إِنَّ هَٰذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

Sesungguhnya ini saudaraku. Dia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan aku mempunyai seekor saja. Lalu, dia berkata, ‘Serahkan ia kepadaku!’ Dia mengalahkanku dalam perdebatan.”

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. إِنَّ هَٰذَا أَخِيinna haadzaa akhiisesungguhnya ini saudaraku
  2. لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةًlahu tis'un wa-tis'uuna na'jatandia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina
  3. وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌwa-liya na'jatun waahidatunsedangkan aku mempunyai seekor saja
  4. فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَاfa-qaala akfilniihaalalu, dia berkata, 'serahkan ia kepadaku'
  5. وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِwa-'azzanii fii l-khithaabidan dia mengalahkanku dalam perdebatan

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. هَٰذَاhaadzaaini
  3. أَخِيakhiisaudaraku
  4. لَهُlahubaginya
  5. تِسْعٌtis'unsembilan
  6. وَتِسْعُونَwa-tis'uunadan sembilan puluh
  7. نَعْجَةًna'jatanekor kambing betina
  8. وَلِيَwa-liyadan bagiku
  9. نَعْجَةٌna'jatunkambing betina
  10. وَاحِدَةٌwaahidatunsatu
  11. فَقَالَfa-qaalalalu ia berkata
  12. أَكْفِلْنِيهَاakfilniihaaserahkanlah ia kepadaku
  13. وَعَزَّنِيwa-'azzaniidan ia mengalahkanku
  14. فِيfiidalam
  15. الْخِطَابِl-khithaabiperkataan

Inti bacaan

Kata (وَتِسْعُونَ, wa-tis'uuna) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:23, dan kata kerja (أَكْفِلْنِيهَا, akfilniihaa) juga satu kali.

Penjelasan pilihan kata

Keluhan itu dibuka dengan (إِنَّ هَٰذَا أَخِي, inna haadzaa akhii) yang berarti "sesungguhnya ini saudaraku". Penutur menunjuk lawannya dengan (هَٰذَا, haadzaa) "ini", yaitu kata penunjuk untuk yang dekat dengan penutur, dan menyebut hubungannya dengan (أَخِي, akhii) "saudaraku". Bunyi (هَٰذَا أَخِي, haadzaa akhii) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 12:90, ketika Yusuf memperkenalkan saudaranya, dan di 38:23. Kata (أَخِي, akhii) sendiri muncul dua puluh satu kali di sebelas surah. Al-Qur'an memakai akar kata ini untuk saudara sedarah, misalnya (هَارُونَ أَخِي, haaruuna akhii) di 20:30, dan untuk saudara sekaum, (أَخَاهُمْ, akhaahum) "saudara mereka", yang muncul delapan kali di empat surah (7:65, 7:73, 7:85, 11:50, 11:61, 11:84, 27:45, 29:36) dan menyebut Hud, Saleh, atau Syuaib. Ayat 38:23 tidak menyebut apakah penutur dan lawannya saudara sedarah, sehingga terjemahan memakai "saudaraku" saja.

Angkanya ditulis (تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً, tis'un wa-tis'uuna na'jatan) yang berarti "sembilan puluh sembilan ekor kambing betina". Kata (وَتِسْعُونَ, wa-tis'uuna) muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 38:23, dan bilangan sembilan lainnya, (تِسْعَ, tis'a) di 17:101, (تِسْعًا, tis'an) di 18:25, dan (تِسْعَةُ, tis'atu) di 27:48, tidak membentuk bilangan sembilan puluh sembilan. Kata (نَعْجَةً, na'jatan) berakar ن-ع-ج. Akar ini muncul di dua ayat saja, 38:23 dan 38:24, sehingga tidak ada pembanding di surah lain, dan terjemahan memakai padanan yang sama, "kambing betina", di keduanya.

Pembanding yang disebutkan penutur ditulis (وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ, wa-liya na'jatun waahidatun) yang berarti "sedangkan aku mempunyai seekor". Kepemilikan lawannya ditulis dengan (لَهُ, lahu) "baginya", dan kepemilikan penutur dengan (لِيَ, liya) "bagiku", sehingga kedua pihak dihitung dengan huruf yang sama. Huruf wa di (وَلِيَ, wa-liya) menyatakan keadaan yang berjalan bersamaan dengan kalimat sebelumnya, sehingga terjemahan memakai "sedangkan".

Permintaan lawannya dikutip dengan (فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا, fa-qaala akfilniihaa) yang berarti "lalu, dia berkata, serahkan ia kepadaku". Kata (أَكْفِلْنِيهَا, akfilniihaa) tersusun dari kata kerja perintah akfil, akhiran -nii "-ku", dan akhiran -haa "dia perempuan", yaitu kambing betina itu. Bentuk ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Kata kerja dari akar ك-ف-ل di empat tempat lain selalu menyangkut pemeliharaan, yaitu (وَكَفَّلَهَا, wa-kaffalahaa) "dan menyerahkan pemeliharaannya" di 3:37, (يَكْفُلُ, yakfulu) "memelihara" di 3:44, (يَكْفُلُهُ, yakfuluhu) di 20:40, dan (يَكْفُلُونَهُ, yakfuluunahu) di 28:12. Di keempat tempat itu yang dipelihara manusia, sedangkan di 38:23 benda yang diminta seekor kambing. Terjemahan "serahkan ia kepadaku" memuat arah perbuatannya, dari pemilik kepada pemohon. Unsur pemeliharaan yang dibawa akar ini tidak ditulis sebagai kata tersendiri, karena ayat tidak merinci apa yang akan dilakukan pemohon.

