وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya dengan sia-sia; itu dugaan orang-orang yang kufur. Maka, celakalah orang-orang yang kufur karena api.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًاwa-maa khalaqnaa s-samaa'a wa-l-ardha wa-maa baynahumaa baathilandan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya dengan sia-sia
  2. ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُواdzaalika zhannu lladziina kafaruuitu dugaan orang-orang yang kufur
  3. فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِfa-waylun li-lladziina kafaruu mina n-naarimaka, celakalah orang-orang yang kufur karena api

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. خَلَقْنَاkhalaqnaaKami ciptakan
  3. السَّمَاءَs-samaa'alangit
  4. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  5. وَمَاwa-maadan apa yang
  6. بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
  7. بَاطِلًاbaathilansia-sia
  8. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  9. ظَنُّzhannudugaan
  10. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  11. كَفَرُواkafaruukufur
  12. فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
  13. لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
  14. كَفَرُواkafaruukufur
  15. مِنَminadari
  16. النَّارِn-naariapi

Inti bacaan

Susunan fa-waylun li-lladziina kafaruu muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 19:37, 38:27, dan 51:60.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pertama ayat ini berbunyi (وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا, wa-maa khalaqnaa s-samaa'a wa-l-ardha wa-maa baynahumaa) yang berarti "dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya". Kata (خَلَقْنَا, khalaqnaa) berakar خ-ل-ق dan berakhiran -naa, "Kami". Rangkaian ini dengan "langit" bentuk tunggal hanya muncul dua kali, yaitu di 21:16 dan 38:27, sedangkan rangkaian yang sama dengan "langit" bentuk jamak, (السَّمَاوَاتِ, as-samaawaati), muncul dua kali di 15:85 dan 44:38. Penutup rangkaian itu berbeda dari tempat ke tempat. Di 21:16 dan 44:38 penutupnya (لَاعِبِينَ, laa'ibiina) yang berarti "dengan main-main", di 15:85 penutupnya (إِلَّا بِالْحَقِّ, illaa bi-l-haqqi) yang berarti "melainkan dengan kebenaran", dan di 38:27 penutupnya (بَاطِلًا, baathilan) yang berarti "dengan sia-sia".

Kata baathilan berakar ب-ط-ل dan berakhiran -an, penanda keadaan tak tentu, sehingga terbaca sebagai cara penciptaan itu berlangsung. Bentuk persis ini hanya muncul dua kali, yaitu di 3:191 dan 38:27. Di 3:191, (رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا, rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan) berarti "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia", ucapan orang-orang yang memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan ayatnya berlanjut dengan (فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, fa-qinaa 'adzaaba n-naari) yang berarti "maka lindungilah kami dari azab api". Ayat 38:27 diucapkan dengan "Kami" dan berakhir pada (مِنَ النَّارِ, mina n-naari) yang berarti "dari api", sehingga kedua ayat yang memuat baathilan sama-sama ditutup dengan kata api. Terjemahan memakai "sia-sia" di keduanya.

Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) berarti "itu" dan menunjuk ke gagasan yang baru dinafikan, yaitu penciptaan yang sia-sia. Kata (ظَنُّ, zhannu) berakar ظ-ن-ن dan berarti "dugaan", sama dengan terjemahan 10:60, dan susunan (ذَٰلِكَ ظَنُّ, dzaalika zhannu) hanya muncul di ayat ini. Contoh lain kata zhann yang bergandengan dengan pemiliknya ada di 10:60, 37:87, dan 41:23, dan ketiganya menyebut sasaran dugaan itu. Di 10:60, (وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ, wa-maa zhannu lladziina yaftaruuna 'alaa llaahi l-kadziba) berarti "dan apa dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah". Di 37:87, (فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ, fa-maa zhannukum bi-rabbi l-'aalamiina) menyebut "Tuhan seisi alam", dan di 41:23, (ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ, zhannukumu lladzii zhanantum bi-rabbikum) menyebut "Tuhan kalian". Di 38:27 sasaran semacam itu tidak tertulis. Ayat ini memuat isi dugaannya, yaitu penciptaan tanpa maksud, dan pemiliknya, yaitu (الَّذِينَ كَفَرُوا, lladziina kafaruu), "orang-orang yang kufur", dari akar ك-ف-ر.

