فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ

Maka, dia berkata, “Sesungguhnya aku mencintai kesenangan terhadap yang baik sehingga aku lalai mengingat Tuhanku, sampai ia bersembunyi di balik tabir,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِfa-qaala innii ahbabtu hubba l-khayrimaka, dia berkata, sesungguhnya aku mencintai kesenangan terhadap yang baik
  2. عَنْ ذِكْرِ رَبِّي'an dzikri rabbiisehingga aku lalai mengingat Tuhanku
  3. حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِhattaa tawaarat bi-l-hijaabisampai ia bersembunyi di balik tabir

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. فَقَالَfa-qaalamaka ia berkata
  2. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  3. أَحْبَبْتُahbabtuaku mencintai
  4. حُبَّhubbakecintaan
  5. الْخَيْرِl-khayrikebaikan
  6. عَنْ'andari
  7. ذِكْرِdzikriperingatan
  8. رَبِّيrabbiiTuhanku
  9. حَتَّىٰhattaasampai
  10. تَوَارَتْtawaaratterbenam
  11. بِالْحِجَابِbi-l-hijaabidengan tabir

Inti bacaan

Rangkaian hubba l-khayri (حُبَّ الْخَيْرِ) hanya muncul di 38:32, dan bentuk sekerabatnya hubbi l-khayri (حُبِّ الْخَيْرِ) hanya di 100:8.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَقَالَ, fa-qaala) yang berarti "maka dia berkata", dari akar ق-و-ل. Pelaku kata kerja ini tidak diberi nama di ayat ini. Ucapan yang dibuka di sini tidak ditutup dengan kata berkata yang baru di 38:33, karena perintah di ayat berikutnya memakai "aku" yang sama, (رُدُّوهَا عَلَيَّ, rudduuhaa 'alayya) yang berarti "bawalah ia kembali kepadaku". Terjemahan karena itu membuka tanda kutip di 38:32 dan menutupnya di 38:33.

Kata (أَحْبَبْتُ, ahbabtu) berakar ح-ب-ب dan berarti "aku mencintai". Bentuk persis ini hanya muncul di 38:32. Objeknya (حُبَّ الْخَيْرِ, hubba l-khayri), dengan kata benda yang seakar, (حُبَّ, hubba), "kecintaan", dan (الْخَيْرِ, l-khayri), "yang baik". Rangkaian ini muncul sekali, di ayat ini, dan bentuk sekerabatnya (لِحُبِّ الْخَيْرِ, li-hubbi l-khayri) muncul sekali pula, di 100:8, (وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ, wa-innahu li-hubbi l-khayri la-syadiidun) yang berarti "sesungguhnya cintanya pada harta benar-benar berlebihan". Bentuk persis (الْخَيْرِ, l-khayri) muncul di sembilan ayat, yaitu 3:104, 7:188, 10:11, 17:11, 21:35, 33:19, 38:32, 41:49, dan 100:8. Di 21:35, (وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً, wa-nabluukum bi-sy-syarri wa-l-khayri fitnatan) berarti "dan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan", sehingga kebaikan di sana disebut sebagai alat uji. Terjemahan memakai "mencintai" untuk ahbabtu dan "kesenangan terhadap yang baik" untuk hubba l-khayri. Pilihan "kesenangan" menghindari bunyi "mencintai kecintaan" dalam bahasa Indonesia, padahal kedua kata Arab itu seakar. Di 100:8 kata hubb diterjemahkan "cintanya", jadi padanan di 38:32 bergeser demi kelancaran kalimat.

Frasa (عَنْ ذِكْرِ, 'an dzikri) muncul dua belas kali di sebelas surah, yaitu di 5:91, 18:28, 18:101, 20:124, 21:42, 23:71, 24:37, 38:32, 43:36, 53:29, 63:9, dan 72:17. Jumlah ayatnya lebih besar daripada jumlah surahnya karena surah 18 memuat frasa itu dua kali. Di sebelas ayat selain 38:32, kata yang menyertai frasa itu menyatakan berpaling, menghalangi, melalaikan, atau tertutup. Contohnya (أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي, a'radha 'an dzikrii) di 20:124 yang berarti "berpaling dari peringatan-Ku", (وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ, wa-yashuddakum 'an dzikri llaahi) di 5:91 yang berarti "dan menghalangi kalian dari mengingat Allah", (لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ, laa tulhikum amwaalukum wa-laa awlaadukum 'an dzikri llaahi) di 63:9 yang berarti "janganlah harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah", (أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا, aghfalnaa qalbahu 'an dzikrinaa) di 18:28 yang berarti "Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami", dan (فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي, fii ghithaa'in 'an dzikrii) di 18:101 yang berarti "dalam tutupan dari mengingat-Ku". Di 38:32 kata di depan frasa itu menyatakan cinta, yaitu (أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ, ahbabtu hubba l-khayri). Terjemahan memakai "sehingga aku lalai mengingat" untuk (عَنْ ذِكْرِ رَبِّي, 'an dzikri rabbii), dan kata "lalai" dipinjam dari pola sebelas ayat itu, sebab 38:32 sendiri tidak memuat kata kerja kelalaian.

