فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَ ۖ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍ
Maka, Kami mengampuni hal itu baginya. Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَfa-ghafarnaa lahu dzaalikamaka, Kami mengampuni hal itu baginya
- وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍwa-inna lahu 'indanaa la-zulfaa wa-husna ma'aabinsesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik
Terjemahan per kata (9 kata)
- فَغَفَرْنَاfa-ghafarnaamaka Kami mengampuni
- لَهُlahubaginya
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- وَإِنَّwa-innadan sungguh
- لَهُlahubaginya
- عِنْدَنَا'indanaadi sisi Kami
- لَزُلْفَىٰla-zulfaabenar-benar kedekatan
- وَحُسْنَwa-husnadan sebaik-baik
- مَآبٍma'aabintempat kembali
Inti bacaan
Kata (زُلْفَىٰ, zulfaa) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 34:37, 38:25, 38:40, dan 39:3.
Penjelasan pilihan kata
Awalan fa pada (فَغَفَرْنَا, fa-ghafarnaa) yang berarti "maka Kami mengampuni" menyambung ayat ini langsung dengan 38:24, tempat Daud (فَاسْتَغْفَرَ, fa-staghfara) yang berarti "maka dia memohon ampunan". Dua kata kerja itu berakar sama, غ-ف-ر, dan keduanya dibuka dengan fa, sehingga permohonan berada di satu ayat dan pengampunan di ayat berikutnya. Bentuk (غَفَرْنَا, ghafarnaa) muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 38:25 dengan pelaku Kami, dan bentuk permohonan (فَاسْتَغْفَرَ, fa-staghfara) juga muncul satu kali, di 38:24.
Kata ganti -hu pada (لَهُ, lahu) yang berarti "baginya" menunjuk Daud, pelaku permohonan ampun di 38:24. Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "hal itu" adalah kata penunjuk jauh, dan di ayat ini kata itu menunjuk kembali ke 38:24. Ayat 38:24 menyebut beberapa hal berurutan, yaitu keyakinan Daud bahwa dirinya diuji, permohonan ampun, tersungkur, dan bertobat, dan ayat ini tidak memilih salah satunya. Terjemahan memakai "hal itu" dan tidak menambahkan "(kesalahannya)", karena tidak ada kata Arab yang menamai apa yang diampuni.
Kalimat kedua dibuka dengan (وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا, wa-inna lahu 'indanaa) yang berarti "sesungguhnya dia mempunyai di sisi Kami". Bunyi ini muncul dua kali di satu surah, yaitu di 38:25 dan 38:40, dan kalimat sesudahnya sama persis di kedua tempat. Kata (عِنْدَنَا, 'indanaa) muncul delapan kali di enam surah, yaitu 3:156, 15:21, 34:37, 37:168, 38:25, 38:40, 38:47, dan 50:4. Kata (لَزُلْفَىٰ, la-zulfaa) tersusun dari la "benar-benar" dan (زُلْفَىٰ, zulfaa) yang berarti "kedekatan". Kata (زُلْفَىٰ, zulfaa) muncul empat kali, yaitu di 34:37, 38:25, 38:40, dan 39:3. Di 34:37 bunyinya (تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ, tuqarribukum 'indanaa zulfaa) yang berarti "yang mendekatkan kalian kepada Kami sedekat-dekatnya", dan di 39:3 (لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ, li-yuqarribuunaa ilaa llaahi zulfaa) yang berarti "agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Di dua tempat itu ada kata kerja mendekatkan, sehingga kedekatan terbaca sebagai hasil sebuah gerak. Di 38:25 kata kerja itu tidak ada, dan kedekatan berdiri sebagai benda yang dimiliki Daud, yaitu (لَهُ, lahu) "baginya", di tempat yang ditunjuk (عِنْدَنَا, 'indanaa) "di sisi Kami". Terjemahan "kedudukan yang benar-benar dekat" menyampaikan kedekatan yang dimiliki itu dan memakai kata yang sama dengan 38:40. Kata "kedudukan" tidak mempunyai kata Arab tersendiri; kata itu dipakai sebagai wadah bagi kedekatan yang dimiliki di tempat yang ditunjuk.
Kata terakhir, (وَحُسْنَ مَآبٍ, wa-husna ma'aabin) yang berarti "dan tempat kembali yang baik", memuat (مَآبٍ, ma'aabin) dari akar أ-و-ب, akar yang sama dengan (أَوَّابٌ, awwaabun) "selalu kembali" yang disifatkan kepada Daud di 38:17. Bentuk (مَآبٍ, ma'aabin) muncul lima kali, yaitu di 13:29, 38:25, 38:40, 38:49, dan 38:55. Kata ini dengan akhiran apa pun muncul sembilan kali di empat surah, dan baik atau buruknya ditentukan kata di sebelahnya. Bunyi (حُسْنَ مَآبٍ, husna ma'aabin) muncul tiga kali, semuanya di surah 38, yaitu 38:25, 38:40, dan 38:49, dan dengan akhiran lain, (حُسْنُ مَآبٍ, husnu ma'aabin), muncul di 13:29 untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Di 38:55 kata yang sama bersama (شَرَّ, syarra) yang berarti "buruk", yaitu (لَشَرَّ مَآبٍ, la-syarra ma'aabin) "benar-benar tempat kembali yang buruk", dan di 78:22 bersama (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiina) "bagi orang-orang yang melampaui batas".
