يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi. Maka, berilah keputusan di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang keras, karena mereka melupakan hari perhitungan.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِyaa daawuudu innaa ja'alnaaka khaliifatan fii l-ardhiwahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi
- فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّfa-hkum bayna n-naasi bi-l-haqqimaka, berilah keputusan di antara manusia dengan hak
- وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِwa-laa tattabi'i l-hawaa fa-yudhillaka 'an sabiili llaahidan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah
- إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌinna lladziina yadhilluuna 'an sabiili llaahi lahum 'adzaabun syadiidunsesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang keras
- بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِbi-maa nasuu yawma l-hisaabikarena mereka melupakan hari perhitungan
Terjemahan per kata (31 kata)
- يَاyaawahai
- دَاوُودُdaawuuduDawud
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- جَعَلْنَاكَja'alnaakaKami menjadikanmu
- خَلِيفَةًkhaliifatankhalifah
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- فَاحْكُمْfa-hkummaka putuskanlah
- بَيْنَbaynadi antara
- النَّاسِn-naasimanusia
- بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَتَّبِعِtattabi'iengkau mengikuti
- الْهَوَىٰl-hawaahawa nafsu
- فَيُضِلَّكَfa-yudhillakamaka menyesatkanmu
- عَنْ'andari
- سَبِيلِsabiilijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- يَضِلُّونَyadhilluunamereka menyesatkan
- عَنْ'andari
- سَبِيلِsabiilijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- لَهُمْlahumbagi mereka
- عَذَابٌ'adzaabunazab
- شَدِيدٌsyadiidunyang keras
- بِمَاbi-maakarena apa yang
- نَسُواnasuumereka melupakan
- يَوْمَyawmahari
- الْحِسَابِl-hisaabiperhitungan
Inti bacaan
Instruksi inti kepemimpinan: 'berilah keputusan dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu', peringatan eksplisit bahwa kekuasaan (status khalifah) membawa godaan mengikuti keinginan pribadi yang harus dilawan aktif demi keadilan objektif.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memberi sebuah kedudukan kepada seorang raja, lalu memperingatkannya bukan tentang musuh.
Sebutan yang dipakai “khalifah” (خَلِيفَةً, khaliifatan) dalam bentuk tunggal, dan bentuk tunggal itu hanya dua kali muncul di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan ketika kedudukan itu pertama kali disebut bagi manusia (2:30). Bentuk jamaknya jauh lebih sering dipakai, dalam dua susunan yang berbeda (7:69, 7:74, 27:62; dan 6:165, 10:14, 10:73, 35:39). Jadi ketika kata itu dipakai untuk perorangan, ia hampir selalu untuk seseorang yang diberi kuasa memutuskan bagi orang banyak.
Yang menyusul bukan janji kemenangan, melainkan perintah dan larangan. Perintahnya memutuskan dengan hak; larangannya mengikuti hawa nafsu. Bahaya yang diperingatkan kepada seorang raja ternyata bukan pemberontakan dan bukan tentara lawan, melainkan sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri.
Akibatnya pun disebut lebih jauh daripada yang diduga. Mengikuti hawa nafsu tidak dikatakan menghasilkan keputusan yang keliru, melainkan “menyesatkan engkau dari jalan Allah”. Yang dipertaruhkan bukan mutu keputusannya, melainkan kedudukan orang yang memutuskan. Dan sebab akhirnya disebut lupa pada hari perhitungan: keadilan diletakkan sebagai akibat dari ingat, bukan sebagai hasil dari kepandaian.
Sebab terakhir yang disebut ayat ini memakai rangkaian yang tak terulang. Bentuk “hari perhitungan” (يَوْمَ الْحِسَابِ, yawma l-hisaabi) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Dan yang disebut bukan mengingkari hari itu, melainkan melupakannya. Perbedaan itu menentukan seluruh bacaan penutupnya.
Melupakan tidak menuntut keputusan apa pun. Ia tidak memerlukan penolakan, tidak memerlukan bantahan, dan tidak pernah terasa sebagai sikap. Orang yang mengingkari tahu ia sedang mengingkari; orang yang lupa tidak merasa sedang melakukan apa-apa. Bahwa yang disebut sebagai sebab akhir justru bentuk yang paling tidak terasa membuat peringatan ini berlaku jauh lebih luas daripada kepada orang yang menyangkal.
Rantai sebab-akibatnya pun disusun terbalik dari yang biasa. Dibaca dari belakang, urutannya menjadi jelas: lupa pada hari perhitungan melahirkan pengikutan hawa nafsu, pengikutan hawa nafsu melahirkan tersesat dari jalan, dan tersesat dari jalan melahirkan keputusan yang tidak dengan hak. Yang tampak sebagai perkara hukum ternyata berpangkal pada perkara ingatan.
Bentuk tunggal sebutan khalifah yang dipakai di sini hanya dua kali muncul di seluruh Al-Qur'an, dan yang satu lagi dipakai ketika kedudukan itu pertama kali disebut bagi manusia (2:30). Di sana ia diberikan kepada manusia pertama, di sini kepada seorang raja. Dua tempat, dan keduanya menyangkut seseorang yang diberi kuasa memutuskan bagi yang lain.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan amanah besar yang diemban Daud: kekuasaan sebagai khalifah disertai kewajiban menegakkan keadilan dan peringatan keras terhadap bahaya mengikuti hawa nafsu dalam memutuskan perkara. Yang paling patut diperhatikan adalah apa yang tidak disebut sebagai bahaya.