Huruf (عَنْ, 'an) dapat berarti "karena" di tempat lain, seperti (إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ, illaa 'an maw'idatin) di 9:114 yang berarti "kecuali karena suatu janji", dan (عَنْ قَوْلِكَ, 'an qawlika) di 11:53 yang berarti "karena perkataanmu". Bacaan "aku mencintai yang baik karena mengingat Tuhanku" karena itu tidak dikesampingkan oleh bentuk katanya. Namun tak ada pemakaian 'an dzikri lain yang berarti "karena", dan sebelas pemakaian itu semuanya berarti "dari", sehingga pola Al-Qur'an condong ke bacaan "dari". Pola itu belum memastikan 38:32, sebab ayat ini berbeda dari yang lain dalam kata di depan frasanya, yaitu cinta. Kata (رَبِّي, rabbii) berarti "Tuhanku", dengan akhiran orang pertama. Bentuk (ذِكْرِ رَبِّ, dzikri rabbi) muncul di tiga ayat, yaitu 21:42, 38:32, dan 72:17, dan hanya di 38:32 pemiliknya orang pertama, sedangkan 21:42 dan 72:17 memakai akhiran orang ketiga.

Kata (حَتَّىٰ, hattaa) berarti "sampai", dan (تَوَارَتْ, tawaarat) berakar و-ر-ي dan berarti "bersembunyi". Bentuk persis ini hanya muncul di 38:32, dan bentuk sekerabatnya (يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ, yatawaaraa mina l-qawmi) di 16:59 berarti "ia bersembunyi dari orang banyak". Pelaku tawaarat tidak disebut, dan data morfologi menandainya sebagai kata kerja berjenis perempuan tunggal. Kedua ayat itu memuat satu kata benda bertanda perempuan, yaitu (الصَّافِنَاتُ, ash-shaafinaatu), dan kata benda lainnya berjenis laki-laki. Data itu belum cukup untuk memastikan apa yang bersembunyi, sehingga terjemahan memakai "ia" tanpa nama. Kata (الْحِجَابِ, l-hijaabi) berakar ح-ج-ب dan diterjemahkan "tabir". Dalam bentuk bendanya kata ini muncul di tujuh ayat, yaitu 7:46, 17:45, 19:17, 33:53, 38:32, 41:5, dan 42:51. Di 41:5, (وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ, wa-min bayninaa wa-baynika hijaabun) berarti "dan antara kami dan engkau ada tabir", dan di 19:17, (فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا, fa-ttakhadzat min duunihim hijaaban) berarti "lalu ia memasang tabir dari mereka". Di keduanya tabir memisahkan dua pihak, dan di 38:32 tabir itu menyembunyikan sesuatu tanpa menyebut dari siapa.

Tafsiran

Ayat ini memuat ucapan pertama Sulaiman dalam surah ini, berupa pengakuan. Sebelum ayat ini Sulaiman hanya disebut dan dipuji, lalu sesuatu dipertunjukkan kepadanya. Di sini Sulaiman berbicara, dan ucapannya menyatakan bahwa kecintaannya pada yang baik membawanya menjauh dari mengingat Tuhannya sampai sesuatu tersembunyi di balik tabir. Objek kecintaan itu tidak diberi nama, dan teguran tidak tertulis.

Pengakuan ini tidak berbicara tentang keburukan. Objeknya (الْخَيْرِ, l-khayri), yang baik. Al-Qur'an di tempat lain menyebut hal yang bernilai sebagai hal yang dapat memalingkan. Di 63:9 harta dan anak-anak dapat melalaikan dari mengingat Allah, dan 24:37 memuji orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli. Pengakuan di 38:32 berada dalam pola itu, sebab sesuatu yang dicintai karena baik menjauhkan dari mengingat Tuhan. Perbedaan penting ada pada pelakunya. Di 63:9 dan 24:37 pembicaranya Allah, yang berbicara tentang orang lain, sedangkan di 38:32 pembicaranya orang yang bersangkutan, yang berbicara tentang dirinya.

Kalimat ini tersusun dari tiga bagian: pernyataan kecintaan, akibat berupa jauhnya dari mengingat Tuhan, dan batas waktu yang disebut dengan hattaa. Bagian ketiga menandai sampai kapan perhatian itu bertahan, yaitu sampai sesuatu tersembunyi di balik tabir. Ayat ini tidak menyatakan bahwa tersembunyinya sesuatu itu mengakhiri kelalaian, dan tidak menyebut apa yang tersembunyi. Kalimat ini juga belum selesai, sebab 38:33 melanjutkan ucapan yang sama dengan perintah. Perintah itu memakai bentuk jamak, (رُدُّوهَا, rudduuhaa), sehingga ucapan ini didengar oleh lebih dari satu orang yang kemudian diberi tugas.

