أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ

Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan rahmat Tuhanmu, Sang Digdaya, Sang Pemberi?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَam 'indahum khazaa'inu rahmati rabbikaataukah di sisi mereka ada perbendaharaan rahmat Tuhanmu
  2. الْعَزِيزِ الْوَهَّابِl-'aziizi l-wahhaabiSang Digdaya, Sang Pemberi

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. عِنْدَهُمْ'indahumdi sisi mereka
  3. خَزَائِنُkhazaa'inuperbendaharaan
  4. رَحْمَةِrahmatirahmat
  5. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  6. الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
  7. الْوَهَّابِl-wahhaabiYang Maha Pemberi

Inti bacaan

Bunyi (أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ, am 'indahum khazaa'inu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:9 dan 52:37.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَمْ, am) yang berarti "ataukah", dan terjemahan memakai "ataukah" untuk am di sini seperti di 52:37. Bunyi (أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ, am 'indahum khazaa'inu) yang berarti "ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan" muncul dua kali, yaitu di 38:9 dan 52:37. Kata (خَزَائِنُ, khazaa'inu) yang berarti "perbendaharaan" dengan segala bentuknya muncul delapan kali di delapan ayat, yaitu 6:50, 11:31, 12:55, 15:21, 17:100, 38:9, 52:37, dan 63:7. Pada tujuh dari delapan ayat itu perbendaharaan tersebut milik Allah atau Tuhan, atau pembicara menyangkal memilikinya, atau kepemilikannya hanya diandaikan. Di 6:50, (عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ, 'indii khazaa'inu llaahi) yang berarti "perbendaharaan Allah ada padaku" disangkal oleh pembicaranya, dan 11:31 memuat penyangkalan yang sama. Di 15:21, (عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ, 'indanaa khazaa'inuhu) yang berarti "di sisi Kamilah perbendaharaannya", dan di 63:7, (وَلِلَّهِ خَزَائِنُ, wa-li-llaahi khazaa'inu) yang berarti "milik Allahlah perbendaharaan". Di 17:100 kepemilikan itu diandaikan, dalam kalimat yang diawali (لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ, law antum tamlikuuna) yang berarti "sekiranya kalian memiliki". Ayat kedelapan, 12:55, berbeda: (عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ, 'alaa khazaa'ini al-ardhi) yang berarti "atas perbendaharaan negeri ini" memuat permintaan pembicaranya untuk ditempatkan sebagai pengelola.

Kata (رَحْمَةِ, rahmati) yang berarti "rahmat" bergandengan dengan (رَبِّكَ, rabbika) yang berarti "Tuhanmu". Susunan (رَحْمَةِ رَبِّكَ, rahmati rabbika) muncul satu kali, di 38:9, dan (رَحْمَتَ رَبِّكَ, rahmata rabbika) muncul satu kali, di 43:32. Ayat 43:32 menjawab keberatan di 43:31, (لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ, lawlaa nuzzila haadzaa l-qur'aanu 'alaa rajulin mina l-qaryatayni 'azhiimin) yang berarti "mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari dua negeri itu", dengan pertanyaan (أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ, a-hum yaqsimuuna rahmata rabbika) yang berarti "apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu". Pasangan keberatan tentang penerima dan pertanyaan tentang rahmat Tuhanmu karena itu ada dua kali, di 43:31 sampai 43:32 dan di 38:8 sampai 38:9. Perbendaharaan dan rahmat ada dalam satu kalimat hanya di 17:100 dan 38:9. Kata ganti -ka pada rabbika menyapa satu orang yang tidak disebut namanya di ayat ini.

