أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
Apakah ia menjadikan tuhan-tuhan sebagai Tuhan Yang Esa? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang mengherankan.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًاa-ja'ala l-aaliha ilaahan waahidanapakah ia menjadikan tuhan-tuhan sebagai Tuhan Yang Esa
- إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌinna haadzaa la-syay'un 'ujaabunsesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang mengherankan
Terjemahan per kata (8 kata)
- أَجَعَلَa-ja'alaapakah ia menjadikan
- الْآلِهَةَl-aalihatuhan-tuhan
- إِلَٰهًاilaahanTuhan
- وَاحِدًاwaahidanYang Esa
- إِنَّinnasesungguhnya
- هَٰذَاhaadzaaini
- لَشَيْءٌla-syay'unbenar-benar sesuatu
- عُجَابٌ'ujaabunyang mengherankan
Inti bacaan
Bentuk (عُجَابٌ, 'ujaabun) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:5.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَجَعَلَ, a-ja'ala), yaitu hamzah tanya yang menempel pada kata kerja (جَعَلَ, ja'ala) "menjadikan". Bentuk persis ini muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:5. Kata kerja ja'ala di sini punya dua objek, yang pertama bahan yang diubah dan yang kedua hasilnya, dan susunan yang sama terlihat di 78:6, (أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا, a-lam naj'ali l-ardha mihaadan) yang berarti "Bukankah Kami menjadikan bumi sebagai hamparan". Bahasa Indonesia membutuhkan kata "sebagai" di antara kedua objek itu supaya hubungannya terbaca, dan kata itu tidak menambah makna. Pelakunya tidak ditulis sebagai kata benda dan terkandung dalam bentuk kata kerja. Terjemahan memakai kata ganti orang ketiga tunggal karena ayat sebelumnya, yaitu 38:4, menyebut seorang pemberi peringatan.
Kata (الْآلِهَةَ, l-aaliha) adalah bentuk jamak dari (إِلَٰهٌ, ilaahun) dengan kata sandang, dan bentuk persis ini muncul satu kali, yaitu di 38:5. Kata sandang menandai himpunan yang sudah dikenal oleh pembicara, jadi terjemahannya "tuhan-tuhan" tanpa "itu", karena ayat ini tidak memuat kata penunjuk. Bentuk jamak yang disertai pemilik ditulis berbeda: (آلِهَتِنَا, aalihatinaa) "tuhan-tuhan kami" muncul tujuh kali di lima surah, yaitu 11:53, 11:54, 21:59, 21:62, 25:42, 37:36, dan 46:22, sedangkan (آلِهَتِكُمْ, aalihatikum) "tuhan-tuhan kalian" muncul satu kali, yaitu di 38:6. Di 38:5 tidak ada pemilik sama sekali, sehingga ucapan ini menyebut tuhan-tuhan sebagai kelompok tanpa menaruh kata "kami" di depannya.
Rangkaian (إِلَٰهًا وَاحِدًا, ilaahan waahidan) muncul tiga kali, yaitu di 2:133, 9:31, dan 38:5. Di 2:133 dan 9:31 terjemahannya "Tuhan Yang Esa", dan bentuk lain dari dua kata yang sama, (إِلَٰهٌ وَاحِدٌ, ilaahun waahidun), diterjemahkan dengan cara yang sama di 16:22, 18:110, 21:108, dan 41:6. Terjemahan 38:5 mengikuti padanan itu dan menulisnya "Tuhan Yang Esa". Pembicara di ayat ini tidak menyebut nama Allah dan memakai dua kata biasa, "tuhan" dan "satu", sehingga persoalannya jumlah, dan terjemahan mempertahankan keadaan itu dengan tidak menambahkan nama.
Kalimat kedua, (إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ, inna haadzaa la-syay'un 'ujaabun), terdiri dari penegas (إِنَّ, inna) "sesungguhnya", penunjuk (هَٰذَا, haadzaa) "ini", dan (لَشَيْءٌ, la-syay'un) dengan awalan la- yang menguatkan, sehingga terjemahannya "benar-benar sesuatu". Rangkaian (إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ, inna haadzaa la-syay'un) muncul tiga kali, yaitu di 11:72, 38:5, dan 38:6. Di 11:72 kalimat itu diucapkan perempuan yang mendengar kabar kelahiran, dan penutupnya (عَجِيبٌ, 'ajiibun), yang diterjemahkan "ajaib". Penutup di 38:5 adalah (عُجَابٌ, 'ujaabun) yang muncul satu kali di Al-Qur'an dan diterjemahkan "mengherankan". Kata ini berakar sama dengan (وَعَجِبُوا, wa-'ajibuu) di 38:4, yaitu ع-ج-ب, sehingga rasa heran yang dinyatakan di ayat sebelumnya kini diberi nama sebagai sifat sebuah hal. Kata (هَٰذَا, haadzaa) menunjuk pada tindakan pemberi peringatan, dan ayat tidak menyebutnya dengan nama lain.
Tafsiran
Ayat 38:4 menceritakan orang-orang yang heran, dan 38:5 memuat isi keheranan itu. Ucapan yang dibuka di 38:4 dilanjutkan di 38:5 tanpa kata kerja ucap baru. Isinya satu pertanyaan dan satu pernyataan: apakah pemberi peringatan menjadikan tuhan-tuhan sebagai Tuhan Yang Esa, dan tindakan itu mengherankan. Pertanyaan itu tidak diikuti alasan, dalil, atau bantahan, dan pernyataan penutupnya menamai hal itu dengan sebuah sifat, yaitu mengherankan, bukan dengan kata keliru atau salah. Keberatan di ayat ini ditulis sebagai rasa asing.
