كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, supaya mereka menghayati tanda-tandanya dan supaya orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌkitaabun anzalnaahu ilayka mubaarakunkitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah
- لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِli-yaddabbaruu aayaatihisupaya mereka menghayati tanda-tandanya
- وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِwa-li-yatadzakkara uluu l-albaabidan supaya orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran
Terjemahan per kata (9 kata)
- كِتَابٌkitaabunKitab
- أَنْزَلْنَاهُanzalnaahuKami menurunkannya
- إِلَيْكَilaykakepadamu
- مُبَارَكٌmubaarakunyang diberkahi
- لِيَدَّبَّرُواli-yaddabbaruuagar mereka merenungkan
- آيَاتِهِaayaatihitanda-tanda-Nya
- وَلِيَتَذَكَّرَwa-li-yatadzakkaradan agar mengambil pelajaran
- أُولُوuluuorang-orang yang memiliki
- الْأَلْبَابِl-albaabiakal
Inti bacaan
Tujuan eksplisit Al-Qur'an: 'supaya mereka menghayati tanda-tandanya dan orang-orang berakal sehat mendapat pelajaran', fungsi teks bukan sekadar dibaca sekilas, melainkan direnungkan mendalam dan dijadikan pelajaran aktif dalam kehidupan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut sebuah kitab, lalu menyebut untuk apa ia diberikan, dan tidak menyebut satu pun tujuan yang lain.
Sifat yang diberikan kepadanya “penuh berkah” (مُبَارَكٌ, mubaarakun), kata yang muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (6:92, 6:155, 21:50, 38:29). Sifat itu berdiri sendiri, tanpa keterangan tambahan tentang bagaimana berkahnya bekerja.
Dua maksud lalu disebut berurutan, dan keduanya pekerjaan pembaca, bukan sifat kitabnya. Yang pertama “supaya mereka menghayati tanda-tandanya” (لِيَدَّبَّرُوا, li-yaddabbaruu), dari akar yang berarti menelusuri sampai ke belakang sesuatu. Bukan membaca, bukan menghafal. Yang kedua supaya mengambil pelajaran.
Penerimanya disebut “orang-orang yang berakal sehat” (أُولُو الْأَلْبَابِ, uluu l-albaabi), sebutan yang dipakai juga untuk mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik (39:18). Syaratnya bukan bekal ilmu dan bukan kedudukan. Yang disyaratkan keadaan akal yang masih bekerja, dan itu sesuatu yang tersedia bagi hampir semua orang, sehingga tidak seorang pun bisa berkata kitab ini bukan untuknya.
Kata kerja yang menyebut maksud pertama tak terulang. Bentuk “supaya mereka menghayati” (لِيَدَّبَّرُوا, li-yaddabbaruu) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya sama dengan akar kata yang dipakai pada pertanyaan tidakkah mereka menadaburi (4:82, 47:24). Di kedua tempat itu ia berbentuk pertanyaan yang menegur; di sini ia berbentuk tujuan yang dinyatakan. Satu akar kata, sekali sebagai teguran, sekali sebagai maksud.
Susunan seperti itu mengubah kedudukan pekerjaan tersebut. Kalau hanya ada teguran, menghayati terbaca sebagai kewajiban yang dilalaikan. Karena ada juga pernyataan tujuan, ia terbaca sebagai alasan keberadaan kitab itu sendiri. Sebuah kitab yang menyebutkan sendiri untuk apa ia ada tidak menyerahkan penilaian itu kepada pembacanya.
Sebutan bagi penerimanya muncul tujuh kali di dalam Al-Qur'an (2:269, 3:7, 13:19, 14:52, 38:29, 39:9, 39:18). Dua di antaranya berada di surah berikutnya, dan salah satunya menerangkan orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik (39:18). Jadi sebutan yang di sini dipakai untuk penerima kitab, di sana dipakai untuk orang yang memeriksa apa yang didengarnya. Kedua pemakaian itu saling menerangkan.
Sifat yang diberikan kepada kitab itu sendiri, yaitu penuh berkah, dibiarkan tanpa uraian. Tidak dijelaskan bagaimana berkahnya bekerja dan tidak disebut apa tandanya. Yang diuraikan justru dua maksudnya, dan keduanya pekerjaan pembaca. Susunan itu memindahkan perhatian dari sifat benda kepada apa yang harus dikerjakan terhadapnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan tujuan penurunan wahyu, bukan sekadar teks yang dibaca, melainkan bahan renungan mendalam bagi mereka yang memiliki akal sehat. Yang menarik, sifat kitabnya disebut sekali lalu dibiarkan, sementara maksudnya diuraikan dua kali.