Kata (فَوَيْلٌ, fa-waylun) tersusun dari fa, "maka", dan wayl, "celaka", dalam bentuk tak tentu. Bentuk persis (وَيْلٌ, waylun) muncul di 24 ayat pada 14 surah, yaitu di 2:79, 14:2, 19:37, 38:27, 39:22, 41:6, 43:65, 45:7, 51:60, 52:11, 77:15, 77:19, 77:24, 77:28, 77:34, 77:37, 77:40, 77:45, 77:47, 77:49, 83:1, 83:10, 104:1, dan 107:4. Jumlah surahnya lebih kecil daripada jumlah ayatnya karena surah 77 memuatnya sepuluh kali dan surah 83 dua kali. Susunan (فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا, fa-waylun li-lladziina kafaruu) muncul tiga kali, yaitu di 19:37, 38:27, dan 51:60, dan di ketiganya kelanjutannya diawali min yang menyebut asal kecelakaan itu. Di 19:37 asalnya (مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ, min masyhadi yawmin 'azhiimin) yang berarti "dari penyaksian hari yang agung", dan di 51:60 asalnya (مِنْ يَوْمِهِمُ الَّذِي يُوعَدُونَ, min yawmihimu lladzii yuu'aduuna) yang berarti "dari hari mereka yang dijanjikan". Di 38:27 asalnya api, bukan hari. Terjemahan memakai "karena" untuk min di sini, sebab api disebut sebagai sumber kecelakaan itu.

Tafsiran

Ayat ini memberi alasan bagi peringatan di akhir 38:26. Ayat sebelumnya menyebut azab yang keras bagi orang-orang yang sesat dari jalan Allah, dengan sebab (بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ, bi-maa nasuu yawma l-hisaabi) yang berarti "karena mereka melupakan hari perhitungan". Ayat 38:27 menyatakan bahwa langit, bumi, dan apa yang di antara keduanya tidak diciptakan dengan sia-sia, dan dapat dibaca bahwa pernyataan ini menyediakan dasar bagi hari perhitungan, sebab hari seperti itu masuk akal bila penciptaan punya maksud. Hubungan itu tidak dinyatakan dengan kata sambung, sehingga pembaca menariknya dari urutan ayat saja.

Dalam ayat ini terjadi tiga langkah: sebuah gagasan ditolak, gagasan itu diberi pemilik, lalu celaka ditambatkan pada pemilik itu lewat fa, kata yang menandai akibat. Dengan adanya pemilik, gagasan tentang penciptaan tanpa maksud tidak lagi terdengar sebagai kesimpulan yang netral. Ciri kelompok itu dalam ayat ini hanya dugaannya, dan perbuatan lain tidak disebut, sehingga ayat ini tidak menjelaskan apa saja yang termasuk kekufuran di luar dugaan itu.

Orang-orang yang memikirkan penciptaan di 3:191 sampai pada pernyataan yang searti, "tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia", lalu mengucapkannya kepada Tuhan dalam doa agar dilindungi dari azab api. Di 38:27 pernyataan itu diucapkan oleh pihak yang menciptakan, dan api muncul pada orang yang menduga sebaliknya. Ayat 3:191 melukiskan orang yang bersikap sesudah merenung, sedangkan 38:27 menyatakan keadaan orang yang menduga lain, sehingga keduanya tidak disamakan. Letak api di ujung kedua ayat dapat dilihat bersama: pengakuan akan maksud penciptaan dan ketakutan pada api bersambung di 3:191, sedangkan penolakan akan maksud itu dan api bersambung di 38:27.