Dua nama sesudah rabbika adalah (الْعَزِيزِ, l-'aziizi) dan (الْوَهَّابِ, l-wahhaabi). Terjemahan memakai "Sang Digdaya" untuk bentuk ini, seperti (الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ, al-'aziizu l-ghaffaaru) yang berarti "Sang Digdaya, Sang Pengampun" di 38:66, yang tertulis sama persis di 39:5, dan seperti (الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ, l-'aziizi l-ghaffaari) di 40:42. Surah ini memakai nama Sang Digdaya dua kali, di 38:9 dan 38:66, dan keduanya diikuti nama lain. Akar yang sama muncul di 38:2 sebagai (عِزَّةٍ, 'izzatin) yang berarti "kedigdayaan" dan dipakai untuk keadaan orang-orang yang kufur. Terjemahan menyamakan akar katanya: kedigdayaan untuk 'izzatin dan Sang Digdaya untuk al-'aziizi.

Kata (الْوَهَّابِ, l-wahhaabi) yang berarti "Sang Pemberi" muncul tiga kali di dua surah, yaitu 3:8, 38:9, dan 38:35. Di 3:8, (إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ, innaka anta l-wahhaabu) yang berarti "sesungguhnya Engkaulah Sang Pemberi" menutup permintaan (وَهَبْ لَنَا, wa-hab lanaa) yang berarti "dan anugerahkanlah kepada kami", dengan (رَحْمَةً, rahmatan) yang berarti "rahmat" sebagai bendanya. Di 38:35 kalimat yang sama menutup (وَهَبْ لِي مُلْكًا, wa-hab lii mulkan) yang berarti "dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan". Di 38:9 nama itu berdiri di luar doa, sebagai sebutan bagi Tuhan yang perbendaharaannya ditanyakan. Terjemahan memakai "Sang Pemberi" di ketiga tempat, tanpa kata Maha.

Tafsiran

Ayat ini mengubah keberatan 38:8 menjadi pertanyaan tentang pemilikan. Mereka menanyakan mengapa peringatan sampai kepada orang itu dan bukan kepada salah seorang dari mereka. Pertanyaan balasannya menanyakan apakah di sisi mereka ada perbendaharaan yang menjadi sumber pemberian itu. Ayat ini menantang dasar penetapan siapa yang pantas menerima, tidak penerimanya sendiri.

Ayat ini tidak menuliskan jawabannya. Bentuk pertanyaan yang sama di 52:37 juga berhenti pada pertanyaan, lalu bersambung dengan pertanyaan lain. Di 43:32 jawaban ditulis, dan mulai dengan pernyataan Kamilah yang membagikan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Pembaca yang mengikuti urutan 38:9, 38:10, dan 38:11 melihat pertanyaan kedua menaik dari perbendaharaan rahmat ke kerajaan langit dan bumi, lalu sebuah pernyataan tentang bala tentara.

Dua benda yang ditanyakan di 38:9 dan 38:10, yaitu rahmat dan kerajaan, adalah dua benda yang diminta kepada Sang Pemberi di dua ayat lain. Di 3:8 permintaan berbunyi (وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً, wa-hab lanaa min ladunka rahmatan) yang berarti "dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu", dan di 38:35 (وَهَبْ لِي مُلْكًا, wa-hab lii mulkan). Ayat 3:8 dan 38:35 tidak membicarakan para penolak, sehingga hubungannya hanya pada isi permintaan. Hubungan itu memperlihatkan dua arah terhadap benda yang sama: pembicara di 3:8 dan 38:35 meminta kepada Sang Pemberi, sedangkan keberatan di 38:8 menimbang siapa yang pantas menerima.

