnya seorang pemberi peringatan, yaitu heran lalu menuduh, dan keduanya ditulis tanpa mengutip isi pesan yang dibawa. Pesan itu baru disinggung di 38:5, ketika ucapan orang-orang itu berlanjut dengan keberatan tentang tuhan yang satu. Ucapan yang dibuka di 38:4 berlanjut ke 38:5, lalu 38:6 mengganti pembicaranya dengan para pemuka, dan ucapan para pemuka itu berjalan sampai 38:8 yang menutupnya dengan pertanyaan tentang peringatan yang diturunkan kepada seseorang di antara mereka.
Ayat 38:3 menyebut generasi yang ada sebelum mereka, (قَبْلِهِمْ, qablihim), dan 38:4 menyebut pemberi peringatan yang berasal dari kalangan mereka, (مِنْهُمْ, minhum). Kedua ayat memakai kata ganti jamak yang sama dengan 38:2, sehingga urutannya terbaca begini: sebelum mereka ada generasi yang binasa, dan di tengah mereka ada pembawa peringatan. Keheranan yang sama dengan 50:2 ditempatkan di sini sesudah gambaran kebinasaan, sedangkan 50:2 menaruhnya langsung sesudah sumpah.
Sebutan yang dilontarkan di 38:4 sudah tertulis di tempat lain. Ayat 51:52 menyatakan bahwa tidak datang seorang rasul pun kepada orang-orang sebelum mereka kecuali mereka berkata penyihir atau orang gila, dan 51:53 menanyakan (أَتَوَاصَوْا بِهِ, a-tawaashaw bihi) yang berarti "Apakah mereka saling mewariskannya?". Di 40:24 rangkaian yang sama dengan 38:4 diucapkan kepada Musa. Dengan demikian ucapan di 38:4 terbaca sebagai bagian dari deretan ucapan serupa, dan ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa orang-orang di 38:4 mengetahui deretan itu.
Sebutan pemberi peringatan kembali di 38:65, ketika pembicara diperintahkan mengucapkan (إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ, innamaa anaa mundzirun), dan di 38:70 muncul (نَذِيرٌ مُبِينٌ, nadziirun mubiinun) yang berarti "pemberi peringatan yang nyata". Sebutan yang di 38:4 dilontarkan orang lain muncul lagi sebagai ucapan pembicara sendiri tentang dirinya. Dapat dibaca bahwa surah ini mempertemukan sebutan itu dari dua mulut, tetapi tidak ada ayat yang menyatakan 38:65 sebagai jawaban atas 38:4.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 38:4 menyebut orang-orang itu heran karena yang datang berasal dari kalangan mereka sendiri, dan 7:63 menyebut peringatan itu datang dari Tuhan kepada seorang laki-laki dari golongan yang diperingatkan. Dua ayat itu bertemu pada pembawa pesan yang wajahnya sudah dikenal. Ayat 38:4 tidak menyatakan bahwa keakraban menjadi sebab keheranan, jadi hubungan itu adalah satu pembacaan yang mungkin. Pembaca dapat menimbang pesan-pesan yang diterimanya dari orang dekat dan seberapa serius pesan itu ditimbang, dibanding pesan yang sama dari orang asing. Kebenaran siapa yang lebih mudah didengar di telinga pembaca, orang yang jauh atau orang yang terlalu dikenal?
- Di 38:4 rasa heran dan vonis ditaruh dalam satu ayat, dengan jarak yang hanya sepanjang kata dan. Rasa heran masih terbuka, sedangkan sebutan penyihir yang banyak berdusta sudah menutup perkara. Ayat ini memperlihatkan bahwa perpindahan dari yang pertama ke yang kedua tidak menyebut langkah di antaranya, tidak ada pemeriksaan, pertanyaan, atau pencarian bukti yang tertulis. Pembaca dapat memeriksa kebiasaannya sendiri ketika sesuatu yang tidak lazim datang: apakah rasa heran berhenti sebagai pertanyaan atau segera berubah menjadi sebutan? Seberapa sering di antara keduanya ada waktu untuk memeriksa?
- Sebutan penyihir yang banyak berdusta di 38:4 diucapkan juga kepada Musa di 40:24, dan 51:52 menyebut sebutan penyihir atau orang gila diucapkan kepada setiap rasul sebelum mereka. Ayat 51:53 lalu bertanya apakah mereka saling mewariskannya. Kalimat yang tampak lahir dari kejengkelan sesaat ternyata sudah punya riwayat yang panjang di mulut orang lain. Pembaca yang pernah melabeli seseorang dapat memeriksa dari mana label itu datang: dari pengamatan sendiri atau dari kalimat yang sudah beredar. Berapa banyak label yang dipakai pembaca adalah warisan, dan berapa yang hasil melihat sendiri?
- Di 40:28 seorang lelaki beriman menanggapi sebutan serupa dengan dua kemungkinan: jika orang itu pendusta, dustanya menimpa dirinya, dan jika orang itu benar, sebagian dari apa yang dijanjikannya akan menimpa mereka. Ayat itu menutup dengan pernyataan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi banyak berdusta. Sebutan di 38:4 berdiri sebagai vonis, sedangkan 40:28 memperlakukan sebutan yang sama sebagai dugaan yang bisa diuji. Pembaca dapat bertanya apakah tuduhan yang pernah dipasangnya pada seseorang pernah diperlakukan sebagai dugaan, dengan membayangkan apa yang terjadi bila dugaan itu keliru. Apa yang akan ditanggung pembaca bila dugaannya salah?
- Pada 38:4 yang dinilai adalah pembawanya: pembawa itu dinamai penyihir dan pendusta, tanpa satu kutipan pun dari isi pesannya. Isi baru tersebut di 38:5, yaitu tuhan-tuhan dijadikan Tuhan yang satu. Pembaca dapat melihat betapa sebuah pesan menjadi tidak perlu diperiksa begitu pembawanya sudah diberi nama. Penilaian atas pembawa menggantikan pemeriksaan atas pesan, dan isi pesan yang di 38:5 menyangkut Tuhan baru terdengar sesudah pembawa itu dicap. Kapan terakhir kali pembaca menolak sebuah ajakan tanpa pernah menyebutkan isinya?
- Di 38:65 pembicara diperintahkan mengucapkan bahwa dirinya seorang pemberi peringatan, disusul pernyataan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, Yang Esa, Sang Penakluk. Ucapan itu memuat dua hal, sebutan tentang fungsi diri dan sebutan tentang Allah, dan tidak memuat bantahan atas sebutan penyihir atau pendusta. Dapat dibaca bahwa jawaban atas tuduhan di surah ini diberikan lewat penjelasan fungsi, tetapi tidak ada ayat yang menyatakan 38:65 sebagai jawaban atas 38:4. Pembaca yang pernah dituduh sesuatu dapat memikirkan apa yang pertama kali diucapkan: pembelaan atas dirinya atau penjelasan tentang apa yang dibawanya?