مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam millah yang terakhir. Ini tidak lain adalah rekaan belaka.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِmaa sami'naa bi-haadzaa fii l-millati l-aakhiratikami tidak pernah mendengar hal ini dalam millah yang terakhir
- إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌin haadzaa illaa khtilaaqunini tidak lain adalah rekaan belaka
Terjemahan per kata (10 kata)
- مَاmaatidaklah
- سَمِعْنَاsami'naakami mendengar
- بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
- فِيfiidalam
- الْمِلَّةِl-millatiagama
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- إِنْintidaklah
- هَٰذَاhaadzaaini
- إِلَّاillaakecuali
- اخْتِلَاقٌkhtilaaqunkebohongan
Inti bacaan
Kata (اخْتِلَاقٌ, khtilaaqun) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:7.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pertama dibuka dengan (مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا, maa sami'naa bi-haadzaa) yang berarti "kami tidak pernah mendengar hal ini". Bunyi yang sama muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 23:24, 28:36, dan 38:7. Di 23:24 ucapan itu keluar dari para pemuka yang kufur dari kaum yang diutusi Nuh menurut 23:23, di 28:36 dari orang-orang yang didatangi Musa dengan tanda-tanda yang nyata, dan di 38:7 terjemahan menempatkannya sebagai lanjutan ucapan para pemuka yang dibuka di 38:6. Kata depan bi- sesudah sami'naa menandai hal yang didengar tentangnya. Kata kerja yang sama langsung bertemu objek tanpa bi- di 21:60, (سَمِعْنَا فَتًى, sami'naa fatan) yang berarti "kami mendengar seorang pemuda", dan di 72:1, (سَمِعْنَا قُرْآنًا, sami'naa qur'aanan) yang berarti "kami mendengar bacaan". Kata (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini" tidak disertai penjelasan apa yang ditunjuk, dan 38:5 memuat keberatan tentang tuhan-tuhan yang dijadikan Tuhan yang satu, tetapi 38:7 sendiri tidak merinci isi "ini".
Kata (الْمِلَّةِ, l-millati) yang berarti "millah" muncul lima belas kali di lima belas ayat pada sebelas surah, yaitu 2:120, 2:130, 2:135, 3:95, 4:125, 6:161, 7:88, 7:89, 12:37, 12:38, 14:13, 16:123, 18:20, 22:78, dan 38:7. Delapan di antaranya menyebut Ibrahim atau leluhurnya: 2:130, 2:135, 3:95, 4:125, 6:161, 12:38, 16:123, dan 22:78. Lima memakai kata ganti pemilik, yaitu 2:120, 7:88, 7:89, 14:13, dan 18:20, sedangkan 12:37 menyebut millah kaum yang tidak beriman kepada Allah. Hanya 38:7 yang memakai kata sandang al- dan sebuah sifat, tanpa nama dan tanpa kata ganti pemilik. Empat ayat memasang kata depan fii di depan millah berkata ganti: (فِي مِلَّتِنَا, fii millatinaa) di 7:88 dan 14:13, (فِي مِلَّتِكُمْ, fii millatikum) di 7:89, dan (فِي مِلَّتِهِمْ, fii millatihim) di 18:20. Kata kerja di keempatnya bermakna kembali, yaitu (لَتَعُودُنَّ, la-ta'uudunna) di 7:88 dan 14:13, (عُدْنَا, 'udnaa) di 7:89, dan (يُعِيدُوكُمْ, yu'iiduukum) di 18:20. Di 38:7 kata depan fii itu mendahului millah juga, tetapi kata kerjanya mendengar. Terjemahan menyalin kata ini sebagai "millah" dan menghindari "agama", karena 22:78 memuat (الدِّينِ, d-diini) dan (مِلَّةَ, millata) dalam satu ayat, dan d-diini di sana diterjemahkan "pertanggungjawaban".
Kata (الْآخِرَةِ, l-aakhirati) sesudah millah sama-sama perempuan tunggal dan sama-sama bersandang al-, sehingga terbaca sebagai sifatnya dan diterjemahkan "yang terakhir". Tulisan yang sama dibaca "akhirat" ketika berdiri sendiri, misalnya (فِي الْآخِرَةِ, fii l-aakhirati) di 2:130 dan (بِالْآخِرَةِ, bi-l-aakhirati) di 12:37. Teksnya tidak menyebut millah mana yang dimaksud dengan yang terakhir, dan tidak menyebut siapa pengikutnya. Bunyi (فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ, fii aabaa'inaa l-awwaliina) yang berarti "pada nenek moyang kami yang terdahulu" muncul dua kali, di 23:24 dan 28:36. Pembicara di dua ayat itu menunjuk nenek moyang yang paling awal, sedangkan pembicara di 38:7 menunjuk millah yang paling akhir.
