وَمَا يَنْظُرُ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً مَا لَهَا مِنْ فَوَاقٍ
Dan orang-orang ini tidak menunggu selain satu teriakan yang tidak ada selanya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمَا يَنْظُرُ هَٰؤُلَاءِwa-maa yanzhuru haa'ulaa'idan orang-orang ini tidak menunggu
- إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً مَا لَهَا مِنْ فَوَاقٍillaa shayhatan waahidatan maa lahaa min fawaaqinselain satu teriakan yang tidak ada selanya
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- يَنْظُرُyanzhurumemperhatikan
- هَٰؤُلَاءِhaa'ulaa'imereka ini
- إِلَّاillaakecuali
- صَيْحَةًshayhatansuara keras
- وَاحِدَةًwaahidatansatu
- مَاmaatidaklah
- لَهَاlahaabaginya
- مِنْmindari
- فَوَاقٍfawaaqinjeda
Inti bacaan
Bentuk (فَوَاقٍ, fawaaqin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:15.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَا يَنْظُرُ, wa-maa yanzhuru) yang berarti "dan tidak menunggu". Kata maa di sini penyangkal, dan kata kerja yanzhuru berakar ن-ظ-ر. Kata kerja ini bersama illaa tercatat delapan kali dalam bentuk jamak, (يَنْظُرُونَ إِلَّا, yanzhuruuna illaa), yaitu di 2:210, 6:158, 7:53, 16:33, 35:43, 36:49, 43:66, dan 47:18. Di tujuh dari delapan ayat itu yang ditunggu disusul kata kerja datang atau menyambar, misalnya (أَنْ تَأْتِيَهُمُ, an ta'tiyahumu) yang berarti "bahwa datang kepada mereka" di 6:158 dan (تَأْخُذُهُمْ, ta'khudzuhum) yang berarti "menyambar mereka" di 36:49. Bila kata kerja yang sama disusul (إِلَيْكَ, ilayka) yang berarti "kepadamu", seperti di 33:19 dan 47:20, artinya pandangan mata dan terjemahan memakai "memandang". Di 38:15 sesudah illaa ada satu peristiwa, bukan benda yang dipandang, sehingga terjemahan memakai "menunggu".
Pelaku kata kerja itu adalah (هَٰؤُلَاءِ, haa'ulaa'i) yang berarti "mereka ini", dan terjemahan menuliskannya "orang-orang ini". Kata haa'ulaa'i adalah penunjuk dekat. Ayat 38:13 memakai penunjuk jauh (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "mereka itu" untuk kaum-kaum terdahulu, sehingga perpindahan dari 38:13 ke 38:15 sekaligus perpindahan dari "itu" ke "ini". Ayat ini tidak menyebut nama pihak yang ditunjuk.
Sesudah illaa datang (صَيْحَةً وَاحِدَةً, shayhatan waahidatan) yang berarti "satu teriakan". Susunan ini tercatat lima kali, yaitu di 36:29, 36:49, 36:53, 38:15, dan 54:31. Kalimat (مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً, maa yanzhuruuna illaa shayhatan waahidatan) yang berarti "mereka tidak menunggu selain satu teriakan" tercatat satu kali di luar ayat ini, yaitu di 36:49, dan di sana kalimatnya berlanjut ke akibat teriakan itu, yaitu menyambar mereka saat mereka bertengkar. Kata shayhah sendiri tercatat tiga belas kali. Tujuh ayat yang memakai kata sandang, yaitu 11:67, 11:94, 15:73, 15:83, 23:41, 29:40, dan 50:42, diterjemahkan "suara menggelegar". Dari enam ayat tanpa kata sandang, yaitu 36:29, 36:49, 36:53, 38:15, 54:31, dan 63:4, lima diterjemahkan "teriakan" dan satu, 54:31, "suara menggelegar". Ayat ini mengikuti lima ayat yang memakai "teriakan".