Ayat 38:7 memperlihatkan arah rasa asing itu: (مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ, maa sami'naa bi-haadzaa fii l-millati l-aakhirati) yang berarti "Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam millah yang terakhir". Kalimat serupa di 23:24, (مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا, maa sami'naa bi-haadzaa fii aabaa'inaa) dalam terjemahan "Kami tidak pernah mendengar ini pada nenek moyang kami yang terdahulu", diucapkan para pemuka yang kufur dari kaum lain. Dengan demikian dua tempat menaruh ukuran yang sama pada ketidakpernahan mendengar, dan 38:5 membuka ukuran itu dengan kata heran.
Surah ini menyebut jumlah yang sama lagi ketika pembicara diperintahkan mengucapkan (وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, wa-maa min ilaahin illaa llaahu l-waahidu l-qahhaaru) di 38:65, yang berarti "dan tidak ada tuhan kecuali Allah Yang Esa, Sang Penakluk". Akar و-ح-د muncul empat kali di surah ini, yaitu di 38:5, 38:15, 38:23, dan 38:65. Dari keempatnya, 38:5 dan 38:65 menyangkut tuhan, sedangkan 38:15 menyebut satu teriakan dan 38:23 seekor kambing betina. Dapat dibaca bahwa surah ini membuka dengan keberatan pada jumlah dan kembali ke jumlah itu di 38:65, tetapi 38:65 tidak menyatakan dirinya sebagai jawaban atas 38:5.
Pola yang berdekatan terlihat di 12:39, ketika dua penghuni penjara ditanya apakah tuhan-tuhan yang berpecah-pecah lebih baik, ataukah Allah Yang Esa, Sang Penakluk. Di sana pembandingan dibuat terbuka sebagai pertanyaan kepada pendengar, sedangkan di 38:5 pertanyaan diajukan oleh pihak yang menolak. Ayat 38:6 menunjukkan kelanjutannya: para pemuka menyebut tuhan-tuhan itu sebagai milik kalian dan meminta pendengarnya bertahan.
Renungan dan Hikmah
- Keberatan di 38:5 menyangkut jumlah, dari banyak ke satu, dan ayat tidak menyebut satu pun kerugian yang akan datang dari pengurangan itu. Di 12:39 jumlah yang sama dipertanyakan dengan arah yang berlawanan: apakah tuhan-tuhan yang berpecah-pecah lebih baik, ataukah Allah Yang Esa? Pembaca dapat memeriksa daftar hal yang diandalkannya untuk rasa aman, entah jabatan, tabungan, atau hubungan, dan menimbang apa yang terjadi bila daftar itu dipangkas menjadi satu. Apakah yang terasa berat itu isinya atau sekadar jumlahnya?
- Kata yang dipilih di 38:5 adalah mengherankan, dan kata itu tidak membantah apa pun. Heran adalah laporan tentang diri sendiri, bukan tentang kebenaran sebuah klaim. Ayat 11:73 menaruh rasa heran seperti itu di depan sebuah pertanyaan: apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah? Pertanyaan itu mengembalikan rasa heran ke pemiliknya dan menanyakan ke mana rasa itu diarahkan. Pembaca yang pernah berkata bahwa sesuatu aneh dapat menimbang apakah ucapan itu membantah atau hanya menyatakan bahwa dirinya belum terbiasa.
- Di 38:5 tuhan-tuhan disebut tanpa kata kami, sedangkan di tujuh tempat lain mereka disebut sebagai milik pembicara, dan di 38:6 sebagai milik pendengar. Perbedaan sebutan itu memperlihatkan bahwa tuhan-tuhan di 38:5 dibicarakan dari luar, sedangkan di tempat lain pembicara menyebutnya milik sendiri. Pembaca dapat bertanya apa saja yang disebutnya milik kami dalam hidup sehari-hari dan terasa sulit dilepas karena sebutan itu. Kepada siapa pembaca menyerahkan hal yang paling sulit dilepasnya?
- Rasa heran di 38:5 disusul di 38:7 dengan kalimat bahwa gagasan ini belum pernah didengar dalam millah yang terakhir. Ketidakpernahan mendengar dijadikan ukuran, dan ukuran itu hanya menjawab satu pertanyaan, yaitu seberapa akrab sebuah gagasan, bukan seberapa benar. Dalam hidup pembaca ukuran serupa mudah dipakai: ini bukan cara kami melakukannya. Apakah ada ajakan kepada Tuhan yang pernah ditolak pembaca hanya karena belum pernah terdengar di lingkungannya?
- Akar kata satu muncul di surah ini pada 38:5, 38:15, 38:23, dan 38:65, dan dua di antaranya, yaitu 38:5 dan 38:65, menyangkut tuhan. Di 38:5 orang-orang bertanya apakah tuhan-tuhan dijadikan satu, dan di 38:65 pembicara diperintahkan berkata bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah Yang Esa, Sang Penakluk. Pembaca yang membaca keduanya berurutan dapat melihat bahwa keberatan dan pernyataan berada di surah yang sama, dan tidak ada ayat yang mengaitkannya. Mana yang lebih dahulu didengar pembaca dalam hidupnya, keberatan atau pernyataan?
- Pembicara di 38:5 menyebut tindakan pemberi peringatan dengan kata ini, dan tidak menyebut namanya. Penunjuk tanpa nama memudahkan sebuah ajakan ditolak, karena yang ditolak adalah bayangan tentangnya dan isinya tidak disebut. Ayat 38:65 menaruh nama Allah Yang Esa pada tempat yang di 38:5 diisi kata penunjuk. Pembaca dapat mencatat berapa kali dalam seminggu dirinya menolak sesuatu dengan menyebutnya begitu atau seperti itu. Bila nama sebenarnya ditulis, apakah penolakan itu masih terasa sama?