إِذْ دَخَلُوا عَلَىٰ دَاوُودَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ خَصْمَانِ بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَىٰ سَوَاءِ الصِّرَاطِ

Ketika mereka masuk menemui Daud, maka, ia terkejut karena mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! Dua orang yang berselisih; sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain. Maka, berilah keputusan di antara kami dengan hak, janganlah menyimpang, dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. إِذْ دَخَلُوا عَلَىٰ دَاوُودَ فَفَزِعَ مِنْهُمْidz dakhaluu 'alaa daawuuda fa-fazi'a minhumketika mereka masuk menemui Daud, maka, ia terkejut karena mereka
  2. قَالُوا لَا تَخَفْqaaluu laa takhafmereka berkata, janganlah takut
  3. خَصْمَانِ بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍkhashmaani baghaa ba'dhunaa 'alaa ba'dhindua orang yang berselisih; sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain
  4. فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْfa-hkum baynanaa bi-l-haqqi wa-laa tusythithmaka, berilah keputusan di antara kami dengan hak, janganlah menyimpang
  5. وَاهْدِنَا إِلَىٰ سَوَاءِ الصِّرَاطِwa-hdinaa ilaa sawaa'i sh-shiraathidan tunjukilah kami ke jalan yang lurus

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. إِذْidzketika
  2. دَخَلُواdakhaluumereka masuk
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. دَاوُودَdaawuudaDawud
  5. فَفَزِعَfa-fazi'amaka terkejut
  6. مِنْهُمْminhumdari mereka
  7. قَالُواqaaluumereka berkata
  8. لَاlaajanganlah
  9. تَخَفْtakhafengkau takut
  10. خَصْمَانِkhashmaanidua pihak yang berperkara
  11. بَغَىٰbaghaaberbuat aniaya
  12. بَعْضُنَاba'dhunaasebagian kami
  13. عَلَىٰ'alaaatas
  14. بَعْضٍba'dhinsebagian
  15. فَاحْكُمْfa-hkummaka putuskanlah
  16. بَيْنَنَاbaynanaadi antara kami
  17. بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
  18. وَلَاwa-laadan janganlah
  19. تُشْطِطْtusythithengkau menyimpang
  20. وَاهْدِنَاwa-hdinaadan tunjukkanlah kami
  21. إِلَىٰilaake
  22. سَوَاءِsawaa'itengah
  23. الصِّرَاطِsh-shiraathijalan

Inti bacaan

Kata kerja (تُشْطِطْ, tusythith) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:22, sedangkan (قَالُوا لَا تَخَفْ, qaaluu laa takhaf) muncul empat kali (11:70, 29:33, 38:22, 51:28).

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pembuka, (إِذْ دَخَلُوا عَلَىٰ دَاوُودَ, idz dakhaluu 'alaa daawuuda) yang berarti "ketika mereka masuk menemui Daud", memakai kata kerja jamak (دَخَلُوا, dakhaluu) "mereka masuk" yang disambung dengan (عَلَىٰ, 'alaa) "kepada". Bunyi (إِذْ دَخَلُوا, idz dakhaluu) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 15:52, 38:22, dan 51:25. Di 15:52 dan 51:25 bunyi lengkapnya (إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا, idz dakhaluu 'alayhi fa-qaaluu salaaman) yang berarti "ketika mereka masuk kepadanya, lalu mereka mengucapkan, 'Salam'", tentang para tamu Ibrahim. Di 38:22 tidak ada salam yang tertulis. Sesudah mereka masuk, ayat ini mencatat keadaan Daud, lalu ucapan mereka. Susunan (دَخَلُوا عَلَىٰ, dakhaluu 'alaa) yang diikuti nama seseorang juga muncul di 12:69 dan 12:99, yaitu masuk kepada Yusuf.

Kata (فَفَزِعَ, fa-fazi'a) yang berarti "maka ia terkejut" berakar ف-ز-ع dan muncul dua kali, yaitu di 27:87 dan 38:22. Di 27:87 kata itu menggambarkan siapa yang di langit dan di bumi pada hari sangkakala ditiup, dan terjemahannya sama, "terkejut". Kata (مِنْهُمْ, minhum) yang berarti "karena mereka" menunjuk sumber keterkejutan itu, dan ayat ini tidak merinci apakah cara masuk mereka atau kehadiran mereka yang mengejutkan.