Ujung ayat berbunyi (مَا لَهَا مِنْ فَوَاقٍ, maa lahaa min fawaaqin) yang berarti "yang tidak ada selanya". Kata lahaa berarti "baginya" dan menunjuk teriakan tadi. Kerangka (مَا لَهَا مِنْ, maa lahaa min) tercatat tiga kali, yaitu di 14:26, 38:15, dan 50:6, dan sesudahnya selalu ada kata benda tak bersandang yang ditiadakan: (قَرَارٍ, qaraarin) yang berarti "ketetapan" di 14:26, (فُرُوجٍ, furuujin) yang berarti "retak-retak" di 50:6, dan (فَوَاقٍ, fawaaqin) di 38:15. Bentuk fawaaqin tercatat sekali, di 38:15. Akar ف-و-ق dipakai di kata lain, misalnya (فَوْقَ, fawqa) yang berarti "di atas" di 3:55, dan kata kerja dari akar ini tercatat sekali, yaitu (أَفَاقَ, afaaqa) di 7:143 yang diterjemahkan "sadar" setelah Musa jatuh pingsan. Pemakaian itu memberi petunjuk arah makna akar ini, yaitu pulih sesudah satu keadaan, dan 38:15 tidak mengulang penjelasannya. Terjemahan memilih "sela" karena kata itu menyebut ruang di antara dua hal tanpa menambah keterangan tentang isinya.
Tafsiran
Ayat ini mengalihkan pembicaraan dari kaum-kaum terdahulu ke pihak yang ditunjuk dengan kata "ini", dan sekaligus mengubah bentuk pernyataannya. Ayat 38:12 sampai 38:14 menuturkan perbuatan kaum-kaum terdahulu dan putusan yang berlaku atas mereka. Ayat 38:15 menyebut sesuatu yang ditunggu. Teks tidak menamai pihak itu. Ayat 38:2 dan 38:4 menyebut orang-orang yang kufur, dan 38:8 berbunyi bahwa mereka belum merasakan azab-Ku, sehingga 38:15 dapat dibaca sebagai kelanjutan pembicaraan tentang pihak yang sama. Pembacaan itu tetap sebuah kemungkinan, sebab 38:15 sendiri tidak mengulang nama atau sebutan dari ayat-ayat itu.
Susunan kalimatnya sama dengan 36:49, tetapi bagian akhirnya berbeda. Di 36:49 teriakan itu disebut menyambar mereka saat mereka bertengkar, lalu 36:50 mencatat bahwa mereka tidak dapat membuat wasiat, (وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ, wa-laa ilaa ahlihim yarji'uuna) yang berarti "dan tidak dapat kembali kepada keluarga mereka". Di 38:15 tidak ada keterangan tentang apa yang dilakukan teriakan itu. Keterangan yang ada hanya sifatnya, yaitu tidak ada selanya. Akibat seperti di 36:50 dapat dibaca sebagai gambaran tidak adanya sela, tetapi 38:15 tidak menyebutnya.
Sesudah 38:15, ayat 38:16 langsung mengutip ucapan mereka, dan ucapan itu berkaitan dengan waktu. Ayat 38:15 menyatakan tidak ada sela, dan 38:16 memuat permintaan agar sesuatu disegerakan. Dua ayat berurutan itu membicarakan jarak waktu dari dua arah, yang satu menyatakan jarak itu tidak ada dan yang lain meminta jarak itu dipendekkan.
Renungan dan Hikmah
- Tujuh dari delapan ayat yang memakai kata menunggu dengan pola ini menaruh orang yang menunggu dalam posisi penerima: sesuatu akan datang kepada mereka. Di 2:210 orang-orang menunggu kedatangan Allah dalam naungan awan, dan di 6:158 mereka menunggu kedatangan para malaikat, kedatangan Tuhanmu, atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Ayat 38:15 menyebut satu teriakan dan tidak memuat kata kerja datang. Ayat-ayat itu berbicara tentang pihak yang berlainan dan tidak disamakan oleh teks. Pembaca dapat menuliskan apa saja yang sedang ditunggunya, lalu bertanya berapa di antaranya yang akan datang dengan sela dan berapa yang tidak.