Sifat yang diberikan, yaitu penuh berkah, tidak dijelaskan sama sekali. Tidak disebut bagaimana berkahnya bekerja, tidak disebut apa tandanya, dan tidak disebut siapa yang merasakannya. Yang diuraikan justru dua maksud, dan keduanya pekerjaan pembaca. Susunan itu memindahkan perhatian dari apa benda itu kepada apa yang harus dikerjakan terhadapnya.
Kata kerja yang dipakai untuk maksud pertama berasal dari akar yang di dua tempat lain muncul sebagai teguran, yaitu pertanyaan tidakkah mereka menadaburi (4:82, 47:24). Di sini akar yang sama muncul sebagai pernyataan tujuan. Perbedaan bentuk itu mengubah kedudukan pekerjaannya: ia bukan kewajiban yang dilalaikan, melainkan alasan keberadaan kitab itu sendiri.
Syarat bagi penerimanya pun disebut dengan cara yang melapangkan, bukan menyempitkan. Bukan orang berilmu, bukan orang berkedudukan, dan bukan pula orang yang sudah beriman. Yang disebut orang yang berakal sehat, dan itu sesuatu yang tersedia pada hampir semua orang. Dengan syarat serendah itu, tidak seorang pun bisa berkata kitab ini bukan untuknya, dan tidak seorang pun bisa menyerahkan pekerjaan menghayatinya kepada orang lain.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut dua maksud penurunannya: menghayati tanda-tandanya, dan mengambil pelajaran. Dua-duanya. Membaca tak disebut sebagai tujuan. Dua maksud itu juga tersusun berjenjang. Yang pertama pekerjaan, yang kedua hasilnya. Menyebut hasil sebagai maksud tersendiri menandakan bahwa pekerjaan yang tidak sampai ke hasil belum dianggap selesai.
- Kata yang dipakai menghayati, menelusuri sampai dalam. Bukan membaca. Yang diminta pekerjaan yang memakan waktu. Kata itu dipakai juga untuk memikirkan akibat sesuatu sampai ke ujungnya. Yang diminta bukan cuma memahami arti kalimat, melainkan menelusuri ke mana kalimat itu bermuara kalau sungguh-sungguh dipegang.
- Allah menyebut penerimanya orang-orang yang berakal sehat. Bukan yang berilmu. Syaratnya bukan bekal, melainkan keadaan akalnya. Pilihan itu memindahkan syaratnya dari sesuatu yang dikumpulkan ke sesuatu yang dipakai. Ilmu bisa ditumpuk tanpa dipakai, sedangkan akal yang sehat cuma dikenali dari pemakaiannya.
- Allah menyebut penerimanya orang-orang yang berakal sehat, bukan orang yang berilmu atau berkedudukan. Kalau syaratnya sesuatu yang hampir semua orang punya, alasan apa yang selama ini kita pakai untuk merasa kitab ini bukan untuk kita? Alasan yang paling sering dipakai justru bukan alasan, melainkan kebiasaan menunda yang sudah terlalu lama sehingga terasa seperti keadaan. Orang jarang memutuskan berhenti mendekati kitab ini; ia cuma menunda satu hari, lalu satu hari lagi, sampai penundaan itu berubah menjadi jarak yang terasa wajar. Yang dipulihkan ayat ini bukan kemampuannya, melainkan haknya. Syarat yang disebut di sini sudah dipenuhi hampir setiap orang sejak sebelum ia bertanya apakah dirinya layak, dan pertanyaan tentang kelayakan itu sendirilah yang paling sering menjadi penghalangnya. Tidak ada satu kata pun di ayat ini yang menyaring pembacanya lebih dahulu.
- Sebutan أُولُو الْأَلْبَابِ muncul tujuh kali dalam enam surah, di 2:269, 3:7, 13:19, 14:52, 38:29, 39:9, dan 39:18; tujuh kemunculan tetapi enam surah karena surah 39 memakainya dua kali. Di hampir semua tempat itu sebutan tersebut dipasangkan dengan pekerjaan berpikir, bukan dengan kedudukan atau bekal ilmu. Allah tidak pernah memakainya untuk memuji orang karena banyak tahu; Dia memakainya untuk menyebut orang yang mengambil pelajaran dari apa yang sudah sampai kepadanya.
- Sifat مُبَارَكٌ muncul empat kali dalam tiga surah, di 6:92, 6:155, 21:50, dan 38:29; empat kemunculan tetapi tiga surah karena surah 6 memakainya dua kali. Keempatnya dilekatkan pada kitab yang diturunkan, tidak pada tempat, tidak pada orang, dan tidak pada waktu. Berkah dalam bahasa Al-Quran berarti kebaikan yang bertambah dan tidak habis dipakai, dan menyandangkannya kepada kitab berarti isinya tidak berkurang sekalipun sudah dibaca berjuta kali oleh berjuta orang.