Kata kerja terakhir, (وَعَزَّنِي, wa-'azzanii) yang berarti "dan dia mengalahkanku", berakar ع-ز-ز dan muncul satu kali dalam bentuk ini. Bentuk lain dari akar yang sama, (فَعَزَّزْنَا, fa-'azzaznaa) di 36:14, berarti "maka Kami kuatkan". Kata kerja di 38:23 menyebut pihak yang menjadi lebih kuat daripada penuturnya. Tempatnya disebut dengan (فِي الْخِطَابِ, fii l-khithaabi) "dalam perdebatan", kata yang sama dengan 38:20 dan diterjemahkan sama.

Tafsiran

Ayat ini menyusun keluhan dalam empat bagian. Hubungan disebut lebih dulu, yaitu saudaraku, lalu menyusul angka sembilan puluh sembilan dan satu, kemudian permintaan lawannya, dan terakhir kekalahan dalam perdebatan. Penutur membuka dengan hubungan dan menutup dengan kekalahan, dan permintaan atas kambing itu berada di tengah.

Ada empat lapis suara dalam rangkaian ini. Allah menuturkan kisah kepada pendengar di 38:21, dua pihak berbicara bersama di 38:22, salah satunya berbicara sendiri di 38:23, dan di dalam ucapan itu penutur mengutip kata-kata lawannya, serahkan ia kepadaku. Suara lawan terdengar lewat mulut orang yang mengeluh tentangnya, sehingga pendengar menerima perkara dari satu sisi.

Kata yang menutup ayat ini sudah muncul di 38:20, tempat Daud diberi keputusan dalam perdebatan. Dua kemunculan itu menempatkan bidang yang sama di awal dan di tengah kisah, yaitu bidang yang di 38:20 diberikan kepada Daud dan di 38:23 menjadi tempat seorang penuntut merasa kalah. Penutur melaporkan kekalahannya, dan ayat ini tidak menilainya.

Angka sembilan puluh sembilan berbanding satu dipakai sebagai bukti ketimpangan tanpa alasan tambahan. Bagaimana lawannya memperoleh sembilan puluh sembilan ekor itu tidak tertulis. Tanggapan Daud ada di 38:24, dan penilaian atas ucapan ini terbaca dari sana.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam keluhan ini dengan hubungan di urutan pertama, sesungguhnya ini saudaraku, dan angka baru menyusul sesudahnya. Penutur memperkenalkan lawannya sebagai saudara sebelum menuntutnya. Pembaca yang sedang menyimpan keluhan terhadap kerabat atau rekan dapat memperhatikan bagaimana kalimat pertamanya sendiri dibuka. Hubungan lebih dulu, atau kerugian lebih dulu? Dan ketika keluhan itu diucapkan di hadapan orang lain, apakah kata saudara masih terdengar di dalamnya?
  • Satu pihak berbicara di ayat ini, dan lawannya hadir lewat kutipan di dalam ucapan penuturnya. Kisah ini dituturkan kepada pembaca, yang mendengar sebelum memutuskan. Orang yang mendengar kabar tentang sebuah perselisihan, dari kerabat, dari rekan kerja, atau dari kelompok pesan, dapat menimbang berapa banyak kabar itu datang dari satu mulut. Bagaimana kata-kata seseorang terdengar bila yang menyampaikannya orang yang sedang mengeluh tentangnya?
  • Angka sembilan puluh sembilan dan satu diucapkan tanpa alasan tambahan, seolah-olah angka itu cukup. Pembaca dapat memperhatikan apakah ketimpangan yang kentara pernah terasa baginya sudah menjadi putusan sebelum satu pertanyaan pun diajukan, misalnya dalam perbandingan jumlah anggota keluarga, jumlah pekerjaan, atau jumlah uang. Apakah ada pertanyaan yang belum ditanyakan?
  • Keluhan terakhir penutur adalah dia mengalahkanku dalam perdebatan, dan kalimat itu menyebut kekalahan di bidang yang di 38:20 diberikan Allah kepada Daud sebagai keputusan. Perdebatan dapat menjadi tempat seseorang kalah. Pembaca dapat mengingat orang di sekelilingnya yang sulit membela diri dengan kata-kata, seperti anak, bawahan, atau tetangga yang pendiam. Siapa dari mereka yang pernah kalah dalam sebuah pembicaraan karena kurang pandai berbicara, dan apakah ada yang pernah menanyakan hal itu kepadanya?
  • Penutur menghitung miliknya dengan satu bilangan, dan permintaan lawannya jatuh pada bilangan itu. Alasan lawannya meminta kambing itu tidak tertulis, sehingga pembaca tidak perlu menduga niatnya. Ayat hanya memuat jumlah dan permintaan. Pembaca yang pernah diminta sesuatu oleh orang yang sudah memiliki banyak, atau yang pernah meminta sesuatu dari orang yang hanya memiliki satu, dapat menimbang dua kedudukan itu dengan jujur. Apakah jumlah milik masing-masing pernah masuk dalam hitungannya sebelum memintanya?
  • Allah menuturkan keluhan ini kepada pendengar dengan kata-kata penuntut sendiri, dan di ayat ini pendengar belum mendengar jawaban pihak lawan. Pembaca dapat berhenti di titik ini dan bertanya bagaimana dirinya akan menanggapi bila bagian ini saja yang didengarnya. Keluhan yang tersusun rapi, dengan angka dan kutipan, tetap merupakan keluhan satu pihak. Apa yang akan dilakukan pembaca bila satu pihak saja yang terdengar, dan apa yang akan diminta pembaca dari pihak yang tidak hadir?