Ayat sesudahnya, 38:28, dibuka dengan (أَمْ, am) yang berarti "ataukah" dan bertanya apakah orang beriman akan disamakan dengan perusak. Pertanyaan itu terbaca sebagai kelanjutan 38:27, sebab penciptaan yang bermaksud memberi dasar bagi pembedaan antara pelaku baik dan pelaku rusak. Setelah itu 38:29 menyebut kitab yang diturunkan agar tanda-tandanya dihayati. Dari 38:26 sampai 38:29 rangkaian ini bergerak dari peringatan kepada seorang pemimpin, ke maksud penciptaan, ke pertanyaan tentang perbedaan manusia, lalu ke tujuan sebuah kitab.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut pemilik dugaan itu, orang-orang yang kufur, dan dengan begitu anggapan bahwa dunia tanpa maksud berhenti terdengar sebagai kesimpulan yang netral. Anggapan itu punya alamat. Di 10:60, 37:87, dan 41:23 dugaan bergandengan dengan sasarannya, yaitu Allah, Tuhan seisi alam, dan Tuhan kalian, sedangkan di 38:27 sasaran semacam itu tidak tertulis dan yang disebut hanya penciptaan yang diduga sia-sia. Pembaca dapat memeriksa dugaan yang selama ini dipegangnya tentang maksud hari-harinya: pernahkah pembaca menanyakan dari mana dugaan itu datang dan siapa yang lebih dulu memegangnya? Ayat ini tidak meminta pemeriksaan semacam itu, tetapi dengan menamai pemiliknya, ayat ini membuat dugaan tentang penciptaan dapat ditunjuk dan dipertanyakan asalnya.
  • Di 3:191 pernyataan bahwa penciptaan tidak sia-sia keluar dari mulut orang-orang yang memikirkannya, dan mereka mengucapkannya kepada Tuhan sambil bertasbih. Di 38:27 pernyataan serupa diucapkan oleh pihak yang menciptakan. Dari bawah, pernyataan itu berbentuk pengakuan, dan dari atas berbentuk keterangan. Kedua ayat berbicara tentang keadaan yang berbeda dan tidak boleh dicampur. Pembaca dapat menimbang dari arah mana pernyataan itu sampai kepadanya: apakah pembaca melihat sendiri kebenarannya, atau mendengarnya dari luar? Orang-orang di 3:191 sampai pada pernyataan itu setelah berdiri, duduk, dan berbaring sambil mengingat Allah, sehingga pernyataan mereka menutup sebuah perjalanan dan bukan membukanya.
  • Ayat ini tidak berhenti pada langit dan bumi, karena ditambahkan pula (وَمَا بَيْنَهُمَا, wa-maa baynahumaa), apa yang di antara keduanya, sehingga ruang tempat manusia berjalan, bekerja, dan beristirahat ikut masuk ke dalam pernyataan. Tidak ada daftar tentang apa saja yang termasuk, jadi pembaca tidak menemukan bagian yang dikecualikan. Pembaca dapat membayangkan hari yang paling biasa dalam hidupnya, hari tanpa peristiwa besar, lalu bertanya apakah hari itu berada di dalam wilayah yang menurut Allah tidak diciptakan dengan sia-sia, atau di luarnya? Jawaban yang menempatkan hari biasa di luar wilayah itu perlu bertemu dengan kata yang dipilih ayat ini, yaitu apa yang di antara keduanya.
  • Ayat ini mengaitkan celaka dengan api lewat min, dan di dua ayat lain susunan yang sama mengaitkan celaka dengan sebuah hari. Dalam susunan fa-waylun yang diikuti min, asal kecelakaan itu karenanya disebut dengan nama yang berlainan, hari di satu tempat dan api di tempat lain. Bagi pembaca, perbedaan itu mengubah cara bertanya: pembaca dapat bertanya dari apa, selain bertanya kapan. Allah tidak merinci dalam ayat ini bagaimana api itu bekerja, dan pembaca tidak punya bahan untuk mengisinya dengan gambaran sendiri. Bila ayat memakai satu kata untuk asal kecelakaan itu, mengapa kata itu yang dipilih, dan apa yang tidak diucapkannya?
  • Ayat 38:26 menyebut orang yang melupakan hari perhitungan, dan 38:27 menyebut orang yang menduga penciptaan itu sia-sia. Yang pertama memakai kata kerja melupakan, yang kedua memakai kata benda dugaan, dan kedua ayat berurutan tanpa menyatakan bahwa keduanya sama. Orang yang merasa tidak pernah menolak apa pun kepada Tuhannya mungkin mendapati dirinya lebih dekat pada yang pertama daripada yang kedua. Pembaca dapat bertanya, kapan terakhir pembaca mengingat bahwa hari perhitungan ada, dan apakah ketiadaan ingatan itu sendiri sudah menjadi jawaban atas pertanyaan tentang maksud penciptaan yang belum pernah diajukannya?
  • Di 3:191 orang-orang itu menyapa Tuhan dengan (رَبَّنَا, rabbanaa), Tuhan kami, lalu menyebut-Nya sebagai yang menciptakan. Di 38:27 pencipta itu berbicara sendiri dengan Kami. Kedua ayat memuat pokok yang sama, yaitu penciptaan yang berasal dari satu pihak dan bermaksud, tetapi memberi pembaca dua tempat berdiri, sebagai penyapa atau sebagai pendengar. Pembaca yang memikirkan langit dan bumi dapat berada di salah satu tempat itu. Apakah pikirannya sampai pada sapaan kepada Tuhan seperti orang-orang di 3:191, atau berhenti sebelum itu, pada pemandangan saja?