Kepada seorang yang memegang kekuasaan, peringatan yang paling wajar menyangkut musuh, pemberontakan, atau pengkhianatan orang dekat. Tidak satu pun dari itu disebut. Yang disebut hawa nafsu, yaitu sesuatu yang berada di dalam diri orang yang diperingatkan. Pemilihan itu memindahkan seluruh perhatian dari luar ke dalam.
Akibat yang disebutkan pun lebih jauh daripada yang diduga. Tidak dikatakan bahwa mengikuti hawa nafsu menghasilkan keputusan yang keliru. Yang dikatakan, ia menyesatkan dari jalan Allah. Jadi yang dipertaruhkan bukan mutu keputusannya, melainkan kedudukan orang yang memutuskan. Sebuah keputusan yang keliru bisa diperbaiki; kedudukan yang bergeser tidak selalu disadari sudah bergeser.
Rantai sebabnya dibaca dari belakang menjadi paling terang. Sebab terakhir yang disebut adalah lupa pada hari perhitungan, dan kata yang dipakai untuk hari itu hanya sekali muncul di seluruh kitab ini. Yang disebut bukan mengingkari melainkan melupakan, dan melupakan tidak menuntut keputusan apa pun. Keadilan karena itu diletakkan sebagai akibat dari ingat, bukan sebagai hasil dari kepandaian, dan ketidakadilan diletakkan sebagai akibat dari lupa, bukan dari niat jahat.
Renungan dan Hikmah
- Peringatan yang diberikan kepada seorang raja bukan tentang musuh atau pemberontakan, melainkan 'janganlah mengikuti hawa nafsu'. Yang paling mungkin menjatuhkan seseorang yang berkuasa disebut Allah berada di dalam dirinya. Semakin sedikit yang bisa menentangnya dari luar, semakin sedikit pula yang menahannya dari dalam. Peringatan itu juga diberikan pada saat kekuasaannya sedang diteguhkan, bukan ketika sedang goyah. Menempatkan peringatan di puncak, bukan di lembah, membuatnya jauh lebih sulit didengar.
- Akibat mengikuti hawa nafsu disebut menyesatkan 'dari jalan Allah', bukan sekadar menghasilkan keputusan yang keliru. Yang hilang bukan mutu putusannya, melainkan arah orangnya. Satu keputusan yang berat sebelah jarang berhenti sebagai satu keputusan. Kata yang dipakai menggambarkan tersesat di jalan, bukan berhenti di tempat. Orang yang tersesat tetap bergerak, tetap merasa sedang menempuh sesuatu, dan justru gerak itu yang menjauhkannya lebih cepat.
- Kalimatnya berbunyi 'Kami menjadikanmu khalifah di bumi'. Kedudukan itu disebut sebagai sesuatu yang diberikan, bukan yang diraih. Yang menerima kekuasaan sebagai titipan dan yang menganggapnya hasil sendiri akan memutuskan perkara dengan cara yang berbeda, meskipun keduanya duduk di kursi yang sama. Menyebutnya pemberian juga menentukan kepada siapa pertanggungjawabannya. Barang titipan selalu ditanyakan oleh yang menitipkan, dan pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan keberhasilan mengurusnya saja.
- Kepada seorang raja, Allah tidak memperingatkan musuh atau pemberontakan, melainkan hawa nafsu, dan akibatnya disebut tersesat dari jalan-Nya, bukan sekadar salah memutuskan. Dalam keputusan yang kita ambil hari ini, sisi mana yang sebenarnya sedang condong karena kita menginginkannya condong? Kecondongan yang kita inginkan hampir selalu datang lengkap dengan alasannya sendiri, dan alasan itulah yang membuatnya sulit dikenali sebagai kecondongan.
- Kata خَلِيفَةً dalam bentuk tunggal ini muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 2:30 dan 38:26. Yang pertama diucapkan Allah kepada para malaikat sebelum manusia ada, dan yang kedua diucapkan kepada seorang nabi yang sekaligus raja. Satu di awal segalanya, satu di tengah sejarah. Di 2:30 kedudukan itu langsung dipertanyakan malaikat karena khawatir akan pertumpahan darah; di sini kedudukan itu langsung disusul peringatan supaya tidak mengikuti hawa nafsu. Dua-duanya, begitu kata itu disebut, segera diikuti kekhawatiran.
- Tidak ada jeda antara pengangkatan dan peringatan. Kalimatnya menyebut penjadian, perintah memutuskan dengan hak, lalu larangan mengikuti hawa nafsu, semuanya beruntun. Susunan itu menolak anggapan bahwa peringatan datang sesudah orangnya terbukti bermasalah. Di sini peringatan datang bersamaan dengan pemberian, kepada orang yang belum melakukan kesalahan apa pun, dan justru karena itu ia terbaca sebagai keterangan tentang kedudukannya, bukan tentang wataknya.