Ucapan pertama mereka, (قَالُوا لَا تَخَفْ, qaaluu laa takhaf) yang berarti "mereka berkata, janganlah takut", muncul empat kali di empat surah, yaitu 11:70, 29:33, 38:22, dan 51:28. Di tiga tempat yang lain ucapan itu datang dari para utusan yang menemui Ibrahim (11:70, 51:28) dan Lut (29:33). Di 38:22 ucapan itu datang dari dua pihak yang berselisih, dan seperti di 11:70 dan 51:28 ucapan itu menyusul kata yang menyatakan rasa takut atau terkejut pada tuan rumah.

Kalimat berikutnya dibuka tanpa kata kerja, yaitu (خَصْمَانِ, khashmaani) yang berarti "dua orang yang berselisih". Kata itu muncul dua kali, yaitu di 22:19 dan 38:22, dan di 38:23 kedua pihak itu masing-masing satu orang, karena salah satunya berbicara tentang (أَخِي, akhii) "saudaraku". Sesudahnya (بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ, baghaa ba'dhunaa 'alaa ba'dhin) berarti "sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain". Kata kerja (بَغَىٰ, baghaa) berakar ب-غ-ي dan di sini berarti satu pihak melanggar pihak lain, ditandai oleh (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "kepada" atau "atas". Susunan yang sama muncul di 38:24 dengan kata kerja yang berubah, (لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ, la-yabghii ba'dhuhum 'alaa ba'dhin) "benar-benar sebagian mereka berbuat aniaya kepada yang lain", dan kata kerja serumpun dengan (عَلَىٰ, 'alaa) muncul pula di 28:76 dan 49:9. Ucapan itu menyatakan bahwa ada aniaya di antara mereka, dan tidak menyebut pihak mana yang melakukannya.

Permintaan pertama, (فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ, fa-hkum baynanaa bi-l-haqqi) yang berarti "maka, berilah keputusan di antara kami dengan hak", memakai kata kerja perintah. Bunyi (فَاحْكُمْ بَيْنَ, fa-hkum bayna) muncul empat kali di dua surah, yaitu 5:42, 5:48, 38:22, dan 38:26, dan dua di antaranya, yaitu 38:22 dan 38:26, berakhir dengan (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi). Di 38:26 bunyinya (فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ, fa-hkum bayna n-naasi bi-l-haqqi), dan di sana kalimat itu menjadi perintah kepada Daud. Permintaan kedua, (وَلَا تُشْطِطْ, wa-laa tusythith) yang berarti "dan janganlah menyimpang", memuat kata kerja (تُشْطِطْ, tusythith) dari akar ش-ط-ط yang muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Kata serumpun (شَطَطًا, syathathan) muncul dua kali, yaitu di 18:14 dan 72:4, dan terjemahan di sana "keterlaluan" dan "melampaui batas". Kata kerja di 38:22 tidak diikuti kata yang menyebut apa yang dilampaui, sehingga terjemahan menulis "janganlah menyimpang" tanpa tambahan "dari kebenaran".

Permintaan ketiga, (وَاهْدِنَا إِلَىٰ سَوَاءِ الصِّرَاطِ, wa-hdinaa ilaa sawaa'i sh-shiraathi) yang berarti "dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus", memakai (سَوَاءِ, sawaa'i) yang muncul lima kali dalam bentuk ini, yaitu di 5:60, 5:77, 37:55, 38:22, dan 44:47. Di 37:55 dan 44:47 kata itu bersama (الْجَحِيمِ, l-jahiimi) dan diterjemahkan "tengah-tengah neraka". Dengan kata jalan, (سَوَاءَ السَّبِيلِ, sawaa'a s-sabiili) di 2:108, 5:12, 28:22, dan 60:1, serta (سَوَاءِ السَّبِيلِ, sawaa'i s-sabiili) di 5:60 dan 5:77, terjemahannya "jalan yang lurus". Kata (الصِّرَاطِ, sh-shiraathi) muncul tiga kali, yaitu di 20:135, 23:74, dan 38:22. Di 20:135 bunyinya (الصِّرَاطِ السَّوِيِّ, sh-shiraathi s-sawiyyi), dan terjemahannya sama, "jalan yang lurus".

Tafsiran

Ayat ini mengurutkan peristiwa masuknya mereka menjadi empat langkah, yaitu mereka masuk, Daud terkejut, mereka menenangkannya, lalu mereka mengajukan perkara. Dengan urutan itu pihak-pihak yang tadi memanjat dinding mihrab (38:21) memulai dengan mengurangi rasa terkejut orang yang akan memutuskan, dan tuntutan datang sesudahnya.

Perkara dibuka dengan pengakuan bersama. Kedua pihak mengucapkannya dalam satu kalimat, memakai kata kami, dan kalimat itu berbunyi bahwa ada aniaya di antara mereka tanpa menunjuk pelakunya. Penunjukan baru muncul di 38:23, ketika salah satu dari mereka berbicara tentang saudaranya. Ayat ini karena itu memuat kesepakatan lebih dulu daripada tuduhan, yaitu kedua pihak mengakui bahwa ada aniaya.

