إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

Sesungguhnya Kami tundukkan gunung-gunung bersamanya, yang bertasbih pada waktu petang dan pagi,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُinnaa sakhkharnaa l-jibaala ma'ahusesungguhnya Kami tundukkan gunung-gunung bersamanya
  2. يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِyusabbihna bi-l-'asyiyyi wa-l-isyraaqiyang bertasbih pada waktu petang dan pagi

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. سَخَّرْنَاsakhkharnaaKami menundukkan
  3. الْجِبَالَl-jibaalagunung-gunung
  4. مَعَهُma'ahubersamanya
  5. يُسَبِّحْنَyusabbihnamereka bertasbih
  6. بِالْعَشِيِّbi-l-'asyiyyipada petang hari
  7. وَالْإِشْرَاقِwa-l-isyraaqidan pagi hari

Inti bacaan

Susunan (سَخَّرْنَا الْجِبَالَ, sakhkharnaa l-jibaala) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:18.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا سَخَّرْنَا, innaa sakhkharnaa) yang berarti "sesungguhnya Kami tundukkan". Kata kerja sakhkhara berakar س-خ-ر, dan bentuk (سَخَّرْنَا, sakhkharnaa) tercatat empat kali, yaitu di 21:79, 22:36, 38:18, dan 38:36. Sasaran penundukannya berbeda-beda: gunung-gunung di 21:79 dan 38:18, unta-unta untuk kurban di 22:36, dan angin di 38:36. Terjemahan memakai "menundukkan" di keempatnya, dan pelakunya selalu Kami. Rangkaian (سَخَّرْنَا الْجِبَالَ, sakhkharnaa l-jibaala) yang berarti "Kami tundukkan gunung-gunung" hanya ada di 38:18. Di 21:79 nama Daud ditulis penuh di tengah, (وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ, wa-sakhkharnaa ma'a daawuuda l-jibaala) yang berarti "dan Kami tundukkan gunung-gunung bersama Daud".

Di 38:18 nama itu diganti akhiran. Kata (مَعَهُ, ma'ahu) yang berarti "bersamanya" tersusun dari ma'a yang berarti "bersama" dan -hu yang berarti "-nya", dan -hu menunjuk Daud yang disebut di 38:17. Rangkaian (الْجِبَالَ مَعَهُ, l-jibaala ma'ahu) yang berarti "gunung-gunung bersamanya" tercatat satu kali. Di 34:10 kata yang sama muncul dalam seruan, (يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ, yaa jibaalu awwibii ma'ahu) yang berarti "wahai gunung-gunung, bertasbihlah berulang bersamanya". Kata kerja (أَوِّبِي, awwibii) di sana berakar أ-و-ب, akar yang sama dengan (أَوَّابٌ, awwaabun) yang berarti "selalu kembali" di 38:17.

Gunung-gunung itu diberi kata kerja (يُسَبِّحْنَ, yusabbihna) yang berarti "mereka bertasbih". Kata ini berakar س-ب-ح, dan akhiran -na menandai pelaku jamak perempuan, yaitu gunung-gunung. Bentuk yusabbihna tercatat dua kali, yaitu di 21:79 dan 38:18. Di kedua ayat itu tidak ada kata yang menyebut kepada siapa tasbih diarahkan. Di ayat lain tujuan itu ditulis, misalnya (تُسَبِّحُ لَهُ, tusabbihu lahu) yang berarti "bertasbih kepada-Nya" di 17:44 dan (سَبَّحَ لِلَّهِ, sabbaha li-llaahi) yang berarti "bertasbih kepada Allah" di 59:1. Terjemahan 38:18 memakai "bertasbih" saja dan tidak menambahkan tujuan yang tidak tertulis.

Ayat ini ditutup dengan (بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ, bi-l-'asyiyyi wa-l-isyraaqi) yang berarti "pada waktu petang dan pagi". Kata (بِالْعَشِيِّ, bi-l-'asyiyyi) tercatat empat kali, yaitu di 3:41, 38:18, 38:31, dan 40:55. Di 3:41 dan 40:55 pasangannya (وَالْإِبْكَارِ, wa-l-ibkaari) yang berarti "dan pagi", dan susunan (بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ, bi-l-'asyiyyi wa-l-ibkaari) tercatat dua kali. Di 38:18 pasangannya kata lain, (وَالْإِشْرَاقِ, wa-l-isyraaqi), yang tercatat satu kali dan berakar ش-ر-ق. Akar yang sama muncul pada (مُشْرِقِينَ, musyriqiina) yang diterjemahkan "ketika matahari terbit" di 15:73 dan "pada waktu matahari terbit" di 26:60. Terjemahan memilih "pagi" untuk isyraaq, waktu yang mencakup saat matahari terbit, dan mempertahankan urutan Arabnya, petang lebih dahulu.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan hal pertama yang dilakukan untuk Daud sesudah dua sifat di 38:17: gunung-gunung ditundukkan bersamanya, lalu gunung-gunung itu bertasbih. Menurut ayat, gunung-gununglah yang bertasbih, karena kata kerjanya berbentuk jamak perempuan. Daud ditaruh sebagai pihak yang bersama mereka, dan ayat ini tidak menyatakan bahwa Daud sendiri bertasbih. Pelaku penundukannya Kami, bukan Daud, sehingga ayat ini menaruh peristiwa itu di tangan pihak yang menundukkan.