Kalimat kedua dibuka dengan (إِنْ هَٰذَا إِلَّا, in haadzaa illaa) yang berarti "ini tidak lain". Susunan ini muncul lima belas kali di tiga belas surah, yaitu 5:110, 6:7, 6:25, 8:31, 11:7, 12:31, 23:83, 25:4, 26:137, 27:68, 34:43, 37:15, 38:7, 74:24, dan 74:25. Enam kali kata sesudahnya (سِحْرٌ, sihrun) yang berarti "sihir": 5:110, 6:7, 11:7, 34:43, 37:15, dan 74:24. Empat kali (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliina) yang berarti "dongeng orang-orang terdahulu": 6:25, 8:31, 23:83, dan 27:68. Lima sisanya masing-masing berbeda: (إِفْكٌ, ifkun) di 25:4, (خُلُقُ, khuluqu) di 26:137, (قَوْلُ الْبَشَرِ, qawlu l-basyari) di 74:25, (مَلَكٌ كَرِيمٌ, malakun kariimun) di 12:31, dan (اخْتِلَاقٌ, khtilaaqun) di 38:7. Ucapan di 12:31 keluar dari perempuan-perempuan yang kagum dan berisi pujian, jadi berbeda arah dari empat belas lainnya.
Kata (اخْتِلَاقٌ, khtilaaqun) yang berarti "rekaan" berakar خ-ل-ق dalam bentuk kedelapan, dan bentuk itu tidak muncul di ayat lain. Karena itu maknanya tidak dapat dibandingkan dengan pemakaian ulang. Akar yang sama dalam bentuk dasar dipakai untuk penciptaan oleh Allah, misalnya (خَلَقَ, khalaqa) di 11:7 yang berarti "menciptakan", maka terjemahan memilih "rekaan" agar tuduhan pembicara tidak terbaca sebagai penciptaan. Kata ini juga dekat dengan (افْتَرَاهُ, iftaraahu) yang berarti "ia ada-adakan" di 25:4, tempat pembicara memakai kata (إِفْكٌ, ifkun) dan menyebut seseorang sebagai pelakunya. Di 38:7 pelaku rekaan tidak disebut.
Tafsiran
Ayat ini memuat dua pernyataan dari pembicara yang sama. Pernyataan pertama menyangkut pendengarannya sendiri, dan pernyataan kedua menyangkut nilai hal yang dibicarakan. Kedua pernyataan itu diletakkan berdampingan tanpa langkah penghubung, padahal tidak pernah mendengar adalah laporan tentang diri pembicara, sedangkan rekaan adalah penilaian tentang asal sesuatu. Ayat 10:39 memuat langkah serupa pada pihak yang tidak disebut namanya, (بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ, bal kadzdzabuu bi-maa lam yuhiithuu bi-'ilmihi) yang berarti "bahkan, mereka mendustakan apa yang mereka belum meliputinya dengan ilmu". Ayat 10:39 berbicara tentang pihak lain dan tidak mengutip 38:7, jadi keduanya hanya diletakkan sejajar sebagai dua kejadian dengan langkah yang bentuknya mirip.
Di dalam surah, 38:7 berdiri di tengah deretan keberatan. Ayat 38:4 memuat keheranan dan dua sebutan bagi pembawa peringatan, (سَاحِرٌ كَذَّابٌ, saahirun kadzdzaabun). Ayat 38:5 memuat keberatan tentang tuhan yang satu, ayat 38:6 memuat ajakan bertahan, dan 38:7 beralih ke pernyataan tentang asal: bukan dari millah yang terakhir, dan sebuah rekaan. Sebutan pada 38:4 mengenai orangnya, sedangkan 38:7 mengenai isinya. Ayat 38:8 kemudian bertanya mengapa peringatan diturunkan kepadanya di antara mereka, jadi urutan 38:7 dan 38:8 membahas asal dari dua sisi, yaitu asal gagasannya dan asal penerimanya.
Terjemahan memperlakukan 38:6, 38:7, dan bagian pertama 38:8 sebagai satu ucapan yang berlanjut, dan suara berganti pada kata (ذِكْرِي, dzikrii) di 38:8. Surah ini dibuka dengan sumpah atas (ذِي الذِّكْرِ, dzii dz-dzikri) di 38:1, yang berarti "yang mengandung peringatan". Kata rekaan di 38:7 karena itu ditujukan kepada hal yang sama dengan yang disumpahkan di ayat pertama surah.