- Ayat 16:61 berbicara tentang Allah yang menangguhkan manusia sampai waktu yang ditentukan, (فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً, fa-idzaa jaa'a ajaluhum laa yasta'khiruuna saa'atan) yang berarti "maka apabila ajal mereka datang, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun". Kalimat yang sama muncul di 7:34 dan 10:49, dan di 10:49 sebuah ucapan dibuka dengan penegasan bahwa si pembicara tidak menguasai apa pun kecuali yang Allah kehendaki. Ayat 38:15 menyebut teriakan tanpa sela, dan tidak menyebut siapa yang menetapkan waktunya. Ayat 16:61 menyatakan penangguhan dan pengakhirannya ada pada Allah. Bila waktu menjadi ruang yang diberikan, pembaca dapat menimbang bagaimana ruang itu dipakainya, dan siapa yang dianggapnya memegang batasnya.
- Di 36:49 sampai 36:53, teriakan disusul tiupan sangkakala, dan orang-orang bergegas dari kubur menuju Tuhan mereka, (إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ, ilaa rabbihim yansiluuna) yang berarti "menuju Tuhan mereka". Di ayat 36:53 mereka semua dihadirkan kepada Kami. Ayat 38:15 tidak menyebut tujuan itu, dan 36:29 memakai susunan teriakan yang sama untuk penduduk sebuah negeri, jadi tidak setiap pemakaian bermuara ke tujuan yang sama. Teriakan di 38:15 berhenti pada sifatnya. Apa yang tersisa dari sebuah peringatan bila pembacanya berhenti di bunyi, seperti 38:15 yang berhenti pada sifat teriakan?
- Ayat 38:15 menyebut pihaknya dengan kata "ini", penunjuk dekat, dan tidak memberi nama atau sebutan lain. Pembaca yang membaca kata "ini" memutuskan sendiri siapa yang ditunjuk, dan keputusan itu menentukan apakah ayat terbaca sebagai laporan tentang orang lain atau sebagai ayat yang mengenainya. Teks hanya memberi penunjuk dan satu kata kerja, menunggu. Dengan ukuran apa pembaca memastikan bahwa penunjuk dekat itu tidak mencakup dirinya, dan siapa yang menetapkan ukuran itu? Ayat sesudahnya, 38:16, mengutip ucapan mereka, sehingga pembaca dapat menimbang apakah ucapannya sendiri pernah menyerupai ucapan itu.
- Kata fawaaq tercatat sekali di 38:15, sedangkan kata kerja dari akar yang sama, afaaqa di 7:143, berbicara tentang sadar kembali sesudah pingsan. Al-Qur'an memakai kata untuk sela itu dalam kalimat yang meniadakannya, dan tidak memberi contoh sela yang ada. Pembaca yang punya banyak nama untuk jeda dalam hidupnya, seperti menunda, menyela, atau menanti saat yang lebih baik, dapat memeriksa jeda mana yang sedang dipakai untuk sesuatu yang ditangguhkannya.
- Di 36:49 teriakan menyambar mereka saat mereka bertengkar, dan di 36:29 mereka seketika padam. Dua ayat itu menyebut keadaan pada saat teriakan datang, dan 38:15 tidak menyebutnya. Bila teriakan tidak punya sela, keadaan pembaca saat itu adalah keadaan yang sedang dijalaninya sekarang, tanpa waktu untuk menyiapkan yang lain. Ayat 36:50 mencatat dua hal yang tidak sempat dilakukan: membuat wasiat dan kembali kepada keluarga. Pembaca dapat memeriksa apa yang sedang dipegangnya hari ini, pertengkaran, tumpukan urusan, atau sesuatu yang ditundanya, dan bertanya apakah keadaan itu yang ingin ditemukan seandainya tidak ada sela.