Dua permintaan pertama, berilah keputusan dengan hak dan janganlah menyimpang, ditujukan kepada pemutus perkara dan menyangkut hasil. Permintaan ketiga, tunjukilah kami ke jalan yang lurus, menyangkut arah kedua pihak sendiri. Dengan permintaan ketiga itu Daud diperlakukan sebagai hakim sekaligus orang yang dapat menunjukkan jalan.

Permintaan pertama diulang hampir persis di 38:26 sebagai perintah kepada Daud, berilah keputusan di antara manusia dengan hak. Kedua ayat berada dalam satu kisah, sehingga permintaan kedua pihak dan perintah kepada Daud saling menyinggung.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mencatat bahwa Daud terkejut ketika mereka masuk, dan ucapan pertama yang dikutip sesudahnya adalah janganlah takut. Perkara belum dibuka. Pembaca yang pernah mendatangi seseorang dengan persoalan yang mendesak, kepada atasan, tetangga, atau saudara, dapat memperhatikan apa yang diucapkannya pertama kali. Tuntutan lebih dulu, atau sesuatu yang membuat orang yang didatangi merasa aman mendengar? Seberapa banyak dari persoalan itu akan berubah bila kalimat pertamanya berbunyi seperti kalimat pertama di ayat ini?
  • Kalimat yang diucapkan kedua pihak menyatakan bahwa sebagian dari mereka berbuat aniaya kepada yang lain, dan tidak menyebut siapa pelakunya. Allah merekam kalimat itu sebagai pembuka perkara, sebelum ada yang menunjuk orang. Dalam perselisihan sehari-hari, di rumah atau di tempat kerja, kalimat pertama dapat saja sudah memuat nama orang yang bersalah. Apakah perselisihan pembaca sendiri dapat dibuka dengan kalimat yang mengakui adanya aniaya di antara kedua pihak, sebelum menyebut siapa yang melakukannya?
  • Kedua pihak meminta keputusan dengan hak, dan kata yang sama diperintahkan Allah kepada Daud di 38:26 dalam bunyi yang hampir sama. Orang yang meminta diadili dengan hak sedang menetapkan ukuran sebelum putusan dijatuhkan, dan ukuran itu berlaku juga bila hasilnya merugikan dirinya. Pembaca yang pernah berkata biarlah diputuskan dengan adil dapat menimbang apakah dirinya siap menerima putusan itu seandainya jatuh kepada pihak lawan. Apa yang akan dikatakannya pada saat itu?
  • Dua pihak yang bertentangan berbicara bersama dalam satu rangkaian kalimat, memakai kata kami, dan memilih kata-kata yang sama untuk mengajukan perkara. Pertentangan mereka baru terbaca di 38:23, ketika salah satunya berbicara tentang saudaranya. Sebelum itu mereka mengajukan bersama tiga hal, yaitu adanya aniaya, keputusan dengan hak, dan jalan yang lurus. Pembaca yang sedang berselisih dapat mencari kalimat yang bisa diucapkan kedua pihak bersama-sama tanpa ada yang merasa dirugikan. Adakah satu kalimat seperti itu dalam perselisihannya?
  • Permintaan terakhir kedua pihak adalah tunjukilah kami ke jalan yang lurus, dan permintaan itu mencantumkan arah untuk kedua pihak sendiri, sedangkan hasil perkara sudah diminta dalam dua permintaan sebelumnya. Sengketa mereka tentang kambing baru terbaca di 38:23, dan sebelum itu permintaan mereka sudah sampai pada jalan. Pembaca yang membawa sengketa kepada seseorang yang dianggap bijak dapat memeriksa permintaannya: apakah hanya hasil yang diminta, atau ada permintaan tentang arah hidup sesudah sengketa selesai? Apa yang tertinggal bagi pembaca bila hasil perkara sudah diterima tetapi arah tidak diubah?
  • Kedua pihak meminta Daud tidak menyimpang, dan permintaan itu menaruh kemungkinan penyimpangan pada orang yang memutuskan. Di 38:26 Allah menyebut hawa nafsu sebagai sesuatu yang dapat menyesatkan Daud dari jalan Allah, dan peringatan itu datang beberapa ayat sesudah permintaan kedua pihak. Orang yang sering dimintai putusan, sebagai atasan, orang tua, atau wasit, dapat bertanya apa yang akan diminta pihak-pihak yang datang kepadanya agar tidak dilakukan. Adakah daftar semacam itu yang pernah didengar, dan didengarkan?