Surah ini membuka dengan keadaan orang-orang yang kufur dalam (عِزَّةٍ, 'izzatin) di 38:2, dan 38:9 menyebut pemilik perbendaharaan itu dengan nama dari akar yang sama, Sang Digdaya. Kata yang di awal surah melekat pada keadaan mereka menjadi nama bagi Tuhan yang disapa dengan -ka.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan di 38:9 menaruh satu syarat tersirat: orang yang berhak menentukan penerima adalah orang yang memegang perbendaharaannya. Syarat serupa muncul di 63:7, tempat pembicara-pembicara yang berkata agar orang tidak diberi infak dijawab dengan kalimat bahwa milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi. Di 6:50 pembicara menyangkal bahwa perbendaharaan Allah ada padanya, dan di 15:21 perbendaharaan segala sesuatu disebut berada di sisi Kami. Pembaca dapat bertanya, ketika menimbang apakah seseorang pantas menerima sesuatu, dengan hak apa penimbangan itu dilakukan dan apakah perbendaharaannya memang ada di tangan sendiri?
  • Di 17:100 pembicara mengandaikan sesuatu yang berlawanan dengan 38:9: sekiranya kalian memiliki perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya kalian menahannya karena takut habis, dan ayat itu menutup dengan penilaian bahwa manusia sangat kikir. Ayat 17:100 membicarakan manusia pada umumnya dan tidak membicarakan para penolak di 38:9, sehingga keduanya tidak disamakan. Dua ayat itu bersama menggambarkan apa yang terjadi bila rahmat berada di tangan yang takut habis. Bila rahmat Tuhan ada di tangan pembaca, berapa banyak yang akan dibagikan dan berapa banyak yang akan ditahan?
  • Di 43:32 jawaban atas keberatan serupa berbunyi bahwa Kamilah yang membagikan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Dua hal diperhadapkan: sesuatu yang dikumpulkan sendiri dan sesuatu yang diberikan oleh Tuhan. Ayat 38:9 menyebut rahmat Tuhanmu tanpa pembanding, sedangkan 43:32 menaruh pembandingnya, yaitu apa yang mereka kumpulkan. Pembaca yang sedang mengumpulkan sesuatu dapat menimbang apa isi kumpulannya, dan di sebelah mana rahmat yang tidak dikumpulkannya diletakkan?
  • Dua nama sesudah rabbika di 38:9 berjajar: Sang Digdaya dan Sang Pemberi. Di 38:2 kedigdayaan berdampingan dengan permusuhan, dan di 38:9 kata dari akar yang sama menjadi nama Dia yang kepada-Nya perbendaharaan rahmat disandarkan, berdampingan dengan pemberian. Kuasa dan pemberian disebut berurutan dalam satu ayat tentang satu Tuhan. Bagi pembaca yang memiliki kekuatan dalam bentuk apa pun, ke arah mana kekuatan itu paling sering dipakai: menahan atau memberi?
  • Di 3:8 dan 38:35 orang yang berbicara kepada Sang Pemberi memakai kata kerja anugerahkanlah, lalu menutupnya dengan pengakuan sesungguhnya Engkaulah Sang Pemberi. Di 38:9 pembicara lain memeriksa siapa yang pantas menentukan penerima. Dua sikap itu terhadap pemberian dari Sang Pemberi bertemu di surah yang sama: sikap meminta, di 38:35, dan sikap menetapkan, di 38:8 sampai 38:9. Ayat 38:35 diucapkan oleh seorang yang berdoa kepada Tuhannya dan tidak berkaitan langsung dengan para penolak. Bila pembaca menginginkan sesuatu yang bukan miliknya, kalimat yang terbentuk di hati pembaca lebih mirip anugerahkanlah kepadaku, atau lebih mirip siapa yang pantas?
  • Ayat 38:9 berakhir pada tanda tanya dan tidak menuliskan jawabannya. Pembaca dibiarkan menjawab sendiri, dengan menimbang apa yang sebenarnya ada di sisinya. Bentuk ini sama dengan 52:37, yang menanyakan apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu, lalu berpindah ke pertanyaan lain tanpa menjawab yang pertama. Dalam kedua ayat itu, Tuhan disebut dengan kata ganti yang menyapa satu orang, yaitu Tuhanmu, sehingga pertanyaan diajukan atas nama Tuhan yang disapa. Bila jawaban dibiarkan kosong oleh teks, apa yang dilakukan pembaca dengan ruang yang ditinggalkan itu?