Tafsiran
Ayat ini menjawab permohonan di 38:24 dengan dua pernyataan, yaitu pengampunan dan kedekatan, dan jawaban itu datang tanpa syarat yang tertulis. Pengampunan ditulis dengan kata kerja Kami, kedekatan ditulis sebagai milik Daud di sisi Kami, dan kedua pernyataan itu disambung oleh huruf wa yang berarti "dan" tanpa kata penghubung lain. Apa yang diampuni tetap tidak bernama.
Kalimat kedua diulang utuh di 38:40, sesudah kisah Sulaiman. Di 38:34 Sulaiman disebut diuji lalu bertobat, dan di 38:35 Sulaiman memohon ampun. Di 38:24 Daud juga disebut meyakini dirinya diuji, memohon ampun, dan bertobat. Dua kisah dengan unsur yang sama itu ditutup oleh kalimat yang sama, sehingga kedekatan dan tempat kembali yang baik terbaca sebagai bagian dari akhir kedua kisah, dan keistimewaannya tidak terikat pada satu orang. Perbedaannya, 38:25 menyebut pengampunan lebih dulu, sedangkan di 38:40 kalimat itu berdiri tanpa kata kerja mengampuni di depannya.
Akar أ-و-ب mengikat 38:17 dan 38:25 dalam surah ini. Di 38:17 Daud disebut selalu kembali, dan di 38:25 Daud disebut mempunyai tempat kembali yang baik. Kata pertama menyebut sifat orang yang kembali, kata kedua menyebut tujuannya. Ayat 38:17 tidak menyebut ke mana Daud kembali, dan 38:25 menyebut tempat kembali itu dalam kalimat yang juga memuat kedekatan di sisi Kami.
Sesudah ayat ini, 38:26 berbicara langsung kepada Daud sebagai khalifah dengan perintah dan larangan, sehingga urutannya pengampunan dan kedekatan lebih dulu, lalu amanah dan peringatan. Hubungan sebab antara keduanya tidak ditulis, dan urutan itu hanya terbaca dari susunan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menulis pengampunan dengan satu kata kerja, Kami mengampuni, dan tidak menulis syarat, tebusan, atau jangka waktu sesudahnya. Ayat 38:24 mencatat apa yang dilakukan Daud, yaitu memohon ampun, tersungkur, dan bertobat, dan ayat ini mencatat jawabannya. Orang yang sedang menunggu maaf dari seseorang, atau sedang menimbang apakah akan memberi maaf, dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak menaruh daftar syarat di antara permohonan dan pengampunan. Syarat apa yang sebenarnya pembaca taruh di antara kedua hal itu, dan untuk siapa syarat itu dibuat?
- Sesudah mengampuni, Allah menyebut bahwa Daud mempunyai kedekatan di sisi-Nya. Kedekatan itu disebut sesudah pengampunan, tanpa tahap pemulihan yang tertulis. Orang yang pernah menjauh dari seseorang karena kesalahan, atau yang pernah dijauhi, dapat membandingkan urutan ayat ini dengan urutan dalam hubungannya sendiri. Apakah maaf yang diucapkan sudah disertai kedekatan, atau jarak masih dijaga sebagai tanda bahwa kesalahan belum selesai?
- Hal yang diampuni disebut dengan kata itu, tanpa nama dan tanpa uraian. Ayat yang mencatat pengampunan oleh Allah ini tidak membuka kembali apa yang terjadi, padahal ayat sebelumnya menyebut beberapa hal berurutan. Orang yang sering menceritakan kesalahan orang lain yang sudah dimaafkan, kepada kerabat, rekan kerja, atau tetangga, dapat memperhatikan seberapa rinci kesalahan itu disebutkan. Apakah kisah itu masih disebut lengkap dengan nama, urutan, dan akibatnya, atau cukup disebut sebagai hal itu?
- Daud disebut selalu kembali di 38:17, dan di 38:25 Allah menyebut bahwa Daud mempunyai tempat kembali yang baik. Orang yang kembali memerlukan tempat tujuan, dan ayat ini mencatat bahwa tempat itu ada di sisi Kami. Pembaca yang sering memulai lagi sesudah kegagalan, kemarahan, atau kelalaian dapat bertanya ke arah mana dirinya kembali dan apakah ada tempat yang diyakininya menerima. Apakah tempat itu dapat disebut dengan nama, atau hanya diandaikan ada?
- Kalimat tentang kedekatan dan tempat kembali yang baik ditulis Allah tentang Daud di 38:25 dan tentang Sulaiman di 38:40, sesudah dua kisah yang berbeda isinya. Satu kalimat dipakai dua kali, sehingga keistimewaan di dalamnya tidak terikat pada satu cerita. Pembaca yang membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap lebih dekat dengan Allah dapat memperhatikan bahwa kalimat ini tidak diberikan hanya kepada satu orang. Siapa yang sering dianggapnya lebih jauh dari tempat itu daripada dirinya sendiri?
- Kata kerja pengampunan di 38:25 berakar sama dengan kata kerja permohonan di 38:24, dan keduanya dibuka dengan huruf yang sama, sehingga ayat ini terbaca sebagai jawaban atas permohonan itu. Allah tidak menyebut jeda antara keduanya. Orang yang menunda meminta maaf, kepada Allah atau kepada sesama, dapat memperhatikan urutan ini. Apa yang menahan pembaca untuk memohon, dan apakah penahan itu kekhawatiran akan jawaban atau keengganan mengakui bahwa ada yang perlu diampuni?