Ayat sejajar di 34:10 memakai kata kerja lain pada posisi yang sama. Di sana gunung-gunung diseru dengan awwibii, dari akar أ-و-ب, yaitu akar kembali yang dipakai untuk Daud di 38:17. Di 38:18 posisi itu diisi tasbih, dan di 38:19 kata awwaab dipakai untuk burung-burung, (كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ, kullun lahu awwaabun) yang berarti "masing-masing selalu kembali kepada-Nya". Dengan susunan itu tiga ayat berurutan, 38:17 sampai 38:19, mempertemukan Daud, gunung-gunung, dan burung-burung dalam satu gerak yang sama, dan ayat 38:18 berada di tengahnya sebagai tempat gunung-gunung bergabung.

Waktu yang disebut juga bertemu dengan ayat lain. Perintah bertasbih pada waktu petang dan pagi diberikan kepada Zakaria di 3:41 dan kepada "engkau" di 40:55. Di 38:18 waktu yang sama dipakai untuk gunung-gunung. Teks tidak menyatakan bahwa jadwal gunung-gunung menjadi pola bagi manusia, atau sebaliknya. Ketiga ayat itu hanya menyebut petang dan pagi sebagai batas waktu tasbih.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 38:18 menyebut gunung-gunung bertasbih, dan 17:44 menyebut bahwa tidak ada sesuatu pun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya, lalu menambahkan bahwa manusia tidak memahami tasbih mereka. Ayat 17:44 menyebut tasbih yang tidak dipahami manusia, dan 38:18 menyebut tasbih gunung-gunung. Gunung dikenal sebagai benda yang diam, dan ayat ini menaruh tasbih di sana. Tasbih itu berlangsung bersama Daud, sedangkan ayat 17:44 menyatakan hal serupa untuk apa saja yang ada di langit dan di bumi tanpa menyebut Daud. Seberapa banyak yang bertasbih di sekitar pembaca tanpa pernah dipahaminya, dan apa yang berubah dalam caranya memandang benda diam bila ayat ini benar?
  • Gunung-gunung bertasbih bersama Daud, dan ayat tidak menyebut Daud berhenti atau digantikan. Ayat 22:18 menyebut gunung termasuk yang tunduk kepada Allah, bersama matahari, bulan, bintang, pohon, hewan melata, dan kebanyakan manusia. Pada daftar itu manusia berada di antara makhluk lain dan bukan di depan mereka. Dalam 38:18 pun manusia disebut bersama gunung. Orang yang membayangkan ibadah sebagai urusan antara dirinya dan Tuhan saja akan menemukan di dua ayat ini barisan yang lebih panjang daripada bayangannya. Pembaca dapat bertanya di barisan mana dirinya berdiri, dan siapa saja yang sudah ada di sana sebelum kedatangannya.
  • Petang dan pagi adalah dua batas hari yang disebut untuk gunung-gunung di 38:18. Di 3:41 Zakaria diperintah menyebut Tuhannya sebanyak-banyaknya dan bertasbih pada petang dan pagi, dan di 40:55 perintah serupa diberikan dengan memuji Tuhanmu. Dua batas hari itu disebut pada tiga pihak yang berbeda: gunung, Zakaria, dan orang yang disapa "engkau" di 40:55. Ayat tidak menyatakan manusia harus meniru gunung. Pembaca dapat melihat jam-jam yang membatasi harinya sendiri, saat bangun dan saat berhenti, lalu bertanya sedang memegang apa pada dua jam itu, dan siapa yang mendapat perhatiannya di sana.
  • Di 38:18 Kami menundukkan gunung-gunung. Daud, yang di 38:17 disebut mempunyai kekuatan, tidak menjadi pelakunya. Kekuatan yang disebut di satu ayat dan penundukan yang disebut di ayat berikutnya berada di dua pihak yang berlainan. Di ayat ini pihak lain yang menundukkan, dan kekuatan Daud tidak disebut bekerja di sana. Peran pemilik kekuatan di ayat ini adalah menyertai gunung-gunung. Bagaimana pembaca memandang kekuatannya sendiri bila perannya dalam satu peristiwa tinggal menyertai dan tidak menggerakkan?
  • Di 38:18 dan 21:79 gunung-gunung bertasbih tanpa kata yang menyebut kepada siapa. Di 17:44 tujuannya ditulis dengan lahu, dan di 59:1 dengan li-llaahi, bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Dua ayat tentang Daud tidak mengulang alamat itu, sehingga pembaca mengisinya dari ayat lain. Pembaca yang berhenti di 38:18 membawa pulang tasbih tanpa tujuan. Ke arah mana pembaca mengarahkan tasbihnya bila bertasbih, dan dari ayat mana arah itu diketahuinya?
  • Ayat 27:88 menyebut gunung-gunung yang dikira diam padahal berjalan seperti awan, dan menyebut hal itu sebagai perbuatan Allah yang menyempurnakan segala sesuatu. Ayat 38:18 menyebut gunung yang bertasbih. Dua ayat itu menggambarkan gunung dengan cara yang berbeda dari kesan mata: yang satu bergerak, yang lain bertasbih. Keduanya tidak menyebut gunung sebagai benda yang diam. Pembaca dapat menanyakan benda atau orang mana di sekitarnya yang selama ini dinilai diam, dan apa yang belum ia lihat dari mereka.