Letak ayat ini dalam kisah terlihat dari pembagian peran di antara tiga ayat. Ayat 38:31 memberi adegan tanpa tindakan Sulaiman, 38:32 memberi pengakuan, dan 38:33 memberi perintah dan gerakan. Pujian di 38:30 ("selalu kembali") dan pengakuan di 38:32 diletakkan dalam satu rangkaian tanpa penghubung yang menyatakan hubungan keduanya, sehingga pembaca menimbang sendiri bagaimana seorang hamba yang dipuji dapat mengucapkan pengakuan seperti ini.

Renungan dan Hikmah

  • Sulaiman menyebut kecintaan pada yang baik sebagai sebab ia menjauh dari mengingat Tuhan. Al-Qur'an di 63:9 dan 24:37 menyebut harta, anak-anak, perniagaan, dan jual beli dalam pola serupa. Pembaca yang menyaring godaan dari yang tampak buruk saja dapat melewatkan jenis godaan yang paling dekat dengan dirinya: pekerjaan yang baik, keluarga yang disayang, minat yang bernilai. Sesuatu yang dicintai karena memang baik mudah luput sebagai sumber jarak dari Tuhan. Apakah ada hal baik dalam hidup pembaca yang cintanya telah berjalan lebih jauh daripada ingatannya kepada Allah, tanpa disadari?
  • Di 20:124, 63:9, dan 18:28 kalimat tentang menjauh dari mengingat Tuhan diucapkan Allah, sebagai peringatan atau keterangan tentang orang yang berpaling, dilalaikan, atau tertutup. Di 38:32 seorang hamba mengucapkannya tentang dirinya sendiri, dengan kata Tuhanku. Perubahan arah itu memperlihatkan bahwa kalimat yang di tempat lain menjadi teguran dapat juga menjadi pengakuan. Pembaca yang pernah menunjuk kelalaian orang lain dengan kalimat serupa dapat menimbang kapan memakainya pada diri sendiri, dan apakah ada kalimat dari kitab yang selama ini hanya diarahkan keluar, tidak pernah ke dalam?
  • Allah menyebut Sulaiman sebaik-baik hamba di 38:30, dan dua ayat kemudian Sulaiman mengucapkan pengakuan tentang kelalaiannya. Kitab ini menaruh kedua hal itu berdampingan tanpa kata yang meredakan jarak di antaranya. Pembaca yang menganggap pujian dari Tuhan berarti tidak pernah lalai akan menemukan bahwa orang yang dipuji pun dapat mengatakan hal seperti ini. Seseorang dapat bertanya, bila kedua ayat itu benar tentang satu orang, apa yang berubah pada cara seseorang menilai dirinya ketika mendengar pujian dan ketika mengingat kelalaiannya?
  • Perintah di 38:33 memakai bentuk jamak, sehingga pengakuan di 38:32 diucapkan di hadapan lebih dari satu orang. Sulaiman tidak mengaku kepada dirinya sendiri saja. Sulaiman mengatakannya dengan cara yang membuat orang lain dapat bergerak. Pengakuan yang dapat diikuti tindakan oleh pendengarnya berbeda dari pengakuan yang berhenti di bibir. Pembaca dapat membayangkan saat mengakui kelalaian di hadapan orang lain, dan apakah pengakuan itu pernah disertai instruksi yang dapat dikerjakan pendengarnya, atau berupa perasaan yang ditinggalkan di ruangan itu?
  • Dari 38:32 sampai 38:33 teks tidak memuat teguran dari Allah atas apa yang diakui Sulaiman. Ayat-ayat itu memuat pengakuan, perintah, dan gerakan. Pembaca yang menunggu teguran sebelum percaya bahwa pengakuan itu serius dapat melihat bahwa kitab ini mencatat pengakuan tanpa menambahkan hukuman. Apakah pembaca menunggu teguran dari luar untuk memperbaiki sesuatu yang sebenarnya sudah dilihatnya sendiri?
  • Kata sampai dalam ayat ini menandai berapa lama perhatian bertahan: sampai sesuatu tersembunyi di balik tabir. Pengakuan itu terdengar tenang, karena yang disebut batas waktu dan penyesalan tidak tertulis. Pembaca dapat memperhatikan kapan perhatiannya sendiri berhenti pada sesuatu yang baik, apakah ketika diputuskannya sendiri, atau ketika sesuatu itu hilang dari pandangan dan tak ada lagi yang dapat dipandang? Pertanyaan tentang apa yang menyembunyikan perhatian pembaca tetap menjadi miliknya, sebab ayat ini menamai tabir tetapi tidak menamai yang tersembunyi.