Renungan dan Hikmah
- Pembicara di 38:7 menimbang sesuatu yang baru dengan apa yang sudah pernah didengarnya, dan timbangan itu langsung menghasilkan vonis. Ukuran serupa ada di 23:24 dan 28:36, dari dua kelompok yang berbeda terhadap dua pembawa pesan yang berbeda, dengan nenek moyang yang paling awal sebagai tolok ukurnya. Di 23:24 kalimat itu didahului ucapan, "Sekiranya Allah berkehendak, tentu Dia menurunkan malaikat", sehingga pembicara menyebut Allah dalam keberatannya sambil menolak cara pesan itu datang. Pembaca dapat memeriksa diri sendiri: kapan terakhir kali menolak sesuatu karena belum pernah mendengarnya, dan apakah isinya sempat dibaca lebih dulu?
- Millah di 38:7 tidak diisi apa pun, tanpa nama dan tanpa kata ganti pemilik. Di 12:37 dan 12:38 kata yang sama diisi dengan terang. Yusuf menyatakan telah meninggalkan millah kaum yang tidak beriman kepada Allah dan mengikuti millah leluhurnya, Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub, karena tidak pantas bagi mereka mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Dua ayat itu memperlihatkan bahwa sebuah millah dapat ditinggalkan dan dapat diikuti, dengan ukuran isinya, yaitu kepada siapa orang beriman. Ketika sebuah kebiasaan dipakai sebagai alasan, pembaca dapat bertanya isi apa yang sedang dibela, dan apakah isi itu pernah ditimbang di hadapan Allah?
- Kata sami'naa memakai bentuk "kami", sehingga ketidaktahuan itu milik bersama dan tidak milik satu orang. Bentuk yang sama dipakai di 23:24 dan 28:36 oleh kelompok yang lain lagi. Ayat 38:7 tidak mencatat berapa orang yang benar-benar menanyakan atau memeriksa isi sebelum bersama-sama berkata tidak pernah mendengar. Bila suara bersama menggantikan pemeriksaan, setiap anggotanya dapat merasa aman tanpa pernah membaca sendiri. Pembaca dapat menanyai diri sendiri tentang kalimat "belum pernah ada yang bilang begitu" yang dipinjam dari lingkungan sekitar, dan siapa di antara lingkungan itu yang pernah membuka sumbernya?
- Ayat 38:7 menyebut peringatan itu rekaan, dan ucapan itu tertulis di dalam teks yang sama yang disumpahkan di 38:1. Pembaca bertemu tuduhan dengan kata-kata penuduhnya sendiri, tanpa diringkas dan tanpa dibantah pada saat itu juga. Pembantahannya datang di 38:8 lewat kata ganti pertama pada peringatan itu, dan 39:23 menyatakan bahwa Allah menurunkan sebaik-baik tuturan, sebuah Kitab. Dua ayat ini memberi pembaca dua kalimat yang berhadapan, rekaan melawan diturunkan. Bagaimana rasanya membaca keberatan terhadap sebuah teks di dalam teks itu sendiri, dan apakah pengalaman itu mengubah cara pembaca menimbang keberatan lain yang didengarnya?
- Pembicara di 23:24 dan 28:36 memilih yang paling awal sebagai ukuran, sedangkan pembicara di 38:7 memilih yang paling akhir. Kata untuk awal dan akhir itu berakar sama dengan (الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ, l-awwalu wa-l-aakhiru) di 57:3, yaitu "Dialah Sang Awal dan Sang Akhir". Ayat 57:3 tidak membicarakan millah dan tidak mengaitkan dirinya dengan 38:7, sehingga keduanya tidak disamakan. Yang dapat diletakkan berdampingan adalah dua letak waktu: yang satu dipakai pembicara untuk menimbang di 38:7, dan yang lain disebut sebagai nama bagi Dia di 57:3. Ketika awal dan akhir di 57:3 adalah nama bagi Dia, ukuran waktu mana yang masih patut dipakai pembaca untuk menimbang sebuah peringatan?
- Kata terakhir di 38:7 mengandaikan ada millah-millah sebelumnya, jadi pembicara mengakui adanya sebuah deretan lalu menaruh titik akhirnya pada millah yang dikenalnya. Tidak ada kata di ayat ini yang menyatakan bahwa deretan itu sudah selesai, dan 38:3 menyebut betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah dibinasakan, sehingga deretan itu memang lebih panjang daripada yang bisa dilihat satu orang. Pembaca dapat menanyai batas deretan yang dipegangnya: sampai di mana hitungan itu berjalan, dan siapa yang menyatakannya sudah tamat? Sesuatu yang terakhir menurut ingatan satu zaman belum tentu terakhir menurut Dia yang menyusun zaman-zaman itu.